Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 18


__ADS_3

Selesai mengantar Ana, Rio kembali memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ada hal penting yang harus di lakukannya, dia harus bertemu dengan lelaki breng*ek itu.


Berani-beraninya dia terus-terusan menyakiti Ana, bahkan ibunya turut jadi korban atas permasalahan rumah tangganya.


"ARRRRGGGGHHH..." Rio memukul-mukul kemudi dengan sangat keras.


Rio tidak menyangka hal ini bisa terjadi, Rio merasa dirinya sangat bodoh tidak bisa melindungi Ana dan ibunya dari si breng*ek itu.


"Aku harus membuat perhitungan kepadanya." gumam Rio.


Untung saja Lyra pernah bercerita jika Retno temannya pindah rumah, bahkan Lyra juga menceritakan dengan detail alamat rumah aretno, sehingga Rio tidak kesulitan untuk mencari kediaman rumah Julio.


Setibanya di kediaman Julio, Rio menggedor pintu rumah Julio dengan tidak sabar. Tidak lama Julio membuka pintu rumahnya, Rio menatap Julio dengan tatapan dingin, tidak tampak aura perasahabatan yang terjalin sebelumnya, Rio benar-benar muak dan membenci Julio.


Berbeda dengan Julio yang menatap Rio dengan tatapan yang bersahabat, ia mempersilahkan Rio untuk duduk di teras rumahnya. Rio pun duduk namun masih dengan tatapan elangnya seakan ia ingin memangsa buruannya.


"Ada apa kau kemari, Rio?" tanya Julio yang belum bisa mengartikan tatapan Rio.


Rio mengambil sebuah kunci dari dalam saku celananya dan menaruhnya di atas meja.


"Itu kunci apartemenmu, aku tidak pernah memakainya. Jangan lagi kau mengganggu Ana dan keluargaku, Ana tidak membutuhkan tanggung jawab dari pria breng*ek sepertimu" ucap Rio dengan ketus.


"Maksudmu?" tanya Julio yang masih belum paham dengan maksud perkataan Rio


"Kau tanyakan saja pada istrimu apa yang telah ia lakukan kepada ana dan ibuku" Rio berdiri berusaha mengakhiri pembicaraan dan kembali pulang menemani ana.


"Aku memang menyerahkan jabatanku di kantor, namun aku tidak akan pernah menyerahkan Ana padamu, Ana dan anak yang berada dalam kandungannya akan menjadi miliku kembali"


Mendengar perkataan Julio membuat amarah Rio memuncak, tanpa pikir panjang Rio meraih baju Julio dan memberinya pukulan keras.


BRUUUUUK....


Julio tersungkur ke lantai, kemudian julio mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya, ia senyum sinisnya merekah.


"Kenapa marah? bukankah kau sudah mengetahui bahwa anak dalam kandungan ana adalah anak kandungku? maka aku akan mudah mendapatkannya kembali hahaha..."

__ADS_1


Mendengar pucapan Julio,Rio semakin kalap, ia memukul Julio secara bertubi-tubi, Julio tergeletak bersimbah darah.


"Harusnya kau malu, kau sudah punya istri mengapa masih mengganggu wanita lain. Apa tidak cukup hanya dengan satu wanita saja?" Rio menghentikan pukulannya dan melangkah pergi dari rumah Julio.


Tanpa mereka sadari, di balik jendela Retno menyaksikan pertengkaran mereka. Retno meremas bajunya dengan sangat kencang, menahan tangis dan amarahnya terhadap suaminya.


Mendapati kenyataan bahwa suaminya begitu mencintai wanita lain bahkan suaminya berniat ingin memiliki kembali wanita itu.


Setelah kepergian rio, retno muncul dari balik pintu dengan deraian air mata di pipinya, retno benar-benar ingin berpisah dengan suaminya, tidak ada kata maaf baginya untuk sebuah penghianatan.


Awalnya retno hanya mengira bahwa analah yang telah menggoda suaminya namun kenyataannya suaminya lah yang mengejar ana.


retno mendekati suaminya yang tergeletak di lantai berimbah darah.


"Ceraikan aku dan pergi dari rumah ini, aku sudah tidak sudi hidup bersama dengan orang yang telah berkhianat." Ucap retno dengan linangan air matanya.


Retno berbalik masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rumahnya, ia sudah tidak perduli dengan julio.



Matanya mulai bergerilya mencari keberadaan Ana, ketika Rio ingin melangkah menuju kamar tamu.


Matanya melihat sosok yang sedang duduk meringkuk sembari menangis di sudut ruang keluarga, menyadari kehadiran rio yang datang dengan tiba-tiba membuat ana terkejut.


Ana menghapus air matanya, ana tidak ingin rio melihat dirinya menangis. Rio berjongkok di depan ana, ia membelai kepala ana dengan lembut.


"Kenapa belum tidur?" tanya Rio dengan lembut.


Ana tidak menjawab pertanyaan Rio, Ana hanya menggelengkan kepalanya.


"Yuk tidur di kamar, aku temani.'' ajak Rio.


"Ti...tidak usah kak" tolak Ana.


"Tidak apa-apa biar aku temani, aku berjanji tidak akan macam-macam padamu. Pasti kamu masih trauma dengan kejadian tadi pagi kan makanya kamu belum tidur?" tanya rio.

__ADS_1


Rio mulai berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu ana bangun, ana memperhatikan tangan rio yang berimbah darah.


"Kak, tangan kakak kenapa?"


"Oh ini, bukan apa-apa. Tidak usah kamu pikirkan." jawab Rio.


"Ana bersihin ya kak" Ana menawarkan dirinya untuk membersihakan tangan Rio.


Rio mengangguk menuruti permintaan Ana, Rio juga merasa tangannya lecet karna terlalu kencang memukul Julio.


Selagi ana membersihkan tangannya, Rio meminta Ana untuk menceritakan mengapa dirinya bisa tinggal di rumahnya.


Ana menceritakan bahwa Lyra pernah menyerempetnya sehingga ana menerima tawaran lyra untuk tinggal di rumahnya, ana pun menceritakan semuanya, mulai dari lyra yang menabrak dirinya.


"Anak itu kalo bawa mobil memang kurang hati-hati." gerutu Rio.


"Kakak jangan marah sama Lyra, kalo waktu itu lyra tidak menyempetku, saat ini aku tidak akan tinggal di sini."


"Ia juga ya, tapi ya tetap saja dia mesti di kasih tahu, jika berkendara harus hati-hati."


"Udah selesai ka tangannya."


"Terima kasih ya, nih punyamu" Rio memberikan handphone Ana yang tertinggal di rumahnya saat Ana di usir oleh kakaknya.


Ana segera membuka handphonenya dan mengeceknya, Ana tampak heran mengapa hpnya sangat bersih, tak ada satupun foto-foto digalenya, bahkan semua pesan masuk di hpnya juga tidak ada, semuanya tersapu bersih.


"Sudah aku bersihkan semuanya, kamu tidak perlu lagi mengingat masa lalumu"


Rio berjalan menuju kamar tamu, kamar yang di tempati oleh Ana selama Ana tinggal di rumahnya.


"Tidurlah, besok pagi kita ke rumah sakit jaga ibu"


"Kakak tidur dimana?" tanya Ana.


"Dibawah nanti aku akan ambil kasur lantai jika kamu sudah tidur." Rio menyelimuti tubuh ana dengan selimut.

__ADS_1


Tidak lama setelah Ana tertidur Rio pun menggelar kasur lantainya dan ia tidur di bawah tempat tidur Ana.


__ADS_2