
Keesokan harinya semua berjalan normal lagi. Sejak bangun tidur tadi Yoga mulai bersikap ramah lagi. Aku tak berniat menanyakan kenapa kemarin Yoga menjauh.
Aku memilih diam dan melupakan semuanya seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Yoga sarapan seperti biasanya dengan menu pagi yang seadanya juga. Karena entah mengapa, aku tidak begitu suka memasak. Jadi aku masak sekenanya saja.
Untung Yoga enggak protes. Begitu juga hari-hari selanjutnya.
Meski kalau pagi aku tak minat makan, aku paksa juga makan walaupun cuma sedikit. Paling tidak dalam sehari perutku kena makanan lain selain buah.
Yoga tak pernah tahu kalau setiap hari aku lebih banyak makan buah. Bahkan stock buah di kulkas selalu penuh.
Malam itu selesai olahraga malam, Yoga kehausan dan mengambil minuman dingin di kulkas.
"Wid. Di kulkas banyak banget buah. Dari siapa?"
Yoga memang jarang sekali membuka kulkas. Karena hampir setiap hari dia berangkat pagi-pagi dan pulang selalu malam.
Kalau dia pulang, aku membuatkannya teh hangat atau kopi. Kalaupun minum air putih, Yoga lebih suka air rebusan yang aku simpan di pitcher.
"Aku beli lah. Kenapa?"
"Oh. Enggak apa-apa. Baguslah kalau kamu banyak makan buah. Kamu kan jarang olahraga."
Berarti aman. Yoga tak bertanya lebih banyak lagi soal buah-buah itu.
Pagi ini saat sarapan, Yoga bilang agar aku tidak perlu memasak untuknya. Karena dia akan ada meeting sampai malam di restauran. Pasti akan makan dulu sebelum pulang.
Dia menawariku makanan apa yang aku mau, biar nanti dipesankan di restauran sekalian.
Aku menolak karena memang aku lagi tak berselera dengan makanan apapun.
Tapi saat malamnya Yoga makan setelah meeting, dia memamerkan aneka hidangan lezat. Salah satunya salad buah yang sangat menggodaku.
"Aku mau dibawakan salad buah saja, Ga. Kayaknya enak banget," jawabku saat Yoga video call dan aku melihat semua hidangan itu.
"Capcaynya enak banget lho. Apalagi ini sate ayamnya. Mau ya? Nanti aku pesankan."
"Enggak, Ga. Aku sudah kenyang. Aku mau salad buahnya saja."
Dan Yoga benar-benar membawakanku satu box salad buah.
Langsung saja aku sikat habis tanpa bersisa sedikitpun. Rasanya sungguh luar biasa.
"Katanya sudah kenyang. Tapi sebanyak itu dihabiskan sendiri," kata Yoga.
"Memangnya kamu tadi mau?"
"Ya enggak. Kan bisa dimakan besok lagi. Sakit nanti perutmu terlalu banyak makan salad. Itu kan rasanya asam." Kirain Yoga mau, aku kan jadi enggak enak karena menghabiskannya sendiri tanpa menawarinya.
"Enggak apa-apa, Ga. Perutku tahan kok. Tapi asli rasanya enak banget. Besok belikan lagi, ya?" pintaku.
__ADS_1
"Waduh, kalau beli di restauran itu jauh. Gimana kalau belinya di tempat lain?"
Aku kecewa dengan jawaban Yoga. Tapi enggak apa-apalah, siapa tahu rasanya sama enaknya.
Pagi harinya perutku mual. Berkali-kali aku ke kamar mandi dan memuntahkan isi perut.
Mungkin benar kata Yoga. Aku terlalu banyak makan salad buah semalam. Rasa asam dari yogourt yang bikin perutku mual.
"Tuh, kan. Aku bilang juga apa? Kamu kalau dibilangin bandel sih."
Yoga terus saja ngomel-ngomel sebelum akhirnya berangkat ke tempat kerjanya.
Siangnya Yoga menelponku. Dia menanyakan perutku masih mual apa enggak.
Demi membuat Yoga enggak khawatir, aku bilang saja kalau perutku sudah baik-baik saja.
Aku pun menghentikan makan buah-buahan biar perut tidak semakin mual.
Tapi aku pun sama sekali enggak bisa masuk makanan lain. Alhasil badanku lemas. Bahkan demam.
Yoga pulang tak terlalu malam. Dia heboh begitu tahu kalau aku demam.
"Kita ke dokter ya?"
"Enggak ah. Aku malas keluar."
"Kan naik mobil. Kamu enggak perlu capek jalan kaki."
