
Seharian ini aku tak mendapatkan kabar dari Yoga. Pesan dariku hanya terkirim saja, tak dibacanya.
Awalnya aku merasa biasa saja. Mungkin memang Yoga sedang sibuk. Nanti juga kalau dia sudah tidak sibuk pasti akan membalas pesanku.
Aku menyibukan diri dengan segala pernik-pernik persiapan pernikahanku yang tinggal menghitung hari.
Tak ada perayaan seperti pernikahanku yang pertama. Karena di samping aku tidak mau, Yoga juga tak mau membebani aku dengan kesibukan persiapan pernikahan.
"Kalau kamu mau merayakan, kita cari Wedding Organizer saja. Biar kamu gak repot. Acaranya bisa di rumah atau mau di gedung juga gak apa-apa. Soal biaya, nanti aku usahakan."
Aku masih ingat perkataan Yoga setelah acara lamaran yang kami lupa mendokumentasikannya.
"Enggak, ah. Aku malu, Ga. Masa di pajang sampai dua kali. Kita nikah di KUA saja. Terus bikin selamatan buat tetangga kanan kiri."
Itu jawabanku waktu itu. Dan Yoga tidak keberatan dengan permintaanku.
Dia cuma bilang, selesai selamatan aku pulang ke rumahnya dia. Rumah almarhum orang tuanya.
Aku sudah membicarakannya pada keluargaku. Mereka setuju bahkan memberi kami kesempatan untuk menikmati malam pertama hanya berdua saja.
Anakku tetap sama keluargaku. Karena ibu yang sudah terlanjur sayang pada anakku belum siap untuk berpisah dengannya.
Yoga menginginkan anakku diajak tinggal di rumahnya. Katanya biar rumahnya jadi rame kalau ada anak kecil. Apalagi anakku sudah berusia setahun lebih. Sedang lucu-lucunya.
Tawanya yang cempreng dan tangisannya kalau dia sedang belajar berjalan lalu jatuh, malah terlihat lucu.
Membuat kami semua tertawa terpingkal-pingkal. Termasuk Yoga. Dan biasanya dia yang akan duluan menolongnya.
Yoga sebagai anak tunggal sangat merindukan sebuah keluarga yang ramai seperti di rumahku.
Meski rumah orang tuaku tak sebesar rumah orang tua Yoga, tapi bisa membuat Yoga nyaman berada diantara kami.
Selepas maghrib, aku merindukan Yoga. Aku buka aplikasi chat-ku. Pesan dariku masih belum dibaca oleh Yoga.
Bahkan aku membaca terakhir kali Yoga membuka aplikasinya, satu jam sebelum aku mengiriminya pesan.
Kemana dia? Kok tumben dia tidak membuka hapenya. Apa saking sibuknya sampai tidak punya waktu untuk sekedar membuka pesan dariku.
Bukannya aku berfikiran negatif lagi padanya. Karena aku sudah percaya sama Yoga. Aku hanya khawatir saja.
Waktu pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Aku gak mau juga kalau dia kecapekan.
Aku coba menelpon Yoga. Hanya berdering saja. Hingga panggilan ketiga, barulah telponku diangkat.
__ADS_1
"Hallo...." Suara perempuan yang mengangkatnya. Membuatku nyaris menjatuhkan ponselku saking kagetnya.
Bagaimana tidak, setelah pengakuan Lidya yang sempat membuatku negative thinking pada Yoga, sekarang malah telponku diangkat oleh seorang perempuan.
Dan aku semakin kaget lagi, saat perempuan itu mengaku sebagai perawat sebuah rumah sakit.
Katanya Yoga tadi pagi mengalami kecelakaan dan belum sadarkan diri sampai sekarang.
Aku berfikir apa ini sebuah penipuan dengan modus seperti itu yang sedang viral?
Aku keluar dari kamarku dan berlari ke ruang tamu. Kebetulan keluargaku sedang berkumpul, termasuk Tari juga ada di sana.
"Ada apa, Wid. Kok lari-lari?" tanya ibu yang sedang memangku anakku.
Aku mengaktifkan loudspeaker ponselku dan meminta perempuan yang mengaku sebagai perawat itu mengulangi penjelasannya tentang Yoga.
Semua mendengarkan dengan serius. Dan saling berpandangan saat perempuan itu menutup panggilan dariku.
Aku terduduk lemas di samping bapak. Kepalaku langsung berputar-putar. Mungkin kalau tidak langsung duduk, aku bisa terjatuh.
