
"Kamu yakin kalau merindukanku? Bukan dia?" Yoga bertanya lagi.
"Siapa Irene?" tanyaku sebelum menjawab pertanyaan Yoga.
"Kenapa kamu tanyakan itu?"
"Aku tak mau ada orang lain selain aku, Ga. Tapi kalau memang ada, aku mundur."
Aku menjauhkan diri dari pelukan Yoga. Yoga tak berusaha meraihku lagi. Dia membiarkan aku menjauh.
"Irene adalah masa lalu. Pertemuan kemarin hanya ketidak sengajaan."
Aku juga tau kalau mereka tidak sengaja bertemu. Dan itu karena kebodohanku memanggil Yoga untuk masuk. Akhirnya mereka jadi bertemu.
"Kamu menghubunginya lagi?" Yoga menggeleng.
"Aku tak mau punya akses untuk menghubunginya lagi. Aku tak mau nantinya justru kita sama-sama terjebak dengan masa lalu."
"Irene adalah masa lalu. Dan kamu, aku berharap kamu adalah masa depanku."
Aku memandang tak percaya pada Yoga.
"Tapi aku janda. Aku punya anak, Ga."
"Lalu masalahnya dimana?" tanya Yoga yang membuat aku tak bisa berkata-kata lagi.
"Boleh aku minta sesuatu padamu, Wid?"
"Apa?"
"Seperti yang kamu katakan tadi tentang Irene. Aku tak mau ada orang lain selain aku. Atau aku mundur."
Aku menggenggam tangan Yoga.
"Aku akan menyelesaikannya, Ga." ucapku untuk meyakinkan Yoga.
"Lalu pekerjaanmu?" tanya Yoga.
"Kamu keberatan kalau aku tak lagi bekerja?"
Yoga menatapku. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Tetaplah di rumah menjaga anak-anak kita dan menungguku pulang kerja."
"Itu artinya kamu melarangku bekerja?"
"Aku tidak melarangmu. Aku hanya memintamu. Kamu lihat orang tuamu. Ibumu bekerja?" Aku menggeleng.
"Ibumu bahagia?" Aku mengangguk. Karena setahuku ibu sangat bahagia dengan kehidupannya meski pas-pasan.
"Kamu dan kakakmu bahagia dengan adanya ibumu di rumah terus?" tanya Yoga lagi.
"Sangat bahagia. Beda dengan teman-temanku yang orang tuanya bekerja. Mereka sering kesepian. Sedangkan kami, sepulang sekolah ibu selalu menyambut kami dengan masakan kesukaan kami."
Ya, walau hanya masakan ala kadarnya. Tapi kami tak pernah kelaparan. Tak pernah terlambat makan.
Setiap pagi ibu hanya sibuk untuk anak-anak dan suaminya. Dan kami bangga memiliki ibu seperti ibuku.
Apa itu yang Yoga pikirkan?
"Kamu sudah dapat pekerjaan lagi, Ga?"
"Jauh sebelum kita bertemu, aku bekerja di dua tempat. Biasanya sepulang dari ruko, aku ke tempat kerjaku yang lain. Tapi sejak ada kamu, aku lebih suka berlama-lama di ruko bersama kamu."
__ADS_1
Pantas saja Yoga selalu membayari makan siangku, apapun yang aku mau. Ternyata penghasilannya double.
"Kamu lepaskan pekerjaanmu yang lain?"
"Tidak. Aku bekerja malam hari. Sepulang mengantarmu."
Ya ampun, kenapa Yoga tak pernah bilang? Kalau dia bilang kan aku tak akan memintanya untuk mengantarkan aku pulang. Atau sekedar kepingin jalan saja.
"Kamu tak perlu khawatir soal itu. Aku laki-laki. Aku masih kuat bekerja siang malam." ucap Yoga melihat aku menyesal karena sering merepotkannya.
"Tapi kalau kita sudah menikah, aku tak mau kamu bekerja siang malam."
"Nanti uangnya kurang, gimana?" tanya Yoga.
"Bapakku tak pernah mau lembur, Ga. Biarlah penghasilannya pas-pasan. Yang penting bisa setiap hari punya waktu untuk anak dan istrinya."
"Berarti kamu terima hidup apa adanya?" tanya Yoga.
Aku mengangguk pasti. Asal kamu setia, Ga. Gumamku dalam hati.
"Terima kasih, Wid. Gak apa-apa kan kalau kemana-mana kita naik motor butut?" tanya Yoga.
"Apa aku pernah protes tentang motormu, kalau bonceng kamu?"
Yoga mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Aku akan menghadap ke orang tuamu."
