Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 132 BUKAN INGAT TAPI DENDAM


__ADS_3

Hari ketiga pernikahanku, aku mesti mengantar Yoga untuk kontrol ke rumah sakit. Selama ini kami masih menginap di rumah orang tuaku.


Meski tadinya kami sudah sepakat untuk pindah ke rumah Yoga sehari setelah hari pernikahan, bapak tidak menyetujuinya.


Alasannya karena khawatir terjadi sesuatu dengan kami, sementara Yoga masih belum pulih.


Yoga pun akhirnya menyetujui. Kalau aku sih terserah saja. Apapun keputusan suamiku, ya aku menurut.


Yoga benar-benar menantu idaman. Dia sangat menurut apa kata orang tuaku. Katanya mereka adalah pengganti kedua orang tuanya yang telah tiada.


Yoga juga sangat menyesal karena di saat-saat terakhir orang tuanya dia tak menemani. Sekarang dia tak akan mengulangi kesalahannya.


Makanya dia menurut saja apa kata orang tuaku. Dia khawatir kalau ternyata itu adalah sebuah permintaan terakhir.


Terlalu berlebihan sih kalau menurutku. Mungkin karena aku belum pernah merasakan yang Yoga alami dulu.


Kami ke rumah sakit dengan naik taksi online. Sebenarnya Yoga sudah mengatakan membawa mobilnya ke rumah. Biar bisa dipakai oleh mas Andi. Tapi bapak menolaknya.


Bapak tidak mau lagi anaknya berhutang budi, meski dengan menantunya sendiri. Bapak ingin mas Andi dianggap memanfaatkan Yoga. Meski Yoga yang memintanya.


Yoga sudah meyakinkan bapak, tapi bapak masih trauma dengan kejadian dengan mas Angga dulu.


Bagaimana dia memanjakan kami dengan hartanya. Memanjakan mas Andi dengan kekuasaannya. Ujung-ujungnya dia ungkit semuanya.


Kata bapak, seandainya dia banyak harta akan dibayar semua pengeluaran mas Angga selama berhubungan denganku.


Bapak memang begitu sifatnya. Dia lebih baik hidup seadanya daripada memanfaatkan orang lain.


Sesampainya di rumah sakit, aku dan Yoga menuju ruang pendaftaran. Dan mengantri di depan ruang periksa dokter yang menangani Yoga.


Aku dan Yoga duduk di sebuah kursi tunggu. Tak banyak yang mengantri.


Sedang asik kami ngobrol, mas Agung melintas di depan kami. Dia bersama Rega, anak lelakinya yang sakit. Dan di belakang mereka ada mba Vita, mantan istrinya.


Jantungku berdegup kencang melihat kebersamaan mereka. Bukan cemburu, tapi aku selalu merasa dihianati olehnya.


Dulu aku salah memilih. Aku kira dia lelaki yang tepat disaat usiaku sudah matang. Ternyata aku hanya pelariannya saja.


Menyesal, pasti. Aku hanya manusia biasa yang bisanya hanya menyesali kesalahan. Meski aku tak pernah menyesal memiliki Berlian.


"Eh, Wid. Lagi ngapain?" sapa mas Agung. Dia mengulurkan tangannya.


Aku menoleh ke arah Yoga. Minta persetujuannya untuk menerima uluran tangan mantan suamiku.


Yoga mengangguk. Dia mengerti, sangat mengerti malah.


Aku pun menerima uluran tangan mas Agung sambil berdiri.


"Ngantar suamiku kontrol, Mas."


Mas Agung juga menyalami Yoga. Bahkan mereka sempat ngobrol sebentar berbasa-basi.


Mba Vita maju dan menarik tangan Rega agar menjauh dari kami. Aku dan Yoga hanya saling pandang saja.

__ADS_1


"Maaf, aku kesana dulu." Mas Agung segera mengejar mba Vita.


Hatiku kembali berdenyut meski ada Yoga di sampingku. Masih ada sisa kebencian yang sepertinya mengendap di dasar hatiku.


"Siapa perempuan itu?" tanya Yoga.


"Mantan istrinya. Tapi itu dulu. Enggak tahu kalau sekarang" jawabku.


"Maksudmu?"


"Iya, dulu mereka berpisah. Lalu mas Agung menikahiku. Tapi mantannya tidak terima, dan menganggapku sebagai pelakor." Aku menghela nafasku. Rasanya tak sanggup jika mengingat kejadian itu.


"Tapi ternyata maling teriak maling" lanjutku.


"Maksudnya?"


"Dia yang ternyata merebut suamiku. Dan lihatlah, mereka masih bersama. Tapi aku tak tahu lagi sebagai apa."


Yoga menggenggam tanganku.


"Sudah jangan dipikir lagi. Sudah lewat kan?" ucap Yoga.


Aku mengangguk. Tapi rasanya masih ada dendam pada mba Vita.


