
Hari-hari bekerja di tempat baru ini terasa menyenangkan. Disamping teman-teman lain juga enggak rese, aku punya sahabat baru. Yoga.
Sosok Yoga yang selalu bisa membuat aku tertawa. Dia seperti mengembalikan jiwa konyolku yang sempat hilang setelah aku menikah dulu.
Aku menikah dengan orang yang kaku. Belum lama menikah sudah dihantam dengan berbagai masalah.
Mulai dari mantannya suamiku yang selalu meneror, kebakaran bengkel tempat usaha suamiku yang entah bagaimana kelanjutan kasusnya, sampai anak sambungku yang divonis mengidap sakit parah.
Dan berujung perpisahan di saat aku mengandung anak pertama. Dan akhirnya aku memilih menjadi single parent meski statusku masih belum jelas hingga kini.
Ditambah lagi kehadiran mantan pacar yang awalnya memberiku harapan, tapi tetap berujung kemarahan dari istri yang sedang digugat cerai.
Meski sampai sekarang aku masih harus terus berhubungan dengan mantan pacar yang menjadi bigbosku dan memintaku menjadi istrinya kelak kalau urusan dengan istrinya selesai.
Kehadiran Yoga mampu memberi warna berbeda dalam hidupku. Walau pun aku tetap menganggapnya seorang sahabat.
Aku juga berusaha menyembunyikan hubunganku dengan bigbos dari sahabatku. Agar hubungan persahabatan kami bisa asik.
Hari ini Yoga mengajakku jalan sepulang kerja. Aku sudah memberitahu kedua orang tuaku yang akan menjaga anakku saat aku tinggal.
Juga pamit pada kakakku biar dia tidak bawel. Dan untungnya hari ini bigbosku lagi ada urusan beberapa hari ke luar kota.
Entah urusan apa, aku juga tidak mau tau. Dan dia pun tidak menawariku untuk ikut. Hanya berpamitan saja via telpon.
"Kemana, Ga?" tanyaku setelah pulang kerja dan berganti pakaian. Karena gak enak banget kalau jalan memakai pakaian kerja.
Bukan cuma modelnya yang terlalu formil tapi juga sudah bau keringat karena seharian dipakai.
"Ke pantai yuk. Kita lihat matahari terbenam. Nanti kamu bisa foto-foto di sana" sahut Yoga.
"Apa cukup waktunya. Ke sana kan jauh, Ga?"
"Makanya buruan" sahut Yoga yang sudah memakai jaketnya.
"Lha ini aku sudah siap."
Aku mengikuti Yoga yang sudah keluar duluan. Lalu nangkring di atas motornya.
"Nih, pake helmnya."
Yoga menyerahkan helm untukku. Rupanya dia sudah menyiapkan helm cadangan.
"Kamu bawa helm dua, Ga?" tanyaku.
"Iyalah. Memangnya payung, bisa satu dipakai berdua?"
Jawaban Yoga selalu bisa membuatku tertawa.
"Niat amat bawa helm dua dari rumah?" Aku menerima helm dari Yoga.
"Siapa bilang bawa dari rumah? Aku nyaut di parkiran pasar!" Yoga tertawa ngakak.
Bisa saja dia jawabnya. Aku mencium helmnya sebelum memakaikan ke kepalaku.
"Woy, pipiku di sini!" seru Yoga sambil menepuk pipinya sendiri.
Aku mengernyitkan dahi. Yoga ngakak.
"Kalau mau nyium, mending nyium pipiku aja. Ngapain helm di cium-cium? Gak bisa bales nyium!"
Plak.
Aku memukul bahu Yoga. Dasar dodol!
"Udah ah, becanda mulu. Kapan jalannya."
Aku langsung naik ke boncengannya. Yoga tak juga jalan.
"Ayo jalan, nunggu apa lagi?" tanyaku.
"Pegangan, Non. Aku kan mau ngebut biar cepat sampai". Jawab Yoga.
Aku cubit perutnya dengan keras. Biar kapok.
Yoga mengaduh sambil terus tertawa dan melajukan motornya.
__ADS_1
Benar juga, Yoga melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Membuat aku mau tidak mau berpegangan pada pinggang Yoga.
Ciiit.
Yoga mengerem mendadak, karena tiba-tiba ada motor lain menyalibnya dan tau-tau ada di depannya.
"Woy! Kira-kira dong kalau nyalib!" teriak Yoga dengan kesal pada pengendara tadi yang bahkan sudah semakin jauh.
Karena efek mengerem mendadak badanku condong ke depan. Dan dadaku mendarat mulus di punggung Yoga.
"Udah, Ga. Ngapain sih marah-marah?" ucapku sambil memundurkan lagi posisi dudukku.
