
Pukul 02.00 dini hari Ana terbangun dari tidurnya, ia melihat suaminya tidak ada di sampingnya, kemudian ia beranjak menuju tempat tidur putrinya, ia juga tidak menemukan keberadaan keduanya.
Ana mencari-cari keberadaan keduanya di kamar Tyshia barulah ia menemukan keduanya, Ana melihat suaminya tengah duduk di sofa sambil memeluk putrinya di dadanya.
Rio yang menyadari kedatangan istrinya memberikan isyarat agar Ana tidak berbicara, secara perlahan Rio menggendong putrinya kemudian berjalan menuju kamarnya dan menaruh anaknya di tempat tidur bayi.
"Jadi selama ini kamu mengurusnya sendiri? kenapa tidak membangunkan aku sayang? aku fikir kamu meminta bantuan baby sitter atau memang Tyshia tidak terbangun di malam hari." ucap Ana, dengan raut wajah merasa bersalah karena telah lalai menjaga buah hatinya.
"Aku tidak ingin mengganggu istirahatmu sayang" Rio membelai wajah cantik istrinya "kamu pasti haus, aku ambilkan ya" Rio melangkah meninggalkan istrinya namun Ana menahannya, ia memeluk suaminya dengan erat "Lain kali bangunkan aku ya" ucap Ana.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, aku happy ngelakuinnya" Rio mengelus rambut indah istrinya dengan lembut,kemudian ia mengajak istrinya untuk istirahat kembali.
Pagi harinya Ana bangun lebih awal dari biasanya, ia menyiapkan sarapan untuk suaminya, kemudian ia juga menyiapkan baju kerja suaminya. Dari dalam kamarnya Ana mendengar rengekan putrinya yang sudah terbangun dari tidurnya, ia pun bergegas menghampiri Tyshia di kamarnya.
"Good morning, honey" sapa ana kepada putri kecilnya, kemudian ia menggendongnya dan memberikannya ASI.
Mendengar tawa riang istri dan Anaknya membuat Rio terbangun dari tidurnya, ia menghampiri keduanya mencium mereka berdua secara bergantian.
"Sayang mandi dulu, handuk dan bajunya sudah aku siapkan."
"Malas, aku masih mau bermanja-manja dengan anak dan istriku." ucap Rio cemberut, ia memeluk istrinya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
"Apa mau aku mandiin?" tanya Ana menggoda suaminya.
Wajah Rio mendadak berubah menjadi sumringah, ia langsung menganggukan kepalanya.
"Ya sudah aku minta tolong suster untuk menjemur Tyshia di rooftop, ayah duluan saja ke kamar mandi" Ana beranjak dari tempat duduknya memberikan putrinya kepada baby sitternya kemudian ia menyusul suaminya ke kamar mandi.
Sesuai dengan dugaan Ana ini akan menjadi lama, Rio enggan melepaskan istrinya, bahkan hingga Tyshia selesai mandi pun Rio belum mau melepaskan istrinya.
"Sayang udah ya, aku mau memberi Tyshia ASI, kamu tidak mau kan anak kita kelaparan?" Dengan membawa nama putrinya akhirnya Rio mau melepaskannya
Sambil memberi Tyshia ASI, Ana menemani suaminya sarapan di meja makan bersama dengan ibu.
"Sayang, hari ini aku tidak bareng denganmu ya. Aku mau membawa Tyshia imunisasi dulu, lalu ke kantor Lyra kemarin Lyra memintaku untuk datang ke kantornya karena ada transaksi yang cukup besar sehingga membutuhkan otoritas dariku. Tapi aku janji sebelum makan siang aku sudah di kantormu" ucap Ana.
"Terima kasih ya, seharusnya kamu masih harus istirahat di rumah tapi malah harus ke sana ke sini, membantuku"
"Tidak apa-apa kok sayang, kan kemarin aku sudah check up, semuanya baik-baik saja. Lagi pula aku bisa istirahat di mobil dan di kantormu" Ana tersenyum sambil menggengam tangan suaminya.
"Ya sudah, aku berangkat duluan ya" Rio mengecup kening istri dan putrinya secara bergantian kemudian ia berpamitan kepada ibunya.
Kemacetan kota Jakarta membuat Ana telat datang ke kantor suaminya, ia baru tiba sekitar pukul 14.00 siang, ia bergegas ke ruangan suaminya.
__ADS_1
"I'm so sorry baby, i'm late. Did you have lunch?" tanya Ana sambil mencium tangan dan pipi suaminya, Rio hanya menggelengkan kepalanya.
"Tolong ya sus" ana meminta baby sitter untuk membawa putrinya ke ruang sebelah melalui pintu ruang kerja suaminya, kemudian ia membereskan semua makanan yang ia bawa dan menyuapi suaminya yang tengah sibuk menandatangi banyak berkas.
"Sayang, dalam menyususun strategi bisnis kamu tidak perlu melakukannya seorang diri, seluruh kepala divisi harusnya berperan serta dan kamu berhak memberikan presure kepada mereka dan kamu juga bisa kok menunjuk orang menjadi perpanjangan tangan atau pembantumu untuk mengawasi jalannya perusahaan. Kamu memang wajib mempelajari semua seluk beluk mengenai perusahaan ini, tapi tidak semua masalah yang ada di perusahaan ini kamu yang menyelesaikan." ucap Ana.
"Aku akan membuat rancangan sistem yang baru untuk mempermudahmu, tapi aku butuh kamu yang tegas jadi kamu singkirkan semua rasa insecure yang ada pada dirimu"
"Kadang aku berfikir kamu saja yang memimpin perusahaan ini, karena jika di lihat dari segi apa pun kamu jauh lebih pantas di banding dengan aku" ucap Rio, selain insecure terhadap para pegawai yang bekerja di perusahaannya, ia juga terkadang insecure terhadap istrinya yang memiliki pendidikan lebih tinggi di banding dirinya.
