Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 98 BODYGUARD UNTUK BERLIAN


__ADS_3

Aku memberitahukan kepada mas Agung, bahwa aku sudah mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama, via whatsapp. Karena aku malas menemuinya.


(Assalamualaikum. Mas, aku sudah mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama)


Beberapa menit kemudian baru mas Agung membacanya. Dia tidak langsung membalas.


Agak kesal juga, tapi biarlah. Yang penting aku sudah memberitahukannya.


Aku melanjutkan pekerjaanku di kantor. Pak Andre meminta beberapa file yang tersimpan di laptopku.


Karyawan sebelumku yang menyimpannya. Jadi aku agak kerepotan mencarinya.


Ting.


Ting.


Dua pesan masuk. Aku mengabaikannya karena aku masih sibuk.


(Waalaikumsalam)


(Aku tidak akan pernah menceraikanmu!)


Aku terkesiap dengan jawaban mas Agung. Aku diam, memikirkan apa yang harus aku jawab.


"Sudah ketemu?" tanya pak Tedi. Aku yang sedang tidak fokus, jadi kelabakan.


"Sebentar lagi, Pak" jawabku. Lalu aku lanjutkan lagi pencarianku.


Ting.


Setelah selesai kerjaanku, aku buka ponselku. Biar selesai juga urusanku.


(Nanti sore kita ketemu. Aku jemput kamu pulang kerja) Itu pesan mas Agung selanjutnya.


(Maaf, aku lagi banyak kerjaan) Hanya itu yang bisa aku ketik. Malas berdebat dengannya.


Dan benar saja, sore saat aku pulang kerja, mas Agung sudah ada di depan tempat kerjaku.


Aku hampiri dia. Lalu dia menyerahkan helm kepadaku. Aku agak kikuk, karena aku lihat mas Angga memperhatikanku dari dalam.


Tapi sudahlah, toh aku hanya ingin menyelesaikan urusan saja.


"Kita mau kemana?" tanyaku saat motor mas Agung sudah melaju.


"Cari tempat buat ngomong. Biar tidak ketahuan sama si cecunguk itu" sahut mas Agung.


Cecunguk? Siapa yang dimaksud?


"Siapa?" tanyaku.


"Mestinya kamu tau" jawabnya.


Kami sampai di sebuah tempat makan yang tempatnya agak sepi. Setelah mendapat tempat yang nyaman, dan memesan makanan, aku memulai dulu pembicaraannya.


"Mau ngomong apa? Dan siapa yang kamu sebut cecunguk tadi?" tanyaku.


"Seperti yang tadi aku whatsapp-kan ke kamu. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu" sahut mas Agung.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku.


"Wid, tidakkah kamu berfikir panjang akibat dari keputusan kamu itu pada anak kita?" sahut mas Agung.


Anak kita dia bilang? Anak yang tak pernah dinafkahinya? Anak yang selalu diabaikannya?


Lalu kami terlibat perdebatan panjang. Panjang dan tak ada akhirnya.


Karena dia masih tetap pada pendiriannya, tidak akan menceraikan aku. Kecuali aku memberikan hak asuh anakku kepadanya.


Aku hanya tertawa mendengar permintaannya. Sejak anakku lahir, bahkan sejak sebelum lahir, dia tidak pernah lagi menafkahi.


Lalu kenapa tiba-tiba dia minta hak asuh?


"Sudah gila apa kamu? Lalu kalau aku berikan hak asuh, siapa yang akan mengasuhnya? Kamu akan berikan anakku pada mantanmu? Sedang kedua anakmu saja kamu tidak bisa mengurusnya."


Alasan yang masuk akal bukan? Kalau dia tidak bisa mengurus kedua anaknya, sampai dia mesti melibatkan mantan istrinya.


"Aku mau pulang. Percuma bicara sama kamu." Lalu aku berdiri dan siap untuk pergi.


"Urusan kita belum selesai!" sahut mas Agung sambil memegangi tanganku.


"Urusan apa lagi? Semua sudah selesai! Kamu tinggal tunggu saja hasilnya!" seruku sambil menepiskan tangannya.


"Itu tidak akan sah, karena aku tidak akan pernah menjatuhkan talakku!" ucapnya. Dan pegangan tangannya semakin kuat.


"Lepaskan!" ucapku. "Atau aku akan teriak!"


"Teriak saja. Kamu pikir orang akan menolongmu jika mereka tau kalau kita adalah pasangan suami istri?" sahutnya.


Aku sudah kehilangan cara untuk menghindarinya. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Lepaskan tangan adikku!" ucap mas Andi dengan suara keras.


"Tidak akan! Dia milikku!" mas Agung tetap tak mau melepaskan tanganku.