"Ndi, antar adikmu ke alamat rumah sakit itu. Tari kalau mau ikut gak apa-apa juga. Sekalian temani Widhi. Pesan taksi online saja" ucap bapak memecah kebisuan kami.
Mulut kami serasa terkunci mendengar penjelasan dari panggilanku tadi.
Tari yang berniat untuk ikut, segera memesan taksi online dengan aplikasinya.
Pastinya Tari ikut khawatir dengan kondisi Yoga.
Sementara menunggu sepuluh menit lagi sampai mobilnya datang, aku berganti pakaian dulu.
"Wid, ayo cepetan! Mobilnya sudah datang. Lama amat sih dandannya!" Teriak mas Andi.
Bukannya aku lama berdandan, tapi otakku yang sedang gak konek membuatku melamun sebelum berganti pakaian.
Suara mas Andi mengagetkan aku yang sedang melamun lagi.
"Iya, Mas! Tunggu sebentar!" Aku segera meraih tas kecilku. Dengan terburu-buru aku keluar kamar.
Seperti orang yang kehilangan kesadaran, aku berjalan begitu saja keluar rumah. Tanpa memperhatikan kalau mas Andi dan Tari justru menungguku di ruang tamu.
"Ealah! Ditungguin di sini dia malah jalan sendiri." Ucapan ibu terdengar sampai ke telingaku.
Aku menoleh karena sadar kalau mas Andi dan Tari belum keluar rumah.
__ADS_1
Tari setengah berlari mengejarku. Lalu menggandeng tanganku kayak anak kecil.
"Ayo naik!" Mas Andi membukakan pintu mobil untukku dan Tari. Sementara dia sendiri naik di sebelah sopir.
Sepanjang perjalanan, Tari menggenggam tanganku. Aku tau dia juga sangat panik. Tapi sikap tenang Tari mampu menutupi kepanikannya.
"Gak usah panik gitu, Wid. Belum tentu juga omongan perawat tadi benar."
Mas Andi mencoba menenangkanku. Aku malah semakin gelisah. Iya kalau gak bener, kalau benar terus bagaimana?
Kecelakaan terjadi tadi pagi, dan sampai sekarang Yoga belum sadar.
Memang perawat itu tidak memberitahu kondisi Yoga yang sebenarnya. Tapi aku bisa membayangkannya.
Aku melirik ke arah Tari. Meski dia nampak lebih tenang dariku, matanya nampak berkaca-kaca.
Kini giliran aku yang menggenggam erat tangan Tari. Tak ada kalimat-kalimat untuk saling menguatkan. Hanya mas Andi yang sering berbicara.
Kadang ditujukan padaku, kadang untuk Tari. Mas Andi paham bagaimana dekatnya hubungan calon istrinya dengan calon suamiku.
Dua perempuan yang sama-sama dia sayangi, sedang memikirkan laki-laki yang sama.
"Siapa yang kecelakaan, Pak?" tanya driver taksi online pada mas Andi.
"Kami tadi dapat kabar dari rumah sakit, katanya calon suami adik saya sekaligus sepupunya calon istri saya kecelakaan tadi pagi, Pak" jawab mas Andi.
"Jam sepuluhan siang di jalan mawar ya?" tanya si driver lagi.
Aku jadi ikut menyimak pembicaraan mereka. Tari juga ikutan fokus mendengarkan.
"Saya malah kurang tau, Pak. Informasi yang kami terima hanya korban sampai saat ini belum sadarkan diri. Bapak tahu kecelakaan itu?" tanya mas Andi.
Aku mencondongkan badanku. Tak sabar mendengar jawaban dari si driver.
"Kebetulan saya tadi pagi pas lewat jalan itu. Pengendara motor tertabrak mobil pick up. Kata warga sekitar, tabrak lari. Karena jalanan pas lengang. Tapi ada yang sempat melihat penabraknya mobil pick up."
Jantungku semakin berpacu dengan cepat.
"Kondisi korban bagaimana, Pak?" tanyaku tak sabar.
"Saya sempat lihat sih, sudah tak sadarkan diri. Warga ada yang membantu menghubungi ambulan. Tak ada yang berani menyentuh korban."
"Kenapa tak ada yang berani, Pak? Masa gak ditolong sama sekali?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Kondisinya cukup parah, Bu. Warga takut kalau salah menolong malah membuat kondisi korban makin parah."
Aku dan Tari saling berpandangan. Lalu sama-sama menjatuhkan punggung ke sandaran jok mobil.