
Risti menyuruh suster anak-anaknya untuk mengajak anak-anaknya bermain di taman belakang, kemudian ia meminta Rio untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Risti menawari Rio untuk minum namun Rio menolaknya, Rio tak ingin berbasa-basi, ia hanya ingin mencari keberadaan kekasihnya.
"Dimana Ana? aku sudah mencarinya ke semua rumah sakit di Singapore tapi hasilnya nihil" tanya Rio dengan tatapan dingin.
"Sudahku duga pasti kau akan mencari Ana kemari, maka dari itu aku ke sini untuk menjelaskan sesuatu padamu." ucap risti.
"Katakan di mana Ana sekarang berada?" tanya Rio dengan tegas.
"Saat ini ana sedang berada di Eropa" ucap Rio.
Rio sangat terkejut mendengar ucapan Risti, ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Risti.
"Kalian mau menjauhkan aku dari Ana? apa salah aku dan Ana? Aku dan Ana saling mencintai, mengapa kalian tega? Apa kalian tidak memikirkan perasaan Ana?"
"Rio tenanglah" Risti meminta Rio untuk tenang dan duduk kembali.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika kalian membawa pergi orang yang sangat aku sayangi, kalian telah membohongiku!!!" ucap Rio.
"Duduklah, semakin kau tidak bisa mengontrol emosimu, maka aku tidak akan menceritakan apa pun kepadamu." ancam Risti.
Rio mengalah, ia menahan amarahnya dan menuruti perintah Risti untuk duduk dengan tenang.
"Rio, kami sungguh sangat berterima kasih kepadamu dan keluargamu karena kalian telah menjaga Ana dengan baik. Tapi tolonglah Rio beri kami kesempatan untuk menebus semua kesalahan kami kepada Ana, beri kami kesempatan memberikannya semua yang terbaik untuk Ana menurut versi kami, beri kami waktu untuk bersamanya merangkai kembali memory-memory indah serta menjadikan Ana wanita yang dewasa dan matang yang siap untuk menjadi pendamping hidupmu" terang Risti.
"Maksudmu?" Rio belum mengerti arah pembicaraan Risti.
"Kami tidak bermaksud untuk membohongimu, rencana awal memang kami akan membawa ana berobat di Singapore. Namun rencana itu berubah setelah papa mendapatkan informasi dari kolega bisnisnya jika ada rumah sakit di Eropa yang lebih bagus" ucap Risti, kemudian ia melanjutkan kembali kalimatnya.
"Kebetulan aku juga telah mendaftarkan program magister akuntansi di salah satu universitas impian Ana di Eropa, dulu Ana sempat meminta untuk kuliah di sana namun papa tidak mengijinkannya. Aku pikir ini adalah kesempatan yang tepat bagi kami untuk mewujudkan impiannya, sambil menjalani pengobatannya Ana juga akan meneruskan pendidikannya."
"Magister?" Rio membayangkan jika dirinya dan ana akan LDR dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Lantas bagaimana Ana disana?" Rio sangat mengkhawatirkan kondisi ana.
"Ada papa yang akan menjaganya 24jam kamu tidak perlu khawatir, aku pastikan kejadian itu akan terulang lagi. Aku pun setelah ini akan kembali ke sana, kebetulan suamiku sedang ada project di sana. Apa kamu tidak mempercayai calon istrimu sendiri?" tanya Risti.
"Bukan begitu, tapi apa kalian tidak memikirkan hubungan kami? memikirkan bagaimana perasaan kami yang di pisahkan begitu saja?"
__ADS_1
"Rio apa kamu tau usia Ana saat ini berapa tahun?" tanya Risti
"21" Jawab rio singkat.
"Usia mu?" Tanya risti kembali.
"25 tahun"
"Kalian itu masih terlalu muda untuk mengarungi bahtera rumah tangga, membangun rumah tangga itu tidak cukup hanya dengan modal cinta dan materi. Tapi juga dibutuhkan kematangan emosional dan kedewasaan, raihlah mimpimu setinggi-tingginya. Lebarkan sayap bisnismu selebar-lebarnya, berikan waktu terbaikmu untuk keluargamu (Ibu dan Lyra)."
Risti berhenti sejenak mengambil gelas minumannya, kemudian meminumnya.
"Suatu saat jika kamu telah memiliki anak kamu akan mengerti bahwa semua orang tua menginginkan anaknya meraih pendidikan setinggi-tingginya."
"Lalu mengapa aku tidak dapat menghubunginya?"
