
Dari atas panggung Rio melihat dengan jelas Ana menerobos masuk dan berlari ke bagian tengah jalan kosong yang memisahkan sisi kiri dan kanan kursi peserta seminar.
Tapat beberapa meter di hadapan Rio langkah Ana terhenti, ia mengatur nafasnya. kemudian keduanya saling bertatapan, saling menyakini diri masing-masing bahwa yang di hadapannya adalah belahan jiwanya.
Ana tidak memperdulikan bahwa saat ini dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang, ia hanya fokus memandang ke arah kekasihnya yang tepat berada di depannya. Ingin rasanya ia berhambur ke pelukan Rio namun tiba-tiba ada beberapa orang panitia acara yang meminta Ana untuk segera keluar dari ruangan.
Tangan dan tubuh Ana di tarik mundur keluar ruangan oleh beberapa orang panitia acara karena di anggap mengganggu acara tersebut.
Rio pun bergegas turun dari atas panggung dan berlari mengerjar Ana "Tolong lepaskan calon istriku!!" ucap Rio.
Mendengarkan ucapan Rio, panitia yang mencoba membawa Ana keluar melepaskan Ana, Ana berbalik ke arah Rio dan berhambur kepelukannya.
Rio mendekap erat tubuh Ana kemudian merangkum wajah Ana menyakinkan dirinya sekali lagi bahwa yang memeluknya saat ini benar-benar wanitanya.
Ana tak kuasa menahan rasa bahagia dan kerinduannya terhadap kekasihnya, tanpa terasa ia meneteskan buliran-buliran bening ke pipinya.
Rio yang masing memegang wajah Ana mengusap air mata Ana dengan lembut, kemudian kembali membawa Ana kedalam dekapannya.
Para peserta semiar berdiri dan memberikan tepuk tangan gemuruh menyaksikan adegan romantis antara Ana dan Rio, MC memita Rio mengajak Ana untuk naik ke atas panggung.
"Akhirnya teka-teki selama ini terjwab sudah, siapa wanita pujaan hati seorang Mas Rio ini. Boleh dong mas kekasihnya di ajak naik ke atas panggung, di kenalin sama kita semua yang hadir di sini" ujar MC.
Rio melepaskan jas yang ia kenakan dan memakaikannya ke tubuh Ana, untuk menutupi baju tidur yang Ana kenakan.
"Biar winnie the poohnya tidak keliatan" bisik Rio, membuat Ana tersenyum malu melihatnya masih mengenakan baju tidur.
Rio menggandeng tangan Ana mengajaknya naik ke atas panggung.
"Ceritain sedikit dong mas siapa wanita yang mas gandeng ini." MC itu memberikan mic kepada rio.
"Sebelumnya saya minta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi tadi, jujur saya sendiri masih tidak percaya jika hari ini dan di sini saya bertemu wanita yang sangat saya cintai."
"Setahun yang lalu saya sempat bertunangan dengannya, sebelum hari pernikahan kita calon istri saya ini mengalami insiden kecelakaan." Rio berhenti sejenak, kemudian meneruskan kembali kalimatnya.
"Singkat cerita keluarganya membawanya berobat ke Eropa, namun bukan hanya berobat, tunangan saya ini juga meneruskan studynya di sini dan selama satu tahun itu kita sama sekali tidak saling berkomunikasi satu sama lain."
"Bahkan saya tidak mengetahui keberadaannya di mana, tapi saya menyakini satu hal if something is destined for you, never in million years it will be for somebody else"
*Jika sesuatu di takdirkan untukmu, sampai kapan pun tidak akan pernah menjadi milik orang lain.
"Dan satu hal lagi, saya tidak pernah menyesali semua yang terjadi dalam hidup saya, karena jika tidak ada saya yang kemarin maka tidak akan ada saya yang sekarang."
"Saya tidak akan pernah menjadi saya yang hari berdiri di sini bertemu dengan teman-teman mahasiswa yang hebat-hebat ini."
Rio mengakhiri kalimatnya, kemudian MC meneruskan kembali pertanyaannya.
__ADS_1
"Wow ini pasti yang cewek-cewek di sini pasti pada terharu ya sama ceritanya Mas Rio, kalo gitu boleh juga dong kita tahu siapa nama calon istrinya Mas Rio ini?"
Rio memberikan mic yang di pegangnya kepada ana, ana semakin mengencangkan genggaman tangannya karna rasa nervous.
"Saya Sandriana Alfian, mahasiswi IUBH University of Applied Sciences jurusan Master of Arts in Internasional Finance and Accounting. Saya juga mau minta maaf atas ketidaknyamanan yang saya timbulkan tadi" ucap Ana.
Selesai seminar Rio menghampiri Adit di backsatage, Adit terkejut melihat bosnya telah menggandeng Ana.
"Dit, kamu pulang ke hotel sendiri, besok juga kamu pulang sendiri. Nanti pihak panitia akan mengantarmu, ingat kalo ada apa-apa hubungi aku, aku ingin di sini dulu menemani Ana, jaga kantor baik-baik!"
