
Tepat satu bulan Ana dirawat di rumah sakit, tibalah saatnya Ana keluar dari rumah sakit. Meskipun saraf motorik di bagian kaki Ana belum berjalan dengan normal, tetapi Ana memutuskan untuk rawat jalan.
Ana sudah terlalu bosan berada di rumah sakit, ia ingin segera kembali ke rumah.
Dokter memperbolehkan Ana untuk rawat jalan dengan catatan seminggu 3X Ana harus menjalani fisioterapi di rumah sakit, dan secara tertib menjaga pola makan, istirahat dan konsumsi beberapa macam vitamin dan obat yang di berikan oleh dokter.
Dengan hati-hati Rio menggendong tubuh Ana, meletakannya di kursi roda dan secara perlahan mendorongnya.
"Sayang, apa tidak sebaiknya menunggu kakimu sembuh saja?"
"Aku sudah sangat bosan berada di rumah sakit."
"Baiklah sayangku, apa pun yang kamu mau aku menurutinya."
Rio membawa Ana pulang ke rumah papanya, bukannya Rio tidak menginginkan tinggal bersama dengan Ana, akan tetapi Rio sadar mereka berdua belum menikah, tidak elok rasanya jika terus menerus satu atap dengan wanita yang bukan mahramnya, maka dari itu Rio mengantar Ana kembali pulang ke rumah papanya, lagi pula beberapa waktu lalu Pak Reino sempat meminta Ana untuk kembali tinggal bersamanya.
Sesampainya di kediaman Pak Reino, Ana dan Rio di sambut hangat oleh Risti dan juga Pak Reino, mereka semua bahagia karena Ana sudah bisa pulang dan berkumpul bersama.
Rio dan keluarga Ana menjadi semakin akrab, mereka semua mengobrol hingga menjelang malam barulah Rio berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang dulu ya, besok aku aka kemari lagi" ucap Rio kepada Ana.
"Aku pasti akan merindukanmu" Ana menggenggam erat tangan Rio, ia yang sudah terbiasa selalu bersama Rio rasanya enggan untuk berpisah dengan Rio.
"Aku juga pasti akan merindukanmu, besok aku pasti akan kemari lagi" Rio membelai wajah cantik Ana kemudian mendaratkan satu kecupan manis di kening kekasihnya sebelum akhirnya ia pergi dari rumah Pak Reino.
Setibanya di rumah Eio merebahkan tubuhnya di ranjang yang telah sebulan tidak ia tempati, bayangan-bayangan akan kenangan kebersamaan dengan Ana terbesit di benaknya. Padahal baru saja ia bertemu dengan Ana, mengapa rasa rindu datang menghampiri.
Rio mulai menyusun rencana untuk kembali melamar ana di depan papah dan kakaknya Ana, lewat internet ia mencari-cari tempat romantis sebagi tempat lamarannya.
Rio ingin lamarannya kali ini terasa lebih roamantis dan istimewa di bandingkan lamaran sebelumnya.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu kamarnya menghentikan kegiatan Rio mencari tempat untuknya melamar kekasihnya.
"Tuan, di depan ada Pak Adit mencari tuan" ucap asisten rumah tangga Rio.
"Suruh tunggu saja Bik, sebentar lagi saya ke depan"
Dengan langkah malas Rio menghampiri Adit yang menunggunya di depan.
"Ada apa Dit malam-malam mencariku?" tanya Rio.
"Maaf pak, mengganggu. Ada dokumen yang harus pak Rio tandatangani" Adit menyerahkan dokumen tersebut kepada Rio.
Rio memeriksa beberapa dokumen yang di berikan oleh Adit, dokumen tersebut berisi mengenai acara grand opening gerainya untuk wilayah Sumatera, Bali dan Makasar.
__ADS_1
"Tiga hari lagi schedule Pak Rio untuk grand opening yang di Sumatera, kemudian lusanya di Bali dan terakhir di Makasar."
Rio nampak berfikir keras, ia ingin sekali menemani Ana utuk terapi tapi ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Bagaimana Pak? Apa perlu di reschedule?" tanya Adit memastikan jadwalnya.
"Tidak pelu Dit, jalankan saja sesuai schedulenya."
"Tapi Pak Rio selama satu minggu akan berada di luar kota."
"Tidak apa-apa Dit"
Rio menyerahkan kembali dokumen-dokumen yang telah ia tanda tangani kepada Adit.
"Bagaimana Dit, apa ada lagi?" tanya Rio.
"Sudah Pak, kalo begitu saya permisi dulu. terima kasih Pak Rio."
"Hati-hati Dit."
Rio mengantar Adit sampai ke teras rumahnya, setelah Adit pergi Rio kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Pagi harinya Rio bersiap-siap ke gerainya untuk meeting bersama tim yang akan berangkat terlebih dahulu berangkat ke Sumatera, namun sebelum ke gerai Rio menyempatkan diri mengunjungi Ana, ia memiliki janji dengan Ana untuk sarapan bersamanya.