Tiba-tiba di kepalaku seperti muncul gambar nasi goreng seafood. Aku menelan ludahku.
"Ga. Mau enggak beliin aku nasi goreng seafood. Aku lapar."
"Lainnya nasi goreng dong. Perutmu kan lagi mulas, takutnya nanti makin mulas."
"Tapi aku maunya itu, Ga."
"Beli nasi yang lainnya saja ya? Aku berangkat sekarang deh."
Aku tetap menolak meski Yoga mengiming-imingi makanan lain.
Akhirnya dengan berat hati, Yoga berangkat juga beli nasi goreng seafood.
Aku yang memang sedang kelaparan, langsung menyikat habis nasi goreng itu setelah Yoga pulang.
Yoga beli dua bungkus. Rupanya dia juga kepingin. Yang punyaku sudah habis duluan.
"Cepet amat makannya. Pasti enggak baca Bismillah dulu."
"Hehehe. Kelamaan, Ga. Keburu laper."
"Kebiasaan!"
__ADS_1
Yoga pun menghabiskan makanannya. Lalu setelah makan kami ngobrol sebentar sebelum tidur.
Pagi harinya gantian Yoga yang sakit perut. Dia mual dan muntah-muntah seperti aku kemarin.
Aku membantu Yoga yang bolak balik ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Dan Yoga berakhir di tempat tidur seperti aku kemarin.
Begitulah berhari-hari yang terjadi dengan aku dan Yoga. Kami bergantian mual. Meski selanjutnya tidak sampai lemas seperti yang pertama.
Dalam hal makan juga begitu. Gantian kepinginnya. Kadang aku yang kepingin sesuatu dan harus dituruti. Besoknya Yoga yang tiba-tiba pulang membawa makanan dan dia memakannya sendiri tanpa menawariku.
Aneh juga dengan kami. Aku terus berfikir, ada apa dengan diri kami ini?
Bulan ketiga pernikahanku dengan Yoga, aku mulai berfikir kenapa aku belum menstruasi juga.
Yoga sudah tak pernah membahas atau bertanya lagi soal menstruasiku. Mungkin dia takut kecewa lagi.
Aku pun tak mau membahasnya, takut Yoga kecewa dan menjauh lagi. Jelek dia kalau lagi ngambek. Bukan marah-marah tapi enggak mau menegur.
Sore ini aku berniat ke dokter kandungan. Bukan untuk periksa kehamilan, tapi untuk menanyakan kenapa aku belum juga datang bulan.
Aku sengaja tak memberitahu Yoga. Dia juga katanya akan pulang malam. Jadi amanlah kalau aku pergi ke dokter sore hari. Yoga enggak bakalan tahu.
"Selamat sore, Bu. Silakan duduk." Dokter perempuan itu membaca catatan kesehatanku yang tadi ditanyakan perawat saat pendaftaran.
"Jadi Ibu belum datang bulan juga selama tiga bulan. Sudah pernah tes urine?"
"Sudah, Dok. Sebulan yang lalu. Tapi hasilnya negatif."
"Oke. Sekarang Ibu berbaring yuk. Kita lihat penyebabnya apa?"
Aku pun berbaring. Pakaianku bagian perut disingkap sedikit dan perutku mulai diolesi gel untuk proses USG.
"Ini apa, Bu? Ibu sudah hamil.Dua malah, Bu. Dan usinya sudah hampir delapan minggu ya, Bu."
Aku terkejut mendengarnya. Anakku ada dua? Aku berusaha melihat ke layar monitor mengikuti gerak alat USG nya.
"Ini mereka calon bayinya, Bu." Dokter menunjukan dua buah titik yang bergerak-gerak.
"Bagus. Sehat. Tinggal Ibu menjaga pola makan saja. Jangan aktifitas yang berat-berat. Sudah paham kan, Bu?"
Aku mengangguk.
"Kalau anak kedua sih sudah tidak memberatkan. Apalagi kondisi kesehatan Ibu juga baik."
"Lalu kenapa sebulan yang lalu waktu pakai testpack hasilnya negatif, Dok?" Aku masih penasaran soal satu ini.
"Faktor hormon saja, Bu. Mungkin kalau seminggu kemudian Ibu pakai testpack lagi, bisa kelihatan hasilnya positif."
Aku mengangguk-angguk. Meski masih kurang paham. Apalagi Yoga yang juga sering mual dan suka punya keinginan makan sesuatu kayak orang ngidam, semakin membuat aku gagal paham.
Atau jangan-jangan, aku yang hamil tapi Yoga yang ngidam? Atau gantian ngidamnya. Karena calon anakku ada dua.
__ADS_1