Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 44


__ADS_3

Selesai mandi Ana turun ke bawah menuju ruang tamu, saat hendak turun dari tangga Ana berkali-kali memanggil kekasihnya, namun Rio tak kunjung menyahutinya, Rio hanya fokus dengan handphone yang berada di tangannya.


"Sayang" Ana mengalungkan tangannya ke leher Rio.


Rio nampak kaget dengan kehadiran Ana yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya, Rio pun langsung mematikan handphonenya dan memasukannya ke dalam sakunya.


"U-udah selesai mandinya?" Rio berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Kamu lagi liat apa sih?" tanya Ana.


"Bukan apa-apa kok, itu tadi Adit kirim email laporan dari cabang" Rio melingkarkan tangannya di pinggang Ana.


"Aku lusa ke Bangkok ya?" Ana kembali meminta izin kepada Rio.


Rio hanya menganggukan kepalanya dan berusaha untuk senyum, Rio menyadari betul perubahan sikap Ana yang mendadak mesra untuk mengambil hatinya agar dirinya memperbolehkan Ana untuk pergi ke Bangkok.


"Sarapan yuk!!" Ana menggandeng tangan Rio mengajaknya menuju meja makan.


Saat di meja makan mereka makan dalam satu piring berdua, Ana menyuapi Rio dengan telaten.


"Sayang, hari ini janjian jam berapa sama tim WO?" tanya Ana.


"Jam 11" jawab Rio singkat.


"Sayang nanti kita beli gaun dan baju seragaman untuk keluarganya sepulangku dari Bangkok ya."


"Sayang ada hal yang mau aku bicarakan denganmu" Rio mengambil sendok dan garpu yang Ana pegang kemudian Rio menaruhnya di atas piring.


"Ada apa sayang?" tanya Ana bingung.


"Di taman belakang aja yuk!!" ajak Rio.


Ana mengangguk sambil menuangkan susu ke dalam gelasnya, ia membawa susu tersebut ke taman belakang rumahnya, mengikuti Rio dari belakang.


Ana duduk di kursi panjang di samping Rio, sambil meminum susu yang ia bawa.


"Sayang, maafkan aku yang tidak peka terhadap apa yang kamu rasakan saat ini."


"Maksud kamu?"

__ADS_1


Rio membuka handphonenya kemudian memberikannya kepada Ana.


"Aku minta maaf karena telah lancang melanggar privasimu"


Ana menaruh susunya di atas meja, tubuhnya mulai gemetar, buliran-buliran air mata jatuh deras membasahi pipinya, isakan tangisnya perlahan terdengar, kemudian Ana menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Sayang, satu hal yang harus kamu tahu aku mencintaimu dengan setulus hatiku, masa lalumu sepenuhnya milikmu dan aku ikhlas menerima kondisimu saat ini."


"Ma-maaf aku udah bohong sama kamu. Aku mau ke bangkok bukan untuk urusan pekerjaan tapi aku mau operasi selaput da*a." ucap Ana terbata-bata.


Ana tertunduk tak berani menatap wajah Rio yang berada di hadapannya.


"A-aku, aku tau rasanya pasti akan tetap berbeda meskipun aku operasi, tapi setidaknya aku berusaha memberikanmu... hikss.."


"Kamu tidak perlu melakukan itu untukku, justru aku tidak ikhlas jika kamu merubahnya." ucap Rio sambil memegang tangan Ana.


"Sikapmu yang berkali-kali menjaga tubuhku, membuatku semakin insecure, kamu ibarat menjaga guci yang sudah pecah."


"Aku bahagia melihat semua pencapaian yang kamu raih saat ini. Dengan harta, tahta dan popularitas yang miliki sekarang, tentu banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkanmu. Pria sesempurna dan sesuci kamu pantas untuk dapatkan wanita baik-baik, bukan wanita kotor si pendosa macam aku huhu... hu..."


"A-aku tidak pantas untuk dirimu hiks..."


Ana beranjak dari tempat duduknya, namun Rio menahannya.


