
Aku masih terdiam di teras rumah Yoga, sambil menunggu ojek online yang sedang aku pesan.
Yoga. Kenapa aku jadi merindukannya. Padahal dia hanya aku anggap sahabat saja. Bahkan aku hanya diam saat dia menyatakan perasaannya.
Aku merasa sangat bodoh. Konyol sekali aku sekarang berada di teras rumah orang yang bahkan aku abaikan perasaannya.
Maafkan aku, Ga. Aku memang pernah bilang padamu, kalau aku butuh waktu. Tapi bukan berarti kamu pergi tanpa memberi kabar.
Tak lama ojek yang aku pesan pun datang. Aku menghentikan otakku yang sedang memikirkan Yoga.
Ya. Aku harus membuang jauh pikiran tentang Yoga. Mungkin dia sudah lupa denganku. Mungkin juga dia sudah membuang jauh-jauh perasaannya padaku.
Ada Irene yang mungkin sekarang sedang bersamanya. Aku tak boleh mengharapkannya. Aku tak mau sakit hati lagi.
"Dengan ibu Widhi?" tanya pengendara ojol itu.
"Iya, saya sendiri."
Lalu anak muda pengendara ojol itu memberikan helmnya padaku.
Sejenak aku teringat kembali pada Yoga yang selalu memasangkan helm di kepalaku.
Aku menggelengkan kepalaku. Mencoba menepis kenangan itu. Semua sudah berlalu.
Aku memakai sendiri helmku dan segera naik ke boncengan motor ojol.
"Jalan mas."
Perlahan motor ojol mulai berjalan.
"Wid! Widhi!"
Suara teriakan yang sangat familiar di telingaku. Aku menoleh.
Yoga memanggilku dari atas motornya. Sepertinya dia datang dari arah yang berlawanan.
"Berhenti, Mas!" Aku menepuk pundak driver ojol perlahan. Dan motor pun berhenti.
Yoga menghampiriku dengan motornya.
"Turun, Wid. Aku mau bicara."
Aku terdiam sejenak. Mempertimbangkan apa yang harus aku lakukan.
Aku menghela nafasku. Lalu turun dari motor ojol.
"Naiklah." Yoga menyuruhku naik ke belakang motornya.
Aku membayar ongkos ojol dulu sebelum naik ke motor Yoga.
"Saya turun sini saja." Lalu aku melepas helm dan mengembalikan pada driver ojol pesananku.
"Beneran ini, Bu?" tanya driver ojol. Aku mengangguk. Dan si ojol berlalu.
"Naiklah, Wid."
__ADS_1
Aku langsung naik ke belakang motor Yoga. Dia memutar balik motornya. Dan membawaku ke rumahnya yang belum jauh aku tinggalkan.
Begitu motor Yoga berhenti, aku pun segera turun.
Aku mengikuti Yoga yang memasuki rumahnya. Setelah pintu terbuka, aku bisa melihat betapa bersihnya bagian dalam rumah itu. Tak seperti yang tampak dari luar.
"Masuklah, Wid."
Aku pun menurut. Lalu mengikuti Yoga duduk di kursi kayu yang ada di ruangan depan.
"Kamu dari sini?" tanya Yoga. Aku mengangguk.
"Dari mana kamu tau alamat rumahku?" tanya Yoga lagi.
"Dari surat pengunduran diri kamu. Aku menemukannya di meja mas Andi."
Padahal aku bukan menemukan, tapi sudah dikasih tahu mas Andi, lalu aku mencarinya.
Yoga mengangguk lalu menatapku dari samping.
"Kenapa kamu resign, Ga?" tanyaku penasaran.
"Aku bukan resign, tapi..." Yoga tak melanjutkan kalimatnya. Seperti ada yang disembunyikan.
"Tapi apa, Ga?" Aku memandang wajah Yoga.
"Tidak apa-apa."
Aku makin penasaran. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa, tiba-tiba resign.
"Bilang saja, Ga. Aku bisa jaga rahasia. Janji!" ucapku sambil mengangkat dua jariku. Jari telunjuk dan jari tengah.
Memang benar. Yoga orang yang sangat loyal pada pekerjaannya. Dia juga seorang sarjana ekonomi, tak akan sulit mencari pekerjaan.
Beda denganku yang hanya lulusan sebuah SMK. Aku bisa dapat pekerjaan dengan mudah karena kakakku. Dan yang pasti karena perusahaan milik mantan pacarku yang masih terobsesi padaku.
