Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 130 BELUM SAATNYA BELAH DUREN


__ADS_3

Menjelang dhuhur aku minta acara selesai. Aku sudah capek dengan pakaian dan riasanku. Yoga juga terlihat capek.


"Ya sudah. Kalian masuk saja. Nanti kalau ada tamu, biar ibu dan bapak yang menemui" ucap ibu.


Bapak yang tidak tega dengan kondisi Yoga, memapahnya hingga sampai ke kamarku.


Mas Andi dan Tari tadi pamit mau keluar sebentar. Katanya ada urusan mendadak. Entah apa.


Setelah Yoga duduk di tempat tidur, bapak meninggalkan kami berdua.


Aku menutup pintu dan duduk di samping Yoga. Aku menggenggam tangan Yoga.


"Makasih ya, Ga. Banyak sekali surprise-nya" ucapku, lalu mengecup pipi Yoga.


Yoga langsung menyambar bibirku.


"Hmm. Rasa lipstik!" Yoga menjauhkan bibirnya.


"Lagian, main sosor aja. Aku bersih-bersih dulu ya. Kamu mau tiduran?" tanyaku yang ingin membantu Yoga untuk berbaring.


"Aku bisa sendiri, Wid" sahut Yoga dan merebahkan dirinya.


Aku mulai melepaskan hiasan-hiasan yang menempel di sanggul modernku. Cukup melelahkan juga karena banyak sekali hiasannya.


Aku jadi merasa gerah. Kayaknya lebih enak kalau buat mandi. Pasti badanku lebih segar.


Aku membawa handuk dan keluar dari kamar. Tujuanku jelas kamar mandi.


"Eh, lepasin dulu itu bajunya! Nanti rusak. Kan sayang, mahal-mahal dibeli cuma dipakai sekali saja!" seru Ibu dari ruang tamu.


"Lepasinnya nanti di kamar mandi, Bu!" sahutku.


"Lepas dulu di kamarmu. Nanti rusak kena paku."


Ibu tetap ngotot. Di kamar mandi memang banyak paku yang biasanya dipakai buat mencantolkan baju dan handuk.


Aku mengalah saja daripada ibu ngoceh terus.


"Kok gak jadi mandi?" tanya Yoga yang melihatku masuk kembali.


"Ibu tuh. Mau sekalian copot-copotnya di kamar mandi saja, gak boleh."


"Ya gak boleh lah. Kan kamu mesti copot-copot di depan suami kamu."


Aku melotot ke arah Yoga. Tapi memang benar sih. Yoga kan sudah sah jadi suamiku. Jadi aku tidak harus malu melepas bajuku di depannya.


Tapi aku tetap malu. Sebelum lepas semua, aku langsung menutup tubuhku dengan handuk.


"Mana? Kok malah ditutupi handuk?"


Aku melemparkan kebayaku ke arah Yoga. Yoga menangkapnya sambil ketawa.


"Dilarang buka-bukaan siang hari."


Aku keluar kamar sambil menutup bagian atasku dengan baju ganti. Dan langsung meluncur ke kamar mandi.


Selesai mandi, aku merasa sangat segar. Enteng rasanya kepala dan badanku yang tadi di pakaikan kebaya ketat dengan tambahan kemben di dalamnya.


"Kamu mau mandi, Ga?" tanyaku.


"Nanti saja. Sekalian mandi sore."

__ADS_1


Aku duduk di kursi kecil di depan meja rias. Aku sisiri rambut sebahuku.


Dari kaca aku lihat Yoga sedang menatapku. Kasihan sekali dia yang belum bisa berdiri sempurna.


"Wid." Yoga memanggilku.


Aku mendekat dan duduk di samping Yoga yang masih terbaring.


"Ada apa?"


"Kamu gak nyesel kan menikah denganku?"


Aku mengernyitkan dahi. Pertanyaan macam apa ini?


"Maksud kamu apa, Ga?"


"Aku kan lagi tidak sehat. Gak bisa malam pertama dengan kamu."


Aku malah ketawa ngakak. Ada-ada saja pertanyaannya.


"Ga! Malam pertama kan tidak harus nanti malam. Kapan-kapan juga bisa. Mestinya yang nanya begitu aku. Kamu gak nyesel kan menikah denganku yang sudah tidak perawan lagi?"


Giliran Yoga yang ketawa.


"Malah mecurigakan kalau kamu jadi perawan lagi. Jangan-jangan kamu jahit barang kamu."


