
Aku dan mas Andi masuk ke rumah berbarengan. Hanya ada bapak yang sedang ngopi di ruang tamu.
"Kok sampai malam pulangnya?" tanya bapak.
"Iya, Pak. Tadi ada urusan sampai malam." Mas Andi yang menyahut.
"Ibu mana, Pak?" tanyaku.
"Sudah tidur. Tadi Berlian rewel."
Aku berjalan ke kamar ibu. Aku melihat mereka sudah tidur terlelap. Aku tidak berani mendekat, takut Berlian bangun dan rewel lagi.
Aku ke kamarku. Bersiap mandi. Otakku yang sedikit eror sepertinya akan segar kalau tersiram air.
Selesai mandi, aku kembali masuk ke kamarku. Tak berapa lama, mas Andi mengirimkan pesan whatsapp. Mungkin mas Andi tidak mau pembicaraannya terdengar oleh bapak.
(Besok kamu tetap seperti akan berangkat kerja. Kita berangkat bareng)
(Iya, Mas)
Sepertinya mas Andi belum menemukan alasan untuk bapak dan ibu.
Tak lama, mas Angga pun mengirimkan pesan padaku.
(Besok tetap bekerja. Aku akan menjemputmu seperti biasa)
Aku terdiam. Bagaimana ini?
Aku forward pesan dari mas Angga ke mas Andi.
(Oke. Itu lebih baik. Aku juga akan berangkat bareng. Besok diluar kita bahas bersama) jawaban mas Andi.
(Kamu marah padaku?) mas Angga mengirimkan pesannya lagi.
(Tidak. Aku ngantuk)
Lalu aku menutup ponselku. Aku tidak mau makin pusing kalau berbalas pesan dengan mas Angga.
Aku juga tidak mau salah mengetik. Nanti malah semakin memperuncing masalah.
Aku memilih tidur saja. Biar besok bangun bisa lebih segar.
Jam setengah lima, aku bangun seperti biasanya. Mas Andi juga seperti biasanya pergi ke masjid bersama bapak.
Tak ada obrolan soal pekerjaan. Tak ada yang berubah dengan sikap kami.
__ADS_1
Kami tidak mau menambah beban pikiran mereka. Biar mereka merasa semua baik-baik saja.
Jam setengah delapan, seperti biasa mas Angga sudah sampai di rumah. Tari juga sudah sampai.
Setelah berbasa basi sebentar dengan bapak dan ibu, kami berangkat bersama.
"Kita cari tempat dulu buat ngobrol" ucap mas Andi yang duduk di depan, di sebelah mas Angga.
"Dimana?" tanya mas Angga.
"Di rumah makan Harmoni saja. Disana tempatnya luas. Jam segini juga sudah buka" jawab mas Andi.
Aku menurut saja. Aku pun tak membuka suara sama sekali.
Kami sampai di rumah makan yang dimaksud oleh mas Andi. Lalu mencari tempat yang enak buat ngobrol.
Kami tak memesan makanan berat. Hanya minuman dan makanan kecil saja. Karena sudah sarapan tadi di rumah.
"Aku dan Widhi akan resign mulai hari ini" ucap mas Andi membuka pembicaraan.
"Kenapa? Apa karena omongan istriku semalam?" Mas Angga terkejut mendengar ucapan mas Andi.
"Ya. Kami tidak mau disalahkan dalam keretakan hubungan kalian. Widhi juga. Sebaiknya stop dulu kedekatan kalian. Akan sangat tidak baik buat Widhi kalau tetap berhubungan denganmu" ucap mas Andi.
Mas Angga menelan ludahnya.
"Tidak perlu repot-repot, Ngga. Kami bisa cari pekerjaan lain" sahut mas Andi.
"Tidak, Mas. Bagaimana pun dulu kamu juga yang ikut merintis kantor cabang itu. Sekarang aku serahkan itu padamu. Kalian akan aman di sana."
Aku menatap mas Andi. Aku menurut saja apapun keputusan mas Andi.
"Ya sudah. Aku menerimanya. Biar Widhi nanti aku carikan ruangan sendiri di sana. Kamu bisa kan membantuku, Wid?"
Aku mengangguk. Walau pun aku tidak tahu pekerjaan apa yang bakal aku pegang di sana.
