
"Ga, kalian menginap di sini dulu kan?" tanya ibu saat kami makan siang bersama.
Aku menoleh ke arah Yoga. Semua terserah Yoga. Bagaimanapun dia adalah suamiku. Apapun keputusannya aku harus menurut.
"Terserah Widi, Bu."
"Lho kok terserah aku?"
"Kan aku belum bisa apa-apa sendiri. Jadi aku nurut sama kamu saja."
Aku menghela nafasku. Bingung juga kalau harus ambil keputusan.
"Gimana, Wid?" tanya ibu.
Yang lain menunggu keputusanku. Aku berfikir sejenak. Karena aku harus bisa mengambil keputusan yang tepat. Agar Yoga juga nyaman.
"Bagaimana kalau satu malam lagi kita meninap di sini?" tanyaku pada Yoga.
Yoga mengangguk setuju. Ibu pun tersenyum senang.
Ibu memang begitu, meski aku sudah menikah tapi selalu maunya aku tinggal di rumahnya.
Bukan tidak ingin anaknya mandiri, tapi ibu selalu beralasan tak suka kalau rumah sepi.
Makanya ibu akan mempertahankan Berlian tinggal bersamanya. Katanya sampai tetes darah penghabisan.
"Ada yang seneng kayaknya" sindir mas Andi.
Ibu melotot ke arah mas Andi karena merasa tersindir.
"Kamu itu, tidak dengan adikmu tidak dengan ibumu, isengnya gak ilang-ilang" ucap bapak.
"Sukurin. Weeek." Aku menjulurkan lidahku pada mas Andi.
Mas Andi cengar-cengir pada bapak.
Tari ikut menunduk karena keisengan calon suaminya.
"Tuh, calon istri sampai malu punya suami usil!" Aku meledek Tari.
"Widhi! Sudah, makan. Jangan becanda terus." Giliran bapak yang menegurku.
Mas Andi memberikan wajah jeleknya. Sebel banget. Pingin rasanya aku getok kepalanya.
"Udah makan. Apa mau aku suapin?" Yoga mengulurkan sendoknya yang berisi makanan.
Iih, aku makin sebel. Punya suami bukannya membela istrinya.
"Jam berapa tendanya dibongkar, Ndi?" tanya ibu mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Paling nanti sore, Bu. Kan baru dipasang tadi pagi juga. Capek kan yang bongkar pasang" jawab mas Andi.
"Oh. Ya sudah. Yoga, kamu masih ada tamu?" tanya ibu pada Yoga.
"Kayaknya tidak ada, Bu. Saya kan memang tidak mengundang siapa-siapa. Cuma keluarga saja. Itu pun Tari yang mengundang mereka" sahut Yoga.
"Lagian Bang Yoga aneh. Nikah kok gak mau ngundang-ngundang keluarga." Tari yang dari tadi diam, ikut berkomentar karena namanya disebut.
"Kasihan, Ri. Mereka kan rumahnya jauh-jauh. Belum lagi oma sudah tua" sahut Yoga.
"Tapi nyatanya oma malah seneng banget. Dia juga seneng kok pas lihat Berlian. Malah tadi kata oma, kalau boleh mau dibawa pulang. Buat nemenin oma di rumahnya."
"Iya, sih. Aku malah tadi diomelin sama oma. Karena malah kamu yang ngabarin." Yoga cengar-cengir merasa bersalah pada omanya.
Aku diam saja menyimak interaksi dua saudara sepupu ini. Jarang sekali mereka bicara banyak. Meski hubungan mereka sangat dekat.
Entah malu apa bagaimana, kalau di depanku Tari jarang bicara banyak sama Yoga.
Tapi hari ini beda. Tari terus saja bicara pada Yoga.
"Bang, nanti kalau sudah sembuh ajak Widhi ke rumah oma. Ajak juga Berlian. Pasti oma seneng."
"Iya. Nanti kalau aku sudah bisa bawa mobil sendiri" sahut Yoga.
"Kan ada mas Andi. Mau kan mas, bawa kami ke rumah oma?" tanya Tari pada mas Andi.
"Mau lah. Kapan?" tanya mas Andi bersemangat.
"Oh, kirain kalau sudah bisa belah duren!" Mas Andi mulai lagi usilnya. Kemudian dia tertawa.
"Kalau belah duren sih kayaknya enak di sana, Mas. Tempatnya dingin. Syahdu pokoknya" sahut Yoga malah meladeni keusilan mas Andi.
