Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Aku Takut Pah.


__ADS_3

Andreas masih terus berusaha mencium bibir Ayu, tapi Ayu selalu berhasil menghindar. Dia tidak kehilangan akal, lalu kembali mencium leher, tengkuk dan kini ciumanya turun ke dada Ayu yang hanya tertutup sebagian oleh gaun berwarna merah itu


Dua gundukan sintal itu menyembul indah ke atas, membuat hasrat Andreas kian menjadi. Air mata Ayu menetes membasahi pipinya, saat merasakan bibir Andreas terus mencumbui dadanya yang sebagian masih tertutup gaun, dan tanganya mer*mas bokong Ayu penuh nafsu.


Andreas memegang gaun bagian depan, tepat dibagian lekukan dadanya. Sepertinya dia ingin melepaskan gaun itu dari tubuh Ayu. Dia menatap sejenak mata Ayu yang basah oleh air mata, namun sepertinya dia tidak mempedulikannya.


Yang ada difikiranya saat ini adalah tubuh indah Ayu yang akan dia lihat dan nikmati sepenuhnya."Aku janji. Air mata kamu akan aku ganti dengan kenikmatan dan kepuasan yang belum kamu rasakan sebelumnya. Apa kamu sudah siap merasakan kehebatanku sayang." Tanya Andreas.


Braaakkk......Pintu kamar vila itu tiba-tiba terbuka saat dua orang lelaki mendobraknya, membuat Andreas dan Ayu terkejut, terutama Andreas.


Rasa terkejutnya berubah menjadi amarah yang besar, saat melihat Damar berdiri bersama dua orang bodiguardnya. Dia tak percaya Damar bisa menemukan keberadaan mereka.


Amarah Damar semakin meluap-meluap melihat pemandangan di depan matanya. Ayu mengenakan baju yang begitu terbuka, dan dia melihat ada tanda merah di dada Ayu. Tangan Damar mengepal, rahangnya semakin mengeras.


Damar mendekati Andreas berniat akan menghajarnya, namun kali ini Andreas tidak tinggal diam dan mereka akhirnya berkelahi, Sedangkan kedua bodiguard Damar, melawan orang-orang Andreas yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Lima orang yang menjaga di luar vila sudah mereka lumpuhkan. Siapa sangka, masih ada orang-orang Andreas didalam vila. Diantara mereka bahkan ada yang membawa senjata api, dan menembak salah satu bodiguard Damar.


Timah panas itu bersarang di lengan kirinya. Darah segar berceceran dilantai vila, karena dia masih tetap berkelahi dengan anak buah Andreas.


Dikamar, Andreas dan Damar juga masih berkelahi, dan sepertinya Damar yang akan menang. Andreas melemparkan lampu tidur ke arah Damar, dan lemparanya tepat sasaran. Kepala Damar terluka dan mengeluarkan darah.


Damar tidak peduli dengan luka dikepalanya, karena amarah didadanya jauh lebih besar dari rasa sakit yang dia rasakan dikepalanya. Dia terus menghajar Andreas hingga tak berdaya.


"Mas Damar!! Awas!! Teriak Ayu, saat melihat Andreas mengacungkan senjata ke arah Damar, dan dooorr....suara letusan senjata api itu menggema dikamar vila. Ayu dan Damar tersentak. "Mas Damar!! ."Teriak Ayu khawatir pada Damar, tapi untungnya Damar baik-baik saja. Mungkin tembakan Andreas meleset, fikir Ayu saat itu.


Namun dia baru menyadari sesuatu, saat sebuah pistol jatuh ke lantai dari tangan Andreas. Darah segar menetes dari tangan kananya, lalu dia pun ambruk.


Andreas menembak Damar, tapi kenapa justru malah dirinya sendiri yang tertembak?. Bodiguard Damar bekerja dengan sangat baik. Mereka datang tepat waktu, melindungi dan menyelamatkan tuanya.


Tapi bukan, bukan mereka yang menembak tangan Andreas, tapi orang lain. Ayu dan Damar, bahkan Andreas sendiri tidak menyangka orang itu yang menembak Andreas.

__ADS_1


"Ambar"Gumam Andreas saat melihat Ambar berdiri dibelakang Damar, dengan tangan memegang pistol.