"Kalian juga jangan terlalu dekat. Jaga jarak paling tidak sampai urusan kalian di pengadilan agama selesai".
"Iya, Mas." Aku menatap mas Angga. Dia seperti tidak rela. Tapi memang itu yang terbaik untuk kami saat ini.
Toh urusan kami di pengadilan agama tinggal selangkah lagi. Semoga cepat selesai.
"Sebentar, ada yang membuat aku bertanya-tanya. Darimana Agung juga istriku tau apartemenku?" tanya mas Angga.
Aku menatap mas Andi. Dia pun sepertinya tidak tahu.
__ADS_1
"Itulah, Ngga. Istrimu masih mencari tahu terus tentang kalian. Makanya kan barusan aku bilang, kurangi kedekatan kalian dulu."
Benar juga omongan mas Angga. Istrinya mas Angga masih terus mencari bukti kedekatan kami. Lalu dia akan memanfaatkan mas Agung.
Istri mas Angga punya banyak uang, bukan hal yang sulit kalau hanya sekedar mencari informasi tentangku.
"Hari ini kamu urus ganti nama cabang itu, Mas. Terserah kamu mau ganti nama apa. Dan pastikan semua karyawan di sana tidak ada yang bocor. Aku khawatir ada karyawan yang dibayar oleh istriku, untuk memata-matai kita." Mas Angga sangat serius mengatakannya.
Aku jadi ngeri sendiri. Kok masalahnya jadi seserius ini.
"Soal karyawan nanti aku tanyakan pada Tari. Dia pasti tau banyak soal itu."
Iya, aku baru ingat kalau Tari ditarik dari kantor cabang yang tadi kata mas Angga, dirintis oleh mas Andi.
Dan aku baru faham, ternyata dulu saat aku hamil, mas Andi sibuk banget dan sering pulang malam, karena sedang mulai merintis cabang dengan mas Angga.
Sekarang kantor itu akan diserahkan pada mas Andi dan aku untuk mengelolanya.
"Berarti hari ini aku langsung ke sana?" tanyaku.
"Iya. Nanti barang-barangmu yang ada di kantor pusat, aku bawakan ke sana" sahut mas Angga.
Okelah. Barang-barangku juga tidak terlalu banyak. Karena aku belum lama juga kerja di sana.
"Ambil mobilmu di apartemenku, Mas. Ini kuncinya." Mas Angga memberikan kunci yang semalam dilemparkan oleh mas Andi.
"Aku antar kalian ke sana." Lalu kami beranjak pergi. Karena sudah cukup siang juga.
"Wid, bilang ke aku atau mas Andi kalau istriku ataupun Agung mengganggumu lagi" ucap mas Angga saat kami sudah di dalam mobil.
"Mereka tidak pernah menggangguku lewat ponsel. Justru mantan istrinya mas Agung yang sering menerorku" sahutku.
"Meneror bagaimana? Kenapa kamu tidak pernah bilang?" mas Andi yang bertanya.
Lalu aku menceritakan apa yang dilakukan oleh mba Vita kepadaku. Bahkan aku memperlihatkan chat-ku dengan mba Vita.
"Jangan hapus chat itu sebelum masalahmu dengan Agung selesai" ucap mas Andi.
"Iya. Aku masih menyimpannya kok."
"Dia juga berbahaya. Dia kenal dengan istriku. Bukan tidak mungkin mereka bekerja sama. Lalu memanfaatkan Agung" ucap mas Angga.
"Agung. Lelaki bodoh itu mudah sekali dikendalikan oleh perempuan-perempuan gila!" ucap mas Angga dengan kesal.
Aku terkejut mendengar mas Angga mengatakan kalau mas Agung lelaki bodoh. Bisa jadi, karena dia memang gampang sekali dimanfaatkan oleh mantan istrinya.
__ADS_1
Mas Agung selalu mengedepankan emosi untuk menyelesaikan masalahnya. Aku jadi ingat bagaimana dahulu dia menghajar mantan istrinya di depanku. Aku bergidig ngeri.
"Woy, jangan ngelamun terus. Siapkan diri buat kerja di tempat baru." Mas Andi menoleh ke belakang dan seperti kebiasaannya, mengacak-acak rambutku.