Lalu tanpa aku sangka, Yoga mencium bibirku. Lembut. Dan bikin jantungku serasa berdetak sangat cepat.
Aku terdiam menikmati bibir Yoga yang ada manis-manisnya.
Yoga seorang perokok. Di bibirnya ada aroma nikotin yang menyengat. Tapi aku menyukainya.
"Kamu tidak marah kan, Wid?" tanya Yoga.
"Marah kenapa?"
"Aku mencium kamu tanpa ijin." Aku jadi pingin ketawa. Karena aku bukan lagi anak kecil yang apa-apa mesti minta ijin dulu.
"Aku bukan abege lagi, Ga." sahutku.
"Beda ya, pacaran anak abege sama orang seumuran kita?"
"Memang kamu berniat memacari aku, Ga?"
"Enggak juga, sih."
Aku mencubit pinggang Yoga. Kesal.
"Terus kamu maunya apa, Ga? Tadi kan kamu bilang?" Aku malah yang merajuk.
"Bilang apa? Aku gak bilang pingin jadi pacar kamu. Coba deh diingat-ingat lagi. Apa aku tadi bilang pingin jadi pacar kamu?"
Rasanya hampir menangis mendengar omongan Yoga. Dan yang pasti malu banget.
"Aku tuh bilangnya, kamu jadi ibu dari anak-anakku. Bukan jadi pacar kamu. Malu ah, udah berumur kok pacaran."
Iya juga. Ah kenapa aku jadi baperan sih?
"Aku mau pulang, Ga."
"Aku antar ya?" Yoga menawarkan diri.
__ADS_1
"Tapi ujan, Ga. Aku pesan taksi online aja."
Bukannya aku menolak, tapi aku kasihan kalau Yoga kehujanan. Nanti pulangnya dia kan sendirian. Kasihan kalau kedinginan.
"Ya udah, kalau begitu pulangnya nanti aja." sahut Yoga.
"Tapi ini sudah malam, Ga. Gak enak sama tetangga kamu. Masa ada perempuan di rumahmu. Kalau digrebeg gimana?"
"Kebetulan. Terus kita dinikahkan gratis." Yoga tertawa. Dia memang selalu punya jawaban yang nyleneh.
"Aku gak mau nikah gratisan. Entar malah dinikahkan rame-rame alias nikah massal, lagi."
"Enak dong. Kan malam pertamanya bisa rame-rame. Seru tuh kayaknya."
Aku malah jadi ikutan ketawa. Yoga selalu aneh-aneh aja kalau komentar.
"Ga...Udah malam." rengekku.
"Ya udah, bobok yuk udah malam." Aku melempar Yoga pakai bantal kecil.
"Aku serius, Yoga!"
"Aku juga serius, sayang."
Wajahku langsung merona dipanggil sayang sama Yoga.
Lalu tiba-tiba Yoga berdiri.
"Mau kemana, Ga?"
"Katanya mau pulang. Masih aja nanya." jawab Yoga.
Aku ikut berdiri. Alamat besok kena flu ini. Aku memang gampang flu kalau kena air hujan.
Yoga mengunci pintu rumahnya.
"Helmnya?" tanyaku, karena setahuku tadi Yoga menaruh helmnya di dekat meja ruang tamu.
"Gak usah pake helm." sahut Yoga.
"Ujan, Ga. Basah kepalaku kalau gak pake helm."
"Diplastik kepalanya biar gak basah."
Aku makin kesal sama jawaban Yoga. Nyebelin banget.
Tau-tau Yoga membuka pintu garasi. Dan saat aku lihat isi dalam garasi, bikin mataku silau.
Ada mobil sport warna merah, seperti yang pernah aku ceritain ke Yoga. Kalau aku kepingin naik mobil sport. Yoga waktu itu sempat nanya ke aku, warna apa yang aku sukai. Aku jawab warna merah.
Dan sekarang mobil sport itu ada di garasi rumahnya.
"Mobil siapa itu, Ga?" tanyaku pelan.
"Dulu ada cewek yang kepingin naik mobil sport warna merah. Kasihan nanti ngeces kalau gak dituruti."
"Ih, apaan sih...!"
Yoga ternyata masih ingat dengan candaanku. Dan Yoga menanggapinya dengan serius.
Tapi ini mobil siapa? Yoga tak juga mau menjawab pertanyaanku. Katanya, kamu tinggal naik aja gak perlu tau ini punya siapa.
Tapi aku tetap penasaran. Kalau ini mobilnya Yoga sendiri, apa dia sekaya itu sampai bisa punya mobil sport sendiri?
__ADS_1