
Jam pulang sikembar masih sekitar sepuluh atau lima belas menit lagi. Ayu dan Gara turun dari mobil menuju sebuah mini market yang berada didekat sekolah. Ambar memperhatikan dari dalam mobilnya. Kamu sudah benar-benar berubah sekarang Ayu. Tidak ada yang akan menyangka kalau dulu kamu hanya perempuan biasa yang hidup pas-passan. Kata Ambar dalam hati.
Ambar masih terus menatap ke arah Ayu dan Gara yang baru keluar dari mini market. Dia tersenyum saat melihat wajah Gara yang lucu dan mirip sekali dengan Damar. Naluri keibuanya muncul. Dia ingin sekali mencium dan memeluk anak itu.
Matanya berkaca-kaca saat melihat interaksi Ayu dan Gara. Ambar sangat iri karena Ayu adalah ibu dari anak Damar yang sangat lucu dan mirip dengan ayahnya.
Tak lama kemudian, si kembar keluar dari gerbang sekolah dan menghampiri Ayu. Mereka berdua menyalami Ayu dan menggoda Gara, lalu mereka tertawa bersama. Kejadian ini semakin menarik perhatian Ambar. Senyumnya kembali mengembang, saat Ambar melihat si kembar, anak yang dulu ingin dia rebut dari Ayu sekarang sudah besar dan sangat cantik.
Rasa iri semakin menyelimuti hati Ambar. Kenapa harus Ayu yang menjadi ibu dari anak-anak itu?. Kenapa bukan dirinya. Itulah yang difikirkan Ambar saat ini.
Dulu, dia meminta Damar menikahi Ayu, karena dia berniat ingin merebut anak Ayu, tapi yang terjadi malah Ayu berhasil merebut perhatian dan cinta suaminya. Ambar akui dia menyesali kebodohanya, walaupun semua percuma sekarang.
Ayu terlihat sedang menerima panggilan dari seseorang, setelah itu dia meminta anak-anaknya masuk ke mobil dan pergi dari sekolah. Ambar masih setia mengikuti mobil Ayu, yang saat ini masuk ke sebuah restoran terkenal di ibu kota.
Mereka turun, dan tak lama kemudian seorang lelaki keluar dari dalam restoran itu, yang tak lain adalah Damar. Dia langsung memeluk dan mencium Ayu."Akhirnya kamu datang sayang." Ucapnya saat mencium pipi Ayu. Damar mencium ketiga anaknya, lalu mengajak mereka masuk ke dalam restoran itu.
Ambar masih saja setia menyaksikan adegan kemesraan keluarga Damar. Hatinya berdenyut nyeri melihat semua itu. Ambar lalu memilih pergi dari sana, kembali menuju butiknya. Dia sendiri tidak tahu kenapa harus mengikuti Ayu, dan melihat semua kejadian yang membuat hatinya memanas.
Sementara itu, senyuman miring mengembang di bibir Damar, saat dia membaca pesan dari anak buahnya, kalau Ambar sudah pergi dari sana. Damar baru saja selesai menemui klien di restoran itu, saat anak buahnya mengatakan kalau Ambar mengikuti Ayu, oleh sebab itu dia meminta Ayu datang ke restoran, dengan alasan ingin mengajaknya makan siang, padahal dia baru saja saja makan siang dengan kliennya.
__ADS_1
Damar meminta anak buahnya tetap waspada, karena dia tak ingin Ambar menyakiti Ayu atau mungkin mendekati sikembar. Masih jelas dalam ingatan Damar bagaimana dulu Ambar begitu menginginkan sikembar, dan nekat melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya itu.
....
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Satu Tahun Kemudian.
Ambar semakin sering mengunjungi dan menghabiskan waktu luangnya di panti asuhan, mengusir dan mengobati rasa kesepiannya, dengan bermain bersama anak-anak disana. Tadinya Ambar berniat akan mengadopsi salah satu anak dari panti asuhan tersebut, tapi dia urungkan niatnya karena berbagai alasan.