"Jangan sedih dong. Kan ada aku sekarang." Yoga menowel hidungku.


"Aku gak sedih kok" sahutku.


"Enggak sedih tapi mukanya manyun gitu."


"Ga, salah enggak kalau aku masih menyimpan dendam pada mereka?"


"Memangnya kamu simpan terus dendamnya, terus kamu mau membalasnya?"


Aku diam saja. Seandainya bisa pasti aku akan balas.


"Balas dendam terbaik adalah dengan menunjukan keberhasilan."


Aku menoleh. Aku tak paham maksud Yoga.


"Dengan kamu berhasil move on dari dia, terus menikah dan akhirnya bahagia, itu adalah pembalasan terbaik. Bukan dengan balik menyakiti mereka."


Yoga kadang memang sangat bijaksana meski usia kami hampir sama. Tapi dia jauh lebih bijaksana.


"Ga, dulu diawal pernikahanku mantan istrinya menerorku sampai hampir merenggut nyawaku."


"Oh, ya? Lalu apa yang dilakukan oleh mantan suami kamu saat itu?"


"Sempat kami laporkan ke polisi, dan dia ditahan. Tapi aku memaafkannya. Akhirnya dia dibebaskan bersyarat."


"Ya sudah. Itu artinya kamu bisa memaafkan perbuatannya, kan?"


"Aku pikir dia akan pergi jauh dan tak mengganggu kami lagi. Ternyata maling tetap saja maling. Dengan berbagai cara dia berusaha kembali pada mantan suamiku."

__ADS_1


Aku masih ingat bagaimana mba Vita yang selalu membujuk anak-anaknya agar mengijinkannya tinggal di rumah itu.


"Dan akhirnya mantan suami kamu menerimanya kembali?" tanya Yoga. Aku mengangguk.


"Itu artinya dia bukan laki-laki yang baik."


"Iya, Ga. Bahkan kejadiannya saat aku mulai hamil Berlian. Dan aku malah dituduh berselingkuh hingga hamil."


"Gila! Dia tidak mau mengakui Berlian?" tanya Yoga.


"Awalnya. Makanya sampai sekarang aku berat mempertemukannya dengan Berlian walau cuma sebentar. Dan orang tuaku mati-matian mempertahankan Berlian."


"Ya, pasti sebagai orang tua merasa terluka saat anaknya dituduh berselingkuh. Apalagi sampai punya anak."


Aku mengangguk.


"Sudah, kamu jangan mikirin lagi. Nanti kita buktikan bahwa kamu lebih bahagia dibanding mereka." Yoga menggenggam tanganku dengan erat.


Tak lama, nama Yoga dipanggil. Aku mendampingi Yoga bertemu dengan dokter.


Dokter itu, wajahnya seperti tidak asing. Aku menatapnya lekat-lekat.


"Jangan ngeliatin dia terus. Entar naksir lho." Yoga menghalau pandanganku dengan tangannya.


"Kayak pernah lihat" bisikku pada Yoga.


"Oh ya? Kapan kamu melihatnya?"


Bukannya pelan, suara Yoga malah diperjelas. Aku mencubit lengan Yoga. Malu kan, entar aku dianggap sok kenal.


Dokter itu menatapku yang salah tingkah akibat ulah Yoga.


"Ternyata cantik banget aslinya. Natural. Pinter kamu nyari istri, Ga."


Wajahku semakin bersemu merah.


"Jangan dipuji, Om. Entar dia ge er" sahut Yoga.


"Ih, apaan sih." Aku mencubit lengan Yoga lagi.


Dokter itu memeriksa bekas luka operasi di kepala Yoga, dengan membuka perbannya. Aku melihatnya dengan rasa ngeri. Lumayan juga bekas lukanya. Sepertinya setelah ini Yoga mesti pakai topi setiap hari.


"Ini dilepas saja, Ga. Sudah bagus kok. Tinggal kamu tutupi pakai topi saja kalau keluar rumah, biar tidak kena debu. Rajin dibersihkan ya. Pakai spray, nanti bisa kamu beli di apotek. Nanti Om tuliskan sekalian di resep."


Om? Ya ampun, aku baru ingat kalau dokter ini yang kemarin datang ke pernikahanku. Dia omnya Yoga. Kok aku bisa lupa begini ya?


Selesai periksa, kami pamit.


"Om, kami pulang dulu" ucapku mendahului Yoga.


"Sudah ingat?" tanya Om Yudi.


Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu kami melangkah keluar menuju ke bagian farmasi.

__ADS_1


"Sama omku yang baru ketemu kemarin saja lupa. Giliran sama mantan inget terus. Capek deh."


Aku mencubit lagi lengan Yoga. Yoga malah tergelak sampai ditegur oleh seorang perawat yang kebetulan ada di dekat kami.


__ADS_2