Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 26


__ADS_3

Setelah selesai memeriksakan kandungan Ana, Rio berencana mengajak cqlon istrinya pergi ke salah satu cabang shoes care (laundry sepatu) miliknya.


Rio ingin memperkenalkan Ana dengan para pegawainya dan ia juga ingin menjelaskan dengan detail sistem manajemen usaha yang di bangunnya.


Diperjalanan menuju shoes care Ana melihat gerobag rujak, meski pun Ana sudah melewati masa ngidam namun jika melihat gerobak rujak rasanya Ana ingin sekali menikmati rujak mangga muda, Ana meminta Rio menepikan mobilnya di dekat mamang yang berjualan rujak, Rio pun menuruti permintaan calon istrinya dengan senang hati.


"Aku saja yang turun, kamu tunggulah di mobil" Rio keluar dari mobilnya dan membeli rujak mangga muda permintaan Ana, setelah selesai membeli rujak, rio kembali mengemudikan mobilnya.


"Ada yang mau di beli lagi tidak?" tanya Rio.


Ana menggelengkan kepalanya sambil menikmati rujak mangga mudanya, Ana menawari rio rujak mangga mudanya, namun Rio menolaknya karena ia tidak menyukai makanan yang asam.


"Sayang, nanti kamu mau punya anak berapa?" tanya Ana.


"Senyamannya kamu saja sayang, berapa pun yang kamu berikan, akan aku terima dan aku syukuri. Karena aku sadar mengandung dan melahirkan itu tidak mudah dan butuh perjuangan yang besar" ucap Rio sambil mengelus kepala Ana.


"Mau jarak anak keduanya nanti deketan atau agak jauhan?"


"Kalo itu kita liat nanti kesiapan dari kitanya ya, karena anak merupakan karunia sekaligus amanah yang besar, jadi butuh persiapan yang matang mulai dari persiapan mental kita, mental anak pertama kita serta ilmu parenting kita juga kan mesti matang, sekarang kita fokus pada anak pertama kita dulunya" Rio mengelus perut ana dengan lembut.


Ana terkesima mendengar penjelasan Rio, Rio begitu detail memikirkan hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ana merasa beruntung memiliki calon suami seperti Rio, sehingga membuatnya semakin yakin akan keputusannya menerima Rio sebagai pendamping hidupnya.


Dua puluh lima menit kemudian Rio menepikan mobilnya di sebuah gerai dengan desain interior modern, di gerai tersebut terdapat tulisan shoes care, ana terkejut karena dalam bayangannya laundry sepatu kepunyaan rio hanya berupa ruko biasa.


"Jika Rio memiliki tiga gerai sebesar ini, untuk apa ia harus repot-repot bekerja? dan penampilan Rio terlihat sangat sederhana, tidak ada barang-barang branded yang melekat di tubuhnya." gumam Ana dalam hati.


"Sayang, kok ngelamun? udah sampai, yuk turun" Rio menyadarkan ana dari lamunannya.


"Sayang, di samping ada minimarket. Kamu mau ice cream tidak?"

__ADS_1


"Mau" jawab Ana antusias.


"Ya sudah kamu masuk aja duluan, nanti aku menyusul."


"Aku mau ikut, aku mau memilih sendiri ice creamnya."


Ana langsung menggandeng tangan Rio, karena jika tidak begitu Rio akan melarangnya untuk ikut. Rio tersenyum melihat Ana menggandeng tangannya, ia pun memperbolehkan Ana memilih Ice cream sasuka hatinya.


Selesai membeli ice cream Rio dan Ana kembali ke gerai, saat mereka berdua berjalan menuju gerai, Rio melihat ada seorang nenek-nenek hendak menyebrang dengan membawa banyak barang, di pertengahan jalan barang yang nenek bawa terjatuh, hati Rio tergerak untuk membantunya, Rio meminta Ana untuk menunggunya sebentar.


"Sayang, aku bantu nenek itu dulu ya sebentar, kamu tunggu di sini aja" Rio bergegas menolong nenek tersebut.


Ana menuruti perintah Rio dengan menunggunya di pinggir jalan, namun dari kejauhan ana melihat sebuah mobil melaju dengan kencang menuju ke arah Rio, Rio yang tak menyadari akan hal itu tiba-tiba merasa tubunya di dorong dengan keras oleh seseorang.


