Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 42


__ADS_3

Seusai prosesi wisuda, semuanya kembali ke tanah air terkecuali Risti dan keluarganya karena suaminya masih harus menyelesaikan beberapa project di Jerman.


Di dalam pesawat business class yang membawanya terbang menuju tanah air, Ana duduk bersebelahan dengan Gita sedangkan, Rio dukuk bersebelahan dengan Pak Reino.


Keduanya nampak akrab mengobrol santai mengenai perkembangan bisnis yang tengah di jalani Rio, sebagai orang yang sudah malang melintang di dunia bisnis, Pak Reino benyak memberikan masukan untuk Rio, dan tentu saja semua saran tersebut di terima Rio dengan senang hati.


Hingga obrolan mereka beralih mengenai perusahaan Pak Reino, beliau meminta Rio untuk memegang perusahannya.


"Rio, saat ini umur papa sudah tidak muda lagi, papa ingin istirahat menikmati masa tua papa. Apa kamu bersedia mengelola perusahaan papa?" tanya Pak Reino.


Rio cukup terkejut dengan pertanyaan tersebut.


"Maaf pa, bukan maksudku untuk menolak akan tetapi menurutku Kak Risti jauh lebih pantas di bandingkan denganku. Lagi pula jika aku mengelola perusahaan papa bagaiman dengan perusahaanku sendiri, perusahanku baru mulai berkembang jadi masih sangat membutuhakan pengawasan yang ketat" Rio menolaknya dengan halus.


"Kalau begitu paling tidak kamu memegang satu cabang saja"


"Nanti saya akan coba diskusikan dengan Ana."


Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba saja Ana datang menghampiri rio, dan mengagetkannya.


"Hayoo lagi ngomongin aku ya!!!"


"GR kamu, kok kesini?" tanya Rio.


"Mba gita tidur aku bosan dari tadi cuma menonton saja" ucap Ana.


"Ya kamu juga ikutan tidur sama mba gita."


"Temenin" pinta Ana dengan manja.


Rio menganggukan kepalanya, ia beralih ke Pak Reino "Aku temani Ana sebentar ya Pah" ucap Rio, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya mengekori Ana menuju tempat duduknya.


"Sudah ayo tidur" Rio menyelimuti tubuh kekasihnya kemudian ia mengelus kepala Ana dengan lembut.


"Terima kasih ya" Ana tersenyum kemudian mencoba memejamkan matanya.


Memastikan kekasihnya telah tertidur, Rio kembali lagi ke tempat duduknya.


"Terima kasih ya nak rio, kamu telah menyayangi putri bungsu papa dengan tulus."


"Aku juga berterima kasih kepada papa karena merestui hubunganku dengan Ana."


Setelah menempuh enam belas jam perjalanan udara akhirnya mereka tiba di tanah air dengan selamat. Rio dan Gita kembali ke rumanya masing-masing sedangkan Ana pulang ke rumahnya bersama dengan Pak Reino.


Sesampainya di rumah, Ana langsung menghubungi kekasihnya untuk mengabarkan jika dirinya baru saja menerima balasan email panggilan wawancara kerja.


"Kalau tidak salah kantornya tidak jauh dengan kantorku, besok aku jemput ya" ucap Rio.


"Iya sang terima kasih ya, see you tomorrow baby" Ana menutup sambungan teleponnya.



Keesokan paginya Rio menepati janjinya untuk datang menjemput Ana di kediamannya, dari luar gerbang Rio sudah melihat kekasinya tengah menunggu dirinya. Ia membuka kaca mobilnya, ketika ia menepikan mobilnya tepat di hadapan Ana.

__ADS_1


"Sayang, sudah pamit sama papa?"


"Papa sudah ke kantor dari tadi." Ana langsung masuk ke dalam mobil Rio dan mencium tangan Rio


"Aku bawa sarapan, kamu belum sarapankan?" Ana menunjukan kotak bekal yang ia bawa.


"Aku udah makan sereal tadi di rumah."


"Ah mana kenyang, ayo buka mulutnya biar aku suapin."


Rio menuruti perintah Ana untuk membuka mulutnya, menyantap makanan yang telah Ana siapkan untuk dirinya hingga makanan itu habis.


"Terima kasih ya, makanan buatanmu enak sekali" ucap Rio sambil menepikan kendaraannya di depan kantornya.


"Kamu nyetir sendiri tidak apa-apakan? aku ada meeting pagi. Kantor tempatmu wawancara tinggal lurus aja terus belok kiri, cuma beberapa meter kok dari sini. Nanti setelah wawancaranya sudah selesai ke kantorku ya."


"Ia sayang."


"Hati-hati ya jangan ngebut-ngebut."


"Ia sayangku. Assalamualaikum" Ana mencium tangan Rio, kemudian ia keluar dari mobil Riio untuk pindah posisi.


"Walaikumsalam"


Rio baru masuk ke dalam kantornya setelah mobil yang di bawa Ana sudah tak terlihat lagi. Pagi itu ia meeting bersama seluruh staff kantornya, mengevaluasi perkembangan perusahaannya yang selama beberapa minggu ia tinggal ke Jerman.


Masih ada beberapa tawaran kerjasama kemitraan di beberapa daerah, Rio meminta timnya untuk mengecek lokasinya. Jika sekiranya daerah itu berpotensi maka kerja sama tersebut akan dilanjutkan, namun jika tidak maka Rio akan menolaknya.


