
"Ga. Kita main ke rumah ibu yuk. Sepi di sini."
Aku kan biasa hidup dengan banyak orang, dalam rumah kecil. Jadi rasanya seru, kayak di pasar senggol. Kalau kata anak jaman sekarang, lo lagi lo lagi.
Tapi malah seru. Gak pernah kesepian. Ada gelak tawa dari anakku yang sudah mulai cerewet. Ada ibu yang sibuk ngejar-ngejar anakku kalau berlarian. Ada mas Andi yang suka usil. Ada juga bapak yang kadang suka ngomel kalau mas Andi kumat usilnya.
"Kamu gak betah di sini?" tanya Yoga.
"Betahlah. Cuma sepi aja. Entar kamu minta lagi."
Yoga mengacak rambutku.
"Gak boleh bilang kaya gitu sama suami. Dosa tau."
"Iya, udah tau."
"Kalau udah tau, kenapa bilang kaya gitu?"
"Entar aku tinggal bilang maaf sama kamu. Beres kan?"
"Kalau aku gak mau memaafkan?"
"Ya enggak aku kasih lagi, weeekk.!" Aku tertawa ngakak yang bikin Yoga langsung menggendongku lagi ke kamar.
"Eh, mau ngapain Ga?" Aku berusaha turun dari gendongannya.
"Jangan gerak-gerak, nanti jatuh."
"Iya, tapi kamu mau apa?"
"Kamu mau aku memaafkan enggak?"
"Iya, mau."
"Kalau mau, ya harus nurut. Baru aku maafkan."
Yoga membaringkan tubuhku di tempat tidur. Dan langsung menindihku.
"Yogaa...! Hhpptt." Yoga langsung membungkam mulutku dengan bibirnya.
Mati aku! Badan saja masih pegal semua, sudah ditindih lagi.
Ingin rasanya teriak. Tapi gak enak kalau kedengeran orang lain.
Setelah Yoga melepaskan bibirku, baru aku mencoba bernegosiasi.
"Ga, kita udah melakukannya dari semalam lho. Coba kamu hitung berapa kali."
"Kamu saja yang ngitung. Aku yang kerja. Adil kan?"
Yoga memulai lagi pekerjaannya. Pekerjaan yang tidak menghasilkan uang.
Pakai dopping apa sih ini orang? Tenaganya enggak abis-abis.
Baru makan sepotong roti sama segelas susu saja langsung on fire lagi.
Padahal aku masih laper. Ah, iya. Aku akan alasan laper saja, biar Yoga kasih waktu buat aku terbebas darinya sebentar.
"Ga. Aku laper."
"Sama. Aku juga masih laper. Tapi ini nanggung. Entar saja makannya kalau sudah beres."
Ish. Kaya orang kerja beneran saja. Aku tak bisa menolak kemauan Yoga. Kan gak lucu kalau pengantin baru sudah menolak keinginan suami.
Entar dikira aku tidak becus mengurus suami. Bagaimana kalau Yoga melirik perempuan lain yang mampu menandinginya?
Hih. Gak kebayang rasanya dihianati suami sesaat setelah malam pertama.
"Kamu capek ya?" tanya Yoga.
__ADS_1
"Banget."
Kesempatan aku mengungkapkan perasaanku.
"Ya sudah kamu anteng saja. Nikmati saja. Aku yang kerja."
Ish. Gemes banget rasanya. Kirain nanya begitu terus mau membebaskan aku, ternyata tidak ngaruh.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Meski Yoga tetap memberi kesempatan padaku untuk ikut berpartisipasi.
"Tapi sebentar saja ya, Ga? Dengkulku rasanya mau copot."
"Iya. Yang penting kamu tidak menyesal karena tidak berpartisipasi." Senyum Yoga terasa sangat menyebalkan.
Dan benar saja, aku hanya bisa berpartisipasi sebentar saja. Sebenarnya bukan aku yang bakal menyesal, tapi aku menurut karena tak ingin Yoga kecewa.
"Sudah?"
Aku hanya bisa mengangguk dan ambruk di sisi Yoga. Yoga ambil kendali lagi hingga di akhir permainan.
Hhh. Akhirnya selesai juga. Badanku makin lemas semua.
Pingin ke kamar mandi saja rasanya sudah tak sanggup berdiri, apalagi berjalan.
"Ga."
"Hmm."
"Pingin pipis." Aku merengek kata anak balita.
"Ya sudah sana. Berani kan ke kamar mandi sendiri?"
"Iih, bukan takut Ga."
"Terus apa dong?"
"Gak mau, ah. Berat." Yoga malah menelungkupkan badannya.
