Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 19


__ADS_3

Sudah tiga hari ibu di rawat di rumah sakit, selama tiga hari ibu di rawat di rumah sakit baik Lyra, Ana maupun Rio secara bergantian menjaga ibu.


Dihari ke empat ibu sudah di perbolehkan untuk rawat jalan oleh dokter, namun dengan beberapa catatan.


Di hari kepulangan ibu, Ana sengaja tidak ikut menjemput ibu di rumah sakit, ia ingin membuat surprise menyambut kepulangan ibu.


Dengan di bantu beberapa pegawai toko, Ana mendecor ruang tamu dengan indah, Ana juga memasak berbagai macam makanan kesukaan ibu.


Tak berapa lama setelah semuanya siap, Lyra mengirimkan pesan bahwa mereka sebentar lagi akan sampai.


Ana dan semua pegawai toko berbaris menyambut kedatangan ibu, sesampainya di rumah Rio mendorong kursi roda ibu menuju ruang tamu, satu persatu pegawai toko mulai menyalami ibu.


Ana menjadi orang yang terakhir menyalami ibu, Ana memberikan sebuah buket bunga tulip putih kepda ibu.


"Selamat datang kembali di rumah, semoga ibu sehat selalu" Ana memeluk dan mencium kedua pipi ibu.


"Terima kasih ya nduk." Ibu menerima dan mencium buket bunga yang di berikan Ana.


Setelah acara penyambutan kedatangan ibu, Ana mengajak semuanya makan siang bersama tak terkecuali dengan semua pegawai toko, mereka larut dengan kehangatan kebersamaan itu.


Sesekali Rio mencuri pandang menatap wajah manis Ana dan setiap itu pula ibu selalu memergoki putra sulungnya sedang memperhatikan Ana.


"Masakanmu enak sekali An" puji ibu.


"Aku tidak masak sendiri bu, mereka membantuku" Ana menunjuk para pegawai toko yang telah membantu dirinya.


"Jangan terlalu capek ya, kasihan kandunganmu" Ibu nampak sangat mengkhawatirkan kandungan Ana, ia tidak ingin terjadi apa-apa pada janin dalam kandungan Ana.


"Iya Bu"


Selesai acara makan-makan ibu meminta putra sulungnya untuk menemaninya ke taman depan rumah, selama tiga hari ibu di rawat, ana lah yang selalu rajin menyirami bunga-bunga milik ibu.

__ADS_1


"Le, antar ibu ke taman depan rumah ya. Ibu kepingin melihat-lihat bunga ibu."


Rio mengangguk dan medorong kursi roda ibu menuju taman di halaman rumahnya.


"le, apa kau tidak ingin menceritakan sesuatu ke ibu?"


"Maksud ibu?" tanya rio yang belum mengerti arah pembicaraan ibundanya.


"Aku ini ibumu, jadi ibu tau jika putra sulung ibu ini sedang jatuh cinta. Apa kau tidak ingin menceritakannya?" tanya Ibu.


Sesaat Rio terdiam sejenak, ia ragu untuk bercerita kepada Ibundanya, namun karena nampaknya Ibundanya telah mengetahui jika dirinya tengah jatuh hati pada Ana, maka ia pun memberanikan diri untuk bercerita.


"Bu, jika aku mencintai ana apa ibu akan merestuinya?"


Rio menelan ludahnya, ia takut jika ibunya tidak merestui dirinya.


"le, ibu memang sudah menganggap Ana seperti anak ibu sendiri, tapi ibu tidak pernah berfikir dan berniat untuk menjadikannya menantu ibu" Ibu menjeda sejenak ucapannya, kemudian ibu melanjutkan lagi.


"Menikahlah dengan wanita yang kau ridhoi sebagai istrimu nanti"


"Yang akan menikahkan kamu, jika kamu sudah benar-benar yakin bisa menerima masa lalu Ana dan menerima janin yang ada di kandungan Ana seperti anak kandungmu sendiri, lamarlah Ana. Ibu hanya meminta satu hal padamu jika nanti kamu menikahinya jangan sekali-sekali kamu mengungkit masa lalunya jika suatu saat kamu dan Ana sedang bertengkar, itu akan sangat menyakitkan baginya."


"Lalu apa ibu juga menerima masa lalu Ana dan menerima anak seperti cucu kandung ibu sendiri?" tanya Rio.


"Setiap orang punya masa lalu, jangan pernah menilai seseorang dari masa lalunya. semua orang bisa berubah dan Ana sudah membuktikan."


