
Mereka tak juga selesai. Aku mulai bosan menunggu di kamar.
Aku mengirimkan pesan ke nomor mas Angga.
(Masih lama tidak ngobrolnya? Aku mau pulang)
Ting.
Lha. Hape mas Angga ternyata ada di kamar. Aku menelan ludahku sendiri.
Aku lihat jam, sudah hampir jam sembilan malam. Bagaimana ini?
Akhirnya aku memberanikan diri keluar. Mereka bersamaan menoleh ke arahku.
"Oh. Ini istri pak Angga?" tanya perempuan itu.
"Iya, Bu" sahut mas Angga dengan sopan.
"Wah, cantik ya?" Lalu dia menyalami aku.
Dia perempuan yang kelihatannya lebih tua dari aku. Penampilannya cukup seksi. Tapi sepertinya dia sangat sopan.
Entah siapa dia dan apa hubungannya dengan mas Angga.
"Kalau begitu, saya pamit dulu pak Angga" ucapnya sambil berdiri.
"Mari, Bu" lanjutnya lalu berjalan keluar.
"Siapa dia?" tanyaku.
"Tetangga sini. Kebetulan beberapa hari yang lalu kita ketemu. Lalu dia janji mau main ke unitku ini." sahut mas Angga.
Oh. Tetangga. Kirain rekan kerjanya. Tapi kenapa mainnya sendirian?
Ah, masa bodo lah. Bukan urusanku juga.
"Udah jam sembilan. Aku mau pulang."
Mas Angga melihatiku.
"Owh. Kirain mau tidur di sini" sahut mas Angga.
"Ish. Bisa diceramahi bapak sama ibu."
Aku mengambil tasku, dan merapikan pakaianku. Mas Angga masih diam saja.
"Aku pulang sendiri aja deh" ucapku.
"Ngambek..." Mas Angga bangkit dan meraih tanganku.
"Wid. Nanti kalau urusan kita di pengadilan agama selesai, mau kan kamu menikah denganku?"
Aku menatap mas Angga.
"Jangan bilang sekarang. Kita kan tidak tahu apa yang bakal terjadi nanti" ucapku.
"Harus bilang sekaranglah. Nanti kamu diserobot orang" sahut mas Angga.
"Emangnya aku barang? Main serobot-serobot aja. Ayo ah, udah malam."
Aku berusaha melelaskan tangan mas Angga. Tapi dia malah semakin menarikku. Hingga tubuh kami saling menempel.
__ADS_1
Ada getaran yang dahsyat di diriku. Aku berusaha menepisnya.
Tapi tidak saat mas Angga mencium bibirku dengan lembut. Aku menikmatinya sesaat. Dan sesaat kemudian, pintu apartemen di ketuk dari luar.
Kami saling berpandangan. Siapa yang bertamu malam-malam begini?
Mas Angga membukakan pintu. Dan kami sama-sama terkejut. Karena yang berdiri di depan pintu adalah mas Agung.
Suamiku yang sedang aku gugat cerai. Dia menatap kami bergantian.
"Ada perlu apa?" tanya mas Angga.
"Aku ada perlu dengan istriku!" jawab mas Agung dengan lantang.
"Dia bukan istrimu lagi. Kalian sedang dalam proses!" seru mas Angga.
"Jangan ikut campur dengan masalah rumah tanggaku. Urusi saja rumah tanggamu sendiri."
Mas Agung memaksa masuk. Aku mundur beberapa langkah. Feelingku sudah tidak enak. Ini pasti akan ada keributan.
"Ayo aku antar pulang, Wid!"
Mas Agung berusaha meraih tanganku. Tapi aku segera menjauh. Aku tidak ingin lagi bersentuhan dengannya.
"Ayo, Wid. Kamu masih istriku. Aku masih berhak atas dirimu!"
Mas Agung berusaha mendekatiku, tapi dihadang oleh tubuh mas Angga yang jauh lebih besar.
"Jangan memaksa! Dan jangan macam-macam di tempatku!" ucap mas Angga.
"Oh. Oke! Aku hanya akan membawa istriku pulang!" sahut mas Agung.
Dan mereka pun terlibat percekcokan. Aku bingung mesti bagaimana.
Plok.
Plok.
Plok.
"Hebat sekali. Berduaan dengan istri orang! Dan tidak mau menyerahkannya pada suaminya!" ucap istri mas Angga.
"Diam kamu! Aku sudah tidak mau lagi berurusan denganmu!" Seru mas Angga.
Istrinya mendekatiku dan mendorong tubuhku agar mendekat ke arah mas Agung.