Selain karena ingin bermain dengan anak panti, salah satu alasan Ambar sering datang kesana adalah karena pertemuanya dengan Tristan, seorang pengusaha sukses yang tampan dan sangat kaya. Dia juga salah satu donatur tetap di panti itu, juga dipanti-panti lain.
Mereka akhirnya jadian, dan hubungan itu sudah berjalan empat bulan. Ambar bisa melupakan semua rasa sakit yang dia rasakan selama ini, karena kehadiran Tristan. Dia benar-benar jatuh cinta pada Tristan. Pesona Tristan sanggup meruntuhkan niatnya untuk tidak melakukan perbuatan terlarang, seperti apa yang di lakukanya dulu dengan Andreas.
Wajah tampan dan gagah, juga semua rayuan maut Tristan membuat Ambar terbuai. Dia dengan sukarela menyerahkan dirinya pada lelaki yang baru saja dikenalnya. Selama ini Ambar memang sudah merasa sangat kesepian dan kedinginan. Dia sudah lama tidak merasakan sentuhan dan kehangatan dari seorang lelaki, dan Tristanlah lelaki yang kini kembali menghangatkannya.
Mereka berdua sering menghabiskan malam panjang diranjang, dirumah Ambar ataupun dihotel. Menurut Ambar,Tristan memang tidak sehebat Andreas, tapi tetap saja dia bisa memuaskanya.
Menurut pengakuannya, Tristan adalah seorang duda yang ditinggalkan istrinya karena dia tidak bisa membuat istrinya hamil, atau dengan kata lain, Tristan adalah lelaki mandul, sama seperti Ambar.
__ADS_1
Ambar merasa cocok dan banyak persamaan dengan Tristan. Dia membawa Tristan, mengenalkannya pada kedua orang tuanya. Orang tua Ambar, menyukai Tristan dan menyetujui hubungan mereka.
Ambar memantapkan hatinya untuk menjadi pendamping Tristan, tapi Tristan sendiri tidak mau terburu-buru mengambil keputusan."Aku akan menikahi kamu, tapi tidak secepat ini. Kamu ngerti kan?." Ujar Tristan pada Ambar.
"Iya, aku ngerti. Tapi kamu janji akan nikahin aku?."Tanya Ambar memastikan.
"Iya sayang!! Aku janji, tapi tidak sekarang. Aku belum siap." Jawab Tristan.
"Lalu kapan kamu mau ngenalin aku sama orang tua kamu?." Tanya Ambar sedikit kesal.
"Aku pasti kenalin kamu kepada mereka. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa melakukanya. Mereka sedang diluar negeri, lagi pula aku sedang sibuk disini. Jadi aku harap kamu ngerti dan mau bersabar ya." Ujar Tristan, seraya memeluk dan mencium pipi Ambar, membuat kekesalan dihatinya lenyap seketika.
Ambar tidak tahu apa yang dikatakan Tristan tentang orang tuanya itu benar atau tidak. Dia ingin sekali bertemu dengan mereka, tapi Tristan sepertinya belum mau mengenalkanya pada orangtua atau keluarga besarnya. Entah itu hanya perasaan Ambar, atau memang benar Tristan tidak mau mengenalkannya. Tanya Ambar dalam hati.
Setiap Ambar bertanya kapan Tristan akan mengenalkanya, ada saja alasan yang dikatakan Tristan, dan Tristan selalu bisa mengalihkan pembicaraan dan perhatian Ambar, seperti sekarang.
Tristan mencumbu Ambar, dan berhasil memancingnya, hingga akhirnya mereka kembali melewati malam panjang dirumah Ambar.
Mereka berdua memang sering melakukanya disana, tapi tak sekalipun Tristan dan Ambar melakukannya dirumah Tristan. Padahal Tristan tinggal seorang diri di rumah mewahnya itu. Tidak ada satupun anggota keluarga yang tinggal bersamanya di Jakarta. Hanya ada beberapa orang pelayan, tukang masak, tukang kebun juga satpam.
__ADS_1
Tristan memang tidak mau sembarangan membawa orang lain masuk ke rumahnya. Ambar sendiri baru dua kali menginjakan kakinya dirumah Tristan, dan itupun tidak lama, karena Tristan langsung mengajaknya pergi.