"Kamu tau berapa banyak orang di luaran sana yang gagal dalam menjalani hubungan LDR (long distance relationship)? kami tidak ingin hal itu terjadi kepada kalian, drama-drama percintaan seperti itu justru akan menghambat konsentrasinya dalam menempuh pendidikannya, menghambat konsentrasimu dalam membangun bisnismu" ucap Risti.
"Ini sangat tidak adil untuk kita" protes Rio.
"Lalu apa Ana mengetahui semua ini? aku tidak ingin ia di sana bersedih."
"Sama hal denganmu, kami akan memberinya pengertian secara bertahap. Aku yakin Ana pun akan menerimanya."
Risti membuka galeri di handphonenya kemudian memberikannya kepada rio.
"Lihatlah!!! dia menepati janjinya padamu. Dia menuruti semua perkataan papa, dia juga semangat dalam menjakankan semua treatment pengobatan untuk kesembuhannya, dan dia selalu menjaga ibadahnya walaupun di dalam pesawat ia tetap menjaga ibadahnya."
"Coba kamu perhatikan dijari manisnya masih terpasang cincin pemberian dari mu, bukankah itu simbol bahwa kamu telah mengkhitbahnya. Lantas apa lagi yang kamu kawatirkan? percayalah, kami akan menjaganya untukmu."
Rio melihat satu persatu foto-foto Ana, ada kerinduan serta kebanggan dalam diri Rio terhadap Ana. Rio menundukan kepalanya, menahan air matanya untuk tidak terjatuh.
"Bangkit dan raihlah apa yang belum kamu raih, aku akan rutin mengirimimu foto-foto kegiatan Ana selama di Eropa." Risti menepuk pundak rio, memberikan semangat untuknya.
Kemudian risti pergi ke taman belakang menemani anak-anaknya bermain, meninggalkan rio sendirian di ruang tamu.
Setelah berpamitan dan meminta maaf kepada risti, rio pergi ke kampung halamannya untuk menemui ibu dan adiknya.
__ADS_1
Sesampainya ia di kampung halamannya ia memeluk ibunya dengan hangat
"Buk, mbenjing tindak-tindak nglelipur manah kulo darekaken, ibu badhe tindak pundi monggo kulo dareke."
*Buk besok kita liburan yuk, terserah ibu mau liburan ke mana aku akan menurutinya
"kok tumbe le ngejaki ibu taro lyra mlaku-mlaku, opo kowe ora ngeterke ana terapi?"
*Ko tumben le mengajak ibu dan lyra liburan, memangnya kamu tidak menemani ana terapi apa?
Rio menceritakan kepada ibunya semu yang risti bicarakan kepadanya, tentu sebagai orang tua ibu mengerti maksud dan tujuan dari keluarganya ana.
"Le dadi wanito iku yen wis bebrayan kudu ngutamakaken garwane, umur lan waktune dibaktekake kanggo garwo lan anake tinimbang keluwargo."
*Le wanita itu jika sudah berumah tangga maka prioritas utamanya adalah suaminya, ia akan menghabiskan waktunya lebih banyak bersama dengan suaminya ketimbang dengan keluarganya
"Dadi wong tuwo ibu yo kepengin anak-anakke ibu iso nggayuh pendidikan lan gelar sing duwur."
*Sebagai orang tua ibu pun menginginkan anak-anak ibu mengenyam pendidikan setinggi-tingginya meraih gelar terbaiknya.
Ibu mengusap punggung rio dengan lebut, memberikan ketenangan terhadap diri putra sulungnya.
"Menowo kowe tresno marang ana, jarno ana kareben berkembang kanthi optimal lan menowo deweke iku jodohmu, arep adoh koyo ngopo bakal mbalik marang awakmu."
*jika kamu benar-benar menyayanginya, biarkan ana berkembang secara optimal. dan jika memang ia jodohmu, mau sejauh apa pun ia pergi ia akan kembali kepadamu
Ibu tersenyum kepada rio, mengusap air mata yang jatuh dari mata rio. Ibunya tak menyangka jika putra sulungnya bisa benar-benar bucin dengan seorang wanita, padahal dari dulu ibunya tak pernah melihat rio menggandeng wanita mana pun.
"Le, sesuk terno semarang yo, ibu kepingin ziaroh maqom mbah putri lan mbah kakung. koyo wis suwe ibu ora tilik maqom."
*Le besok kita ke semarang ya, ibu ingin mengunjungi makam nenek dan kakekmu di sana. sudah lama ibu tak mengunjunginya.
"Injih bu"
*baik bu
Di tengah perbincangan Rio dan ibunya tiba-tiba ada yang memencet bel rumah Rio, Rio segera membuka pintu rumahnya, Rio nampak terkejut dengan kedatanga Retno yang bertamu ke rumahnya.
__ADS_1