
Ciiiiiiitttt..... BRRRRRAAAAAK....
Sebuah mobil sedan menyerempet Ana, hingga membuatnya terjatuh dan kakinya berlumuran darah. Dari dalam mobil keluar seorang gadis bernama Lyra, dengan cepat Lyra berlari ke arah Ana.
"Mba... apa kau baik-baik saja?" tanya Lyra dengan panik.
Lyra langsung memapah tubuh Ana masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia memasukan koper Ana ke dalam bagasi mobilnya.
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit Ana meringis kesakitan menahan luka robekan di kakinya.
"Aaauuuuu, sakit...." teriak Ana.
"Waduuuh kepiye iki? sabar ya mba sebentar lagi kita nyampe" Lyra memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Ana ketakutan.
"Jangan ngebut-ngebut, nanti nabrak lagi" ucap Ana mengingatkan Lyra agar ia hati-hati.
"Oke-oke Mba" secara perlahan Lyra menurunkan kecepatan mobilnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Ana dan Lyra saling bersahut sahutan keduanya teriak karena panik.
Sesampainya di rumah sakit Lyra kembali memapah tubuh Ana menuju ruang IGD sambil berteriak memanggil suster.
"Suster tolong suster.." teriaknya.
Tidak lama kemudian beberapa perawat dan dokter datang menghampiri Ana dan Lyra dengan membawa brankar, kemudian suster merebahkan tubuh ana di atas brankar masuk ke ruang IGD.
Perawat melarang Lyra masuk ke ruang IGD, ia menyuruh Lyra menunggu di luar ruangan, Lyra pun menunggu Ana dengan raut muka yang tegang dan panik.
Tiga puluh menit kemudian ruangan terbuka, Lyra berlari menghampiri dokter yang menangani Ana.
"Dok bagaimana dengan teman saya?" tanya Lyra panik.
"Teman anda hanya mengalami luka sobek di bagian kaki kiri, saya sudah menjahitnya. sekarang teman anda sudah di perbolehkan untuk istirahat di rumah tapi jangan lupa jadwal kontrolnya 3 hari lagi, saya akan mengecek kondisi lukanya" terang dokter.
__ADS_1
"Baik dok, terima kasih" Lyra menghela nafas leganya, karena mendengar tidak ada luka serius akibat kecelakaan tadi, gadis itu pun segera menghampiri Ana yang masih berbaring.
"Mba, bagaimana keadaan mba? maafkan aku ya mba, gara-gara aku mba jadi begini." Lyra merasa sangat bersalah melihat kaki Ana yang terbalut dengan perban.
"Aku baik-baik saja, hanya masih sedikit perih akibat jahitan tadi. Kamu tidak perlu merasa bersalah, aku juga yang salah saat berjalan tadi tidak hati-hati." Ana mengelus lengan tangan Lyra yang berada tepat di samping ana agar Lyra bisa lebih tenang.
"Oh ia namaku Lyra." Lyra mengururkan tangannya.
"Aku Ana." Ana menerima jabatan tangan Lyra.
"Dimana rumah mba ana? Biar mba aku antar pulang"
"Rumahku bukan disini, aku kemari ingin menunjungi rumah nenekku tapi rumah nenekku sudah di jual, jadi tolong antarkan aku ke hotel dekat sini saja." pinta Ana.
Lyra merasa tidak tega jika membiarkan Ana di hotel seorang diri dengan kondisi Ana yang seperti ini. Perdebatan antara Ana dan Lyra pun tak terhindarkan, Ana menolak tawaran Lyra untuk menginap di rumahnya karena ia takut merepotkan Lyra dan keluarganya.
Sementara Lyra tetap bersih keras menginginkan Ana ke rumahnya sebagai wujud tanggung jawabnya karna telah menyerempet kakinya. Akhirnya Ana mengalah, ia menuruti ajakan Lyra untuk tinggal di rumahnya, dengan perjanjian hanya sampai luka di kakinya sembuh.
"Mba Ana tinggal lama di rumah pun, aku tak masalah" gumam Lyra, ia justru merasa senang memiliki teman ngobrol.
Sesampainya di rumahnya, Lyra langsung memanggil Ibundanya.
"Ibbuuuu... bu... aku mulih." teriak Lyra sambil memapah aana.
*ibbuuuu... bu... aku pulang
"Ono opo to nduk bengok-bengok... walah iki koncomu kenang opo?" tanya ibu terkejut sekaligus panik.
*Ada apa nak ko teriak-teriak... walah ini temanmu kenapa?
"Aku ora sengojo nyerempet nyerempet mba ana bu" terang lyra dengan wajah bersalahnya.
*Aku tidak sengaja nyerempet mba ana bu.
__ADS_1
"Walah kowe iki nyetir mobil ora ngati-ati, dadi koyo ngene akhire"
*Haduh kamu ini kalo nyetir mobil tidak hati-hati. jadi begini kan akhirnya.
"Aku ga apa-apa ko bu, ini bukan sepenuhnya salah Lyra. Ana juga yang tadi jalannya tidak hati-hati" Ana mencoba menenagkan hati Ibunda Lyra agar Lyra tidak lagi di marahi oleh ibunya.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat dulu di kamar tamu, ibu mau siapin makan." Ibu membantu Lyra memapah tubuh ana masuk ke kamar tamu.
"Terima kasih ya bu, maaf Ana jadi ngerepotin Ibu dan juga Lyra"
"Kamu sama sekali tidak ngerepotin Ibu, nduk. Justru Ibu yang merasa bersalah karena Lyra telah menabrakmu" Ibu berbalik arah ke Lyra "Ayo Lyr melu ibu neng pawon"
"Aku tinggal sebentar ya mba." Ucap lyra, kemudian ia mengekori ibunya dari belakang menuju dapur rumahnya.
"Lyr, Iku koncomu nggowo koper barang, opo arep lungo seko ngomah po?" tanya ibu.
*lyr, itu temanmu membawa koper, apa mau pergi dari rumahnya apa?
"Iih ibu ini pikirannya, aku juga baru kenal sama Mba Ana. Mba Ana itu baru datang dari kota, ia tadi mau ke rumah neneknya tapi sayangnya rumah neneknya udah di jual, nah setelah dari rumah neneknya itu keserempet mobilku. Awalnya mba Ana menolak aku ajak ke sini tapi aku tidak tega membiarkan Mba Ana di hotel sendirian." Terang lyra.
"Yo wis, saiki koncomu diajaki maem bareng"
*Ya sudah, sekarang kamu ajak temanmu itu makan bersama.
Lyra mengangguk dan pergi ke kamar tamu untuk mengajak Ana makan bersama. suasana makan siang nampak sangat hangat.
"Maaf ya ana rumah kami agak berantakan, maklum selain untuk tempat tinggal rumah ini juga jadi tempat produksi kue. Ibu jualan kue kering di toko samping rumah"
"Tidak apa-apa bu, rumah ini terasa sangat nyaman" ucap Ana.
"Mba ana nanti kalo butuh apa-apa panggil aku aja ya"
"Terima kasih banyak ya Lyr"
__ADS_1
"Sama-sama mba, yuk aku antar lagi ke kamar biar mba ana bisa istirahat." Lyra kembali memapah ana ke kamar tamu agar ana beristirahat.