Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 110 ADA HUBUNGAN APA


__ADS_3

Yoga masih bersikap sama seperti hari-hari sebelumnya, meski aku sudah mengatakan semuanya.


Katanya sebelum janur kuning melengkung, dia masih bisa bergaul denganku.


"Lah, biar kata aku sudah menikah nanti, aku tetap akan jadi sahabatmu, Ga".


Aku mengaduk minumanku. Karena kami sedang ada di kantin seberang ruko.


"Tapi situasinya akan beda, Wid."


"Beda bagaimana? Menurutku sama saja, Ga."


"Ya bedalah. Tiap makan siang pasti kamu akan bersama suami kamu. Berangkat dan pulang kerja juga pasti bareng suami kamu".


Wajah Yoga terlihat sendu.


"Kalau berangkat dan pulang kerja bisa jadi benar. Tapi kalau makan siang, apa iya dia akan repot-repot mencariku, hanya sekedar untuk makan?"


Yoga tak komentar. Dia masih asik menyuap makanannya.


Aku sebenarnya ingin menggoda Yoga, biar dia semakin bete. Tapi tidak tega melihat wajahnya yang sendu.


Yoga tak pernah tau, kalau beberapa hari terakhir ini aku jarang berkomunikasi dengan mas Angga.


Dia kelihatannya sedang sibuk dengan proyek barunya. Ya biarkan saja. Aku malah senang, karena aku jadi punya banyak waktu untuk sendiri.


Bukan sendiri sih, tepatnya dengan sahabat koplakku. Ada yang kurang rasanya kalau sehari tak bareng Yoga.


Makanya kalau makan siang, aku yang akan menyampernya kalau Yoga tidak ke ruanganku.


Sepulang kerja, pun aku akan ke ruangannya dulu. Kadang memintanya untuk mengantarku kalau mas Andi tidak kembali ke kantor.


"Kangen, ya?" Suara Yoga sudah langsung menyambutku.


Aku melempar kertas yang ada di mejanya ke arah Yoga.


"Ge er saja kamu, Ga."


"Ayo pulang, sudah jam empat ini." ajakku.


Tapi Yoga masih asik dengan laptopnya.


"Kamu mau lembur?"


"Kamu mau nemenin?" tanya balik Yoga.


"Idih, males amat. Mending pulang, bisa bermain sama anakku."


Aku sekarang lebih terbuka sama Yoga, sejak aku menceritakan semua kisah hidupku.


Yoga menutup laptopnya dan meraih jaketnya.


"Ayo" ajak Yoga. Aku pun mengikutinya keluar.


Beberapa waktu terakhir ini, Yoga selalu memasangkan helmnya di kepalaku.

__ADS_1


Sore ini juga. Yoga memasangkan helmnya di kepalaku. Lalu mengancingkannya. Dan aku segera nemplok di belakang Yoga.


Awalnya aku tak memperhatikan, kalau ternyata mas Angga berada tak jauh dari parkiran motor.


Hingga saat mobilnya melintas di depan motor Yoga. Dan mengklakson kami.


"Tuh calon suami kamu! Aku gak tanggung jawab lho ya, kalau dia marah!"


"Biarin aja. Ini kan jam pulang kerja. Gak ada alasan buat dia marah!"


Tiba-tiba aku ingat, ada beberapa kebutuhan anakku yang habis. Tadi ibuku sempat mengirimiku pesan.


"Ga! Mampir ke mini market sana ya? Aku mau beli kebutuhan anakku!"


Yoga hanya mengangguk, dan membelokan motornya ke mini market itu.


"Aku tunggu di sini, ya?"


Aku mengangguk. Dan Yoga melepaskan helm yang aku pakai.


Tak butuh waktu lama, kecuali saat ngantri di kasir. Aku lihat Yoga duduk di atas jok motornya, sambil merokok.


Terlihat sangat macho. Rambutnya yang agak gondrong, rahang yang kokoh dengan jambang tipis.


Sangat berbeda dengan mas Angga yang selalu terlihat bersih mukanya. Pakaiannya selalu rapi dengan rambut klimis.


Ah, aku menepis pikiranku. Kenapa aku jadi memujinya? Aku buang pandanganku ke arah lain.


Setelah aku kembali menatap ke depan, cewek yang mengantri di depanku terlihat memandangi Yoga terus.


Lalu aku pura-pura menjatuhkan barang belanjaanku. Agar mengacaukan pandangan cewek itu.


Aku juga sekalian kepingin melihat wajah cewek itu dengan jelas.


