Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Tamat


__ADS_3

Jadi Tristan yang mengatakan kebenarannya?. Kata Ayu dalam hati.


Setelah mendengar cerita Damar, Ayu mengajak suaminya tidur. Mereka berdua lalu tidur saling berpelukan.


....


Paginya saat sarapan, Gara dan sikembar bertanya pada Ayu. "Kita berangkat jam berapa mah ke Bandung?." Tanya anak-anaknya.


Ayu sedikit tersentak mendengar pertanyaan anaknya. Dia lupa kalau kemarin dia mengatakan kalau hari ini mereka akan pergi ke Bandung. Damar menatap Ayu. "Kalian mau ke Bandung?. Kok ngajak-ngajak papa sih?." Kata Damar.


"Kata mama, papa gak bisa ikut karena harus kerja." Jawab Alana.


"Oh ya?. Mama bilang gitu?. "Tanya balik Damar.


"Mas!! Seru Ayu sambil menatap Damar, memberinya kode agar dia mengerti.


"Oke anak-anak!! Kalau gitu, hari sabtu ini kita liburan ke Bandung, gimana setuju kan?." Tanya Damar.


"Setuju-setuju." Sahut Gara senang.


"Kok sabtu sih pah?. Kata mama kita berangkat hari ini." Timpal Kanaya.


"Maafin mama sayang!! Mama lupa kalau kalian kan harus sekolah. Jadi kita berangkat hati sabtu aja ya nak." Jawab Ayu, anak-anaknya mengangguk setuju.


.....


Siang harinya, Tristan datang ke kantor Damar. Dia meminta maaf, juga menyerahkan kembali semua uang proyek yang dia ambil, karena yang dia berikan pada Ayu kemarin adalah uang pribadi Damar.


"Saya datang karena ingin mengembalikan semua uang yang saya ambil dari anda. Dan saya juga ingin meminta maaf secara langsung. Maafkan saya pak Damar!! Saya menyesal." Ucap Tristan membuat Damar dan Beni asistennya yang saat itu ikut merasa terkejut.


Damar diam saja, karena dia tidak yakin dengan semua yang dikatakan Tristan.


Tristan mengerti Damar pasti tidak akan percaya semudah itu padanya, tapi dia tidak peduli, yang penting dia sudah meminta maaf. Tristan dan Beni pun lalu pergi meninggalkan kantor Damar.


Dimobil Tristan


Beni tidak habis pikir dan tak percaya dengan apa yang dilakukan bosnya tadi. Pasalnya, baru kali ini dia melihat Tristan mau merendahkan dirinya meminta maaf seperti itu. Selama ini Tristan tidak pernah melakukannya sekalipun dia melakukan kesalahan.Tapi Beni juga senang melihat sikap Tristan, jika itu benar-benar dia lakukan dengan tulus, karena Beni takut bosnya itu mempunyai rencana lain, pada Ayu dan Damar.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan Ben?." Tanya Tristan, melihat asistenya itu diam saja.


"Tidak ada pak!!. Jawab Beni


"Jangan bohong kamu. Aku tahu kamu lagi mikirin kejadian tadi kan?."


"Hehehe...iya sih pak."


"Ben...Ben, kenapa kamu harus pikirin itu sih Ben?."


"Saya heran aja sih pak, melihat sikap bapak tadi. Tapi jujur saja, saya sangat senang melihatnya. Saya sangat berharap, bapak dan pak Damar bisa terus menjalin kerja sama, karena anda berdua sama-sama hebat dan pintar." Ujar Beni


"Setelah kejadian ini, kamu pikir dia masih mau bekerja sama dengan kita Ben?. Lagipula kamu kok kayak nggak tahu siapa aku Ben?." Sahut Tristan


"Maksud pak Tristan?." Tanya Beni tak mengerti.


"Apa kamu pikir, aku sungguh-sungguh minta maaf sama dia tadi?." Tanya balik Tristan.


"Jadi tadi itu, anda hanya pura-pura?." Tanya Beni lagi.


"Hahaahaa....kamu pikir aku serius tadi Ben?. Enggak lah, mana mungkin aku mau merendahkan diri meminta maaf padanya." Sahut Tristan, membuat Beni diam karena sedikit terkejut, karena tadinya dia pikir bosnya sungguh-sungguh.


"Tidak pak!! Saya pikir tadi bapak sungguh-sungguh." Jawab Beni.


Hening sejenak, sebelum akhirnya suara Tristan terdengar. "Aku memang sungguh-sungguh Ben. Aku menyesal melakukan semua ini. Kamu tahu Ben, selama ini aku tidak percaya pada yang namanya cinta apalagi pernikahan. Tapi, untuk pertama kalinya aku bisa melihat cinta yang begitu besar dari seorang istri kepada suaminya. Yang dikatakan Ayu memang benar, aku memang tidak mengerti dan tidak pernah merasakan cinta yang tulus seperti itu." Ujar Tristan. Raut wajahnya terlihat serius dan sedikit murung.


"Saya yakin suatu hari nanti anda juga akan bertemu dan mendapatkan cinta seperti itu pak." Sahut Beni menghibur bosnya.


"Mudah-mudahan saja."


"Tapi bukankah bu Ambar juga sangat mencintai anda pak Tristan?."