"Baik pak"
Rio menepuk pundak adit dan berbisik padanya
"Aku tidak sama denganmu, jomblo. Cari pacar sana!!!"
Rio pergi bersama dengan Ana keluar dari gedung menuju parkiran mobil, sesampainya di parkiran Rio terkejut ternyata Ana menyetir mobilnya sendiri tanpa di temani oleh supir, Rio meminta kunci mobil Ana, namun Ana menolaknya.
"Sayang, kamu kan tidak tau jalan di sini, lagi pula kamu juga tidak punya SIM Jerman. Sudahlah kali ini biar aku saja ya."
"Tapi kamu beneran bisa bawa mobil?"
"Kalo aku tidak bisa ya tidak akan sampai disini, aku sudah bawa mobil sejak aku masih SMP."
"Aduuh sayang sakit, nanti pipiku jadi chubby" Ana mengelus pipinya yang merah karena di cubit oleh Rio.
"Ini bukan mimpikan sayang?"
"Kamu cubit pipimu sendiri, kalo sakit ya bukan mimpi kenapa mencubit pipiku?"
"Sayang apa kamu masih mencintaiku?" tanya Rio.
"Tentu saja, kalo bukan demi cinta dan rasa rinduku yang teramat dalam padamu mana mau aku ke tempat semi formal memakai baju tidur ini"
"Lalu kenapa kamu ketempat tadi pake baju tidur? itu bukan acara pajamas party sayang?" Rio mengacak-acak rambut Ana.
Flash back on
Seminggu yang lalu gita memberikan sebuah brosur kepada Ana, namun Ana tidak begitu menanggapinya
"An PPI mau ngadain acara seminar, kamu mau ikut tidak? sekali-sekalilah kamu ikut gabung sama pelajar-pelajar indonesia di Jerman biar kamu punya temen orang Indonesia yang sama-sama menimba ilmu di sini."
"Nanti aja Mba Git, kalau aku sudah lulus. Sebentar lagi aku sidang tesis, aku mau belajar biar lulus."
__ADS_1
"Yakin tidak mau ikut? aku taro di atas meja belajarmu saja ya, siapa tau nanti kamu berubah pikiran."
"Ia Mba."
"Ooh ia An, kalo mau ikut jangan mendadak ya karena tempatnya terbatas jadi harus daftar dulu."
"Okey Mba Gita nanti aku kabarin kalo aku berubah pikiran."
Hari-hari terus berlalu, Ana sama sekali tidak berniat menghadiri acara tersebut, di benaknya hanya ada belajar, belajar dan belajar.
Sampai pada hari H dimana acara itu berlangsung Ana masih saja sibuk belajar, Ana baru tidur selepas subuh. Ketika tidur ia di kagetkan dengan suara berisik dari keponakan yang datang ke apartementnya.
Ana yang tidak bisa meneruskan kembali tidurnya, memutuskan untuk kembali membaca jurnal, namun ketika Ana ingin mengambil laptopnya, secara tak sengaja ia melihat brosur yang di letakan Gita di atas meja belajarnya.
Ana terkejut ketika melihat nama Rio Darmanto (Founder Child's hope & entrepreneurship) menjadi salah satu narasumber di acara tersebut, Ana kembali memastikan apa benar Rio yang di maksud adalah tunangannya.
Ana membuka internet untuk memastikannya, benar saja Founder Child's hope adalah Rio tunangannya. Ana melihat jam di dindingnya tanpa pikir panjang ia berlari ke parkiran apartemennya.
Ana meminta kunci mobil kepada supirnya, ia sengaja membawa mobil sendiri karena Ana tahu jika di antar supir akan memakan waktu yang lama karena supirnya tidak berani membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di gedung Ana tidak di perbolehkan untuk masuk karena nama ana tidak terdaftar dan ana masih memakai pakaian tidur.
Perdebatan pun terjadi, karena Ana memaksa untuk masuk dan bertemu dengan rio.
"Please izinin aku masuk sebentar aja, aku cuma ingin bertemu dengan tunanganku"
"Memangnya siapa tunanganmu, tunggu saja di luar nanti setelah selesai semua peserta akan keluar dari pintu ini."
"Rio Darmanto, Founder Child's hope"
"Narasumber kami?"
Ana menganggukan kepalanya
"Kamu aja masih pake baju tidur, pasti kamu habis bermimpi. Lebih baik kamu mandi dulu biar kesadaranmu pulih."
"Tapi aku tidak berbohong."
"Yang pasti Mba tidak bisa masuk karena nama Mba tidak terdaftar, dan ini acara semi formal bukan pajamas party."
Ana mengusap wajahnya dengan kesal, kemudian ana berfikir sejenak. Ia memutuskan untuk menunggu hingga panitia yang menjaga pintu ruangan lengah, begitu ada kesempatan Ana menerobos masuk.
Ana berlari mendekat ke arah panggung memastikan pria yang sedang berdiri di atas panggung itu benar-benar tunangannya.
Flash back off
__ADS_1