
Memasuki lobby Ana mulai tidak percaya diri dengan kondisi perutnya yang mulai terlihat membesar, Rio yang selalu memahami apa yang Ana rasakan mencoba meyakinkan Ana bahwa semua akan baik-baik saja.
"Everything is gonna be okay baby." Rio menatap wajah Ana dan melanjutkan kalimatnya.
"Anak merupakan anugerah terindah yang harus kita syukuri kehadirannya, tenanglah ada aku yang akan selalu ada di sampingmu."
Rio menggandeng tangan Ana memasuki gedung tempat Ana wisuda, sebelum memasuki ruangan ada beberapa dosen yang menyapa Rio, Ana sempat bertanya-tanya kenapa banyak dosen dari fakultasnya yang mengenal Rio.
Sampai pada akhirnya salah seorang dosen pembimbing TA Ana juga menyapa Rio, dosen tersebut memberitahu Ana bahwa Rio pernah menjadi asdosnya dan Rio merupakan mahasiwa terbaik di angkatannya yang mendapat gelar Cum Laude dengan IPK 4,00.
"Jadi kak Rio kuliah di sini juga?" tanya Ana.
"Iya, tapi kayanya pas aku lulus kamu baru masuk makanya kita tidak ketemu. Ya sudah kamu masuk sana, duduk bareng temen-temen kamu. Aku disini menunggu aba-aba dari MCnya" ucap Rio.
Ana memasuki ruangan prosesi wisuda dan duduk bersama dengan teman-temannya sesuai nomor yang telah di berikan oleh panitia.
Tidak lama setelahnya MC memberikan aba-aba untuk para tamu undangan memasuki tempat prosesi wisuda, Rio duduk di kursi tamu VIP.
Prosesi pembukaan wisuda berlangsung dengan hikmad, hingga tibalah saatnya prosesi pengukuhan mahasiswa.
Satu persatu mahasiwsa di panggil ke atas panggung untuk menerima fotokopi ijazah dan bersalaman dengan dekan serta rektor sambil disebutkan predikat kelulusannya.
Tibahlah giliran nama ana di panggil ke atas panggung. Rasa haru, bahagia dan gugup menjadi satu.
...Sandriana Alfian, Sarjana Ekonomi...
...IPK 3,65...
...Predikat Kelulusan Dengan Pujian...
...Judul Tugas Akhir: Analisis Laporan keuangan...
...Pada PT. Asri Group...
Setelah selesai seluruh rangkaian prosesi wisuda, Rio memberikan ucapan selamat dan memberikan buket bunga mawar putih untuk calon istrinya, kemudian keduanya berfoto ria di tempat yang telah di sediakan oleh panitia penyelenggara, Ana berfoto memamerkan cincin sambil memeluk buket bunga pemberian Rio.
Selain berfoto bersama dirinya, Rio memberikan kesempatan kepada Ana untuk berfoto dengan teman-temannya, namun ia hanya memberikan waktu sebentar saja karena Rio tak ingin calon istrinya kelelahan.
Dalam perjalanan pulang ana tersenyum melihat foto-foto dirinya bersama dengan rio dan juga teman-temannya, ana memilih beberapa foto untuk di upload di sosial medianya.
"Sayang, foto ini aku upload di IG ku ya" Ana meminta persetujuan Rio, ia memperlihatkan foto dirinya dengan Rio sedang memamerkan cincin pertunangan mereka.
"Hu'um, uploadin juga sekalian di IGku" Rio memberikan handphonenya kepada Ana.
Alangkah terkejutnya Ana melihat isi handphone calon suaminya di penuhi dengan foto-foto dirinya saat dirinya sedang magang di PT. Asri Group, bahkan ada foto dirinya yang tengah menguap.
"Ooh jadi selama ini jadi paparazzi" Ana mencubit lengan Rio.
"Aduuh sakit sayang, kan buat doain kamu di sepertiga malam" alibi Rio.
__ADS_1
"Iih.... gombal" wajah Ana memerah.
"Sayang, kapan jadwal nengokin babyku, aku sudah tidak sabar ingin mendengar detak jantungnya dan melihatnya di layar USG" Rio mengelus perut Ana dengan lembut.
"Jadwalnya sih besok, tapi Kak Rio kan besok kerja, jadi kita nunggu kak Rio libur saja."
"Kata siapa aku kerja? besok aku masih cuti kok, besok kita nengoki baby kita ya"
Ana menganggukan kepalanya, mengiakan ajakan Rio untuk melakukan pemeriksaan kandungannya esok hari.
Sesampainya di rumah Ana menghubungi Lyra melalui Video Call.
"Assalamualaikum Dek, apa kabar?"
"Walaikumsalam baik Mba, sebentar dulu ya Mba." Lyra berjalan ke arah ibu.
"Assalamialaikum nduk, bagaimana wisudanya?" tanya ibu dengan antusias.
"Walaikumsalam Bu, Alhamdulillah lancar"
"Subhanallah kamu cantik sekali nduk." puji ibu.
Tiba-tiba Rio mendekati Ana dan ikut bergabung video call bersama dengan ibu dan Lyra, Rio mengangkat tangan Ana memamerkan cincin yang telah ia berikan kepada Ana sudah di pakai oleh ana, sontak kejadian itu membuat Lyra menjadi heboh,
"Jadi kapan le mau di remsmiinnya?" tanya ibu.