"Aku hanya ingin menjadi istri dan ibu yang terbaik untuk kamu dan juga Tyshia" Ana memeluk suaminya dengan mesra.
Rancangan sistem yang di buat Ana berhasil mengurangi beban pekerjaan dan tanggung jawab suaminya di kantor, ia juga merekomendasikan beberapa orang untuk membantu suaminya mengawasi roda perusahaan dan Rio memilih salah satu orang yang di rekomendasikan oleh istrinya.
Hampir setiap hari Ana dan Tyshia menemani Rio di kantor, di tengah kesibukannya membantu Rio, Ana selalu menyempatkan diri untuk mengontrol perkembangan perusahaan Lyra dan toko kue milik ibu mertuanya.
Ana juga tidak pernah mengabaikan perannya sebagai seorang ibu, kehadiran Tyshia di kantor mampu membawa semangat dan keceriaan untuk Ana dan Rio, mehilangkan penat keduanya.
Di bulan ke lima Ana melihat suaminya sudah nampak lebih enjoy mengelola perusahaan Alm.Papanya yang diwariskan kepada suaminya.
Sesekali Rio juga mulai menerima tawaran untuk seminar di kampus-kampus untuk membagi ilmu, pengalaman serta motivasi yang ia miliki.
Nama Rio kini semakin di kenal luas, bahkan ia masuk kedalam jajaran orang terkaya dan berpengaruh di Indonesia.
"Jadi perusahaan ini tdak perlu diakusisikan?" tanya Ana kepada suaminya.
Rio menggelengkan kepalanya, ia menatap mata Ana dalam-dalam"Thanks for everything" ucap Rio.
Ana tersenyum menganggukan kepalanya, kemudian ia mengambil beberapa lembar tiket liburan dari tasnya "Ke jepang yuk, bulan ini musim semi. kita bisa liat bunga sakura di sana" ucap Ana sambil menyerahkan beberapa lembar tiket kepada suaminya.
"Banyak sekali untuk siapa saja?" tanya Rio.
"Kamu, aku, Tyshia, Ibu, Lyra, Adit, Baby sitter Tyshia dan asistenku. Aku ingin sekali-sekali bisa liburan bersama keluarga, sekalian Lyra baby moon. Lagi pula bulan depan Tyshia sudah mulai sekolah jadi sebelum sekolah kita ajak liburan dulu."
"Tapi akhir tahun kita ke Jerman ya, kita kunjunhi Kak Risti." ucap Rio.
"Ok sayang. Semua akomodasi dan persiapan lainnya biar aku yang urus, aku tidak mau kejadian seperti dulu terulang. Apa lagi kita membawa Tyshia, Ibu dan Lyra yang sedang hamil jadi harus lebih prepare" ucap Ana.
"Baiklah ratuku" Rio mengecup kening istrinya.
__ADS_1
Semuanya berjalan sesuai dengan rencana, sesampainya di Jepang Rio membawa keluarganya ke Shinjuku Gyoen untuk menikmati keindahan bunga sakura.
"Nanti malam kalian keluarlah, jalan-jalan berdua. Biar Tyshia bersama dengan Ibu dan baby sitternya di hottel, kalian boleh kembali pagi harinya" ucap Ibu.
"Benarkah Bu? apa ibu tidak kerepotan jika Tyshia bangun malam hari?" tanya Rio.
"Tyshia sama aku saja Mas, aku dan Mas Adit ingin belajar merawat anak sebelum aku melahirkan" sahut Lyra.
"Nah banyak kan yang akan menjaga Tyshia, jadi kalian berdua pergilah, tidak perlu khawatir"
"Terima kasih ya Bu" ucap Rio dan Ana bersamaan.
Malam harinya Rio mengajak istinya ke Tokyo Bay Night Cruise, melihat keindahan tokyo di malam hari dengan melewati pemandangan teluk laut dan jembatan pelangi odaiba, tokyo tower, tokyo light beacon dan gantry crane selama 2.5jam.
"Terima kasih telah mengantarkan aku hingga di titik ini, terima kasih untuk support, bantuan, kesabaran dan cinta yang tak ada batasnya yang telah kamu berikan untukku" ucap Rio sambil memeluk istrinya dari belakang
"Aku hanya minta tetaplah menjadi Rio yang dulu, pria yang sederhana, selalu bersyukur, tidak sombong, friendly dan semakin sayang dengan aku, Tyshia, dan keluarga kita"
"Tegur dan ingatkan aku jika aku berubah."
Ana mengagukan kepalanya, baru satu jam pergi meninggalkan Tyshia, Ana nampak gelisah.
"Sayang, aku rindu putri kecil kita. Kamu tidak marah kan jika hotel yang tadi kamu booking di cancel?" tanya Ana.
"Tidak sayang, aku juga rindu bidadari kecilku" Rio mengecup kepala istrinya dan mempererat pelukanannya.
The End
Dear Readers
Akhirnya selesai juga novel perdanaku, terima kasih banyak atas supportnya. Like👍, Komen💬, Gift 🎁, dan Rate kalian merupakan semangat untuk aku terus menulis.
Mohon maaf bila dalam novel ini masih banyak terdapat banyak kekurangan, karena aku masih sangat amatiran dalam menulis.
Semoga ada hikmah dan pembelajaran yang bisa di ambil dari novel ini.
Sekali lagi terima kasih
Love you all ❤
Irma
__ADS_1