Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 105 MAKAN SIANG BARENG TEMAN LAMA


__ADS_3

Hari pertama di kantor baru. Aku dikenalkan dengan beberapa karyawan. Aku akan menempati posisi baru dan ruangan baru.


Kantor ini tidak terlalu besar. Hanya sebuah ruko saja. Ruanganku ada di lantai tiga. Wah, naik turun tangga tiap hari ini.


Aku satu ruangan dengan mas Andi. Karena tidak ada lagi ruangan kosong.


Ya tak apalah. Daripada nganggur, mending kerja apa saja. Walaupun mesti satu ruangan dengan kakakku sendiri.


"Kenapa? Bete ya satu ruangan denganku?" tanya mas Andi. Aku hanya nyengir.


Bagaimana tidak bosen, kami dari kecil tinggal bersama. Kerja pun di tempat dan ruangan yang sama.


"Jangan khawatir. Aku jarang di kantor kok. Kamu nanti yang bertugas menjaga ruanganku."


Mas Andi tertawa ngakak. Memangnya aku satpam yang harus jaga ruangan?


Aku cuma berharap di sini lebih enak. Tidak ada lagi orang-orang menyebalkan seperti Lisa. Atau ancaman dari istri mas Angga.


"Tugasmu menghandle semua pekerjaanku" ucap mas Andi.


"Terus tugasmu apa?" tanyaku.


"Ngasih kerjaan ke kamu." Sahut mas Andi sambil keluar ruangan. Ish, menyebalkan banget.


Aku belum sempat menutup ruanganku, saat seorang lelaki muda seumuranku datang. Dia mencari mas Andi.


"Maaf, Pak Andi ada?" tanyanya dengan sopan.


Aku menatap wajahnya sebentar. Aku belum melihatnya tadi saat aku dikenalkan dengan beberapa pegawai di sini.


"Barusan keluar, Pak" sahutku dengan sopan juga.


"Kemana ya, Bu?"


"Maaf saya kurang tau. Ada keperluan apa, kalau saya boleh tau?" tanyaku.


"Ibu pegawai baru di sini, ya?" Dia malah balik bertanya.


"Iya. Saya pegawai baru, sekretarisnya Pak Andi" jawabku.


"Oh. Saya Yoga. Kepala marketing di sini." Dia mengulurkan tangannya.


"Saya Widhi." Aku pun memperkenalkan diriku.


Lalu dia masuk ke ruanganku. Duduk dengan santai di kursi yang ada di depan mejaku.


Aku lihat lagi wajahnya. Sepertinya tidak asing.


Setelah kami bicara banyak, lebih tepatnya tanya jawab. Kami baru sadar kalau kami dulu satu sekolah, saat di SMK dulu.


"Pantas saja aku seperti tak asing denganmu, Wid" ucap Yoga.


"Iya. Aku juga mencoba mengingat-ingat tadi. Ternyata kamu toh?"


Dan kami pun terlibat pembicaraan lain yang lebih mengasikan. Berasa reuni tipis-tipis.

__ADS_1


"Ehem!" Mas Andi masuk ruangan dan mengagetkan kami.


"Kayaknya ada tamu, nih?" ucap mas Andi.


"Iya, Pak. Saya tadi nyariin bapak. Malah ketemu sama Widhi. Teman sekolah dulu" sahut Yoga.


"Oh. Jadi kalian sudah saling kenal? Baguslah. Jadi gampang. Tidak usah pake perkenalan lagi." ucap mas Andi.


Lalu mas Andi menjelaskan kalau pekerjaanku juga akan berhubungan dengan Yoga.


"Lha katanya aku sekretarismu? Kenapa urusannya sama bagian marketing?" tanyaku pada mas Andi.


"Disini bukan kantor besar, Bu. Sekretaris itu cuma formalitas saja. Kerjaannya ya serabutan" sahut mas Andi.


Eh, dikira aku kuli yang bekerja serabutan. Emang dasar kakakku suka asal saja kalau ngomong.


Setelah mendapat penjelasan dari mas Andi dan Yoga, mereka berdua pergi. Aku harus mulai bekerja.


Merekap semua transaksi. Termasuk penjualan, gaji karyawan sampai pembelian beberapa barang.


Kalau urusan uang, mas Andi yang pegang. Ini memang bukan kantor besar. Hanya cabang saja.


Tapi terhitung sejak hari ini, akan lepas dari kantor pusat. Semua transaksi kami handle sendiri.


Jadi kalau dipikir-pikir, mas Andi sebagai bosnya di sini.