Tanpa pikir panjang, mas Andi semakin mendekat dan langsung menghantam perut mas Agung.


Aku yang melihatnya, spontan menjerit. Tanganku terlepas. Aku berlari ke belakang mas Andi.


Mas Andi terlihat sangat emosi. Tak biasanya dia semarah itu. Bahkan langsung main hantam.


Mas Andi yang aku tau, orangnya sangat tenang dalam mengahadapi masalah.


"Sudah, Mas. Kita pulang yuk" ajakku sambil meraih tangan mas Andi.


Mas Andi yang sudah sangat emosi mendekati mas Agung, lalu mencengkeram lehernya.


"Jangan mempersulit dirimu sendiri! Atau kamu masih pingin merasakan bogem mentahku?!" Seru mas Andi.


Lalu menghempaskan tubuh mas Agung hingga jatuh tersungkur.


"Ayo!" Mas Andi menarik tanganku. Aku mengikutinya dengan langkah terseok, karena tanganku terus saja di tarik.


"Jalannya pelan mas. Kakiku sakit" rengekku karena aku memakai sepatu berhak tinggi.


Mas Andi menghentikan langkahnya, dan melihat ke arahku.

__ADS_1


"Piss" ucapku sambil mengacungkan dua jariku.


Saat akan melangkah lagi, mas Angga sudah ada di depanku. Rupanya mereka berdua mengikutiku tadi.


Baguslah, jadi aku bisa bebas dari mas Agung yang menyebalkan. Walau pun tadi harus pakai baku hantam dulu.


"Kamu tidak apa-apa, Wid?" tanya mas Angga. Aku hanya menggeleng, lalu mengikuti mas Andi lagi karena tanganku masih digandengnya.


Aku naik mobilnya mas Andi. Mas Angga naik mobilnya sendiri. Kami beriringan menuju rumah orang tuaku.


Sampai di rumah, mas Andi menyuruh aku dan mas Angga duduk. Sepertinya dia akan menyidangku.


Bapak dan ibu ikut bergabung bersama kami. Tapi mereka hanya mendengarkan saja.


"Apa yang tadi dikatakannya padamu?" tanya mas Andi.


Aku menatapnya sesaat.


"Dia tidak mau menceraikan aku" jawabku.


"Alasannya?" tanya mas Andi lagi. Aku hanya mengangkat bahuku.


"Terus?" tanya mas Angga.


"Dia bilang kalau aku tetap mau bercerai, dia akan menuntut hak asuh Berlian" ucapku.


"Apa?!" Ibu yang dari tadi diam, ikut bersuara.


"Tenang, Bu" ucap bapak sambil menepuk tangan ibu.


"Ibu tidak akan tenang kalau menyangkut cucu ibu!" tukas ibu dengan nada sangat marah.


"Iya. Bapak juga tidak rela. Tapi ibu tenang dulu. Kita cari solusinya bersama-sama" sahut bapak.


"Nanti biar pengacaraku yang mengurusnya. Kamu tenang saja. Berlian takkan kemana-mana." Mas Angga ikut bersuara.


Kami semua diam. Tak ada yang berani bersuara.


"Apa tadi dia menyebut-nyebut namaku?" tanya mas Angga memecah keheningan.


"Bukan tadi. Tapi dia memang selalu melibatkanmu" jawabku, tanpa menyebutkan kalau tadi mas Agung sempat mengatakan istilah cecunguk yang entah ditujukan pada siapa.


"Awas saja kalau dia bawa-bawa namaku" ancam mas Angga.


"Ang, sepertinya untuk sementara kamu jangan terlalu dekat dulu dengan Widhi" ujar mas Andi.


"Kenapa?" tanya mas Angga. Dia terlihat tidak rela kalau harus menjauhiku, walau pun untuk sementara.


"Agar dia tidak punya alasan menyalahkan Widhi" ucap mas Andi.


"Tidak masalah, Mas. Nanti semua biar diurus pengacaraku. Kita pasti bisa mengalahkannya di pengadilan" sahut mas Angga dengan percaya diri.


"Ya sudah. Kita ikuti dulu prosesnya. Ibu tolong jaga Berlian dengan baik, saat kami tak ada di rumah. Jangan beri celah sedikit pun bagi Agung, untuk menemui Berlian saat kita tidak di rumah" ujar bapak.


Ibu malah jadi terlihat agak ketakutan. Karena ibu sendirian saat kami semua bekerja.


"Kalau begitu, mulai besok saya akan mencarikan penjaga untuk Berlian" ucap mas Angga.

__ADS_1


"Penjaga?" tanyaku.


"Iya. Bodyguard!" jawab mas Angga.


__ADS_2