
Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamarku. Rasa kesal pada Yoga membuat aku malas ketemu atau bicara pada siapa pun.
Ibu yang melihatku pulang langsung masuk kamar, menyusul masuk ke kamarku.
"Gimana tadi? Udah beres soal fotonya?" tanya ibu sambil menggendong anakku.
"Orangnya pergi, Bu." Aku yang tadinya kesal jadi terhibur saat melihat senyum anakku. Apalagi saat kedua tangannya berusaha meraihku minta di gendong.
"Uluh...uluh. Anak mama yang cantik. Sini gendong." Aku meraih anakku dari gendongan ibuku.
"Kok bisa begitu? Memangnya kamu tidak janjian dulu?" tanya ibu.
Aku menjelaskan kalau Yoga sudah menghubunginya. Dan saat aku di sana malah ditinggal pergi.
Tapi aku tak menceritakan kalau aku ditinggal dengan perempuan yang ternyata punya hubungan dengan Yoga.
"Kok begitu sih? Gak profesional banget." Lalu ibu keluar dari kamarku.
Sementara aku mengajak becanda anakku di atas kasur. Ya, anakku adalah penyemangat hidupku di saat aku bete.
Ponselku masih di tas. Aku sengaja tak mengambilnya. Biar saja Yoga menghubungi aku terus. Aku gak akan membalasnya.
Aku becanda dengan anakku sampai ketiduran karena capek.
Hingga sore aku baru terbangun karena tendangan kaki anakku mengenai perutku. Dia memang kalau tidur tidak bisa diam. Berputar ke sana dan ke mari.
Aku keluar dari kamar mau mandi. Biar nanti setelah mandi bisa gantian mandiin anakku kalau dia sudah bangun.
Dan benar, tak lama setelah aku selesai mandi, anakku terbangun.
"Anak mama sudah bangun. Mandi yuk. Kita mainan air."
Anakku memang paling suka kalau berendam sambil mainan air. Di bak mandinya nanti di taruh bebek-bebekan yang banyak. Dijamin dia gak akan mau berhenti mandinya.
"Wid. Ada Yoga tuh. Sini biar Berlian ibu saja yang nungguin."
Dengan malas aku beranjak dari kursi kecil tempat aku duduk menemani anakku berendam.
Sampai di teras, aku melihat Yoga sudah duduk. Dia menyerahkan sebuah paper bag. Aku yang tak ingin tau isinya karena masih bete, menaruh saja paper bag itu di meja.
"Kamu dari tadi ditelpon kok gak diangkat?" tanya Yoga.
"Hapeku di tas" jawabku cuek.
"Kamu tadi udah ketemu Toni?"
"Udah. Sebentar karena Toni terus pamit pergi. Aku ditinggal dengan seorang perempuan bernama...Lidya."
Yoga menatapku. Aku balas tatapan matanya. Rasa kesal masih aku rasakan. .
"Dia teman kuliahku. Temannya Toni juga" jawab Yoga.
"Oh" jawabku singkat.
"Kamu kenapa?" tanya Yoga.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Cuma heran aja."
"Heran kenapa?" tanya Yoga lagi.
"Emang kalau teman kuliah nge-save namanya di hape my beb, ya?"
Yoga malah ketawa. Aku merasa bingung, apa ada yang lucu?
Aku menatap malas pada Yoga.
"Kenapa kamu gak lihat semua phone book-nya? Kamu bakalan bilang Lidya pacarnya selusin!" Yoga kembali ketawa.
"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.
"Dia menyimpan nama teman laki-lakinya ya begitu. Malah ada yang di save dengan nama my hubby. Maklum jomblo akut."
"Masa sih?" tanyaku lagi.
"Dibilangin gak percaya. Dia memang begitu orangnya. Dan jangan percaya kalau dia bilang mantan pacarku."
"Tapi...Toni juga bilang begitu."
"Teman-temanku mengira aku sama Lidya pacaran. Karena Lidya memang paling dekat dengan aku. Tapi gak ada apa-apa. Suwer!" Yoga mengacungkan dua jarinya padaku.
"Terus ngapain kamu pake telpon dia segala?" tanyaku.
"Aku biasa menelponnya, Widhi. Sekedar bertanya kabar aja. Mungkin itu yang bikin teman-teman berfikir aku ada hubungan dengan dia." Yoga menatapku.
