Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Apa Kamu Yakin


__ADS_3

Ceklek...pintu kamar terbuka. Damar masuk, dan Ayu segera memejamkan matanya berpura-pura tidur. Saat ini Damar sudah duduk di ranjang, di samping Ayu menatapnya dengan perasaan yang sangat sulit diucapkan dengan kata-kata. Yang Damar tahu, dia sangat mencintai dan tidak mau kehilangan wanita yang sedang berbaring disampingnya itu.


Damar tidak bisa membayangkan seandainya lelaki lain memiliki atau mencumbui wanitanya itu, walau cuma satu malam saja. Damar masih ingat bagaimana sakit dan hancurnya hatinya saat melihat Ambar yang waktu itu masih berstatus istrinya, di setub*hi laki-laki lain. Tidak...aku tidak mau dan tidak akan sanggup jika ada lelaki lain yang menyentuh kamu sayang." Gumamnya dalam hati, lalu berbaring memeluk Ayu dengan begitu erat.


Damar tidak mau menyerahkan Ayu pada Tristan, tapi dia juga tidak mau menyerahkan perusahaanya. Lalu bagaimana?. Apa yang harus dia lakukan?. Melaporkan Tristan?. Tapi dia tidak punya bukti apa-apa. Kepala Damar seolah akan pecah memikirkan masalah ini.


Uang perusahaan yang dia gunakan untuk membiayai proyek itu pun belum bisa dia kembalikan. Sedangkan gaji karyawan harus dia bayar tepat waktu. Belum lagi gaji para art, juga bodiguardnya. Damar semakin frustasi memikirkanya.


Dia keluar dari kamarnya, duduk dibalkon kamar sendirian, dan malam itu dia sama sekali tidak bisa tidur. Tak hanya malam itu, sebenarnya sudah dua minggu terakhir dia memang jarang tidur. Tak heran jika wajahnya terlihat pucat, dan ada lingkaran hitam dibawah matanya.


Karena banyak fikiran dan makan tidak teratur, asam lambungnya naik, Damar tidak pergi ke kantor pagi itu. Selain sakit, dia memang seperti sudah kehilangan semangatnya.


Ayu sangat prihatin dengan keadaan suaminya itu. Dia kembali menyarankan pada Damar, untuk menjual semua aset dan harta benda mereka, tapi lagi-lagi Damar malah membentaknya. "Aku bilang aku akan menyelesaikannya sendiri. Kamu tidak perlu ikut campur. Kepalaku sudah sangat pusing dengan semua masalah ini, kamu jangan bikin kepalaku tambah pusing." Sergahnya.


Ayu hanya bisa mengelus dadanya menerima bentakan Damar, dan sikapnya dua hari terakhir ini. Walau ada sakit yang dia rasakan dalam hati, Ayu tetap berusaha memaklumi kondisi suaminya." Kamu boleh marah sepuasnya mas, tapi aku mohon kamu jangan sampai tidak memakan makanan kamu."Ujar Ayu


"Aku tidak lapar." Jawab Damar.


"Sebaiknya kamu makan mas. Masalah tidak akan selesai hanya karena kamu tidak makan. Marah juga butuh tenaga." Pungkas Ayu, lalu meninggalkan Damar, dengan mata berkaca-kaca. Harus dia akui hatinya sakit menerima sikap Damar tadi. Bukan dia cengeng, mungkin karena dia sudah terbiasa dimanjakan dan diperlakukan lembut oleh Damar, tapi kali ini sikapnya sedikit kasar dan juga berani membentaknya.


.....


Jam setengah dua belas siang Ayu pamit pada Damar, pergi menjemput Gara di sekolahnya. Dia sengaja berangkat lebih awal karena ada yang akan dia lakukan sebelum ke sekolah. Hari itu tidak ada orang Damar yang mengikuti Ayu, karena Ayu sudah memberhentikan mereka dua hari yang lalu, tanpa sepengetahuan Damar.


Tak lama kemudian Ayu sampai ditempat tujuanya, yakni kantor Tristan. Dan saat ini dia sudah berada diruangan Tristan, mengatakan maksud kedatanganya. "Apa kamu yakin dengan yang kamu katakan ini?." Tanya Tristan dengan senyum smirknya.

__ADS_1


"Aku tidak perlu mengulangi kata-kataku. Telinga kamu masih berfungsi dengan baik bukan?." Jawab Ayu sinis.


