Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Tinggal Bersama


__ADS_3

Minggu pagi di rumah Damar.


Ayu pop


Hari ini mas Damar mengajak aku dan anak-anak melihat mobil baru yang dia belikan untukku. Mobil itu sudah ada didepan garasi. Gara berteriak senang, saat melihat mobil itu."Asiik !! mama punya mobil baru."Seru Gara senang.


"Waww mobil mama bagus banget."Timpal Kanaya. "Wah aku juga nanti pengen beli mobil kayak gini."Timpal Alana. Aku dan mas Damar tersenyum mendengar celotehan anak kami. Aku menatap mas Damar dengan perasaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Aku tahu mobil yang dibelikan mas Damar untukku sangat mahal, bahkan lebih mahal dari harga rukoku.


Aku hanya bisa kembali mengucapkan terima kasih, sembari menggenggam tangannya."Makasih mas." Ucapku pelan. Mas Damar hanya membalas dengan senyuman.


Mas Damar lalu mengajak kami jalan-jalan mengelilingi ibu kota dengan mobil itu, dan memintaku mengemudikannya. Dia sendiri menjadi penunjuk jalan, karena memang Aku tidak terlalu hafal jalanan di Jakarta.


Setelah puas bermain, aku dan anak-anakku kembali ke Bandung. Mas Damar ikut bersama kami, karena katanya dia masih sangat merindukanku dan anak-anak. Mas Damar memutuskan menginap dua malam di Bandung, dan kembali ke Jakarta hari selasa pagi.


Mas Damar benar-benar memperlakukanku dengan baik dan membuatku merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena dicintai oleh lelaki seperti dia.


Malam itu, sebelum kembali ke Jakarta, mas Damar mengajakku makan malam berdua disebuah restoran. Dia membawaku ke lantai dua yang sudah dia booking sebelumnya. Kami duduk di kursi yang ada dibalkon restoran.


Mas Damar bersikap sangat manis dan sangat romantis malam itu. Berulang kali dia mencium tangan dan pipiku, tanpa mempedulikan dimana kami berada saat ini. Memang tidak ada pengunjung lain selain kami di restoran itu, tapi entah kenapa rasanya aku merasa seperti ada yang mengawasi kami.


"Kenapa sayang?."Tanya mas Damar seraya menggenggam tanganku"

__ADS_1


"Enggak!! Gapapa mas." Jawabku sambil tersenyum.


"Kamu yakin?." Tanyanya lagi.


"Iya mas." Jawabku.


"Kamu nggak perlu takut atau khawatir Yu, aku akan selalu menjaga kamu dan anak-anak kita, sekalipun kita tidak tinggal bersama.


Kenapa mas Damar berkata seperti itu?. Apa dia tahu apa yang aku fikirkan?.Dan kenapa aku merasa ada yang sedang mengawasi kami?. Tapi siapa?. Ah mungkin cuma perasaanku saja.


Itu bukan sekedar perasaan Ayu, tapi memang ada yang mengawasi mereka saat ini. Mereka adalah orang suruhan Ambar yang menyamar menjadi pelayan dan tukang parkir disana. Selama ini Ambar memang memata-matai kehidupan Ayu dan Damar, setelah kejadian penculikan itu.


Kebahagian memang tengah dirasakan Damar dan Ayu, tapi tidak dengan Ambar yang saat ini merasa telah kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Ambar dan Andreas sudah resmi bercerai sekarang, dan dia tidak suka mendengar Damar dan Ayu kembali bersama. Tadinya ia fikir, dirinya masih mempunyai kesempatan untuk mendekati atau kembali pada Damar, karena Ayu dan Damar telah berpisah.


Ambar sadar tidak ada lagi kesempatan untuknya mendekati Damar, karena dia tahu Damar benar-benar sangat mencintai Ayu, dan itu memang salahnya sendiri.