Hebat. Kakakku sudah bisa pegang usaha sendiri. Walau pun masih skala kecil.


Saat makan siang, Yoga mengajakku keluar. Katanya bete kalau makan sendirian. Dia mengajak aku ke kantin yang tak jauh dari ruko.


"Memang kemarin-kemarin makan sama siapa?" tanyaku.


"Kalau tidak ada barengannya?" tanyaku lagi.


"Makan di pinggir jalan. Ngobrol deh sama penjualnya" sahut Yoga sambil cengengesan.


Yoga memang terkenal bawel dari dulu. Kadang juga suka iseng sama cewek. Orangnya tak bisa diam. Ada aja ulahnya kalau di kelas.


Aku pernah satu kelas dengannya saat kelas satu. Begitu naik kelas dua, kita beda kelas.


"Kamu sudah berkeluarga, Wid?" tanya Yoga.


Cleguk.


Aku buru-buru menelan makananku dan mencari minum. Ternyata tidak enak juga menjelaskan pada teman kalau aku akan menjadi calon janda. Bahasa kerennya calon single parent.


"Jangan grogi kalau belum laku, Wid. Aku juga belum laku-laku ini" ucap Yoga sambil memberikan minumannya. Karena minumanku tinggal sedikit.


"Minum ini. Biar tidak keselek" ucapnya.


"Atau kamu calonya pak Andi?" tanya Yoga tanpa menatapku.


"Ngaco! Mas Andi itu kakakku!" sahutku, lalu meminum minumannya Yoga.


"Serius? Kakak beneran?" Yoga menatapku.

__ADS_1


"Iyalah. Memang ada kakak bohongan" sahutku.


"Kan ada juga kakak ketemu gede. Hehehe".


"Kita malah ketemu dari aku bayi" sahutku ikut ketawa.


"Asik" gumam Yoga pelan. Tapi aku masih bisa mendengar, karena kantin ini tak begitu ramai.


"Kok asik?" tanyaku.


"He em. Asik aja" sahut Yoga. Bikin aku bingung. Asiknya dimana. Kerja satu ruangan dengan kakak sendiri.


Tapi ya sudahlah. Kan penilaian orang beda-beda.


"Balik yuk, Ga. Udah hampir satu jam" ajakku.


"Sebentar lagi. Boleh tidak aku merokok dulu. Mulut rasanya gak enak nih, abis makan tidak merokok" pinta Yoga.


"Ish. Kalau habis makan mulutnya jadi gak enak, yà tidak usah makan!" ucapku kesal, karena harus menunggui orang merokok.


"Gak makan, mati dong." sahut Yoga asal.


"Bodo. Kan yang mati kamu, bukan aku. Weekk." Aku menjulurkan lidahku sedikit.


"Ih, lucu deh kamu kalau begitu. Kayak heli." Yoga tertawa terbahak-bahak.


Busyet deh. Aku disamain dengan guk guk.


Aku melemparkan tissue yang bekas aku pakai ke arah Yoga. Dia makin tergelak.


"Udah, cepetan. Aku tinggal nih" aku merajuk. Pura-pura kesal.


"Iya bawel." Yoga segera menyalakan rokoknya.


Dia yang bawel malah aku yang dikatain. Tapi memang asik juga sih berteman sama Yoga yang bawel.


"Emang merokok enak ya, Ga?" tanyaku iseng. Daripada bete nungguin Yoga merokok.


"Enaklah. Pake banget. Mau coba?" sahut Yoga sambil becanda memberikan rokok yang bekas dihisapnya.


"Ogah! Buang-buang duit!" sahutku ketus.


"Buang-buang duitnya jangan pake nge gas dong." Yoga ngakak lagi.


"Ini namanya bagi-bagi rejeki. Dan bagi-bagi pekerjaan" jelas Yoga yang tidak jelas.


"Maksudnya?" tanyaku dengan serius.


"Bagi-bagi rejeki sama penjual rokok di warung-warung. Bagi-bagi rejeki sama karyawan pabrik rokok. Coba kalau tidak ada orang yang merokok, jadi pengangguran mereka semua. Hahaha." Tawa Yoga makin nyaring.


Gila! Ada-ada saja alasannya nih orang.


"Ga! Merokoknya sambil jalan yuk. Ini sudah hampir satu jam. Kan gak enak kalau pegawai baru udah molor" pintaku.


"Oke. Bosnya kakak sendiri aja pake takut" gumam Yoga lagi.

__ADS_1


"Gak usah ngedumel. Aku denger lho" ucapku.


Yoga nyengir sambil mengangkat dua jarinya. Piss.


__ADS_2