
"Maafkan aku sayang!! Maafkan aku." Lirih Damar semakin mengeratkan pelukannya, membuat Ayu heran tapi juga sangat senang walau dia belum mengerti dengan apa yang terjadi. Kata maaf terus terucap dari mulut Damar, membuat Ayu semakin heran.
"Mas!! Kamu..."
"Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi. Aku tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Maafkan aku!! Ucap Damar lirih, seraya melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata dan mencium kedua mata Ayu. Damar menatap Ayu, lalu berkata "Aku sangat mencintai kamu sayang." Ucapnya, lalu kembali memeluk dan menciumi seluruh wajah Ayu.
"Apa yang terjadi mas? Kenapa kamu..."
"Aku sudah tahu semuanya sayang!! Maafkan aku. Aku memang bodoh!! Seharusnya aku percaya sama kamu. Kamu boleh menghukumku karena kebodohanku ini, asal kamu mau memaafkanku dan jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku."
"Maksud kamu....kamu...."
"Iya sayang, aku tahu semuanya. Maafkan aku!! Kamu mau kan memaafkanku?." Tanya Damar. Ayu menatap Damar dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak percaya Damar tahu kebenarannya secepat ini. Tapi darimana dia tahu?. Ah masa bodoh, yang penting sekarang Damar tahu, Ayu tidak pernah melakukan perbuatan itu dengan Tristan.
Ayu mengangguk lalu memeluk suaminya tidak kalah erat. Dia sangat bahagia karena apa yang dia pikirkan tidak akan terjadi. Dia juga tidak mau meninggalkan Damar. Mereka berpelukan dengan perasaan bahagia juga lega, sampai akhirnya Ayu melepaskan pelukan mereka dan berkata;" Kamu dari mana tadi mas?. Pasti kamu belum makan kan?. Ayo mas!! Kita makan dulu." Ajak Ayu.
Damar tersenyum, menatap Ayu penuh rasa sayang sekaligus bangga, karena istrinya begitu perhatian dan peduli padanya.
"Mas!! Kenapa kamu malah senyum kayak gitu?. Aku ngajak kamu makan, bukan ngajakkin senyum."Kata Ayu.
"Kamu tahu Yu, saat ini tidak ada hal lain yang aku rasakan selain rasa cintaku yang semakin besar sama kamu. Aku merasa benar-benar beruntung memiliki kamu. Kamu istri tercantik dan terbaik untukku. Aku sayang kamu Yu. Aku sangat mencintai kamu." Ujar Damar.
Ayu terkekeh pelan mendengar ucapan suaminya itu. Walau dia bahagia dia tetap merasa sedikit geli, karena menurutnya apa yang dikatakan suaminya itu sedikit gombal.
"Kenapa kamu malah ketawa?." Tanya Damar.
"Mas!! Kamu tadi marah-marah, sekarang malah gombalin aku. Kamu ngerayu aku mas?." Goda Ayu.
"Siapa yang gombal?. Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku memang makin cinta sama kamu." Sahut Damar.
"Oh ya?."
"Iya."
"Kamu yakin nggak laper mas?. Kalau aku sih laper banget. Mending kita makan yuk mas!! Biar tenaga kamu makin gede buat gombalin aku." Ajak Ayu.
Damar tersenyum mendengar ucapan Ayu.
"Ya udah, kita makan.Tapi aku mandi dulu ya. Gapapa kan?." Tanya Damar. Ayu mengangguk.
"Aku siappin airnya ya." Tawar Ayu.
__ADS_1
"Gak usah, biar aku aja. Mending kamu bantuin aku." Kata Damar
"Bantuin apa?." Tanya Ayu
"Bantuin aku mandi. Udah lama kamu gak bantuin aku mandi." Ujar Damar dengan senyum nakalnya. Ayu terkekeh.
"Udah ah, cepet mandinya. Aku mau angetin dulu makananya." Pungkas Ayu, seraya mendorong tubuh Damar. Dia menyiapkan baju ganti Damar, lalu turun untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
.....
Damar dan Ayu sudah berada diranjang mereka. keduanya duduk bersandar pada headbord ranjang. Damar menggenggam tangan Ayu, dan sesekali menciumnya. Ayu tersenyum, lalu memeluk suaminya.
"Mas." Panggil Ayu
"Iya sayang." Sahut Damar.
"Boleh aku minta sesuatu?." Tanya Ayu.
"Tentu saja sayang." Jawab Damar.
"Mulai sekarang aku mau kamu janji, nggak akan pernah nyembunyiin apapun dari aku. Kita ini suami istri, harus saling terbuka dalam hal apapun. Susah senang kita hadapi sama-sama. Kamu mau janji kan mas?." Tanya Ayu
"Iya sayang, aku janji. Mulai sekarang aku gak akan pernah nyembunyiin apapun dari kamu. Aku pasti akan jujur dan terbuka sama kamu, dan kamu juga mau terbuka sama aku." Sahut Damar.
"Aku tahu dari Tristan." Jawab Damar.
"Apaaa?. Tristan?. Tapi bukankah dia yang mengatakan sama kamu kalau aku menemui dia?." Tanya Ayu lagi.
"Tidak sayang, bukan. Bukan Tristan yang ngasih tahu aku kalau kamu datang menemui Tristan." Jelas Damar.
"Lalu siapa?." Tanya Ayu semakin penasaran.
"Ambar." Jawab Damar.
"Apaaa?. Bu Ambar?."
