
"Hebat banget kamu dijemput sama bigbos?" tanya Yoga keesokan harinya.
Dia tak tau kalau aku dan mas Angga punya hubungan spesial.
"Biasa saja." Aku tak mau klarifikasi apapun.
"Kamu dari kantor pusat ya, Wid?" tanya Yoga lagi.
"Iya, bawel. Mau tanya apa lagi? Aku banyak kerjaan nih" ucapku pura-pura marah.
Padahal aku hanya malas membicarakan tentang mas Angga.
Dia yang memaksa hadir di kehidupanku, sekarang malah membelengguku.
Dan nanti setelah surat ceraiku keluar, tak akan ada kebebasan buatku.
Hidupku seolah sudah digariskan olehnya. Aku harus menjadi istrinya.
Bukannya aku menolak. Tapi setidaknya aku ingin merasakan dulu hidup tanpa tekanan.
Belum lagi kalau istrinya tau kalau mas Angga menikahiku nantinya, makin kejam tuduhannya padaku.
Andai aku bisa, aku ingin pergi jauh. Meninggalkan orang-orang yang selalu menekanku.
Tapi aku di sini punya anak yang tak bisa aku tinggalkan lama-lama.
"Hey! Malah melamun!" Yoga mengagetkanku.
"Apaan sih? Sudah sana balik ke ruanganmu. Ini waktunya kerja, bukan waktunya ngobrol. Mau aku laporin ke pak Andi?" ancamku.
"Heeh..mentang-mentang adiknya bos, main lapor-laporan." Yoga keluar dari ruanganku.
Saat istirahat siang, Yoga menghampiriku lagi. Kayak orang gak punya teman di sini.
"Hay, Wid. Kita cari makan siang, yuk. Laper nih" ajaknya.
"Boleh. Tapi aku ditraktir ya?" ucapku becanda.
"Siap! Berapa banyaknya sih makanmu? Ayo."
Yoga berjalan duluan. Aku mengikutinya dari belakang.
"Makan di mana, Ga?" tanyaku, karena Yoga masih nengok kanan kiri di depan ruko.
"Kamu mau makan apa?" tanya Yoga.
"Apa aja, yang penting kenyang" sahutku.
"Busyet. Biasanya kalau cewek tuh makannya yang gak bikin kenyang. Biar gak gendut" sahut Yoga.
Aku tertawa mendengarnya. Karena aku dari dulu kalau makan banyak, tapi tidak gendut.
"Bakso juga boleh, Ga" ucapku.
"Bakso mah gak kenyang." sahut Yoga.
"Dua mangkok. Hahaha." Aku jalan mendahului Yoga ke warung bakso di seberang ruko.
Enak juga di sini, jauh dari mas Angga. Aku bisa makan sesukaku dengan teman yang bisa bikin aku terus tertawa.
"Pak, bakso tiga."
__ADS_1
Aku kaget mendengar Yoga pesan tiga mangkok. Apa dia akan makan dua porsi?
"Serius kamu pesan tiga porsi, Ga?"
"Katanya kamu mau makan dua mangkok?" sahut Yoga.
"Gila kamu! Aku cuma becanda!"
"Oh, kirain beneran. Ya udah nanti aku yang dua porsi deh."
"Bilang saja kamu yang makannya banyak. Pake pura-pura nawarin aku" sahutku.
Tiga porsi bakso pun terhidang di hadapan kami. Saking asiknya makan sambil ngobrol, aku pun merasa kurang makan satu porsi.
Yoga tergelak, lalu membagi satu porsi yang tersisa menjadi dua.
Belum pernah aku makan sebanyak ini.
"Bisa beneran gendut aku, Ga".
"Gak apa-apa. Biar empuk" sahut Yoga.
"Emang aku kasur?"
"Sofa!" sahut Yoga. Aku melempar tissue yang barusan aku pakai mengelap mulutku.
"Jorok, ih!" seru Yoga.
"Biarin. Jorok juga yang penting cantik" sahutku sambil mengedip-ngedipkan mataku.
"Cantik kalau jorok juga gak ada yang mau. Tar gak laku-laku lho. Kayak aku. Hahaha." Yoga tertawa.
Hingga gak terasa waktu istirahat yang hanya satu jam, hampir habis.
"Ayo ah, pulang." Aku bangkit dari dudukku.
Aku berjalan ke arah bapak pemilik warung.
"Berapa semuanya, Pak. Bakso tiga, es jeruk dua sama kerupuk tiga" ucapku.