"Aku kan belum pakai baju, jadi lebih enteng."
"Hahaha. Kamu membalas, ya?"
"Ayo, Ga. Entar aku ngompol nih." Aku sudah sangat tidak bisa menahan lagi.
"Ya sudah ngompol aja. Nanti tinggal di jemur kasurnya. Kalau ada yang nanya, tinggal bilang saja diompolin istriku."
"Ih, nyebelin banget sih. Ayo toh, Ga. Udah gak bisa nahan nih."
Akhirnya Yoga mengalah dan menggendongku lagi.
"Jangan dikira gendong kamu gak ada imbalannya, ya?" ucap Yoga sambil meletakanku di lantai kamar mandi.
"Apa imbalannya?"
"Ulangi lagi."
"Ih, gak mau ah. Udah sana kamu balik ke kamar. Aku bisa balik sendiri."
Aku dorong tubuh Yoga untuk keluar. Dia malah ketawa lalu ikutan pipis.
"Ayo naik. Entar aku dianggap suami yang kejam deh."
Aku naik lagi ke punggung Yoga.
"Emang kamu kejam. Menggarap istrinya sampai tidak bisa jalan."
"Mumpung belum ada Undang-undangnya. Gak ada tuntutan hukumnya juga."
Sampai di tempat tidur, aku langsung nyari selimut. Dan bersembunyi di dalamnya.
__ADS_1
"Pakai baju dulu, Wid."
"Malas, ah. Entar udah capek-capek pakai baju, kamu lepasin lagi." Aku merapatkan selimut.
"Kayaknya ada yang siap perang-perangan lagi, nih?"
"Enggak! Enak aja!" Aku berbalik menghadap tembok. Dan benar-benar menutup rapat tubuhku. Jangan sampai Yoga bisa melepasnya.
Mungkin karena terlalu capek, aku tertidur lagi padahal perutku berbunyi terus.
Dan sepertinya saat aku tertidur, Yoga memesankan makanan online. Jumlahnya jangan ditanya banyaknya. Macam-macam makanan ada.
Mulai dari burger, kentang goreng, fried chicken, chicken strip sampai nasi padang dan aneka makanan kecil lain.
Ruang makan jadi mirip foodcourt. Katanya biar aku bisa memilih dan kenyang.
Kalau sudah kenyang, tinggal pakai lagi. Suamiku benar-benar kayak orang maniak. Memgerikan.
Saat aku bangun, Yoga malah masih tertidur. Dia sudah pakai baju lengkap. Jelas saja, kan dia yang menerima pesanan makanannya.
Masa iya keluar rumah tanpa pakaian. Bisa kabur kurirnya.
"Ga. Bangun. Ga. Aku lapar." Aku mengguncang-guncang badan Yoga.
"Mmm."
Yah, dia cuma kayak orang mengigau saja. Terus berbalik membelakangiku.
"Yoga. Aku lapar."
"Ya sudah sana ke meja makan sendiri. Aku ngantuk."
Di meja makan? Tadi pagi hanya ada beberapa potong roti saja. Itu pun sebagian sudah kita makan.
Mau teriak-teriak bangunin Yoga, enggak tega. Akhirnya aku putuskan untuk bangun, terus ke kamar mandi. Lalu berpakaian yang rapi dan keluar mencari makan.
Saatnya aku melayani makan buat suamiku yang lagi keranjingan main perang-perangan.
Selesai berdandan, aku meraih dompet di tasku. Masih ada uang yang cukup kalau hanya buat beli dua bungkus nasi padang.
"Mau kemana kamu?" Ternyata Yoga sudah bangun dan memperhatikanku.
"Cari makan. Laper!" jawabku ketus.
Sebel juga, tadi aku berkali-kali bilang laper di cuekin. Dia pikir aku tidak bisa beli makanan sendiri?
"Oh, di mana?"
"Nyari warung makanlah. Masa di apotek?"
"Di daerah sini, warung makannya jauh. Kamu kuat jalan kaki?"
"Kuat!"
Aku langsung berdiri dan meninggalkan Yoga di kamar. Malas berdebat dengannya. Mending energinya buat jalan aja.
Aku berjalan melewati meja makan. Aku lihat di atas meja makan sudah kayak di acara hajatan. Banyak sekali makanan.
"Yoga....!" teriakku.
"Gak usah teriak-teriak, aku denger," jawab Yoga yang sudah ada di depan pintu kamar.
Tanpa pikir panjang, aku sikat makanan yang ada di meja.
"Kamu yang beli semua ini, Ga?"
"Iyalah. Buat doping. Biar kamu ada tenaga lagi."
Aku hanya tepok jidat mendengarnya.
__ADS_1