
Keesokan harinya seperti biasanya Rio menjemput Ana untuk bersama-sama berangkat ke kantor, sepanjang perjalanan hanya ada suara musik dari mobil Rio. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Rio menepikan mobilnya di depan kantor Ana, sebelum Ana turun ia memberikan paper bag berwarna coklat yang berisi kotak bekal untuk Rio sarapan dan makan siang, Rio pun menerimanya kemudian menaruhnya di kursi belakang bersama dengan laptop dan dokumen-dokumen lainnya.
"Kabari jika sudah pulang, nanti aku akan jemput" ucap Rio.
Ana hanya mengangguk, kemudian mencium tangan Rio. Rio memperhatikan Ana masuk ke dalam kantornya, setelah Ana masuk barulah ia pergi menuju kantornya
Di kantor Rio tak bisa berkonsentrasi, ia memikirkan hubungannya dengan ana mengapa bisa sedingin ini padahal Rio sudah mencoba menekan egonya menuruti kemauan Ana.
Tok... Tok... Tok...
Adit masuk membawa beberapa dokumen yang harus Rio tanda tangani, serta membawa laporan keuangan masing-masing cabang. Adit yang melihat raut wajah bosnya nampak kusut, ia mencoba menghiburnya.
"Ternyata jauh dekat tidak ada bedanya."
Rio yang sedang menandatangani berkas, merilik ke arah Adit dengan tatapan kesal.
"Kamu mau mulai meledekku lagi?"
"Mana berani saya meledek Pak Rio."
"Sudah sana keluar, aku mau sendiri."
"Baik Pak, Oh ia jam satu Pak Rio ada meeting bersama tim Child's Hope."
"Hmmm..."
Siang hari Rio meeting bersama tim Child's Hope para tim meminta Rio untuk turut serta dalam campaign di video yang akan di buat, mengingat popularitas Rio yang sudah mulai di kenal luas.
Tentu hal ini akan mempermudah mensosialisasikannya, Rio nampak ragu untuk menyetujui usulan dari timnya, namun akhirnya Rio staffnya untuk mengirimkan konsep video tersebut agar ia bisa mempertimbangkananya.
Di pertengahan meeting handphone Rio bergetar, ada satu pesan masuk dari Ana.
^^^Ana:^^^
^^^Aku sudah pulang^^^
Rio:
Tunggu sebentar aku segera ke sana
Rio mengakhiri meetingnya, kemudian bergegas pergi menjemput kekasihnya. Dalam perjalanan ia mencoba mencairkan kembali suasana hubungannya dengan Ana, ia mulai mengajak ana mengobrol.
"How was your day?"
__ADS_1
"Good" jawab Ana singkat.
"Kamu tidak ingin bercerita hari pertamamu bekerja?"
"Aku mau izin pergi ke Bangkok."
"Mau ngapain, sayang?" tanya Rio.
"Ada tugas kantor, kamu tidak keberatankan?"
"Bukankah kamu baru saja bekerja kenapa sudah tugas ke luar negeri?"
"Client kantorku punya cabang di Bangkok sehingga kita perlu segera ke Bangkok untuk memeriksa laporan keuangan yang di sana."
"Memang tidak bisa via internet atau orang lain yang menggantikanmu."
"Itu memang sudah menjadi jobdeskku."
"Oke, nanti aku temani ya"
"Sayang aku itu mau bekerja bukan mau liburan, kamu sama papa sama saja selalu memperlakukan aku seperti boneka. Aku hampir tidak pernah punya hak atas keputusan hidup yang aku jalani, aku juga ingin sepertimu bisa berdiri di atas kakimu sendiri."
"Berapa hari?"
"Seminggu"
Ana mengangguk menyetujui permintaan dari Rio, Rio menepikan mobilnya di sebuah cafe yang telah ia booking untuk dirinya dan ana meeting kembali bersama tim WO mereka.
Rupanya tim WO telah menunggu kedatangan Ana dan Rio, setelah memesan makanan dan minuman, mereka memulai menanyakan perubahan konsep acara pernikahan Ana dan Rio, kali ini Ana yang menjawab pertanyaan mereka.
"Untuk konsep akad nikah masih sama seperti dengan kemarin, menggunakan adat jawa lengkap kemudian hanya untuk keluarga inti, penghulu dan beberapa orang saksi."