"Jangan ngomongin itu, dong. Ada anak dibawah umur, nih." Tari ikut menyahut.
Dan semua orang tertawa mendengar Tari yang ternyata kocak juga.
"Bapak kira, Tari gak bisa becanda" ucap bapak.
Tari tersenyum malu-malu, sambil menutup mulutnya.
"Wah, Tari lebih parah lagi kalau becanda Pak!" Yoga semakin memojokan Tari.
"Siapa dulu gurunya?" ucap Tari dengan santai. Semua tertawa lagi.
"Ibu sama Bapak juga besok ikut ke rumah oma ya?" ajak Tari pada bapak dan ibu.
"Mana cukup mobilnya kalau kebanyakan orang?" tanya bapak.
Kalau ibu sih sepertinya ingin ikut. Maklum ibu jarang sekali pergi jauh.
__ADS_1
"Cukup, Pak. Nanti pakai mobil yang besar" sahut Yoga.
Aku sendiri tidak tahu ada berapa banyak mobilnya Yoga. Sudah dua kali dia naik mobil yang berbeda. Dan keduanya bukan mobil murah.
"Tenang, Pak. Mobil Bang Yoga tuh banyak. Rumahnya udah kayak showroom." Tari menambahkan.
"Kamu ini, jangan mengada-ada." Yoga berusaha ngeles.
"Enggak mengada-ada. Memang kenyataan, kan?" Tari terus ngotot.
Aku bingung dengan ucapan Tari. Bapak dan Ibu juga.
Kalau yang aku tau, rumah Yoga ya yang aku pernah ke sana. Tak ada pemandangan kayak showroom.
"Tuh, makanya kalau punya rumah jangan diumpetin. Istrinya jadi bingung, kan?"
Akhirnya setelah disindir-sindir oleh Tari, Yoga mau juga bicara blak-blakan pada kami.
Yoga punya rumah satu lagi peninggalan orang tuanya. Cuma karena rumahnya agak jauh dari kota, Yoga jarang menempatinya.
Hanya saat dirinya pingin menyendiri saja, seperti saat dia dipecat oleh mas Angga.
Bukan soal pekerjaannya yang bikin Yoga stres. Tapi karena mas Angga waktu itu mengklaim aku sebagai miliknya.
Bahkan mengancam Yoga jika terus mendekati aku. Dikatakan mas Angga, kalau dia sudah melamarku.
Tapi saat Yoga menanyakannya pada Tari, baru Yoga tau kalau mas Angga yang setengah memaksa aku menerimanya. Hanya karena aku yang banyak berhutang budi padanya.
Dan soal rumah Yoga yang satunya, Yoga punya alasan sendiri kenapa dia belum kasih tau ke aku dan keluargaku.
Aku dan keluargaku pun tidak ingin memaksa Yoga untuk memberitahu. Meski bapak menasehati, sebaiknya sebagai pasangan suami istri saling terbuka.
Supaya tidak ada kecurigaan yang nantinya malah menimbulkan konflik.
Yoga berjanji setelah dia sehat lagi, akan mengajak kami semua ke rumah Yoga. Baik rumah yang pernah aku datangi maupun rumah yang satunya lagi.
"Sekalian ajak kita jalan-jalan ke perkebunan, Bang" ucap Tari.
"Iya, nanti gampang."
Aku terkejut. Yoga punya perkebunan? Lalu kenapa dulu mau bekerja di tempatnya mas Angga?
Yoga hanya tertawa. Tari juga. Ternyata mereka bukan dari keluarga biasa.
"Kalian lagi nyamar, ya?" tebak mas Andi. Aku mengangguk setuju dengan tebakan mas Andi.
"Bukan nyamar. Cuma belajar prihatin saja. Semua harta itu kan peninggalan orang tua kami. Kalau kami langsung menikmatinya, takutnya nanti kami khilaf dan salah jalan" ucap Yoga panjang lebar.
Aku tidak menyangka, kalau suamiku yang biasanya kocak dan selengekan bisa juga bicara serius.
__ADS_1
"Dan aku akhirnya bisa mendapatkan istri yang melihatku bukan dari harta saja, Mas." Yoga memelukku dengan erat.
So sweet. Aku terharu dengan semua pengakuan Yoga. Aku juga bangga karena suamiku bukan orang yang hanya mengandalkan harta orang tua saja.