"Sayang, kenapa tidak nunggu di dalam saja?" Rio mendorong kursi roda Ana masuk ke dalam.
"Aku ingin menunggumu, aku rindu sekali dengamu"
"Papa mana?"
"Papa sudah berangkat ke kantor tadi pagi-pagi sekali. Kita makan di taman belakang aja ya, tadi aku sudah minta tolong asistenku untuk menyiapkannya di taman."
"Baiklah ratuku" Rio mendorong kursi roda Ana menuju taman belakang rumahnya.
Rumah orang tua nampak lebih luas dan mewah sangat jauh bila di bandingkan dengan rumah Rio yang terlihat lebih sederhana.
Sesampainya di taman, Ana mengambil piring berikut dengan nasi serta lauk pauknya.
"Sudah lama aku tidak menyuapi bayi besarku ini, aku rindu dengan moment itu" ucap ana.
"Apa, bayi besar?" Rio terkejut dengan sebutan 'Bayi Besar' untuknya.
"Hahaha... Ayo buka mulutnya sayang" pinta ana dengan manja.
Rio pun menuruti permintaan Ana, baginya tak ada yang lebih indah dari senyuman di wajah kekasihnya.
__ADS_1
Selesai sarapan Ana menanyakan kegitan Rio hari ini, Rio pun menceritakan kegiatannya hari ini, ia juga meminta maaf jika tidak dapat mengantar Ana untuk terapi.
Tidak ada sedikit pun kekecewaan pada diri ana yang ana, ia sangat mendukung penuh kegiatan kekasihnya.
"Maaf ya sayang."
"Kenapa minta maaf? aku sangat mendukungmu ,sayang. Semangat dong!!! toh ada Kak Risti yang akan menemaniku terapi, jadi kamu tidak perlu khawatir sayang." Ana mengelus tangan Rio.
"Terima kasih ya ratuku, aku berangkat ke kekantor dulu ya meeting pagi ini"
"Tunggu dulu, ini..." Ana menyerahkan kotak makan berisi buah untuk Rio, kemudian Ana mencium tangan Rio "Semangat ya sayang" ucap ana sambil memberikan senyuman manisnya.
"Terima kasih ya sayang" Rio menerima kotak bekal tersebut, sambil tersenyum dan mengecup kening kekasihnya, kemudian ia pergi dari kediaman orang tua Ana menuju kantornya.
Pukul 14.30 rio setelah selesai meeting bersama dengan para pegawainya, tiba-tiba handphone rio bergetar ada satu pesan masuk dari Pak Reino.
^^^Pak Reino:^^^
^^^Nak rio bisakah kekantor om sebentar, ada yang ingin om bicarakan kepadamu.^^^
dengan cepat rio membalas pesan dari Pak reino.
Rio:
Tentu saja bisa om, tolong share location alamat kantor om. Aku akan segera ke sana.
Lokasi kantor Pak Reino cukup jauh, berada di luar kota, sehingga butuh waktu satu setengah jam untuk bisa sampai di kantornya.
Tanpa membuang waktu Rio bergegas masuk dan bertanya kepada receptionist, tak lama kemudian salah seorang staff mengantar Rio ke ruang kerja Pak Reino.
Begitu masuk ke dalam ruang kerja Pak Reino, Pak Reino menyambut kedatangan Rio dengan hangat dan mempersilahkan Rio untuk duduk di sofa yang berada di euang kerjanya.
"Jadi begini, besok lusa om berencana membawa Ana berobat di singapore" ucap Pak Reino tanpa berbasa-basi.
Rio masih mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Pak Reino, kemudian ia melanjutkan lagi kalimatnya.
"Om tahu akhir-akhir ini kamu sedang sibuk dengan perkembangan usahamu, jadi kamu fokuslah dulu dengan usahamu, biar kondisi pemulihan Ana, Om yang akan mengurusnya."
"Aku bisa menyusul saat urusanku sudah selesai om" ucap Rio.
"Ia Nak, Om mengerti. Tapi Om ingin merawat putri Om sendiri, Om ingin menebus semua kesalahan Om padanya, Om ingin memiliki quality time bersamanya. Jujur saja nak, Om merasa sedikit cemburu denganmu karena putri Om lebih dekat dan nyaman dengan mu dari pada dengan papa kandungnya sendiri" ucap Pak Reino.
Lama Rio terdiam memikirkan hal ini, sebenarnya ia ingin sekali berada di sisi Ana untuk memberiakan support padanya, namun Rio menatap mata Pak Reino ada pancaran kerinduan yang teramat dalam kepada putri bungsunya.
"Baiklah Om, aku akan menunggu di sini samapi Ana sembuh."
"Terima kasih ya Nak Rio, kamu sungguh bijaksana. Wajar saja jika putriku menaruh hati padamu."
__ADS_1
Selesai berbincang hangat dengan Pak Reino, Rio berpamitan untuk kembali pulang ke kediamannya.