"Sedangkan untuk resepsinya sendiri, indoor dengan kapasitas undangan 200 Orang, menu makanannya indonesian food, untuk dekorasi dan lain-lain kita pakai yang starandar saja."
"Sayang, kamu yakin hanya 200?"
"Ia, hanya keluarga besar aku dan kamu."
"Apa tidak bisa kamu pertimbangkan lagi?"
"200 atau tidak sama sekali" ucap Ana dengan tegas.
Rio menyerah dengan keputusan yang di buat Ana, dengan berat hati mau tidak mau ia harus menerimanya, ia tidak mau ada lagi perdebatan antara dirinya dengan Ana.
"Baiklah kalo begitu Mba Ana dan Mas Rio, terima kasih atas kerja samanya. Kita bertemu lagi di hari sabtu nanti untuk mengecek lokasi pernikahan mas Rio dan Mba Ana."
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang suasana di dalam mobil kembali hening, hingga beberapa menit kemudian Ana mulai berbicara.
"Bukankah sejak awal rencana pernikahan kita memang hanya akad nikah saja?"
"Sayang, dulu kondisimu sedang mengandung. Aku tidak ingin kamu kelelahan, makanya resepsinya aku undur sampai kamu selesai masa nifas. Aku tidak bicara denganmu karena aku ingin kamu fokus pada kehamilan dan kelahiranmu."
"Bukankah kamu malu?"
"Aku tidak pernah malu dengan kondisimu, aku sudah menganggap janin yang kamu kandung adalah anakku. Bahkan hingga kini aku masih menyimpan foto USG nya."
"Sudah sampai, aku mau turun. Terima kasih ya" Ana mencium tangan rio, rio meraih tubuh ana dan memeluknya.
"I miss you." Bisik rio.
Ana tidak membalas pelukan rio, ia hanya mengangguk dan turun dari mobil rio.
Hari sabtu tiba, pagi-pagi sekali rio datang ke rumah ana, asisten rumah tangga ana memberi tahu Rio jika pak reino telah berangkat ke Jerman untuk menemui Risti, sedangkan Ana masih tidur di kamarnya. Ketika asisten rumah tangga Rio ingin membangunkan Ana, Rio melarangnya.
"Biar aku saja bi."
Dengan perlahan Rio membuka pintu kamar Ana, Rio melihat Ana tertidur di atas sajadah dengan mengenakan mukena pemberian darinya. Disamping tubuh Ana terdapat sebuah laptop yang masih menyala, ketika Rio ingin menaruh laptop Ana di atas meja.
Rio tak sengaja melihat layar laptop yang berisi email dari salah satu rumah sakit di Bangkok, Rio yang penasaran segera membukanya.
Alangkah terkejutnya Rio mengetahui jika ana telah membooking kamar untuk tempat ia melakukan operasi selaput da*anya.
"Apa karena ini Ana jadi berubah? apa karena ini ana tidak ingin mengadakan resepsi pernikahannya? aku pikir selama ini Ana baik-baik saja ternyata tidak." Gumam rio dalam hati.
Dengan cepat Rio memforwad email tersebut ke email pribadinya, dan setelah terkirim rio menghapus pesan terkirim pada email ana.
Setelah selesai, Rio membangunkan aAna secara perlahan, ia meraba pipi Ana dengan lembut, masih ada sisa genangan air mata di sudut mata ana.
"sayang kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita denganku." Ucap rio lirih.
Hatinya sakit sekali mengetahui kekasihnya ternyata menyimpan beban batin di hatinya, dugaan Rio selama ini salah. Ia selalu berfikir bahwa Ana tidak benar-benar mencintainya dan tidak serius untuk menikah dengannya.
"Bangun sayang" ucap Rio sambil mengelus pipi Ana dengan lembut.
Perlahan Ana membuka matanya, ia nampak terkejut dengan kehadiran Rio di kamarnya
"Kok kamu di sini?" tanya Ana dengan wajah terkejut.
"Morning baby" sapa Rio.
__ADS_1
"Aku mandi dulu ya" Ana mengucek-ngucek matanya.
"Aku tunggu di bawah ya" Rio menunggu Ana di ruang tamu.