
Hari ini Tristan berangkat sangat siang ke kantornya. Setelah melewati malam yang panjang bersama Ambar, Tristan bangun kesiangan dan memutuskan untuk tidak pergi ke kantor hari itu.Tapi Asisten pribadinya menelpon, mengingatkanya kalau dia ada meeting dengan salah satu klien pentingnya siang itu.
Tristan meminta Beni(asistennya) menjemput ke rumah jam dua belas siang, lalu mereka menuju sebuah hotel dimana meeting akan diadakan. Senyum Beni terus mengembang dibibirnya, saat dia melihat ada beberapa tanda merah di leher Tristan, dan Tristan tahu itu. Tristan tidak suka melihat senyum Beni, yang terasa meledeknya."Kamu kenapa Ben, senyam-senyum sendiri dari tadi?." Tanyanya
"Enggak!! Gapapa." Jawab Beni.
"Jangan bohong kamu!! Ayo katakan!! Apa yang membuat kamu senyam-senyum?.Kamu ngetawain aku kan?." Tukas Tristan.
"Tidak pak Tristan, mana mungkin saya berani menertawakan anda." Sahut Beni. Tristan tidak percaya pada ucapan Beni. Dia yakin ada sesuatu yang menyebabkan Beni tersenyum seperti itu. Tristan menyalakan kamera handphonenya. Dia memperhatikan penampilan dan wajahnya di kamera hp itu, "Sial." Umpatnya, saat dia menyadari sesuatu. Tanda merah di lehernya. Iya dia sangat yakin senyuman Beni mengembang, gara-gara dia melihat tanda merah ini.
Tristan fikir, Beni tidak akan tahu atau melihatnya, karena tanda itu tertutup dengan kemeja yang dia pakai. Tapi nyatanya, Beni masih bisa melihatnya.
Kalau Beni bisa melihatnya, orang lain pun pasti akan melihatnya. Duuh sial !! Gimana nih.?.Aku gak mau orang lain melihatnya, bisa-bisa mereka memandang rendah padaku. Mereka semua tahu, kalau aku belum punya istri. Mereka pasti akan berfikiran buruk padaku. Aku harus menutupinya, tapi dengan apa?. Batin Tristan.
"Kalau pak Tristan mau, pak Tristan bisa menutupnya dengan plester." Kata Beni, memberi saran. Dia sepertinya tahu apa yang difikirkan bosnya saat ini. Tristan nampak berfikir, lalu dia tertawa."Hahaha....kamu memang paling pengertian dan bisa diandalkan Ben. Kalau gitu, kamu beliin aku plesternya. Aku gak mau klien pentingku nanti melihat ini."Titah Tristan.
"Baik pak." Balas Beni."Apa pak Tristan mau saya sekalian beli lotion anti nyamuk?." Tanya Beni.
"Lotion anti nyamuk?. Buat apa?." Tanya Tristan heran.
"Biar leher pak Tristan gak digigit nyamuk lagi. Nyamuk sekarang, ganas-ganas pak, jadi sebaiknya pak Tristan pakai lotion anti nyamuk." Goda Beni, membuat Tristan sedikit malu.
"Kamu salah Ben, bukan nyamuk ganas tapi nyamuk nakal." Sahut Tristan kepalang malu.
***
__ADS_1
Siang itu, seperti biasanya Ayu menjemput Gara dan sikembar dari sekolah masing-masing. Gara merengek meminta Ayu mampir ke mini market, untuk membeli coklat kesukaanya, dan Ayu menuruti keinginan Gara, sebelum dia merajuk.
Saat dia melihat mini market didepannya, Ayu langsung berbelok ke sebelah kiri, berniat memarkirkan mobilnya di depan mini market tersebut. Namun baru saja dia berbelok, tiba-tiba...bruukkk...."Allohu Akbar" Ucap Ayu yang sangat terkejut dan kaget.
"Aaaaaa...." Teriak Gara dan sikembar bersamaan. Mereka sama terkejut dan kagetnya dengan Ayu, saat sebuah mobil menabrak pintu mobil Ayu, dari sebelah kanan, atau tepatnya pintu di samping kemudi. Ayu yang kaget, langsung menenangkan anak-anaknya, terutama Gara. Dia kelihatanya sangat shock, dan hampir saja menangis.