Kalau saja dulu dia tidak meminta Damar menikahi Ayu, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini, fikir Ambar. Atau kalau saja Damar dan Ayu tidak bersama lagi, dia berniat akan kembali mendekati Damar. Tapi tidak, sekarang Damar adalah suami orang. Dia masih menjaga reputasi dan harga dirinya, untuk tidak berusaha menggoda apalagi merebut suami orang.


🌻🌻🌻🌻🌻


Dua bulan kemudian.

__ADS_1


Sudah satu bulan Ayu kembali tinggal bersama Damar di Jakarta. Ayu mempercayakan produksi kue-kuenya pada bi Elin, dan seminggu sekali Ayu dan Damar datang kesana.


Mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Damar memperlakukan Ayu dengan sangat lembut dan penuh cinta. Dia benar-benar memanjakan dan membahagiakan Ayu juga anak-anaknya.


Sikap Damar membuat Ayu benar-benar bahagia dan melupakan semua rasa sakit yang dirasakanya. Ayu kembali menjadi istri yang lembut dan penurut, dan itu membuat Damar lebih bahagia.


Ayu kembali menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Setiap hari, selain melayani kebutuhan Damar, dia juga mengantar-jemput sendiri anak-anaknya ke sekolah.


Damar mengijinkan Ayu melakukan apapun yang membuatnya senang, selama itu bersifat baik. Tapi Damar tetap meminta anak buahnya terus mengikuti dan mengawasi Ayu. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada Ayu dan anak mereka.


...


Ambar sekarang menyibukkan diri dengan pekerjaan dan butiknya. Dia jarang keluar malam, dan jarang pulang ke apartemen ataupun rumah orang tuanya. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di butik, membuat desain-desain baru sampai larut malam.


Ambar tidak ingin lagi berpetualang mencari laki-laki pemuas hasratnya. Ambar ingin sembuh dari ketidakwajaran itu, dan hidup normal seperti orang lain. Selain itu Ambar kini sering mengunjungi panti asuhan bermain bersama anak-anak disana. Dia juga menjadi donatur tetap dibeberapa panti asuhan.


Sebagai seorang wanita dewasa yang normal, Ambar ingin sekali menikah dengan laki-laki yang dia cintai dan mencintainya. Memiliki anak-anak yang lucu dan hidup bahagia bersama mereka. Telinganya ingin sekali mendengar tangis anaknya sendiri, dan mendengar ada yang memanggilnya 'mama'.


Kedua tanganya ingin sekali membelai wajah mungil dan lucu seorang bayi dipangkuanya. Sayangnya semua itu tidak akan pernah terjadi padanya. Dia tidak bisa hamil dan melahirkan anaknya sendiri, membuat Ambar sering menangis saat dia ingat semua itu. Ambar merasa iri pada Ayu, juga wanita lainnya. Ambar memiliki segalanya, tapi dia tidak bisa memiliki apa yang dimiliki wanita lain, yaitu seorang anak yang lahir dari rahimnya sendiri.


Suatu hari dilampu merah, tanpa sengaja dia melihat mobil Ayu berada tepat di depan mobilnya. Ambar tersenyum kecut menatap mobil itu. Perasaannya bergejolak, dan dia berkata didalam hati. Kalau bukan karena aku yang memintamu menikah dengan mas Damar, kamu tidak mungkin seperti sekarang Ayu. Ambar tersenyum meremehkan.

__ADS_1


Dia tahu harga mobil itu memang mahal, lebih mahal dari mobil yang dia pakai saat ini. Apa kamu sangat mencintai wanita itu mas Damar?. Sampai-sampai membelikanya mobil semahal ini?.


Lampu hijau menyala, semua mobil melaju melanjutkan perjalanan mereka. Begitu juga dengan Ayu dan Ambar. Saat ini Ayu menuju sekolah sikembar, dan Ambar mengikutinya. Dia memberi jarak beberapa meter agar Ayu tidak curiga.


__ADS_2