Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Semakin sering semakin bagus,,,


__ADS_3

"Iya Nyonya," ucap teman ayah Diki.


"Oh iya baiklah,, kalian sudah tau kan bagian kalian kerja? pasti udah tau dong karena udah kerja dari kemarin," ucap Mama Devan lagi sambil tersenyum pada ayah dan mama Diki.


"Iya sudah Nyonya," ucap ayah Diki dan mama Diki secara bersamaan.


"Baiklah,, kalau gitu saya masuk dulu yah,, semoga betah kerjanya,, kami disini hanya tinggal bertiga saja kalau dengan keluarga,, hanya ada saya,, menantu dan anak saya sendiri,, jadi yang lainnya itu orang yang kerja disini,, semoga kalian cepat menyesuaikan diri yah dan tidak usah malu-malu,, anak dan menantu saya juga baik,, nggak usah takut kepada mereka," ucap mama Devan lagi kepada ayah dan mama Diki.


"Iya Nyonya terima kasih juga sudah menerima kami kerja disini," ucap mama Diki kepada mama Devan.


"Iya, selamat bekerja," ucap mama Devan sambil tersenyum lalu segera kembali ke ruang keluarga untuk menonton siaran televisi.


Hmmm aku kesepian juga menantuku nggak ada di rumah,, jadi sunyi banget,, meskipun disini banyak orang kalau nggak ada dia kayak beda aja,, nggak ada juga yang bisa di ajak bicara,, aku mau ikut dia tadi tapi aku juga nggak mau ganggu waktu berdua dia dengan Devan,,, batin Mama Devan sambil menonton siaran televisi.


Dia langsung sedih begitu lagi-lagi melihat berita tentang ayah Devan yang mengkhianati istrinya.

__ADS_1


Hmmm kenapa mereka harus setega itu pada diriku,, batin Mama Devan sambil menahan tangisannya karena dia tidak ingin lagi menangis gara-gara ayah Devan dan Clara.


Sementara di kantor,, Devan masih terus menggangu istrinya yang terlihat cemburu namun tidak mau mengaku.


"Baiklah akan aku beritahu siapa itu Ayu walaupun kamu nggak mau mengaku kalau kamu cemburu,, asal aku akan minta syarat lain sebentar,," ucap Devan sambil melihat Angel.


"Syarat apa?" tanya Angel.


"Kamu mau tau nggak? kalau mau tau nggak usah tanya syaratnya apa,, lagian aku nggak mungkin memberikan syarat yang susah pada istriku yang paling aku sayang banget," ucap Devan lagi.


"Sayang,, Ayu itu hanya mata-mata aku,, dia itu bukan siapa-siapa aku seperti yang ada dipikiran kamu sekarang,,, jadi kamu nggak usah mikir macam-macam yah,," ucap Devan sambil tersenyum pada Angel.


"Mana mungkin mata-mata cewek,, bukannya anak buah kamu itu cowok," ucap Angel yang tidak mudah percaya.


"Cewek kalau cemburu gini amat sih,, nggak percayaan banget," ucap Devan lagi lalu tertawa.

__ADS_1


"Aku nggak cemburu,, aku cuma pengen tau aja mengenai Ayu," ucap Angel lagi.


Apa benar aku cemburu? nggak mungkin,, batin Angel.


"Baiklah kamu nggak cemburu,, tapi Ayu benar-benar Anak buah aku sayang,, dia mata-mata aku,, cewek lebih bagus dijadikan mata-mata dibandingkan cowok apalagi Ayu itu anaknya imut-imut jadi nggak mungkin dicurigai,,," ucap Devan lagi.


"Apa imut-imut?" ucap Angel kesal sambil melihat Devan.


"Imut istriku dong," ucap Devan sambil mencium bibir Angel.


"Sekarang kita ke ruang pribadi ku dulu,, aku butuh jatahku supaya semangat,, lalu pulang kerja sebentar kita ke dokter untuk konsultasi ke dokter supaya kamu cepat hamil,, itu syarat yang aku maksud tadi,," ucap Devan sambil menggendong tubuh Angel.


"Tapi tadi pagi pas bangun tidur udah,, massa sekarang lagi,, ini masih pagi loh,, di kantor lagi," ucap Angel.


"Semakin sering semakin bagus,,, dimanapun kalau aku mau yah pasti bisa sayang," ucap Devan sambil tersenyum.

__ADS_1


Hanya anak yang bisa membuat kamu tidak pergi,, bulan ini kamu harus sudah hamil,, paling lambat bulan depan kamu harus sudah mengandung anak aku sayang,, batin Devan.


__ADS_2