Kurang lebih dua jam lamanya Rio meeting bersama staffnya akhirnya meeting tersebut usai. Rio kembali ke ruang kerjanya, saat ia hendak masuk ke ruangannya ia melihat kekasihnya sudah berada di ruang kerjanya.


"Ia sayang, eh ia tadi aku beli sushi, aku suapin ya."


"Aku masih kenyang, baru aja tadi pagi kamu suapin masa jam segini mau makan lagi."


"Kan mubazir jika tidak di makan, duduk di sofa yuuuk."


"Hilang sudah perut sixpackku." gerutunya.


"Kamu masih terlihat tampan di mataku" puji Ana, membuat Rio tersipu malu.


Smbil menikmati makan siangnya mereka berdua membicarakan rencana pernikahan mereka "Sayang, jam dua nanti ada tim WO akan datang ke sini, kita meeting konsep pernikahan kita ya" ucap Rio


Ana hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum kaku kepada Rio.


"Kamu tidak ada acara kan?" tanya Rio.


"Tidak ada kok sayang, aku bantuin kamu kerja ya" Ana beranjak dari tempat duduknya menuju meja kerja Rio, di ikuti oleh Rio dari belakang.



Tepat pukul 14.00 siang tim WO datang ke kantor Rio, ia menyambutnya dengan hangat. Tim WO mulai menanyakan konsep acara pernikahan yang ingin Rio dan Ana usung, Rio menjawabnya dengan penuh antusias.


"Kami maunya akad nikah tertutup hanya untuk keluarga inti saja, dengan nuansa adat jawa, sedangkan resepsinya temanya internasional dengan kapasitas undangan sekitar 5.000 undangan."

__ADS_1


Berbeda halnya dengan Ana, wanita itu hanya menjawab seperlunya saja sehingga membuat Rio merasakan ada berbeda dari diri kekasihnya.


Setelah satu jam meeting pun selesai, Rio mempersilahkan tim WO untuk segera mengerjakan konsep yang tadi di bicarakan.


"Kamu kenapa sih kaya tidak semangat begitu membahas konsep pernikahan kita?" tanya Rio.


"I-ia bukan begitu, kayanya kamu agak sedikit berlebihan, mengundang segitu banyaknya orang untuk dateng ke pernikahan kita."


"Sayang, mitra bisnisku banyak sekali, belum lagi para pegawaiku, kemudian rekan bisnis papa, keluarga besarku, keluarga besarmu, teman-temanmu dan terakhir rekan-rekan media" terang Rio.


"Tapi apa tidak bisa di buat sesederhana mungkin?"


"Ini adalah momen penting dalam hidup kita yang akan kita kenang seumur hidup"


"Sekali sumur hidup bukan lantas kamu jadi menghambur-hamburkan uang kan?"


"Aku tidak pernah melupakan kewajibanku untuk menyisihkan sebagian harta yang aku punya untuk orang-orang di luar sana yang membutuhkan, aku donatur tetap dan terbesar di situs yang aku buat. Sekarang aku cuma ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang sangat kucintai di hari sepecial kita"


"Dengan kamu menjadi donatur terbesar lantas kamu bebas berbuat semaumu? sombong sekali kamu sekarang!!!"


"Oke, fine. Aku tidak mau kita bertengkar denganmu karena masalah ini, besok kita meeting ulang dengan pihak WO nya. Apa pun konsep yang kamu mau, aku ikut. Deal?"


"Besok aku sudah mulai bekerja." Ana membalikkan tubuhnya hendak keluar dari ruangan Rio, dengan sigap rio menahannya.


Rio memeluk tubuh Ana dengan hangat "Sepulang kamu kerja, aku akan menjemputmu sayang. Kita meeting ulang, oke?" bisik Rio.


Ana menganggukan kepalanya, sambil mencoba melepaskan pelukan Rio.


"Aku mau pulang."


"Aku antar" Rio mengambil kunci mobilnya di meja kerja nya, kemudian menggandeng tangan Ana menuju parkiran kantornya.


Sebelum mengantarkan Ana pulang, Rio menepikan mobilnya di salah satu boutique milik desainer ternama, rio ingin di hari pernikahannya Ana dan dirinya mengenakan pakaian yang spesial


"Aku mau pulang."


"Sebentar saja kok sayang, aku mau baju pernikahan kita di desain oleh perancang baju profesional."


"Kalo kamu tidak mau mengantarku pulang, aku bisa naik taxi sendiri."


Rio menyalakan kembali mobilnya dan mengantarkannya kembali ke rumahnya. sesampainya di rumah Ana, Rio menanyakan kembali tentang sikap ana yang mendadak berubah.


"Sayang kamu kenapa sih?"


"Kenapa kamu tidak tanya dengan diri kamu sendiri, kemana Rio yang duluku kenal yang sangat sederhana? Oh Ternyata popularitas bisa merubah seseorang dalam waktu sekejap."


"Aku kerja untuk membahagiakanmu, memberikan semua yang terbaik di hari special kita"


"Oh gitu?" Ana berlari masuk ke kamarnya kemudian mengunci pintu kamarnya.


Pak reino yang kebetulan sudah berada di rumah melihat kejadian tersebut, iamendekat ke arah Rio kemudian menepuk bahu Rio dengan lembut.


"Kata orang, menjelang pernikahan akan banyak godaannya. Kamu yang sabar ya, nanti papa akan bicara baik-baik dengan Ana."

__ADS_1


"Terima kasih pa, Rio balik lagi ke kantor ya." Rio berpamitan dan pergi meninggalkan rumah Ana.


__ADS_2