Dasar Yoga, bisa saja menjawabnya.


"Ga. Aku ngantuk."


Yoga bergeser dan menepuk tempat sebelahnya. Tanpa pikir panjang aku merebahkan diri di samping Yoga.


Aku menghadap ke arah Yoga. Dia pun menghadap ke arahku.


"Sangat, Ga. Kamu?"


"Bahagia banget."


Yoga langsung menyambar bibirku yang sudah tak dilapisi lipstik.


Cukup lama bibir Yoga beraksi. Sampai kemudian aku melepaskannya.


"Udah, Ga. Di luar masih banyak orang. Tidak enak kalau mereka mendengar suara-suara misteri."


Yoga mengacak rambutku. Lalu kami tidur berpelukan. Akhirnya aku bisa juga memeluk tubuh pasangan lagi.


Kami terlelap hingga jam dua siang. Cuaca yang panas membuat badan sangat gerah. Tidur pun jadi tidak nyaman.


"Bangun, Wid. Kita belum sholat dhuhur."


Aku menggeliatkan badan. Aku lihat jam di dinding kamarku. Jam dua. Masih ada cukup waktu buat sholat dhuhur.


"Kamu mau wudhu? Aku bantu ya?"


Yoga mengangguk. Aku membantu Yoga bangun dan memapahnya ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi pun, aku masih membantu Yoga yang mau pipis.


Risi juga sih menunggui Yoga pipis. Karena aku belum pernah melihatnya.


Aku memalingkan mukaku.

__ADS_1


"Lihat juga tidak apa-apa. Udah sah jadi milik kamu kok."


Ucapan Yoga sukses membuatku malu.


"Sstt. Jangan ngomong begituan. Nanti dikira kita lagi ngapa-ngapain di sini."


Aku membantu Yoga berwudhu.


"Ga, kalau aku memapahmu batal tidak wudhu kamu?"


"Untuk kondisi begini menurutku tidak batal. Kan memang aku perlu dibantu jalannya."


Akhirnya aku membantu Yoga berjalan dulu sampai ke kamar, lalu aku bergegas wudhu.


Yoga sholat dengan posisi duduk. Aku jadi makmum yang berdiri di belakangnya.


Meskipun Yoga sedang sakit, dia tetap imamku.


Selesai sholat aku mengajak Yoga keluar dari kamar. Bosan juga kalau harus tiduran lagi.


"Eh, pengantin baru. Udah belah duren?" Mas Andi mulai meledek.


"Belah duren. Kayak tahu aja!" sahut Yoga.


Skak mat. Kena kamu mas.


Mas Andi menggaruk tengkuknya sambil nyengir.


"Ri! Tuh udah ada yang kepingin." Wajah Yoga diarahkan ke mas Andi.


Mas Andi semakin salah tingkah. Biasanya dia sukses meledekku. Tapi sekarang ada yang membackingiku.


"Kalian belum makan siang, kan?" Ibu muncul dari dalam.


"Ayo, Ri. Bantu ibu menyiapkan makan siang" ajak ibu pada Tari.


Tari mengangguk dan mengikuti ibu yang masuk kembali ke dapur.


Mas Andi membersihkan meja yang berantakan, karena banyak barang-barang yang diletakan di atasnya.


"Mentang-mentang pengantin baru. Tidak mau membantu!" gerutu mas Andi.


"Sekali-kali jadi ratu sehari, Mas. Hehehe" sahutku. Mas Andi langsung melemparku dengan benda kecil yang dia temukan di atas meja.


"Sehari ya? Awas kalau nambah!" ancam mas Andi.


"Yaileh, Mas. Sama adik sendiri saja itungan amat!"


"Adik sih adik. Kalau urusan kerjaan ya bukan adik lagi" sahut mas Andi.


"Ih, dasar!"


Tari sudah kembali dengan mangkok besar berisi sayur sop. Lalu kembali lagi ke dapur mengambil makanan lainnya.


Mas Andi ikut membantu. Tapi mulutnya tetap saja ngoceh kayak emak-emak lagi ngomelin anaknya.


"Jangan kaget ya, Ga. Kakak iparmu mulutnya tidak bisa diem. Bawelnya melebihi emak-emak!"


Yoga hanya tersenyum saja.


"Kasihan tuh entar istrinya. Bisa-bisa tiap hari diomelin terus." Aku terus membicarakan mas Andi seolah-olah orangnya tidak ada.

__ADS_1


Padahal orangnya melotot ke arahku.


__ADS_2