
Beberapa hari setelah Ana dan Lyra melakukan promosi di berbagai media, toko kue ibu mulai kebanjiran pembeli.
Terlebih pada akhir pekan, jumlah pembeli meningkat tajam menjadi tiga kali lipat. Para pembeli tersebut bukan hanya yang datang langsung ke toko atau pembeli yang menggunakan aplikasi jasa pesan antar, tapi juga ada banyak pembeli yang memesan melalui marketplace.
Sebagai seorang admin marketplace toko kue ibu, tentu Ana jadi kewalahan merekap orderan yang masuk, namun Ana justru merasa sangat senang karena usahanya membatu ibu tidak sia-sia. Dengan teliti ana mencatat nama, alamat, no tlp dan jenis kue pesanan yang di pesan, ia tidak ingin ada pelanggan ibu yang komplain karena kelalaiannya.
Sedangkan Lyra bertugas mempacking dan mengantar semua pesanan ke agen jasa pengiriman barang.
"Alhamdulillah ya mba toko ibu tidak jadi tutup. Ini semua berkat Mba Ana, terima kasih banyak ya mba" ucap Lyra.
"Harusnya aku yang berterima kasih karena kamu dan ibu bersedia menerimaku disini" ucap Ana sambil menggenggam tangan Lyra dan menatapnya.
"Mba jangan ngomong begitu, aku sama ibu sudah menganggap mba Ana keluarga" Lyra pun tersenyum dan menatap Ana "Ya sudah kalau begitu, aku antar orderannya dulu ya ke agen, sekalian jemput ibu di pasar" sambung Lyra.
Ana menganggukan kepalanya kemudian membatu lyra memasukan pesanan-pesanan kue ke dalam mobil Lyra.
"Ia hati-hati dek"
"Mba juga baik-baik ya di rumah, aku tinggal dulu ya" Lyra masuk ke dalam mobilnya kemudian ia pergi menuju agen jasa pengiriman barang.
Setelah mobil Lyra sudah tak terlihat lagi, ana masuk ke dalam kamarnya kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ah... lelah sekali" Ana melakukan peregangan otot di atas tempat tidurnya.
Baru saja ia hendak mengistirahatkan tubuhnya, tiba-tiba hp ana bergetar, ada satu panggilan masuk di hanphonenya.
Drrrrt... Drrrrrt...
"Hallo"
"ANAAAAAA, Loe kemana aja? gue cariin kemana-mana tidak ada, gue tanya sama semua temen-temen tapi tidak ada satu pun yang tau keberaadan loe. Loe juga pergi tidak bawa hp, loe pergi bak di telan bumi. Terus sekarang gimana keadaan loe, sekarang loe ada di mana? loe baik-baik saja kan? loe jahat banget ganti nomor handphone tapi tidak menghubungin gue, bahkan gue tahu nomor handphone loe dari foto brosur di IG loe."
Mia nyerocos panjang kali lebar hingga membuat kepala Ana pusing.
"Aisssh MIAAAA.... satu-satu nanyanya, gue bingung jawabnya" Ana menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Ya udah nih gue satu-satu nanyanya, kabar loe sekarang gimana?" tanya Mia kembali sambil memonyongkan mulutnya.
"Alhamdulillah baik, kabar loe juga gimana? lulus tidak sidangnya?"
"Puji tuhan gue lulus an. Oh ia dua minggu lagi kita wisuda loh, baju toga dan undangan wisuda punya loe ada di gue, loe kapan balik?" tanya Mia.
"Emmmm... gue belum tau mi, kayanya gue enggak ikutan wisuda" ada perasaan sedih ketika Ana mengatakan hal itu, ia mengelus perutnya dengan lembut.
"Loh kenapa An? kita kan ospek bareng masa wisuda loe enggak ikut. Sebenernya loe di mana sih, gue jemput ya An"
Pada saat Ana tengah asik mengobrol dengan sahabatnya, terdengar sayup-sayup keributan di luar kamarnya. Akhirnya Ana mengakhiri obrolannya dengan Mia tanpa menjawab semua pertanyaan Mia.
"Mi udah dulu ya nanti gue telepon balik" Ana menunup teleponnya dan bergegas keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Ehh Ana..." tuuut.. tuuut sabungan telepon terputus.
Retno datang ke rumah Lyra dengan membawa dua pria bertubuh besar, dari depan pagar kediaman Lyra, Retno sudah berteriak-teriak mencari Ana, hingga membuat para pegawai toko yang sedang berkerja bingung dan ketakutan.
"DI MANA PELAKOR ITU BERSEMBUNYI?" teriak retno kepada salah satu karyawan ibu, tidak lama kemudian Ana keluar menuju sumber suara keributan.
"INI DIA PELAKOR YANG UDAH MEREBUT SUAMI SAYA, BERANI JUGA KAMU KELUAR"
Ana mencoba mencerna kalimat yang keluar dari mulut Retno, ia berfikir mungkinkah Retno telah mengetahui hubungan dirinya dengan Julio.
"Reeeetno.." suara Ana tampak bergetar, wajahnya menjadi gelisah.
"Dasar wanita l*knat, perebut suami orang"
PLAAAAK....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Ana, hingga membuat air mata Ana mengalir deras dari sudut matanya, tubuhnya gemetar namun ia mecoba untuk tidak terlihat lemah.
"Aakkuu... tidak pernah merebut suamimu" jawabnya terbata-bata, ia mencoba menjelaskan semuanya kepada Retno, namun Retno tidak mau mendengar penjelasannya.
Retno melempar semua foto-foto kemesraan Ana bersama suaminya ke wajah ana.