"Kenapa kamu mencariku, Wid? Bukannya bulan depan kalian akan menikah?" tanya Yoga yang membuat aku makin tak mengerti. Siapa yang bikin berita tidak benar seperti itu pada Yoga?
"Bulan depan?"
Yoga mengangguk. Tapi matanya tak lepas menatapku.
"Kata siapa?" tanyaku.
"Calon suami kamu."
Mas Angga? Dia yang membuat berita tidak benar seperti itu pada Yoga?
"Tidak, Ga. Tidak ada yang akan menikah bulan depan. Sedang masa idhah-ku baru selesai dua bulan lagi."
Aku berusaha meyakinkan Yoga dengan kenyataan yang pastinya Yoga sudah tau.
"Kapan dia mengatakannya padamu?" tanyaku.
"Malam setelah aku terakhir mengantarmu."
__ADS_1
Ya aku ingat. Tapi bukankah mas Angga di rumahku sampai malam?
"Dia menelponmu? Seingatku dia di rumahku sampai malam."
"Iya. Dia menelponku dan mengatakan seperti itu. Lalu...."
"Lalu apa, Ga?" Aku terus mengejar agar Yoga mau terus terang. Karena aku ingin tau alasan Yoga resign.
"Lalu dia meminta padaku untuk menjauhimu. Dan besok pagi dia menunggu surat pengunduran diriku dari perusahaannya." sahut Yoga. Aku tercengang mendengarnya.
Bagaimana mungkin orang seperti mas Angga dengan tidak tau malu mendikte hidup orang lain?
Bukan aku tak percaya pada omongan Yoga. Cuma merasa tidak yakin kalau mas Angga bisa melakukan hal yang justru akan menjatuhkan martabatnya sendiri.
"Ga. Percaya padaku. Tak akan ada pernikahan antara aku dan dia, terlebih secepat itu." Aku berusaha meyakinkan Yoga.
"Buat aku tidak masalah, Wid. Dengan siapa pun kamu menikah, asal kamu bahagia aku pun ikut bahagia." ucap Yoga menyentuh perasaanku.
"Ga..."
"Wid. Hakekat cinta yang sebenarnya adalah ketika kita membuat orang yang kita cintai bahagia. Bukan selalu mengejarnya atau mencari cara untuk bisa memilikinya. Itu bukan cinta. Tapi ambisi. Obsesi."
"Makanya saat kamu bilang akan menikah dengannya, aku menanyakan padamu, sudahkah kamu tanya hatimu?"
Aku terdiam dengan omongan Yoga.
"Wid. Jangan sampai kamu melakukan kegagalan untuk kedua kali. Belajarlah dari kegagalan yang pertama. Apa dulu kamu menikah karena kamu benar-benar cinta? Atau sekedar mengejar target karena usia?"
"Jangan kamu bohongi hati nurani kamu sendiri, Wid. Beri kesempatan hati nuranimu untuk bicara."
Aku menghela nafasku.
"Kamu merindukanku?" tanya Yoga membuat aku tersentak.
"Atau kamu masih selalu mengharapkannya menikahimu?" tanya Yoga lagi.
Aku menggeleng.
"Kenapa?" tanya Yoga menatap mataku.
"Aku...aku terjebak dalam hutang budi, Ga. Aku tak lagi mencintainya setelah dulu dia lari dariku dan menikahi perempuan lain."
Aku kembali mengingat penghianatan mas Angga padaku.
"Sakit sekali, Ga. Bertahun-tahun aku mencoba melupakannya. Hingga hadir sosok lain yang aku kira bisa menyembuhkan lukaku. Tapi dia malah semakin menambah luka dalam hatiku."
Aku menghela nafas lagi.
"Lalu mas Angga hadir lagi dalam kekacauan rumah tanggaku. Dia hadir sebagai seorang pahlawan dalam ketidakberdayaanku. Yang menjebakku dalam hutang budi. Ah...entahlah, Ga. Aku malu menceritakannya padamu. Karena terkesan aku adalah perempuan matre. Perempuan perebut suami orang. Walau pun sebenarnya kekasihku yang duluan direbut."
Aku menunduk menahan air mataku agar tak tumpah.
Yoga meraihku dalam pelukannya. Dan saat itulah aku tak mampu lagi menahan tangis.
"Kamu merindukannya, Wid?" tanya Yoga sambil terus memelukku.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Ga." sahutku diantara isakan.
Entah keberanian dari mana yang membuat aku bicara seperti itu.