"Lha dia asal nyalib aja. Untung sama kamu. Kalau tidak..." Yoga tak melanjutkan kalimatnya.
"Kalau tidak, apa Ga?" tanyaku penasaran.
"Kalau tidak, udah aku kejar tuh orang" jawab Yoga sambil melajukan motornya agak pelan. Karena di depan sana ada lampu merah yang sedang menyala merah.
"Emang mau kamu apain kalau udah ketangkep?" tanyaku lagi.
"Mintain uang!" jawab Yoga.
"Ya aku jitak lah kepalanya. Gak sopan sama yang lebih tua" Yoga menambahkan.
"Memang kamu yakin dia lebih muda? Kalau ternyata aki-aki gimana?" tanyaku iseng.
"Aku nyembah, minta maaf. Hahaha."
Seru banget perjalanan dengan Yoga. Penuh canda tawa, sampai tak terasa sampai juga di pantai.
"Jam lima. Cepat juga ya kamu bawa motornya, Ga?" ucapku sesampainya di parkiran, lalu melepas helmku.
"Aku kan anak didiknya Rossi" sahut Yoga tanpa menoleh ke arahku.
"Rossi isi coklat apa keju?" tanyaku.
"Itu roti, Bu!" sahut Yoga lalu mengajakku berjalan ke arah pantai.
Pantai sepi. Hanya beberapa pengunjung saja. Maklum, ini hari kerja.
"Kalau mau rame, di pasar." Aku cubit lagi perutnya.
"Ish, nyubit mulu. Sekali-kali cium kek." Yoga malah terkekeh sendiri dengan jawabannya.
Kami berjalan menyusuri bibir pantai. Angin yang bertiup kencang, membuat rambutku berantakan.
Yoga memakaikan topinya di kepalaku.
"Dah. Biar gak sibuk benahi rambut mulu" ucap Yoga.
Tau aja dia.
Yoga memang sering memakai topi. Dan menurutku jadi lebih ganteng. Dan jauh lebih muda, walau pun umurnya belum tua juga.
"Aku foto ya?"
Tanpa menunggu persetujuanku, Yoga mengambil ponselnya. Dan...
Cekrek.
Cekrek.
Yoga mengambil fotoku sedang berjalan. Dan banyak lagi foto-fotoku yang lain.
Hingga saat matahari hendak terbenam, aku justru yang memintanya mengambil gambarku.
Dan Yoga memintaku berselfie berdua. Dia berdiri di belakangku.
Awalnya posisi agak jauh, lama-lama makin dekat dan tanpa aku sadari, Yoga memeluk pinggangku.
Cekrek.
Cekrek.
Hingga matahari benar-benar menghilang. Lalu kami berjalan ke arah sebuah gubug yang tak jauh dari bibir pantai.
__ADS_1
"Coba liat foto-fotonya tadi. Bagus enggak?"
"Baguslah. Siapa dulu yang moto?" sahut Yoga.
Aku melihat hasil jepretan Yoga. Benar-benar bagus.
"Pinter juga ya kamu motonya? Aku jadi kelihatan cantik."
"Bukan aku yang pinter, tapi objeknya yang memang cantik" sahut Yoga.
"Mulai deh gombalnya. Tapi sayangnya aku gak punya recehan" ucapku sambil menyedekapkan tanganku.
Angin makin kencang. Suara debur ombak juga semakin keras terdengar.
"Dingin?" tanya Yoga. Aku mengangguk.
"Mau pake jaketku?"
"Udah dicuci belom?" tanyaku becanda.
"Udah. Sebulan yang lalu."
Yoga melepaskan jaketnya.
"Jorok!" sahutku.
"Wangi. Nih!" Yoga mendekatkan jaketnya ke hidungku.
Wangi khas laki-laki.
Yoga memakaikan jaket ke badanku.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba hatiku bergetar saat wajah Yoga dekat ke wajahku.
Aku memalingkan wajahku. Tak sanggup menatap Yoga yang sedang menatapku.
"Wid."
"Iya."
"Boleh aku bicara jujur padamu?"
"Emang dari kemarin-kemarin kamu gak jujur?" tanyaku.
"Aku serius, Wid."
Aku diam. Yoga juga diam.
"Aku cinta kamu, Wid."
Glek.
Aku makin diam.
"Ga."
"Iya."
"Pulang yuk" ajakku.
"Kamu marah?"
"Kenapa harus marah?"
Yoga diam. Aku juga diam. Aku tak bisa menjawab apapun.
Yoga menggenggam tanganku.
"Beri aku waktu, Ga" sahutku.
Yoga mengangguk, lalu menggandeng tanganku untuk pulang.
Aku bisa merasakan Yoga menggenggam tanganku dengan erat.
Aku butuh waktu, Ga. Bisikku dalam hati.
__ADS_1