"Sudahlah Ben!! Jangan sebut nama itu lagi. Dia tidak benar-benar mencintaiku. Yang dia rasakan padaku hanyalah nafsu sesaat, bukan cinta." Jawab Tristan.


.....


Sementara itu, Ambar yang terus berusaha menemui dan menghubungi Tristan, harus menelan kekecewaan karena dia tidak juga bisa berkomunikasi dengannya. Bagi Ambar hubunganya dengan Tristan belum berakhir. Dia akan terus membayang-bayangi Tristan, sampai Tristan menyerah dan mau menjalin hubungan dengannya lagi

__ADS_1


Ambar yang merasa kesal, tiba-tiba tertawa sendiri, saat dia ingat wajah Damar yang merah karena emosi. Dia yakin saat ini Damar dan Ayu pasti sedang bertengkar hebat. Ambar yang ingin puas melihat kesedihan Ayu, datang ke sekolah Gara untuk mengawasi Ayu dari kejauhan.


Jam pulang Gara hanya tinggal sepuluh menit lagi, saat seorang lelaki tampan datang dan menghampiri Ayu yang sedang bersama orang tua lainnya, yang sedang menunggu anak-anak mereka seperti biasanya.


Ayu terkejut melihat lelaki tampan yang tak lain adalah Damar, suaminya sendiri. "Mas!! Kamu kok kesini?. Ada apa?. Apa ada yang penting?." Tanya Ayu heran.


"Iya aku memang ada urusan penting." Jawab Damar.


"Urusan apa?." Tanya Ayu.


"Aku kangen kamu." Jawab Damar sambil berbisik, membuat Ayu tersenyum, dan refleks memukul pelan bahu suaminya.


"Mas, kamu ternyata datang kesini cuma buat ngegombal." Sahut Ayu.


Ibu-ibu yang ada disana tersenyum melihat interaksi Ayu dan Damar. Sebagian dari mereka memang baru pertama kali melihat Damar. "Oh jadi ini papanya Gara. Mama Gara gak mau ngenalin sama kita." Ucap salah seorang ibu.


"Oh iya sampai lupa, maaf!!. Kenalin ini suami saya." Kata Ayu memperkenalkan Damar.


Mereka lalu menyalami Damar, saling memperkenalkan diri. Menurut mereka Damar dan Ayu adalah pasangan yang cocok. Tak hentinya mereka menggoda dan memuji Damar dan Ayu.


Ambar yang melihat tawa Damar dan Ayu juga ibu-ibu disana seperti orang yang kebakaran jenggot. Dia sangat tidak suka melihatnya. Bukankah saat ini seharusnya mereka sedang bertengkar, bukanya pamer kemesraan seperti itu. Ambar pergi dari sana sambil mengumpat dan memaki Ayu.


Ayu sialan!! Kenapa dia selalu lebih beruntung dariku?. Kenapa orang-orang seperti sangat menyukainya ?. Apa sih kelebihan dia dibandingkan aku?. Apa jangan-jangan dia pakai susuk?. Ah benar, aku yakin dia pake susuk, biar semua orang suka sama dia. Heh Dasar orang kampung. Batin Ambar.


.....


Hari sabtu yang dinantikan anak-anak Ayu tiba. Mereka pergi ke Bandung untuk liburan. Damar membawa istri dan anaknya pergi ke berbagai tempat wisata yang terkenal disana. Mereka semua sangat senang.


Dan sejak hari itu, juga seterusnya mereka sekeluarga hidup bahagia. Tidak ada lagi masalah besar yang mereka hadapi baik di rumah tangga maupun perusahaan. Walau memang pertengkaran kecil atau masalah kecil selalu mewarnai kehidupan mereka, tapi semua bisa mereka lewati.


Perusahaan Damar juga semakin maju, dan dia masih bekerja sama dengan Tristan. Walau dalam hati Damar memang belum percaya sepenuhnya pada Tristan, tapi kerjasama itu tetap terjalin diantara mereka, membuat keduanya semakin sukses.


Damar tidak mau apa yang terjadi beberapa waktu lalu terulang kembali. Walau hati kecilnya mengatakan kalau Tristan memang sungguh-sungguh menyesali perbuatannya dulu, dia tetap waspada dan berhati-hati.


Sampai akhirnya Damar tahu, kalau saat ini Tristan telah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita bernama Tiara, dan kabarnya mereka akan segera menikah. Walau hubungan keduanya sempat dibayang-bayangi kehadiran Ambar, tapi dengan mudah Tristan bisa membereskan semuanya, hingga Ambar tak berani lagi mengganggunya. Ambar hanya bisa pasrah menerima nasibnya yang selalu ditinggalkan dan dikecewakan laki-laki yang dicintainya


Ayu sendiri sekarang membuka cabang toko kuenya di kota ini. Dia sangat senang, karena Damar memberinya ijin untuk itu. Hubungan Ayu dan Damar semakin harmonis dan bahagia. Apalagi saat ini Ayu kembali mengandung anak Damar. Damar dan keluarganya sangat bahagia mendengar kabar itu. Dia benar-benar bersyukur atas anugerah dan rezeki yang dia dapatkan.

__ADS_1


Setelah badai besar yang dia lalui dalam kehidupannya, akhirnya mereka hidup bahagia.


💚THE END💚


__ADS_2