
Yoga mengantarkanku sampai rumah. Bukan lagi menurunkan aku di jalan depan rumah.
"Assalamualaikum."
Keadaan rumah sepi. Kelihatannya mas Andi belum pulang.
"Waalaikumsalam."
Ibu keluar menyambutku dan Yoga. Yoga menundukan kepalanya dengan hormat pada ibuku.
"Bu, kenalin ini Yoga...temanku."
Yoga menyenggol lenganku. Kelihatannya dia tidak terima aku kenalkan sebagai temanku.
Aku melirik Yoga sekilas, lalu menyuruhnya masuk.
"Duduk nak Yoga. Ibu buatkan minum ya?"
"Tidak usah repot-repot bu. Saya tidak lama kok. Sudah malam."
Aku melirik Yoga lagi, seakan tak rela kalau Yoga cepat-cepat pulang.
"Biar aku saja yang membuatkan, Bu." ucapku lalu ke dapur.
Ibu duduk menemani Yoga.
"Kenal Widhi dimana?" tanya ibu yang belum pernah kenal Yoga sebelumnya.
"Saya dulu teman satu kelasnya Widhi, bu. Lalu kami ketemu di tempat kerja." jawab Yoga yang bisa aku dengar dari dapur.
"Oh, satu kantor sama Widhi?"
"Iya, Bu. Tadinya."
"Kok tadinya?" tanya ibu lagi.
"Saya sudah resign, Bu. Saya akan melanjutkan usaha orang tua saya saja. Biar tidak jadi kuli terus."
Aku terkejut dengan jawaban Yoga. Tadi dia bilangnya bekerja, walaupun dia tidak bilang kerja apa. Kenapa dengan ibu dia bilangnya melanjutkan usaha orang tuanya?
Aku sengaja berlama-lama di dapur. Biar bisa dengar omongan Yoga lagi.
"Orang tuanya punya usaha apa?" Entah ibu lagi kepo atau karena tidak ada bahan pembicaraan lain, ibu bertanya lagi pada Yoga.
"Cuma usaha kecil-kecilan kok, Bu." jawab Yoga merendah. Tapi aku sendiri memang tidak tau seberapa besar usaha orang tua Yoga.
Aku keluar membawakan segelas teh hangat untuk Yoga.
"Diminum dulu, Ga."
Ibu lalu permisi masuk ke dalam. Bapak masih belum nampak. Mungkin kecapekan.
__ADS_1
"Bapakmu kemana?" Yoga menyeruput tehnya.
"Mungkin sudah tidur."
"Oh. Wid, boleh tidak aku besok ketemu sama bapakmu? Aku mau bicara serius tentang hubungan kita."
"Boleh aja, Ga. Tapi datangnya jangan malam-malam. Nanti aku bilang sama bapak."
"Ya sudah, aku pulang dulu. Besok sore aku ke sini lagi."
Aku mengantar Yoga ke depan. Dan tepat saat Yoga masuk ke dalam mobil sport-nya, mas Andi dan mas Angga datang.
Mobil Yoga berlalu, tanpa mempedulikan kedatangan mereka.
Aku masuk ke dalam rumah, tanpa berniat menemui mas Angga.
"Tadi itu teman kamu, Wid?" tanya ibu saat aku mau masuk ke kamar.
"Besok aku ceritakan, Bu." Lalu aku masuk ke kamarku.
Aku tidak mau apa yang akan aku sampaikan kepada ibu, didengar oleh mas Angga.
Aku lagi kesal dengannya. Aku tidak menyangka ternyata sifat mas Angga jauh dari apa yang aku lihat selama ini.
Yang aku herankan, kenapa kakakku malah nempel terus sama orang seperti mas Angga?
Setelah aku berganti pakaian dan membersihkan wajahku, aku memilih tidur.
"Kamu kenapa, Wid? Kok tumben belum siap-siap?" tanya Ibu.
"Aku mau resign saja, Bu." jawabku.
Semua yang mendengar omonganku terkejut. Karena dari kemarin aku tak ada rencana apapun tentang pekerjaanku.
"Resign? Kenapa?" tanya mas Andi.
"Aku juga mau memutuskan hubunganku sama mas Angga."
Semua tercengang mendengarnya.
"Sudah kamu pikirkan matang-matang?" Kali ini bapak yang mempertanyakan keseriusanku.
Aku mengangguk. Lalu aku menceritakan bagaimana kelakuan mas Angga selama ini. Yang tak pernah mereka ketahui.
Terutama yang terakhir, saat dia dengan tanpa basa basi mengancam Yoga bahkan memecatnya tanpa alasan yang masuk akal.