"Tapi kalau kamu memang gak suka dan mengganggu pikiranmu, aku gak akan menelponnya lagi" lanjut Yoga.
Tak lama, Lidya menelpon Yoga. Yoga memberikan hapenya padaku. Di situ tertulis nama Lidya cantik.
Aku memanyunkan bibirku. Makin bete.
"Nih, kamu yang angkat. Bilang saja kalau aku lagi di rumah kamu."
Aku menggeleng. Yoga melihat ke hape-nya.
"Lidya yang menyimpan namanya di hape-ku. Sebentar, biar aku ganti saja."
Lalu Yoga mengubah nama Lidya setelah panggilan dari Lidya berakhir.
Tapi baru saja Yoga merubah nama Lidya, dia sudah menelpon kembali.
Yoga mengalihkan panggilan Lidya ke mode video call.
"Apaan Lid? Gue lagi di rumah calon bini. Nih." Yoga merubah kameranya ke arahku.
Aku hanya tersenyum saja ke arah kamera Yoga.
"Udah ketemu kan, tadi?"
Lidya mungkin bete. Tanpa bicara, dia mematikan panggilannya.
"Udahlah, Wid. Kita sudah hampir menikah. Yang begituan gak usah diambil hati. Kalau kamu cemburuan, nanti kamu cepet tua!"
__ADS_1
Yoga menowel daguku.
"Percaya sama aku, ya? Saat aku memutuskan memilihmu jadi istriku, itu artinya yang lain bukan yang terbaik."
Aku diam mencoba memahami perkataan Yoga. Mestinya aku bisa memahaminya.
Aku harus membiasakan diri dengan kebiasaan dan pergaulan Yoga.
"Besok kalau kita sudah menikah, aku kenalkan kamu ke semua teman-temanku. Kamu pasti akan bertanya, kenapa tidak sekarang aja, kan?"
Aku masih diam.
"Wid. Aku pernah punya pengalaman buruk. Tentang Irene yang pernah aku ceritakan padamu. Di saat semua orang tau kalau Irene adalah pacarku, dia malah hamil dengan lelaki lain." Yoga menghela nafasnya.
"Bukannya aku tak percaya sama kamu. Atau menyamakan kamu dengan Irene. Tapi tolong kamu pahami perasaanku. Bagaimana pun kejadian dengan Irene cukup membuatku trauma."
Iya juga sih. Orang kalau sudah trauma, susah menghilangkannya.
"Iya, gak apa-apa Ga. Aku bisa ngerti kok" sahutku.
"Jangan marah atau curiga lagi padaku, ya? Aku mungkin bukan laki-laki paling baik di dunia. Tapi setidaknya aku mencoba untuk tidak menjadi laki-laki brengsek."
Tiba-tiba mataku melihat lampu sen motor Yoga pecah.
"Kenapa sen motor kamu, Ga?" tanyaku.
"Gak apa-apa. Cuma kesenggol motor orang aja."
Tapi aku gak percaya begitu saja. Gak mungkin kalau kesenggol motor sampai pecah kayak gitu.
"Ada orang yang sengaja memecahkannya. Sayangnya aku tak melihat kejadiannya. Tapi dari cctv terlihat siapa pelakunya." ucap Yoga.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Tapi kamu gak usah memperpanjang masalahnya ya?"
Aku mengangguk. Walau pun gak janji juga.
"Pak Angga."
Degh.
Mas Angga? Sejahat itukah dia sampai motor Yoga pun jadi sasaran?
"Maaf, Wid. Bukan aku mau menjelek-jelekan mantan bos kita. Tapi begitulah kelakuannya. Sejak dia tau kalau kita dekat, dia sering menerorku."
"Meneror bagaimana?"
Aku jadi ingat saat aku baru saja menikah dengan mas Agung. Mantan istrinya selalu saja menerorku, hingga membuat aku ketakutan.
"Banyak sekali, Wid. Aku tak bisa menceritakannya satu per satu. Mungkin dia pikir, aku akan mundur dengan semua terornya."
"Asal tidak membahayakan kamu, Ga." Aku jadi khawatir kalau sampai mencelakai Yoga.
"Tenang aja. Aku bisa jaga diri kok."
__ADS_1
Hm...kenapa kisah cintaku selalu penuh dengan teror?