"Loh kok aku mas?" tanya Lyra dengan setengah protes.
"Kan kita nikahnya di sana, jadi yang jadi seksi sibuknya ya kamu."
"Tidak apa-apa deh buat Mba Ana aku mau, biar aku yang urus semua persiapannya"
"Gitu dong jadi adik yang baik, nanti Mas potong uang jajanmu" Rio mengancam adiknya, mendengar Rio mengancam Lyra, Ana langsung mencubit tangan Rio.
"Adduhh sayang sakit"
"Ya jangan jahat-jahat dong yang sama adiknya"
Melihat keduanya sedang di mabuk cinta, ibu kembali mengingatkan pada keduanya untuk tetap menjaga diri agar tidak kebabalasan.
"Ingat janjimu le"
"Njeh bu."
"Ya sudah kalo gitu, udahan dulu video callnya biar ana bebersih makeup da mengganti bajunya." Ibu mengahiri video call dengan rio dan ana.
Selesai berganti baju dan menghapus makeupnya ana mengajak rio untuk makan siang, namun nampaknya rio tengah serius di depan laptopnya.
"Sayang makan dulu yuk, kerjanya di lanjutin nanti." ajak Ana.
__ADS_1
Rio mengikuti Ana dari belakang menuju ruang makannya, namun tetap dengan membawa serta laptopnya.
"Sayang makan dulu"
"Suapin dong yang nanggung nih, Aaaaaa...." Rio membuka mulutnya lebar-lebar.
Dengan senang hati, Ana menyuapi calon suaminya hingga makanan yang berada di piring makannya habis. Selesai menyuapi rio, ana membuka obrolan serius dengan rio.
"Sayang, setelah melahirkan nanti aku boleh kerja ya" pinta Ana.
Kalimat ana membuat Rio mengalihkan perhatiannya dari laptopnya, Rio memandang wajah ana dengan serius.
"Apa ada barang atau hal lain yang kamu inginkan?" tanya Rio.
"Bukan itu, aku kan sudah lulus kuliah masa ijazahku tidak terpakai, jika hanya di rumah saja menunggumu pulang kerja serta mengurus anak, untuk apa aku capek-capek kuliah? untuk apa selama 4 tahun aku pusing mikirin tugas yang menumpuk?"
Sebenarnya bukan hanya masalah ijazah saja Ana meminta izin untuk bekerja, namun ia tidak ingin membebani Rio.
Rio beranjak dari tempat duduknya, ia pergi ke kamarnya meninggalkan Ana di ruang keluarga sendirian, namun tak lama kemudian Rio datang kembali menghampiri Ana dengan membawa beberapa dokumen miliknya.
"Sayang, aku punya tiga cabang laundry sepatu dan toko sepatu brand-brand local. Jika kamu ingin bekerja, bantu aku untuk menelolanya." Rio memberikan semua berkas yang di ambil dari kamarnya kepada Ana, agar Ana dapat mempelajarinya.
Kemudian Rio menatap mata Ana dalam-dalam sambil menggenggam tangan Ana.
"Seorang ibu memiliki pendidikan yang memadai, bukankah menjadi suatu nilai tambah dalam mendidik anak-anaknya? karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Suatu kebanggan bagiku, anak-anakku di didik oleh ibu sehebat dan secerdas dirimu."ucap Rio.
Kata-kata rio sungguh sangat menyentuh bagi Ana, ia berjanji akan memprioritaskan keluarga kecilnya.
Ana melihat satu persatu dokumen yang di berikan Rio terhadapnya, namun Ana tidak menemukan satu pun CV karyawan yang bekerja pada Rio.
"Sqyang, kok tidak ada CV para pegawaimu? aku mau tau background dari karyawan-karyawan yang bekerja denganmu." tanya Ana.
"Sebagian dari pegawaiku berasal dari orang-orang gelandangan yang berada di jalanan, mereka aku ajari hingga memiliki keterampilan sehingga bisa bergabung dalam bisnis yang aku jalani."
Ana kembali menemukan kejanggalan saat melihat laporan keuangan di usahanya Rio, Ana melihat perubahan biaya gaji yang signifikan di setiap bulannya.
"Sayang, kok tiap bulan salary expensenya (beban gaji) berubah-ubah?"
"Aku menerapkan sistem bagi hasil, jadi semakin tinggi profit (keuntungan) yang kita dapatkan maka salary mereka juga bertambah. Aku ingin mereka juga ikut merasa memiliki usaha ini jadi mereka bisa memberikan efort yang maksimal.
"Kak Rio ini buka usaha atau dinas sosial?"
"Sayang, tidak semua apa yang kita dapatkan itu adalah milik kita. Aku hanya mengambil bagianku saja, jika lebih maka itu bagian orang-orang yang berhak menerimanya"
Obrolan Ana dan Rio terhenti saat handphone Rio bergetar, ada pesan masuk je handphonenya.
"Temui aku di cafe X sekarang juga, atau aku akan mencelakai adikmu"
Rio bergegas mengambil kunci mobilnya dan berpamitan kepada Ana untuk keluar sebentar.
__ADS_1