"Jadi Angga mencurigaimu punya hubungan dengan Yoga?" tanya ibu.
"Tapi tidak seharusnya dia memecat Yoga begitu saja kan, Bu?"
"Aku pikir, Yoga memang mengundurkan diri atas keinginan sendiri." Sepertinya mas Andi juga tidak tau masalah ini.
__ADS_1
"Bukan. Dia diancam oleh mas Angga. Yoga tidak takut kalau ancaman itu hanya untuk dirinya, tapi kalau ancaman itu sudah menyangkut aku dan anakku, Yoga memilih mundur."
"Memang Yoga mengancam apa tentang kamu dan Berlian?" tanya ibu.
"Dia akan menculik Berlian dengan caranya. Katanya, biar hidupku hancur karena kehilangan anak."
"Gila! Itu tidak mungkin dilakukannya, Wid. Angga sayang banget sama kalian!" ucap ibu. Karena kenyataan yang kami terima memang seperti itu.
"Itu bukan sayang, Bu. Dia hanya terobsesi saja. Dia ingin memiliki apapun yang dia inginkan. Dia akan memakai segala cara untuk mendapatkannya." ujarku.
"Tapi bukan karena pengaruh teman kamu yang semalam itu kan, Wid?" tanya ibu.
"Bukan, Bu. Aku sudah mencurigainya sejak lama. Tapi itu semua tertutupi dengan kebaikan-kebaikannya selama ini pada kita."
Lalu aku menceritakan bagaimana dia beberapa kali tertangkap basah olehku, sedang bercumbu dengan Lisa. SPG yang di pecatnya, untuk menutupi kelakuannya.
Mas Andi manggut-manggut. Sepertinya mulai berfikir tentang kejanggalan-kejanggalan mas Angga.
"Kamu ingat tidak mas, dia pernah bilang kalau tidak ada seorang pun yang tau tentang apartemen itu? Kenapa tiba-tiba istrinya bisa sampai di sana?"
"Itu bisa jadi karena istrinya mencari tau, Wid." jawab mas Andi.
"Tidak. Itu karena mas Angga sering mengajak Lisa ke apartemen itu. Dan kemungkinan justru Lisa sendiri yang mengatakan pada istrinya mas Angga, agar memergokiku. Dengan begitu Lisa bisa cuci tangan."
Aku mencurigai Lisa sering diajak ke apartemen itu, karena aku pernah mendengar pembicaraan mas Angga dengan tamu perempuannya, yang katanya tetangga unitnya, membahas soal Lisa.
Bahkan akhirnya aku cerita tentang ulah mas Angga dulu waktu aku masih tinggal di rumah mas Agung. Bagaimana dia mengacaukan rumah tanggaku, dan juga kemungkinan dia yang mensponsori mantan istri mas Agung untuk kembali lagi kepada mas Agung.
"Kenapa kamu tidak cerita dari dulu, Wid?" tanya bapak.
"Entahlah, Pak. Mungkin karena hatiku tertutup rasa cemburu dan sakit hati dengan kehadiran mantan istrinya mas Agung."
"Jadi maksud kamu, Angga memanfaatkan Vita untuk jadi perusak rumah tanggamu. Lalu dia hadir sebagai pahlawannya?" tanya mas Andi.
Aku mengangguk. Mas Andi pun manggut-manggut lagi.
"Dan bisa jadi dia mengajak Andi kerja sama pun, untuk memperlancar misinya." Bapak ikut berpendapat.
"Bisa jadi, Pak. Tapi kita semua tak pernah berfikir sejauh itu. Karena tertutupi kebaikannya."
"Ya sudah. Perlahan lepaskan dia dari kehidupan kita. Kalau Widhi hari ini sudah mulai di rumah, Tari tidak usah ke sini lagi. Kamu bilang saja sama Tari, Ndi." ucap bapak.
"Iya, Pak. Nanti aku antar Tari pulang, kalau sudah sampai di sini. Nanti siang juga akan aku selesaikan urusanku sama Angga."
Mas Andi berdiri karena mendengar suara Tari memberi salam.
"Biar kakakmu yang menyelesaikan semuanya, Wid. Kamu di rumah saja menjaga anakmu dan ibu."
Lalu bapak pamit berangkat kerja. Bapak jadi kesiangan karena dari tadi mendengarkan omonganku.
Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, lama-lama akan bau juga. Ungkapan itu cocok untuk kelakuan mas Angga.
__ADS_1
Dia sekarang berubah menjadi orang yang ambisius. Dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.