Tristan terkekeh." Kenapa tiba-tiba kamu berubah fikiran?. Atau suami kamu yang sudah memintanya."


"Kamu tidak perlu tahu. Karena itu bukan urusanmu. Yang jelas aku hanya tidak mau melihat suamiku menderita." Jawab Ayu


"Kamu yakin?." Tanya Tristan lagi. Ayu tidak menjawabnya.


"Jadi....kapan kita akan melakukanya?." Tanya Tristan masih dengan senyum smirknya.


Ayu menghela nafas panjang lalu dia berkata"Lebih cepat lebih baik."


"Apa kamu sudah tidak sabar nyonya Damar?." Tanyanya lagi dengan senyum nakal.


"Tapi aku punya beberapa syarat yang harus kamu penuhi."Ujar Ayu


"Pertama, kamu kembalikan semua uang yang sudah kamu curi dari suamiku sekarang juga." Tegas Ayu


"Oke. Lalu?."


" Kamu harus berjanji tidak akan mengatakan semua ini kepada siapapun, dan pergi jauh dari kehidupan kami. Jangan pernah sekalipun kamu menemuiku, dan mengganggu mas Damar."


"Lalu bagaimana kalau seandainnya suami kamu curiga dan bertanya kenapa aku membebaskan semua hutang-hutangnya?. Aku yakin dia pasti akan tahu, kalau aku dan kamu....." Tristan tidak meneruskan kata-katanya, karena melihat tatapan tajam dari lawan bicaranya.


"Maksudku, walaupun aku tidak memberitahu suamimu, lambat laun dia pasti akan mengetahuinya." Ralat Tristan.

__ADS_1


"Aku tak peduli kalau setelah ini, mas Damar akan membenciku atau bahkan mengusirku sekalipun. Yang penting aku tidak melihatnya menderita seperti sekarang, karena perbuatan licikmu." Sarkas Ayu.


"Kamu jangan takut. Kamu boleh datang padaku kalau seandainya suami kamu..."


"Jangan mimpi!! Itu tidak akan pernah terjadi."Sergah Ayu. "Sekalipun mas Damar membuangku, aku tidak akan pernah datang padamu. Aku tidak mau melihat wajah kamu lagi setelah ini."


"Oke, baiklah!! Deal." Sahut Tristan.


"Apalagi yang kamu tunggu!! Cepat lakukan sekarang!! Sergah Ayu.


"Kenapa buru-buru?. Tenang sayang....tenang!!. Kita tidak akan melakukanya disini."


" Aku sudah bilang aku mau kamu mengembalikan uang suamiku sekarang, bodoh!!.


"Ohhh, itu. Hahaaha...oke-oke. Aku akan melakukannya sekarang juga. Tapi kamu tidak akan menipuku kan?."Tanya Tristan memastikan.


"Lakukan saja, sebelum aku berubah fikiran. Aku bukan penipu sepertimu."Jawab Ayu.


Tristan merogoh ponsel dari saku jasnya. Dia meminta hacker itu mengembalikan uang pribadi Damar yang dia ambil dari saldo rekeningnya.


Tak butuh waktu lama, uang Damar sudah kembali masuk ke dalam rekening Ayu. Setelah itu Ayu meminta Tristan menandatangani surat perjanjian yang dia buat sebelumnya. Tristan membacanya, lalu menandatangani surat itu, karena dia sama sekali tidak keberatan dengan isi surat perjanjian tersebut.


"Sekarang apa?." Tanya Tristan dengan senyum penuh kemenangan.


"Lakukan apa yang kamu mau dariku, sekarang." Jawab Ayu dengan wajah datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Apa kamu bilang?. Maksud kamu, kamu ingin aku melakukannya sekarang juga?."Tanya Tristan


"Iya...lebih cepat lebih baik. Aku ingin urusan kita selesai hari ini juga." Jawab Ayu, dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu apa yang dilakukanya saat ini adalah dosa besar. Dan setelah ini mungkin saja dia akan kehilangan suaminya, Damar. Tapi Ayu tidak peduli. Dia sudah memikirkan segala resikonya, yang penting baginya perusahaan Damar selamat, dan dia tidak mau Damar menderita dan tertekan seperti sekarang. Ayu sudah tidak tahan melihat Damar sekarang. Akhir-akhir ini dia menjadi sensitif dan mudah sekali marah.


__ADS_2