Bapak penjual bakso menghitung, sebelum aku mengeluarkan uang dalam dompetku, Yoga sudah mendahului.
"Biar aku yang bayar. Kan kamu karyawan baru, pasti belum gajian" ucap Yoga.
"Ish. Nyebelin." Aku memasukan kembali uangku.
"Nih kembaliannya." Aku berikan kembaliannya pada Yoga.
Yoga mengambilnya lalu dia berikan pada seorang pemulung yang kebetulan lewat.
Aku sempat bengong melihatnya. Tak aku kira, Yoga yang selengekan mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi.
Yoga menyalakan rokoknya sambil berjalan kembali ke kantor.
"Baik juga ya kamu, Ga?"
"Baik gimana?" tanya Yoga.
"Itu tadi" jawabku sambil menunjuk ke arah pemulung tadi dengan daguku.
"Biasa saja. Emang kamu gak pernah?" tanya Yoga.
__ADS_1
"Pernah, tapi jarang" sahutku sambil nyengir.
"Sering-sering berbagi, Wid. Kapanpun dan di mana pun. Bukan cuma rejekimu yang akan ditambah, tapi kamu bakal dapat kemudahan dalam segala hal" ucap Yoga.
Aku kembali tercengang. Omongan Yoga benar banget, seperti tauziyahnya pak ustadz.
"Kok pinter sih kamu, Ga. Gak nyangka lho." ucapku, karena Yoga juga menyebutkan ayat-ayat dalam Alquran.
"Belajar, Wid. Mumpung kita masih hidup" sahut Yoga.
"Ih, kok ngomongnya gitu sih?"
"Ya kalau udah mati kan gak bisa belajar lagi" sahut Yoga lalu mematikan rokoknya, karena kami sudah sampai di depan ruko.
"Kamu nanti pulang dijemput bigbos lagi?" tanya Yoga.
Aku mengangkat bahuku. Aku melihat ada kekecewaan di mata Yoga.
"Kalau gak dijemput, aku mau kok mengantarmu" ucap Yoga lalu dia masuk ke ruangannya, tanpa pamit lagi padaku.
Aku naik satu lantai lagi untuk sampai ke ruanganku. Pekerjaanku masih banyak.
Jam empat sore, pekerjaanku belum kelar juga. Yoga masuk ke ruanganku. Mas Andi lagi keluar kota.
"Belum selesai?" tanya Yoga.
"Belum." Tapi aku menyudahinya. Karena mas Andi berpesan untuk segera pulang, walaupun belum selesai. Biar tidak kesorean pulangnya.
"Kok gak diselesaikan? Gak usah takut sendirian. Aku temani" ucap Yoga.
"Kayak gak ada besok aja, Ga." Aku tertawa, meniru Yoga yang suka asal kalau menjawab pertanyaanku.
"Betul. Kalau diselesaikan sekarang, besok gak ada kerjaan" sahut Yoga ikut tertawa.
Lama-lama bisa dipecat kalau begitu caranya.
Aku membereskan tasku dan beranjak dari kursiku.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Yoga.
"Sama kamu!" sahutku asal. Lalu menutup pintu ruanganku.
"Asik. Lumayan dapat penghasilan tambahan" ucap Yoga.
"Eh busyet. Aku kira gratisan" sahutku pura-pura kesal. Padahal aku tau kalau Yoga hanya becanda.
"Motor juga pake bensin, Bu. Belinya pake duit!" ucap Yoga.
"Oh, kirain bisa beli pake daun" sahutku sambil terus berjalan. Yoga mengikutiku dari belakang.
"Kita lewat jalan kampung saja ya? Aku gak bawa helm cadangan" ucap Yoga.
"Terserah. Yang penting sampai ke rumahku. Eh, memangnya kamu tau rumahku, Ga?" tanyaku.
"Tau dari jaman sekolah dulu kali, Wid" sahut Yoga.
Dari jaman sekolah? Kayaknya Yoga gak pernah main ke rumahku. Atau jangan-jangan Yoga sudah nge-fans sama aku sejak sekolah dulu?
"Gak usah ge er. Aku bukan fans-mu. Aku cuma pernah nganter kamu pas kamu pingsan di sekolah, di kelas dua dulu. Ingat?" ucap Yoga.
Aku berusaha mengingatnya. Ya, seingatku ada satu teman laki-laki yang mengantarku waktu itu. Aku tidak mengira kalau dia adalah Yoga.
__ADS_1