
Selesai sesi foto-foto, aku dan Yoga turun dari pelaminan. Yoga dipapah oleh mas Andi. Lalu didudukan di kursi dekat dengan omanya.
Aku pun duduk tak jauh dari mereka sambil sesekali menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan padaku.
Yoga tak menutupi statusku yang seorang janda pada keluarganya. Mereka pun tak mempermasalahkan meski aku sudah punya seorang anak.
Malah oma yang badannya masih cukup kuat memangku Berlian, anakku. Tapi karena Berlian yang tak bisa diam, akhirnya oma memberikannya kembali pada ibuku.
"Kamu mau makan, Ga?" tanyaku karena aku belum melihat Yoga makan dari tadi pagi.
"Nanti saja. Aku tadi pagi sudah sarapan kok bareng mas Andi."
Ternyata semua keluargaku sudah pada makan. Cuma aku saja yang belum, karena sibuk di rias.
Makanan kecil yang disediakan di kamarku pun tidak aku sentuh.
Aku menelan ludahku. Perutku tiba-tiba bunyi. Yoga menoleh ke arahku.
"Kamu lapar?" tanya Yoga pelan. Aku mengangguk sambil nyengir karena malu dengan suara dari perutku.
"Tari, tolong ambilkan makan untuk istriku!" teriak Yoga pada Tari.
Tari dengan kebaya modern-nya mendatangiku.
"Mau makan apa, Wid?" tanyanya.
"Apa aja deh. Aku lapar."
Tari mengambilkan aku makanan. Lalu menghampiriku dan menyuapiku.
"Aak." Tari memberikan suapan padaku.
"Aku bisa makan sendiri, Ri" tolakku. Tapi Tari memaksa, jadi aku membuka mulut juga.
Tari menyuapiku sampai makanan di piring nyaris kandas. Aku memang sangat lapar.
"Aku ambil minum dulu." Tari bangkit sambil membawa piring yang sudah hampir kosong.
Tari membawakanku air mineral dan segelas kecil jus yang ada di meja prasmanan.
Aku menenggak habis air mineral. Sebelum meminum jusnya, aku berikan dulu pada Yoga agar meminumnya.
Yoga menolaknya. Malah dia minta kopi hitam. Tari yang membuatkannya.
Setelah acara ramah tamah dengan keluarga Yoga selesai, mereka berpamitan untuk pulang.
Kami mengantarkannya sampai depan tenda. Teman-teman Yoga pun sudah pamit pulang dari tadi.
Kini giliran keluarga dan tim rias serta fotografer yang menikmati makanan.
Tak lama datang seorang perempuan. Aku yang kebetulan menghadap ke arah pintu masuk tenda, melihatnya lebih dulu.
Aku merasa pernah mengenalnya, tapi lupa di mana. Aku menanyakannya pada Yoga, siapa tau Yoga mengenalnya.
__ADS_1
Yoga menoleh dan menatapnya. Perempuan itu seperti mencari seseorang.
Dia mendatangiku dan tiba-tiba menampar pipiku.
Plak!
Aku terkejut sambil memegangi pipiku. Yoga langsung berdiri meski sempoyongan berusaha melindungiku, karena perempuan itu hendak menyerangku lagi.
Dengan sigap mas Andi berlari mendatangiku dan menarik tubuh perempuan itu hingga menjauh.
Bapak juga ikut mendatangi dan nyaris memukul perempuan itu. Tapi mas Andi terlanjur menyeretnya keluar.
"Lepaskan! Aku akan menghajar perempuan yang berani-berani merebut suamiku!" teriak perempuan itu dengan lantang.
Semua orang yang ada di sana bengong mendengarnya. Aku masih memegangi pipiku yang terasa perih.
Yoga memeluk tubuhku. Meski posisinya berdiri tapi dia agak menyandarkan tubuhnya ke tubuhku untuk menopangnya agar tidak jatuh.
Tari bergegas menghampiri kami dan menopang tubuh Yoga. Akhirnya Yoga duduk berhimpitan denganku sambil terus memelukku.
Setelah agak jauh, mas Andi melepaskan pegangan tangannya pada perempuan itu. Bapak ikut mendekat dan beberapa laki-laki yang ada di tenda ikut mendekat.
"Kamu mau apa ke sini? Kamu pikir Angga yang menikahi adikku, hah?" Mas Andi berkata dengan geram.
Perempuan itu melihat lagi ke arahku. Lalu ke arah Yoga, yang dia pikir mas Angga suaminya.