"Bawa istrimu pulang. Dan tolong ajari dia untuk tidak meniduri suami orang!" ucapnya.
Wajahku langsung merah. Menahan amarah.
"Jaga omonganmu!" Tangan mas Angga mencengkeram rahang istrinya.
"Lepaskan!" istrinya menepis tangan mas Angga.
Dan dia semakin mendorongku. Mas Agung tak melewatkan kesempatan itu. Dia langsung menarikku keluar dari unit mas Angga.
"Lepaskan aku, Mas! Aku bisa pulang sendiri!" teriakku.
Tanganku terasa sakit karena mas Agung mencengkeram tanganku dengan kuat.
"Tidak akan!" Lalu mas Agung menarik tanganku lebih kuat. Aku meringis menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Sakit, Mas!" teriakku.
Tiba-tiba mas Andi sudah ada di dekat kami. Dia meraih kerah jaket mas Agung.
Tubuh mas Agung yang kini makin kurus sejak permasalahan kami, sedikit terangkat.
"Lepaskan adikku!"
Lalu mas Andi menghempaskan mas Agung, hingga dia terhuyung ke belakang.
Aku berlari ke belakang tubuh kakakku. Mas Agung berusaha tegak.
"Pergi atau aku habisi kamu!" ancam mas Andi.
Mas Agung merapikan kerah jaketnya lalu pergi begitu saja. Wajahnya terlihat memerah.
Istri mas Angga keluar. Dia mendekatiku lagi. Aku beringsut menjauh.
"Owh. Beraninya kamu ngumpet di belakang kakakmu!" seru istri mas Angga.
Mas Angga menarik tangan istrinya agar tak bisa mendekatiku lagi.
Aku melihat mas Angga menariknya dengan kuat, hingga tubuh istrinya terseret. Lalu aku sempat melihat mas Angga menghempaskannya di sofa.
"Kamu terus saja membelanya? Membela perempuan tidak tau diri itu? Yang hanya bisa bersembunyi di belakang kakaknya yang juga hanya memanfaatkanmu?" teriak istri mas Angga.
Aku dan mas Andi terdiam. Kenapa dia sampai mengatakan kalau mas Andi hanya memanfaatkan mas Angga?
Plak!
Satu tamparan melayang dari tangan mas Angga dan mendarat di pipi mulus istrinya.
"Apa yang kamu lakukan, Angga?" seru istrinya sambil memegangi pipinya.
"Menamparmu agar kau berhenti mengoceh!" sahut mas Angga dengan suara berat.
"Jahat sekali kau Angga! Demi seorang pelakor, kamu tampar istrimu sendiri" istri mas Angga mulai menangis sambil terus memegangi pipinya.
Sakit sekali aku dikatakan pelakor. Mas Andi yang juga ikut mendengar, tak bisa berkata apa-apa.
Meski pun aku bukan pelakor, tapi posisiku sulit untuk dibela. Aku sadar itu.
Apalagi aku jelas-jelas ada di apartemen mas Angga. Aku hanya menatap nanar mereka.
Mas Andi langsung meraih tanganku. Sebelum mengajakku pulang, mas Andi melemparkan kunci mobilnya ke atas meja.
Tanpa berkata-kata lagi, mas Andi berjalan keluar dari apartemen, sambil menarik tanganku.
Kami sama-sama terdiam. Aku salah. Ya, aku yang salah. Tapi yang membuatku tak habis pikir, kenapa istri mas Angga membawa-bawa kakakku?
Bukankah mas Andi bekerja pada mas Angga? Bukan hanya memanfaatkan saja.
Keterlaluan sekali mulut istri mas Angga. Aku melirik sekilas ke wajah mas Andi. Dia sangat menahan amarah.
Mas Andi terus menarik tanganku hingga ke jalanan dan menyetop sebuah taksi yang sedang melintas.
Kami masuk ke dalam taksi tanpa berbicara sedikitpun. Hingga taksi sampai di depan rumah orang tua kami.
"Bersikaplah biasa di depan bapak dan ibu. Seolah tak terjadi apapun. Katakan pada mereka, kalau kita baru saja pergi bersama" ucap mas Andi. Aku mengangguk patuh.
"Dan satu hal lagi, mulai besok berhenti bekerja pada Angga. Aku juga! Soal alasan pada bapak dan ibu, nanti aku yang memikirkannya" ucap mas Andi lagi.
__ADS_1
Walau suara mas Andi pelan, tapi sangat jelas terdengar di telingaku.
Maafkan aku, Mas. Aku jadi melibatkanmu karena kelakuanku. Aku melangkah ke dalam rumah.