
Tok...Tok...Tok...
Ana mengetuk pintu kamar Lyra, kemudian membukanya perlahan.
"Mba boleh masuk Lyr?" tanya Ana dari balik pintu.
Lyra yang tengah asik membaca novel sambil mendengarkan musik favoritnya mempersilahkan ana untuk masuk ke kamarnya.
"Iya mba Ana, masuk saja"
Ana melangkah masuk ke kamar Lyra dan duduk di atas tempat tidur bersama dengan Lyra.
"Lyr, Maafkan mba ya. Gara-gara mba hubungan persahabatanmu dan Retno jadi merenggang seperti ini" ucap Ana dengan penuh penyesalan.
"Bukan mba kok yang salah, tapi kenapa mba tidak cerita jika suaminya Retno yang menghamili Mba Ana? bukankah kita pernah ketemu sama Retno dan suaminya?"
"Lyr, mba tidak cerita karena mba tidak mau merusak hubungan persahabatmu dan Retno, lagi pula mba tidak mengharapkan suaminya Retno untuk bertanggung jawab. jadi untuk apa?"
"Mba kok baik banget sih mikirin hubungan persahabatan ku dengan retno dan hubungan rumah tangga Retno dengan suaminya. Padahal yang harusnya mikir itu ya suaminya Retno itu, sudah punya istri kok ngakunya single, tidak habis pikir aku dengannya."
"Sudahlah Lyr, mba sudah ikhlas menerimanya, toh memang mba juga yang salah berbuat hal yang telah di larang oleh agama. Mba harap suatu saat nanti hubungan persahabatanmu dengan Retno bisa kembali seperti dulu lagi."
lyra mengangguk sambil memeluk ana, di tengah perbincangan lyra dengan ana tiba-tiba rio datang mengintip dari balik pintu.
Lyra yang menyadari bahwa kakaknya ada di balik pintu langsung memanggil kakaknya.
"Mas Rio masuk aja ga usah pake ngintip."
"Hehe... maaf ya jadi mengganggu kalian. Sebenarnya aku hanya ingin memberikan ini kepada Ana"
Rio menyerahkan paper bag besar berwana merah muda bergaris horizontal dengan pita berwarna putih sebagai pemais paper bag tersebut kepada Ana, Ana pun langsung menerima paper bag pemberian Rio.
"Buka mba." ucap Lyra dengan antusias.
Ana pun membuka paper bag itu secara perlahan, Ana mengeluarkan semua isi dari paper bag tersebut. Terdapat baju toga wisuda berwarna hitam beserta topi wisuda, Ana menatap baju wisuda itu dalam-dalam.
"Baju wisuda?" gumamnya.
"Bukankah sebentar lagi kamu akan wisuda?" tanya Rio.
Ana teringat beberapa hari lalu saat Mia meneleponnya, Mia sudah mengabarkan tetang acara wisuda angkatannya yang akan di gelar sebentar lagi.
"Besok lusa kamu ikutlah denganku kembali ke Jakarta." ucap Rio.
Ana ragu untuk mengikuti prosesi acara wisuda dengan perutnya yang mulai terlihat membesar, Ana terdiam sambil mengelus perutnya.
Melihat tingkah Ana, Rio mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Ana.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menemanimu."
__ADS_1
"Mba Ana, bukankah wisuda merupakan acara yang sangat di tunggu-tunggu oleh semua mahasiswa? mba ikut saja, ada mas rio yang akan menemani mba."
Lyra mencoba meyakinkan Ana agar Ana mau mengikuti prosesi wisudanya.
hingga akhirnya Ana pun mengangguk menyetujui masukan dari Lyra.
"Nah gitu dong Mba Ana, Lyra aja mau cepet-cepet wisuda"
"Belajar makanya yang bener, kuliah di sini aja kamu main terus, gimana kamu kuliah di luar kota, bisa-bisa kamu lupa daratan." sahut Rio sambil melempar bantal ke arah lyra.