"Oh, maaf Mbak." Aku mengambil belanjaanku yang jatuh.


"Iya, tidak apa-apa." sahutnya dengan santun.


Alamak. Ini cewek ternyata cantik banget. Mana gayanya sangat elegan.


Perasaan takut kehilangan Yoga semakin menjadi. Saat mata cewek itu kembali menatap Yoga.


Sebenarnya kepingin aku tanyakan, kenapa dia menatap Yoga terus. Tapi aku merasa itu sangat tidak pantas.


Akhirnya aku berinisiatif memanggil Yoga masuk. Dan aku akan bersikap mesra pada Yoga. Aku kepingin lihat reaksi cewek ini.


(Ga, masuk dong. Temani aku mengantri. Bete tau)


Yoga langsung membalas pesanku.


(Manja! Biasanya juga sendiri)


Tak urung Yoga membuang rokoknya, dan berjalan masuk menghampiriku.


Seperti yang sudah aku rencanakan. Aku langsung bersikap mesra pada Yoga. Dan berhasil. Berhasil menarik perhatian cewek itu.

__ADS_1


"Yoga?" sapa cewek itu.


"Irene!" Mata mereka sama-sama terkunci. Saling memandang.


Hingga aku menyenggol pinggang Yoga. Karena tatapannya seakan mau memakan cewek itu.


"Apa kabar, Ga?"


Lalu mereka malah terlibat dalam obrolan. Aku jadi seperti kambing congek.


Wajahku sudah seperti udang rebus kayaknya. Kesal tiada tara. Maksud hati ingin memanas-manasi cewek itu, malah jadi aku yang panas.


"Pacar kamu, Ga?" Cewek itu bertanya pelan, dan matanya menatap ke arahku.


Aku berharap Yoga menjawab iya. Tapi kembali lagi aku harus menelan kekecewaan.


"Bukan. Teman kerja. Kebetulan kami pulangnya satu arah."


Aku semakin kesal, jawaban macam apa itu? Terkesan aku tidak ada artinya buat Yoga.


"Oh. Kirain." Lalu mereka kembali ngobrol.


Andai saja waktu itu, aku menerima ungkapan cinta Yoga. Pasti Yoga akan menjawab kalau aku adalah pacarnya. Bahkan mungkin calon istrinya. Dan Yoga akan memelukku dengan erat saat menjawabnya.


Tapi nasi sementara sudah menjadi bubur. Aku tak memberi jawaban ke Yoga. Malah mengatakan kalau rencana selanjutnya, mas Angga akan melamarku.


Oh, tidak. Aku tak mau kehilangan Yoga. Aku tak mau kalau nasiku berubah jadi bubur. Tapi bagaimana caranya. Aku merutuki kebodohanku.


Cewek itu berhasil lepas dari antrian kasir. Dan mereka berjalan ke depan mini market. Lalu duduk berjejer.


Sakit sekali hatiku melihatnya. Hingga aku tak fokus saat kasir telah selesai menghitung belanjaanku.


"Mbak! Mbak...!" Suara kasir mengagetkan lamunanku.


"Oh iya. Berapa semuanya?" Lalu aku mengambil uang di dompetku. Dan bergegas meninggalkan kasir.


"Aku sudah selesai, Ga." Yoga menatapku sekilas. Lalu berpamitan pada cewek itu.


"Iya, Ga. Aku tunggu kabarnya."


Dan kami berlalu dari cewek itu. Aku hanya menganggukan kepala dan tersenyum sedikit. Karena Yoga pun tak memperkenalkan aku padanya.


Dan seperti biasanya, Yoga memasangkan helm di kepalaku. Kalau ini aku tidak berharap cewek itu bete melihatnya, karena tanganku membawa kantong belanjaan.


Yoga meminta belanjaanku, dan meletakan di bagian depannya.


"Siapa cewek tadi, Ga?" tanyaku saat Yoga baru saja melajukan motornya.


"Oh, Irene." jawab Yoga singkat. Kalau itu sih aku tau, karena aku sempat mendengar mereka saling menyebutkan nama.


"Cantik, ya?" Aku pingin lihat reaksi Yoga.


"Cantiklah. Kan dia cewek. Masa iya ganteng."


Ish. Jawaban yang sangat menyebalkan. Yoga melajukan motornya semakin kencang, hingga tak ada lagi kesempatan untuk aku bertanya ini itu tentang Irene.

__ADS_1


Besok pagi, pasti aku akan menanyakannya lagi. Aku ingin tau, ada hubungan apa Yoga dan Irene.


__ADS_2