
Sesampainya di Singapore Rio dan Felly menuju hotel untuk menaruh barang-barang pribadi mereka, kemudian Rio mengajak Felly ke restaurant yang berada di hotel tersebut untuk mempersiapkan bahan presentasi mereka hari itu.
Wajah Rio nampak frustasi, memikirkan presentasinya nanti, ini adalah kesempatan terakhir baginya meyakinkan clientnya untuk mau melanjutkan project kerja samanya.
"Tenanglah Pak, aku akan membantumu" ucap felly sambil menggenggam tangan Rio dan meberikannya sentuhan lembut.
"Terima kasih, Fell" Rio melepaskan tangan Felly.
Pukul 14.00 waktu Singapore, Rio dan felly sudah berada di kantor Pak Richard. Sekretaris Pak Richard mempersilahkan keduanya untuk memasuki meeting room karena Pak Richard telah menunggu kedatangan mereka.
Kurang lebih setengah jam lamanya Rio mempresentasikan materi project yang telah ia buat, ia melihat raut wajah Pak Richard yang nampak kurang tertarik dengan bahan materi yang rio sampaikan.
Tok... Tok... Tok...
Grace putri Pak Richard mengetuk pintu ruang meeting, kemudian membukanya. Grace masuk ke dalam ruang meeting bersama dengan Ana. Pak richard nampak terkejut dengan kedatangan Ana di kantornya, karena sudah lama sekali Pak Richard tidak bertemu dengan putri bungsu sahabatnya itu.
"Sandriana, how are you? it's been a long time since we met." Pak richard beranjak dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya ke arah Ana.
" Very well. How about you, Uncle?" Ana menerima jabatan tangan Pak Richard.
"Very well too. Thanks" Pak Richard mempersilahkan Ana untuk duduk di dekatnya.
Pak Richard nampak memperhatikan penampilan Ana, walaupun kini Ana sudah berhijab namun wajahnya masih sama seperti yang dulu terakhir kali bertemu. Mata Pak Richard tertuju pada perut Ana yang terlihat membesar, ia menduga jika Ana kini tengah mengandung.
"I'm sorry San, I passed your wedding party. But my happy blessing always for you and your husband." ucap Pak Richard memberikan doa untuk Ana dan suaminya.
"Thank you uncle, he is my husband" Ana mendekat ke arah Rio dan menggenggam tangannya.
"Is he your husband? Oh my god, I think your fathers company are being acquisitions by others. Because at this time your father cardio aren't good."
*Benarkah ini suamimu, astaga. Om fikir perusahaan ayahmu sudah di akusisi oleh orang lain, karena saat ini papahmu sedang sakit.
"That's not true uncle, my husband take handle it." Ana melihat dan tersenyum ke arah suaminya.
Ana, Rio, Grace dan Pak Richard mengobrol dengan hangat, Pak Richard banyak bercerita kisah jalinan persahabatannya dengan Pak Reino, yang kemudian di turunkan ke Ana dan Grace yang sudah sejak kecil berteman baik.
Pak Richard juga meminta maaf kepada Rio karena hampir saja tidak melanjutkan kontrak kerja samanya, Pak Richard menandatangi semua berkas kontrak kerjasamanya dengan Rio.
Dalam ruang meeting tersebut hanya Felly yang merasa canggung berada di tengah-tengah mereka.
Puas berbincang, Ana dan Rio pamit meninggalkan kantor Pak Richard.
"See you next time San, give my best to your father" Pak Richard kembali menjabat tangan Ana.
__ADS_1
"Thank you Uncle" Ana tersenyum kepada Pak Richard, kemudian Grace mengantar Ana dan Rio sampai ke lobby kantor.
"See you next time grace, I will be miss you." Ana memeluk dan mencium pipi grace.
"See you sandriana." Grace membalas pelukan Ana dengan hangat, ia juga sempat mengelus perut Ana dan mendoakan kesehatan kandungannya.
Di dalam mobil Felly duduk di kursi depan di samping supir, sedangkan Ana dan Rio duduk berdua di bangku belakang. Ana merasa sangat lelah sekali karena tadi malam ia tidak cukup tidur.
"Sayang, aku ngantuk" ucap Ana.
"Tidurlah" Rio membawa istrinya kedalam dekapannya, ia memeluk Ana dengan hangat, sambil mengelus punggung Ana dan mengecup puncak kepala Ana.
'Aku merindukanmu sayang' gumam Ana dalam hati, akhirnya ia merasakan kembali pelukan hangat suaminya kemudian ia pun memejamkan matanya.
Tanpa mereka sadari Felly memperhatikan kemesraan Ana dan Rio dari balik kaca spion, ia memandanginya dengan tatapan sinis.
Begitu tiba di hotel Rio menyuruh Felly untuk segera kembali ke Jakarta agar hasil rapat tadi segera di follow up, sementara Rio membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar hotel.
Rio merebahkan tubuh Ana di atas tempat tidur secara perlahan kemudian ia duduk di lantai memandangi wajah istrinya sambil membelai wajahnya. Tanpa terasa tetesan air mata Rio jatuh ke wajah Ana, membuat Ana terbangun dari tidurnya.
"Maafkan suamimu yang bodoh ini sayang, maafkan aku...." Rio berlutut di hadapan Ana.
Seketika Ana langsung membangunkan suaminya dan memeluknya erat.
"Maafkan aku yang telah jahat kepadamu Hiks..." Isak Rio dalam pelukan istrinya.
Setelah tangisan Rio mereda, ia mulai menceritakan semua yang ia rasakan selama lebih dari dua minggu belakangan ini.