Belum sempat ibu menyelesaikan ucapannya, rio sudah berhambur memeluk ibunya dengan erat. rio tidak menyangka bahwa ibunya bisa menerima ana apa adanya.


"Terima kasih bu" Ucap rio lirih.


"Le, kalo ibu boleh tau sejak kapan kau menyukai ana?"

__ADS_1


Rio menerwang jauh, ia memutar kembali memorinya dan menceritakan kepada ibu, saat dirinya masih duduk di bangku SMA saat liburan sekolah rio pergi ke perpustakaan daerah di kampung halamannya.


Disana ia bertemu dengan gadis manis yang usianya kira-kira empat tahun di bawah usianya, rio melihat gadis itu sedang kesulitan mengambil buku yang di letakan di atas rak tinggi, rio pun menolong mengambilkannya.


Saat itu rio ingin sekali berkenalan dengannya namun ia tidak memiliki kepercayaan diri, gadis itu begitu terlihat sangat modis mengenakan tas, pakaian dan sepatu branded.


Bertahun-tahun rio mencoba nelupakan gadis itu dengan memfokuskan diri untuk belajar agar ia bisa memberikan kehidupan yang layak untuk ibu dan adiknya, rio sungguh tidak tega melihat ibunya bekerja keras menggidupinya dan adiknya dengan berjualan kue selepas ayahnya meninggal dunia.


Selepas SMA rio pergi merantau ke kota untuk menempuh pendidikannya ke jengjang yabg lebih tinggi, tak membutuhkan waktu lama untuk seorang Rio Darmanto meraih gelar sarjannya dengan nilai yang sangat memuaskan tak tanggung-tanggung rio mendapatkan gelar cumlaude.


Sebagai mahasiswa terbaik di angkatannya, berbagai macam perusahaan besar menawarinya pekerjaan dan rio memilih untuk bekerja PT. Asri Group sebagai tempatnya mengais rezeki.


Rio sudah semakin pasrah, harapannya untuk bisa bertemu dan berkenalan dengan gadis yang selalu memenuhi hati dan pikirannya itu, baginya memiliki ana benar-benar hanya sebatas angan belaka.


Hingga suatu hari keajaiban datang, bagian HRD meminta rio menjadi pembimbing lapang seorang mahasiswi yang akan di tempatkan divisi accounting. Rio terkejut melihat sosok yang ia cari selama bertahun-tahun.


Berkali-kali rio memberanikan diri mencoba nendekatinya tapi nyalinya selalu menciut, rio tetep merasa tidak percaya diri.


Berminggu-minggu ia mengumpulkan keberaniannya untuk menembak ana, hingga suatu ketika keberaniannya mulai terkumpul, rio ingin mencoba menguratakan persaannya, namun rio melihat di jari manis ana telah melingkar cincin berlian, rio menyimpan kembali cincin emas biasa yang ia miliki untuk ia berikan kepada ana.


Rio mengurungkan niatnya untuk menembak ana, mengubur semua mimpi dan harapannya. Rio mengikhlaskan ana untuk di bahagiakan oleh pria lain, pria yang mungkin jauh lebih mapan dan tampan darinya, rasanya memang mustahil gadis secantik dan sepintar ana tidak memiliki kekasih.


Berminggu-minggu rio sudah tidak lagi melihat ana, karna ana telah menyelesaikan praktek lapangannya. tapi pada hari itu rio melihat sosok ana berada di kantornya.


Rio melihat perubahan raut wajah ana ketika seorang receptionis mengatakan julio sudah tidak lagi bekerja di PT. Asri Group. rasa penasaran berkecamuk di benak rio, rio ingin mengetahui ada urusan apa ana mencari julio.


Bak petir di siang bolong rio terkejut dengan pernyataan dokter bahwa ana sedang mengandung. Apa juliolah yang telah menghamili ana? tapi julio sudah beristri? pertanyaan itu muncul di benak rio.


Setelah rio mendapatkan semua jawaban atas pertanyaannya langsung dari mulut ana, rasa penyesalan dan rasa bersalahnya muncul. andai di kesempatan itu rio memiliki kepercayaan diri untuk mengungkapkan perasaanya maka ana tidak akan di sakiti oleh julio.


Meskipun rio mengetahui ana mengandung anak julio, perasaan rio terhadap ana tidak berubah sama sekali, rio justru semakin ingin melindungi ana.

__ADS_1


"Sudahlah le, yang berlalu biarlah berlalu. saat ini ana sudah ada depan mata. Jangan sampai kau menyia-nyiakan kesempatan itu lagi."


Ibu membelai lebut wajah putra sulungnya yang tertunduk di pangkuannya.


__ADS_2