"Kakak mau menggelar pesta mewah dengan uang miliaran rupiah hanya untuk menikahi sampah macam aku? sungguh tidak tahu diri sekali aku."


"Cukup sayang!!!" Rio memeluk Ana dengan erat.


"Maaf jika sikapku justru membuatmu insecure, sungguh aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin hubungan kita di ridhai allah, berjalan sesuai dengan aturannya, dan maaf jika caraku mengkomunikasikannya denganmu salah."


"Percayalah kamu tetap yang teristimewa di mataku, aku sangat mencintaimu sayang"


Rio membiarkan ana menangis sepuasnya di pelukannya, rio mengerti apa yang ana rasakan saat ini. Setelah tangisan ana mereda, rio menghapus air mata ana dengan jarinya, rio merangkum wajah ana.


"Aku mohon padamu jangan berfikir seperti itu lagi ya, aku juga seorang pendosa dan aibku juga banyak hanya saja allah menutup aibku. Di dunia ini tidak ada satu pun manusia yang sempurna, please belajarlah untuk berdamai dengan dirimu sendiri"


Drrrrt...Drrrrt...Drrrrt...


Tim Wedding Organizer menghubungi rio, menanyakan keberadaan rio dan ana karena mereka telah satu jam menunggu di lokasi.

__ADS_1


"Maaf kami sedang ada keperluan mendadak sehingga kami telat, tapi 30 menit lagi kami akan tiba di lokasi." Rio menutup teleponnya


"Masih mau kan menjadi pendamping hidupku, menemaniku di sisa usiaku?" tanya Rio.


Ana menganggukan kepalanya, sambil merapihkan rambut panjangnya yang terurai berantakan.


"Kamu bersiaplah, aku tunggu di mobil ya."


Ana kembali ke kamarnya untuk mengambil perlengkapan makeupnya kemudian menyusul rio masuk ke dalam mobil, ana bermaksud makeup di dalam mobil agar Rio tidak menunggu lama.


Sambil mengemudi sesekali Rio melihat ke arah Ana yang tengah asik bermake up


"Cantiknya untuk aku saja?"


"Maksudnya?"


"Maksud aku kalo kita keluar cukup rapih saja, jangan di merah-merhain gitu pipi dan bibirnya."


"Kalau aku cantik, rapih dan wangi kan jadi tidak malu-maluin kamu, nanti malah di bilang 'calon istrinya seorang Founder Child's Hope kok jelek ya?' hehe"


"Aku tidak peduli apa kata orang, lagian kamu tidak memakai make up pun tetap terlihat cantik."


"Iya sayang, ini aku hapus lagi. Bagaimana kalo begini?" Ana tersenyum menghadap ke Rio


"Iya begitu saja. Jadi masih mau memakai konsep pernikahan yang kamu bikin apa memakai konsep aku?" tanya rio


"Sejujurnya aku takut jika nanti ada media yang mengorek-ngorek masa laluku, kemudian di up ke publik, hal itu akan menjatuhkan reputasimu."


"Aku yakin tidak akan sejauh itu, lagi pula papa seorang pengusaha yang cukup terpandang jadi tidak akan mungkin ada yang berani hingga sejauh itu, percayalah" Rio menggenggam erat tangan Ana kemudian menciumnya.


"Sebenarnya aku tidak pernah ada niatan untuk menghambur-hamburkan uang, namun aku ingin menjamu dengan baik orang-orang yang telah membantu dan mensuportku dan juga dirimu karena tanpa mereka aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini."


"Tapi kalo kamu merasa kurang nyaman, aku tidak masalah untuk memakai kaonsepmu, buat aku yang terpenting kamu nyaman."


"Aku setuju dengan konsepmu sayang, maaf ya jika aku selalu overthinking."


Rio tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Udah sampai, yuk kita liat venue untuk akad nikah kita nanti."

__ADS_1


Rio membukakan pintu mobil Ana, kemudian menggandeng Ana menuju ke dalam venue.


"Communication and trust are two main ingredients for a successful relationship." gumam Rio dalam hati.


__ADS_2