"Dari awal saat papa memintaku untuk menggantikan posisinya, aku benar-benar merasa sama sekali tidak mengerti bidang yang papa geluti di tambah dengan skala perusahaan yang sangat besar, aku sungguh merasa tidak mampu."
"Aku juga sangat insecure saat melihat banyak karyawan di perusahaan papa berasal dari lulusan universitas terbaik dunia. seperti: Harvard, stanford, IUBH. Sedangkan aku?"
"Aku sangat syok mendapati ada kontrak kerja sama yang harus aku perpanjang, sementara waktunya sudah mepet dan bahan materinya cukup banyak, belum lagi situasi kantor yang sangat hectic, untuk makan saja aku tidak ada waktu."
"Aku depresi ketika draft pengajuan perpanjangan kontrak senilai puluhan miliar yang telah aku buat dengan susah payah ternyata di tolak oleh Pak Richard."
"Aku takut akan mengecewakan Papa, Kak Risti dan kamu. Aku terus menerus memikirkan nasib perusahaan yang baru saja beberapa minggu aku pegang di ambang ke bangkrutan, memikirkan nasib ribuan karyawan yang berada di tanganku."
"Aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalah sebesar ini, aku takut kehamilanmu menjadi terganggung. Menjaga jarak denganmu itulah langkah yang aku ambil agar kamu tidak mengetahui semua masalah yang aku alami"
"Tapi ternyata aku salah besar, aku benar-benar bodoh. Aku justru malah menyakitimu, sayang, aku mohon maafkan semua kebodohan suamimu ini." Rio kembali menangis di pelukan istrinya.
"Aku sudah ikhlas memaafkanmu sayang, tanpa perlu kamu minta. Siapa pun bisa berubah dengan tekanan yang sebesar itu dan aku mengerti" Ana mengelus punggung suaminya dengan lembut.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Felly?" tanya Ana.
"Maksudmu?"
"Apa kamu tidak melihat pakaian yang ia kenakan? apa kamu tidak merasa jika ia sedang menggodamu?" tanya Ana.
"Hah? Mau dia tidak berpakaian sekalipun aku tidak peduli, saat itu yang ada di pikiranku hanya bekerja sama dengannya dalam menyelesaikan pekerjaan ini. tidak lebih dari itu, di hatiku hanya kamu sayang. Apa kamu cemburu dengannya?" tanya Rio
"Tentu saja aku cemburu!!! suamiku lebih memilih membagi kesulitannya kepada orang lain dari pada istrinya sendiri. Berjanjilah untuk membagi semua hal, baik itu kebahagian mau pun kesulitan hanya kepadaku."
"Aku janji sayang" ucap Roo.
"Bolehkah jika mulai besok aku ikut denganmu ke kantor? Aku ingin sekali bisa membantumu dan kita belajar sama-sama" pinta Ana.
"Jarak kantor dengan rumah cukup jauh, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anak kita sayang." ucap Rio sambil mengelus perut istrinya.
"Maaf bukan maksudku membantahmu, tapi aku bisa istirahat di mobil, bukankah kau sudah membelikanku mobil yang nyaman untuk beristirahat, aku juga bisa istirahat di kantor jika aku lelah, boleh ya sayang..." Ana memohon pada suaminya.
Rio menganggukan kepalanya, Ana berhambur ke pelukan Rio memeluknya dengan erat.
"Kamu masih punya hutang denganku, keberhasilan meeting tadi aku anggap sebagai hutang, kapan kamu mau membayarnya?" tanya Ana.
"Hutang? Berapa hutangku? saat ini aku tidak punya uang, kemarin sudahku pakai untuk membeli mobil, apa pendapatan perusahaanku masih kurang?" Rio membuka dompetnya dan memberikan ATM nya kepada Ana.
"Masih ada delapan juta, kamu ambillah. Cuma itu yang aku punya."
"Hahaha...aku tidak butuh uangmu sayang, aku tidak minta kamu membayar hutangmu dengan uang."
"Lalu?" tanya Rio bingung.
Ana melingkarkan tangannya di leher suaminya, kemudian ia mengecup mesra bibir suaminya.
"Apa kamu tidak merindukanku sayang?" tanya Ana sambil menatap Rio dengan tatapan yang menggoda.
"Aku sangat-sangat merindukanmu sayang." Rio membalas ciuman Ana dengan lebih dalam, ia ******* bibir istrinya dengan lembut.
Keduanya saling memperdalam ciuman mereka, tangan Rio membuka satu persatu pakaian istrinya hingga yang tersisa hanya pakaian dalamnya saja. Rio mulai turun ke leher ana mencumb*i leher jenjang ana sambil merem*s lembut dada istrinya.
Rio mulai membuka penutup dada istrinya, di lihatnay dada istrinya yang padat berisi, hingga membuat Rio tak dapat lagi menahan hasratnya. Ia melum*at puncak dada istrinya dengan rakus, memberikannya banyak tanda kepemilikan di kedua dada Ana, puas bermain di dada istrinya Rio turun ke perut.
"Maafin ayah ya sayang" Rio menghujani kecupan di perut Ana.
"Kami sudah memaafkanmu sayang, bagi kami kamu tetaplah yang terhebat." Ana memeluk suaminya.
__ADS_1
Rio membuka semua pakaiannya dan mulai melakukan penyatuan, keduanya saling menumpahkan kerinduan mereka satu sama lain.
Usai bercinta Rio mendekap erat tubuh istrinya 'Aku benar-benar menyesal telah bersikap seperti itu kepadamu, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Andai aku bisa mengulang waktu, aku sungguh tidak akan bersikap seperti itu lagi kepadamu. Aku benar-benar mencintai dan merindukanmu sayang' gumam Rio.