"Ini buktinya, dasar pela*ur. Sekarang kau gugurkan anak itu, aku tidak sudi suamiku memiliki anak dari wanita lain" Retno menatap ana dengan tatapan ganas.
"Ak...aku tidak mau" Ana memeluk perutnya dengan erat, berusaha melindungi janinnya.
"Bila kamu tidak bersedia melakukannya, maka aku yang akan melakukannya"
Dua orang pria yang ikut bersama dengan Retno menahan para pegawai toko agar mereka tidak dapat menolong Ana.
"RETNO LEPASKAN!!!" teriak Lyra.
"Oh jadi kamu lebih membela pela*ur ini dari pada sahabatmu sendiri?"
Lyra mencoba mencerna kata-kata Retno "jadi janin yang di kandungan ana anak suami sahabatnya" guman lyra dalam hati.
Tapi melihat Retno yang sedang menyakiti Ana, Lyra tidak bisa tinggal diam begitu saja.
"RETNO LEPASKAN KAKAKKU" ulang Lyra
Ibu yang melihat kegaduhan ini seketika dada sebelah kirinyanya terasa nyeri dan sesak, tak lama ibu terjatuh pingsan. Ana yang melihat ibu terjatuh langsung menghempaskan tangan retno dan belari ke arah ibu.
"Buuuu bangun" Ana memegang jawah ibu, kemudian ana beralih ke Lyra "Lyr cepat nyalakan mobilnya" dengan di bantu dengan beberapa pegawai toko, Ana mengangkat tubuh ibu masuk ke mobil.
Ana dan Lyra membawa ibu menuju rumah sakit, Lyra memacu kendaraannya dengan kecapatan penuh. Sementara Ana duduk di belakang terus mencoba membangunkan ibu agar tersadar.
Ana menciumi dan mengelus wajah ibu, perasaan bersalahnya memenuhi pikirannya.
"Buuu bangun buu..." ucap Ana lirih.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit Lyra memanggil perawat untuk membantunya membawa ibu, tidak lama kemudian beberapa perawat keluar dengan membawa brankar.
Kemudian merebahkan tubuh ibu di atas brankar dan mendorongnya menuju ruang IGD. Salah satu perawat meminta Ana dan Lyra untuk menunggu pasien di ruang tunggu IGD.
Ana dan lyra pun menunggu di luar ruangan dengan raut muka cemas, di dalam kecemasannya lyra berusahan memberanikan diri untuk mengirimkan pesan kepada kakaknya, dengan tangannya gemetar ia pun mulai mengetik pesan tersebut.
^^^Lyra:^^^
^^^Mas jantung ibu kumat, sekarang lagi di IGD. aku takut mas^^^
Sudah hampir satu jam berlalu belum juga ada tanda-tanda dokter atau perawat keluar dari ruangan sehingga membuat Ana dan Lyra semakin cemas.
"Mba Ana... Lyra takut" ucapnya lirih sambil memeluk Ana.
"Maafin mba ya Lyr, gara-gara mba ibu jadi kaya gini" ucap ana dengan penuh rasa penyesalan, Lyra menggelengkan kepalanya seolah mengatakan jika ini bukan salahnya.
Beberapa menit kemudian akhirnya dokter keluar dari ruangan, dokter menjelaskan mengenai kondisi ibu yang membutuhkan istirahat total selama beberapa hari serta menjaga pikiran ibu agar tetap stabil.
Kemudian perawat meminta Lyra mengurus administrasi sementara lerawat yang lainnya memindahkan ibu diruang rawat inap dan mempersilahkan Ana untuk menemaninya.
Secara perlahan Ana melangkahkan kakinya mendekat ke tempat tidur ibu, hatinya ragu-ragu karena perasaan bersalah begitu berkecamuk di benaknya.
"Kemarilah nduk" Ibu melambaikan tangannya dengan lemah ke arah ana, ana pun menghampiri ibu.
"Maafin Ana ya bu hiks..." Ana menangis sesegukan menciumi tangan ibu
"Ssst... kamu tidak salah nduk. Sudah-sudah jangan menangis lagi kasihan janin yang berada dalam kandunganmu nanti ikut bersedih. Lagi pula ibu juga sudah tidak apa-apa." Ibu membelai kepala ana.
Perlahan ana mulai dapat mengontrol dirinya untuk tidak terlalu bersedih meskipun rasa bersalah itu masih berkecamuk di dadanya
Sore menjelang malam Lyra meminta izin untuk pulang ke rumah sebentar mengambil barang-barang perlengkapan ibu dan ana.
Sedangkan ana tetap berada dirumah sakit untuk menjaga ibu, ana mengelap tubuh ibu dengan telaten, kemudian ana menyuapi ibu makanan dari rumah sakit.
"Kemana lyra tidak datang-datang, ibu tidak suka dengan makanan rumah sakit." gerutu ibu
"Tunggu sebentar ya bu, ana lihat dulu ke depan, siapa tau lyra sudah datang."
"Ya sudah sana kamu lihat tapi jangan lama-lama."
"Ia bu." Ana beranjak dari tempat duduknya, kemudian keluar dari ruang rawat inap ibu.
Dari kejauhan ana melihat lyra sedang di marahi oleh seorang pria, ana pun bergegas menghapirinya.
"Sudah mas katakan berkali-kali ibu itu harusnya istirahat, bukan mengurusi toko. Mas masih mampu mencukupi semua kebutuhanmu dan ibu"
"Bukan lyra yang salah, tapi aku" ucap Ana.
Seketika pria itu membalikan tubuhnya ke arah Ana.
__ADS_1
"Aaaannaaa..."