BRAAAAAAKKKK!!!!!


Rio segera bangkit dan berlari menghampiri Ana, dengan gemetar rio membopong tubuh Ana menuju mobilnya. Saat Rio sedang membopong Ana, Rio sempat menoleh ke arah mobil yang telah menabrak Ana.


Dengan sangat jelas Rio melihat, wajah Julio yang sedang di kerumuni oleh orang-orang sekitar, termasuk seluruh pegawai gerai rio berhamburan menyaksikan kejadian tersebut.


Rio memerintahkan kepada pegawainya untuk mengurus Julio, membawanya ke kantor polisi, setelah itu Rio memerintahkan scuritynya untuk segera membuka pintu mobilnya dan membantunya membawa Ana ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Rio tak hentinya memerintahkan securitynya untuk memacu kendaraannya dengan cepat, sedangkan Rio berada di kursi belakang menemani Ana, memangku kepala Ana. Dalam perjalanan Rio menelepon rumah sakit yang sedang ia tuju agar pihak rumah sakit bersiap menunggunya di depan.


Ya benar saja, saat rio tiba di rumah sakit para perawat sudah berbaris dan sudah menyiapkan brankar untuk membawa ana ke ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat).


Para perawat membantu Rio menidurkan Ana di atas brankar kemudian membawa Ana ke IGD, sesampainya di IGD suster tidak memperbolehkan Rio untuk masuk ke dalam, suster menyuruh Rio untuk menunggu Ana di luar ruang IGD.


Rio berusaha untuk tegar, meski air matanya terus mengalir deras dari matanya. Rio mengabarkan kejadian ini kepada ibu dan adiknya, mendapatkan kabar dari rio sontak saja membuat ibu dan lyra syok.

__ADS_1


Ibu langsung menyuruh lyra untuk segera membeli tiket pesawat dengan jadwal penerbangan yang tercepat, ibu bukan hanya mengkhawatirkan kondisi ana dan janinnya, ibu juga menkhawatirkan kondisi putra sulungnya yang tengah di landa kekhawatiran.


Satu jam lamanya Rio menunggu dokter yang sedang mengupayakan pertolongan pertama untuk ana, akhirnya salah seorang dari dokter keluar dari ruangan itu, rio segera mengikutinya.


"Bagaimana keadaan calon istri saya dok?" Tanya rio dengan panik.


"Silahkan bapak ikut ke ruangan saya"


Rio mengikuti dokter tersebut menuju ruangannya dengan perasaan cemas, khawatir, kalut dan sedih membayanginya, berbagai macam pikiran buruk sempat melintas di benaknya.


"Silahkan duduk pak, dengan siapa saya berbicara?"


"Saya rio dokter."


"Baiklah pak rio, bapak harus menyiapkan mental dan hati bapak. Sekarang kondisi pasien sedang kritis, pasien mengalami cidera yang cukup parah di beberapa bagian tubuhnya, pasien juga banyak kehilangan darah. kami harus segera melakukan operasi, untuk operasi itu kami membutuhkan banyak darah. kebetulan stok darah kami masih kurang, mungkin bapak atau keluarga ada yang memiliki golongan darah yang sama?


Rio mencoba untuk fokus agar ia dapat menyerap semua informasi yang dokter berikan dengan baik.


"Dok, apa golongan darah ana?"


"Golongan darah pasien AB Negatif"


"Golongan darah saya AB Negatif dok, silahkan ambil saja darah saya." Rio menyodorkan tangannya kepada dokter, mempersilahkan dokter untuk mengambil darahnya


"Tenang pak, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Sebelumnya kami meminta maaf, kami tidak dapat menyelamatkan janin yang berada dalam kandungannya, kami turut berduka cita yang sedalam-dalamya."


Bagaikan dunianya runtuh, rio merasa penglihatannya gelap, ia mencengkram pinggiran meja, air matanya beruraian.


Rio melangkah dengan gontai mengikuti perawat yang akan mengambil darahnya, tapi demi calon istrinya ia harus tetap tegar karena saat ini Ana sedang membutuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2