"iiiih mas Rioooo, nyebelin banget sih. Tidak akan aku bantuin loh!!!!" ancam Lyra.
Rio mulai panik dengan ancaman Lyra, seketika Rio mengelus-elus kepala adiknya secara sembarangan dengan tangan kirinya, sementara jari tangan kanannya di tempelkan kebibir Lyra agar Lyra tidak melanjutkan ucapannya.
"Addduuuhhh mas rioooo..... sana pergi!!! mengganggu aku terus." Lyra mulai bangun dari tempat tidurnya mendorong Rio keluar dari kamarnya.
"Kamu beruntung ya Lyr punya kakak seperti ka rio"
"Haduuh mba.. mas Rio itu usil, galak, bawel kaya ibu-ibu, suka ngelarang-larang aku." gerutu Lyra.
"Itu tandanya dia sayang sama kamu Lyr, ya sudah mba kembali ke kamar mba dulu ya mau istirahat."
"Ok mba, tapi jangan lupa ya nanti malam temani aku ke ulang tahun teman." Lyra kembali mengingatkan ana agar ana tidak lupa, ana mengangguk sambil melangkah keluar dari kamar lyra.
Lyra yang telah siap dengan penampilannya tak lama kemudian masuk ke kamar Ana.
"Mba, yuk kita berangkat" ajak Lyra.
"Sebentar Lyr, aku pamit Ibu dan Kak Rio dulu" ucap Ana.
Ketika Ana hendak menuju ke kamar ibu, Lyra menahan tangan Ana hingga langkhnya terhenti.
"Jangan mba!!! ibu sudah tidur, tadi siang aku sudah pamit ko."
"Ya sudah kalau begitu aku pamit ke Kak Rio saja" ucap Ana.
Lagi-lagi Lyra menahannya.
"Mas Rio sudah pergi ke rumah temannya, sedang ada urusan katanya. Mas Rio juga sudah tau kok, udah yuk kita berangkat saja." ajak Lyra.
lyra bergegas menggandeng tangan Ana, agar bisa segera sampai di tempat acara.
Setelah sampai di sebuah restaurant, Lyra membawa Ana ke sebuah private room. Seorang pelayan restaurant membukan pintu ruangan dan mempersilahkan ana dan lyra untuk masuk.
Ana nampak terkejut dengan suasana gelap ruangan itu, hanya ada satu cahaya lampu yang menyorot tepat di atas seorang pria yang sedang duduk memangku sebuah gitar, ana memperhatikan benar sosok pria itu.
"Itukan Rio, tapi mau apa ka rio di acara ulang tahun temannya lyra? dan mengapa tempat ini begitu sepi" gumam Ana dalam hati, Ana masih belum bisa mengartikan semua kondisi di hadapannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian rio memainkan gitarnya, rio membawakan satu buah lagu milik Budi Doremi yang berjudul Melukis Senja.
Aku mengerti
Perjalanan hidup yang kini kau lalui
Kuberharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah
Biar kumenemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Sumber: Musixmatch
Penulis lagu: Budi Syahbudin
Dibait terakhir lagu rio bangun dari tempat duduknya, berjalan menuju Ana dan Lyra. di depan ana rio menyanyikan kalimat terakhir dari lagu itu dengan penuh penekanan.
"Tuk temanimu yang terluka hingga kau bahagia"
Begitu rio selesai bernyanyi seluruh lampu di ruangan di nyalakan, ana terkejut melihat ibu berada di ruangan itu sedang melihat ke arahnya. lyra berjalan mendekat ibu, meninggalkan ana dan rio berdua.
Rio mengambil kotak berudu berwarna merah, kemudian rio membukanya. ada sebuah cincin emas putih di dalam kotak tersebut.
"An, didepan ibu dan adikku. Aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku yang telah lama aku pendam" Rio berhenti sejenak kemudian melanjutkan lagi.
"Will you marry me?" tanya Rio.
__ADS_1