Setelah berhasil menenangkan anak-anaknya, Ayu langsung turun, menatap menghampiri mobil suv mewah yang telah menabrak mobilnya dari samping. Ayu langsung mengetuk kaca mobil sang pengemudi dengan tidak sabar.
"Buka...hei buka.!! Kata Ayu sambil terus mengetuk kaca mobil sang pengemudi, hingga si pengemudi membuka kaca mobilnya." Sabar mbak!! Sabar.!! ucapnya pada Ayu. Lalu dia turun, menghampiri Ayu
"Anda bisa bawa mobil gak sih?." Tanya Ayu emosi, bukan emosi lebih tepatnya dia masih sangat kaget.
"Maaf mbak!! Saya gak sengaja. Tadi saya sudah menghidupkan lampu hazard, apa mbak tidak melihatnya?."Tanya si pengemudi. Ayu diam, dia memang merasa tidak melihat mobil suv itu menyalakan lampu hazard. Saat itu pandanganya fokus pada mini market di sebelah kirinya. Dan sebenarnya Ayu memang tidak tahu kalau mobil suv itu, tiba-tiba mundur, hingga akhirnya menabrak mobilnya.
Tak ingin memperpanjang masalah, Ayu memutuskan meminta maaf, karena dia sendiri tidak tahu yang salah dirinya atau pengemudi mobil suv itu. Namun satu hal yang pasti, tadi dia sama sekali tidak melihat mobil itu. "Maafkan saya pak!!. Saya tadi langsung belok, tanpa melihat ke depan. Saya gak lihat mobil ini mundur. Dan maaf kalau tadi saya sedikit meneriaki bapak. Saya tidak bermaksud. Saya sangat kaget tadi." Ucapnya.
"Saya juga minta maaf mbak, karena sudah menabrak mobil mbak. Saya akan bertanggung jawab, memperbaiki mobil mbak." Sahut sang pengemudi.
"Tidak usah pak." Sahut Ayu.
"Tapi bodi mobil mbak lecet gara-gara saya."Kata sang pengemudi.
"Tidak apa-apa pak. Nanti saya perbaiki sendiri." Pungkas Ayu, lalu meninggalkan sang pengemudi mobil suv itu, dan masuk kembali ke mobilnya. Ayu tadinya akan langsung meninggalkan mini market itu, tapi Gara kembali merengek, ingin membeli coklat kesukaanya. Ayu memarkirkan mobilnya didepan mini market , lalu dia dan ke tiga anaknya turun. Mobil suv itu juga masih ada disana, namun sesaat kemudian mobil itu pun parkir tepat disebelah mobil Ayu.
Sang pengemudi turun dari mobil, lalu masuk ke dalam mini market yang sama dengan Ayu. Setelah menemukan apa yang ingin dia beli, si pengemudi mobil itu pun pergi
__ADS_1
.....
"Cantik sekali wanita itu?. Apa kamu tahu siapa namanya?." Tanya Tristan pada Beni.
"Wanita mana maksud pak Tristan?."
"Wanita yang mobilnya kamu tabrak barusan."Jawab Tristan.
"Oh...dia. Maaf pak saya tidak tahu siapa namanya. Saya tidak sempat menanyakannya. Lagipula dia menolak waktu saya bilang akan bertanggung jawab memperbaiki mobilnya."
"Menarik sekali. Lalu kenapa dia harus repot-repot menggedor kaca mobil ini kalau dia tidak mau kamu membayar uang ganti rugi untuk perbaikan mobilnya?. Apa dia hanya ingin menunjukan wajah cantiknya itu kepadaku?."Tanya Tristan dengan senyum aneh yang mengembang dibibirnya." Kamu cari tahu siapa wanita cantik tadi Ben."Titah Tristan.
"Maaf pak!! Tapi kenapa?."Tanya Beni.
"Aku menyukainya." Jawab Tristan.
"Wanita tadi memang cantik, tapi sepertinya dia sudah berkeluarga."Sahut Beni.
"Memangnya kenapa kalau dia sudah berkeluarga?. Yang aku sukai dia, bukan keluarganya."Balas Tristan.
"Maksud saya dia sepertinya sudah punya suami dan anak."Kata Beni.
"Aku nggak peduli pada suami atau anaknya. Aku hanya ingin kamu cari tahu siapa wanita tadi. Kamu ngerti kan Ben?."Tanya Tristan.
"Baik pak Tristan. Saya mengerti." Jawab Beni.
__ADS_1