"Sudah lihat? Apa kurang jelas?" mas Andi menggeser tubuhnya agar perempuan itu bisa melihat dengan jelas.
Beberapa orang yang mengerumuninya pun ikut bergeser agar pandangan perempuan itu tidak terhalang.
Perempuan yang tidak pernah mau menerima kenyataan bahwa dia sudah diceraikan oleh mas Angga.
Setahuku dia masih terus mengikuti mas Angga. Dan kali ini sepertinya dia salah mendapatkan informasinya.
Dikiranya aku menikah dengan mantan suaminya. Hingga dia datang dan ingin menghajarku.
"Mana aku tau! Angga juga sama sepertimu! Datang-datang merusak acara orang! Sekarang kamu pergi atau aku yang akan menyeretmu?" Mas Andi terlihat sangat geram.
"Aku tidak akan pergi sebelum kalian kasih tau dulu di mana Angga! Dan kalian jangan coba-coba berbuat kasar padaku, aku bisa melaporkan kalian karena kasus penganiayaan!" ucap mantan istri mas Angga.
"Silakan kalau kamu mau lapor. Aku juga bisa melaporkanmu duluan. Kamu sudah menganiaya adikku!" Mas Andi semakin geram dan menyeret perempuan itu lagi.
"Lepaskan! Aku bisa pergi sendiri!" teriaknya.
Mas Andi menghempaskan tangannya yang mencengkeram tangan perempuan itu hingga hampir saja terjerembab.
Lalu mas Andi mengibas-ngibaskan tangannya seperti habis memegang kotoran.
"Bajingan! Aku akan membalas perlakuanmu ini, Andi!" teriak perempuan itu.
Mas Andi tak mempedulikan teriakan perempuan itu lagi, lalu masuk kembali ke dalam tenda.
Perempuan itu pergi dengan mobilnya yang langsung digas dengan kencang.
__ADS_1
Mas Andi menghampiri kami. Kami perlu penjelasan dari mas Andi.
"Siapa perempuan itu, Mas?" tanya Yoga.
"Mantan istrinya Angga. Dia pikir Angga yang menikahi Widhi" jawab mas Andi.
Aku menatap wajah Yoga. Dia tak bereaksi apapun. Hanya mengangkat bahunya saja.
Aku malah yang tidak enak sendiri, meski pipiku masih terasa perih.
"Sepertinya dia salah mendapatkan informasinya" ucap mas Andi lagi.
"Sudahlah, yang penting dia sudah pergi. Pasti dia sangat malu" sahut Yoga.
"Mestinya malu. Tapi sayangnya dia itu perempuan yang tidak tahu malu" ucap mas Andi, lalu pergi menjauh.
Sepertinya mas Andi menyimpan rahasia tentang perempuan itu yang tidak bisa dikatakan sekarang saat banyak orang seperti ini.
Tari juga ikut meninggalkan aku dan Yoga dan menghampiri mas Andi.
"Pipi kamu masih sakit?" tanya Yoga melihat ke arah pipiku.
"Masih perih. Tenaganya tadi luar biasa" jawabku.
"Nanti diobati kalau sudah lepas riasannya" ucap Yoga.
Tari datang kembali memberikan aku air mineral.
"Makasih ya, Ri." Aku meminumnya perlahan.
Tak lama, mataku menangkap pemandangan mengejutkan lagi. Mas Agung datang.
Aku beringsut mendekat ke arah Yoga. Apalagi yang akan terjadi? Jangan sampai terulang lagi.
"Siapa dia?" tanya Yoga yang melihatku ketakutan.
"Mantan suamiku" jawabku pelan.
Yoga memegang erat tanganku. Dia juga bersiap melindungiku, termasuk Tari.
Mas Andi yang tadi menjauh, kembali mendekat. Bapak dan ibu sudah masuk ke dalam rumah bersama Berlian.
Mas Agung menghampiriku, lalu mengulurkan tangannya.
"Selamat ya, Wid" ucapnya.
Aku menoleh ke arah Yoga. Yoga mengangguk seperti mengerti keraguanku.
Aku menerima uluran tangan mas Agung dan menjabatnya sebentar. Lalu mas Agung juga menjabat tangan Yoga.
"Berlian di mana?" tanya mas Agung.
"Dia barusan tidur." Mas Andi yang menjawabnya.
__ADS_1
Mas Agung kelihatan kecewa, tapi tak berani protes. Karena dia tahu kalau mas Andi selalu keras padanya, apalagi kalau soal Berlian, keponakan yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.