"Iya, dia. Tadi dia datang ke kantor marah-marah, nanya ke aku, ada urusan apa kamu datang ke kantor kekasihnya. Dia juga... ah sudahlah, yang penting sekarang aku udah tahu semuanya."
"Mas......!!
"Iya-iya baik, aku akan ceritakan semuanya."
__ADS_1
Flashback on.
Ambar datang ke kantor dan memaksa masuk menemui Damar. Tanpa basa-basi Ambar bertanya pada Damar, ada urusan apa Ayu datang ke kantor Tristan. Damar terkejut. Melihat wajah terkejut Damar, Ambar yakin Damar memang tidak tahu tentang itu.
Ambar pun memanas-manasi Damar dengan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Ayu dan Tristan. Dia juga mengatakan semua yang dikatakan Tristan padanya tentang Ayu. Ambar meracuni pikiran Damar dan menjelek-jelekkan Ayu.
Damar pun mulai panas mendengar semua yang dikatakan Ambar. Dia lalu teringat dengan uang itu. Uang yang menurut David adalah uangnya yang berhasil dia dapatkan kembali melalui bantuan hacker.
Damar mulai meragukan David. Dia lalu menelponnya, memintanya datang ke kantor. Sesampainya David dikantor, Damar langsung menanyakan apa yang ingin dia ketahui. Karena desakan Damar, akhirnya David pun menceritakan semuanya. Damar sangat marah dan emosi saat itu. Dia tidak menyangka Ayu sanggup melakukan hal itu.
Damar lalu pulang karena ingin meminta penjelasan Ayu. Setelah mendengar penjelasan dan sumpah istrinya, perasaan Damar semakin kacau. Akhirnya Damar memutuskan pergi menemui Tristan untuk menanyakan secara langsung.
Tristan mengiyakan pertanyaan Damar, kalau Ayu memang datang menemuinya dua kali. Dan kedatangannya yang kedua adalah untuk menyerahkan dirinya pada Tristan. Mendengar itu, Damar semakin marah, emosi, dan terbakar cemburu. Dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menghajar Tristan. Bogem mentah Damar pun mendarat di wajah Tristan, membuat dia tersungkur ke belakang. Damar kembali akan melayangkan bogem mentahnya, tapi Tristan menahanya.
"Tenang pak Damar!! Tenang.!! Ini tidak seperti apa yang anda bayangkan." Kata Tristan.
"Memang kau fikir apa yang aku bayangkan brengs*k." Sergah Damar.
"Dengarkan aku!! Istrimu memang datang dan ingin menyerahkan dirinya, tapi percayalah aku, maksudku kami tidak melakukanya."
"Apa kamu fikir aku percaya?."
"Aku tidak peduli anda percaya atau tidak. Tapi sebaiknya anda percaya, kalau tidak mungkin anda akan menyesal." Ujar Tristan
"Kamu pikir omongan bajingan seperti kamu bisa dipercaya?." Tanya Damar dengan senyum mengejek.
"Memang benar aku sangat menyukai dan menginginkan istrimu. Saat dia datang dan mengatakan kalau dia bersedia menyerahkan dirinya, aku sangat senang. Aku bertanya padanya kenapa dia mau melakukan hal itu, dan dia menjawab kalau dia sangat mencintai suaminya dan tidak mau melihatnya menderita.
Saat itu aku tertawa, karena aku pikir jawaban istrimu itu sangat lebay dan dibuat-buat. Ini hanya alasan yang dia buat, karena sebenarnya dia juga mau melakukanya denganku, itulah yang aku pikirkan saat itu. Tapi setelah aku melihat matanya, aku benar-benar melihatnya. Aku melihat kalau dia sungguh-sungguh mencintai kamu, dan jujur saja aku tidak suka itu, apalagi saat dia memuji suaminya dan membanding-bandingkannya denganku, aku sangat benci.
Aku memang berniat akan melakukanya saat itu, tapi air mata istrimu itu menjelaskan dan semakin menyadarkanku, kalau dia benar-benar terpaksa melakukannya. Dia benar-benar mencintai suaminya. Dan aku tidak suka melihat air mata itu. Aku memang menginginkan dia, tapi aku tidak suka bercinta jika wanita itu terpaksa melakukanya.
Istrimu sangat mencintai anda pak Damar, dia rela melakukan pengorbanan sebesar itu hanya karena tidak ingin melihat suaminya menderita. Anda sangat beruntung pak Damar." Jelas Tristan panjang lebar.
Damar terdiam mendengar penjelasan Tristan.
"Kalau anda tidak percaya pada istri anda, anda pasti akan menyesal pak Damar. Kalau anda sampai mengusirnya, saya pastikan saya yang pertama akan maju untuk mendapatkannya." Imbuh Tristan, lalu dia memperlihatkan rekaman cctv dikantor juga ruangan pribadinya pada Damar.
Dari situlah Damar tahu dan yakin kalau Ayu dan Tristan memang tidak melakukan hal itu. Damar terenyuh dengan semua yang dilakukan Ayu. Ayu ternyata begitu mencintai dirinya.
Damar tidak peduli apa-apa lagi sekarang. Yang saat ini dia rasakan hanyalah rasa cinta yang semakin besar pada istrinya itu. Tanpa berkata apapun, Damar pergi dari kantor Tristan, karena ia ingin segera menemui dan memeluknya dengan erat. Damar tidak ingin sampai Ayu pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Flashback off.
TBC💚❤️💚