"Bu Ambar." Gumam Ayu.


"Cepat kalian tinggalkan tempat ini." Titah Ambar.


Damar segera menghampiri Ayu."Kamu tidak apa-apa kan?." Tanya Damar, seraya menanggalkan jasnya, dan memakaikan pada Ayu.


Ayu menggelengkan kepalanya."Ayo kita pergi darisini." Ajak Damar seraya memegang lengan Ayu, melewati Ambar.


Anak buah Andreas dan bodi guard Damar masih berkelahi di lantai bawah.


"Mas Damar, kita harus cari dan selamatkan Gara."Kata Ayu seraya berlari menuju kamar yang ada dilantai bawah.


Ada tiga kamar disana. Ayu membuka satu persatu kamar itu, tak terkecuali kamar kosong yang ditempati si harimau, tapi Ayu tidak menemukan Gara. Ayu dan Damar terus mencarinya, hingga akhirnya Ayu bisa menemukanya.


Rupanya Gara disekap di sebuah kamar yang ada dibelakang vila. Ayu menangis dan langsung memeluknya dengan begitu erat, sembari membuka ikatan ditangan dan kakinya. "Gara!! Sayang!! Ucap Ayu memanggil nama anaknya, sembari menangis. Gara kelihatan masih sangat ketakutan dan juga shock. Dia diam saja dari tadi.


Mereka lalu pergi meninggalkan vila itu. Damar, Ayu dan Gara berada dalam satu mobil, diikuti mobil mobil bodiguardnya. Salah satu anak buah Damar yang terluka membuka kotak p3k, mengambil alkohol, dan menyiramkanya pada pisau lipat yang selalu dia bawa.


Dia mengeluarkan peluru yang bersarang dikengan kirinya dengan pisau itu. Dilihat dari caranya mengeluarkan peluru, sepertinya dia sudah biasa melakukan hal seperti itu.


Damar melirik Ayu yang terus saja memeluk dan menciumi Gara sembari menangis. Damar bahkan sudah meminta Ayu memberikan Gara padanya karena Damar fikir mungkin saja Ayu merasa pegal, tapi Ayu menolak.


Hati Damar begitu terenyuh melihat semua itu. Ingin rasanya dia memeluk Ayu dan Gara saat itu, tapi dia tidak berani.


Sampai saat Ini Gara masih diam. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Damar mengajaknya bicara. Dia bertanya mungkin anaknya itu menginginkan sesuatu.


"Papa." Panggil Gara. Ayu dan Damar merasa lega, saat mendengar suara Gara.


"iya sayang?." Tanya Damar.

__ADS_1


"Aku lapar pah." Celetuk Gara. Damar dan Ayu saling pandang. Mereka berdua sama-sama menyalahkan diri mereka, yang bisa lupa menanyakan atau menawari Gara makan.


Ayu baru menyadari sesuatu. Luka, luka dikepala Damar."Kening kamu terluka mas. Sebaiknya diobati dulu." Saran Ayu.


"Oh, gapapa. Cuma luka kecil."Sahut Damar.


"Walau kecil kamu tetap harus mengobatinya mas."


"Iya, nanti aku akan obati. Sekarang kita cari makan dulu. Kasihan Gara. Kamu juga pasti lapar kan?."


Damar mengajak Gara dan Ayu makan disebuah restoran yang sebentar lagi akan tutup, karena saat ini jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam.


Gara menikmati makananya dengan sangat lahap, setelah itu mereka meniggalkan restoran itu


"Aku mau digendong sama papa." Celoteh Gara. Damar memangku Gara sampai ke mobil.


Baru beberapa meter mobil melaju, Gara merengek meminta Damar menginap di sebuah hotel yang dia lihat. Damar dan Ayu menuruti keinginan Gara.


Selain karena Gara, Ayu dan Damar juga sepertinya sangat kelelahan. Mereka butuh istirahat, mengingat jarak dari sana ke rumah Ayu juga masih cukup jauh.


Singkat cerita, Damar pun chek in dihotel itu. Dia menyewa dua kamar, satu untuknya, satu untuk Ayu dan Gara.


Mereka masuk ke kamar Gara lebih dulu. Damar menemani Gara, sedangkan Ayu segera pergi ke kamar mandi. Dia menyabuni dan mengguyur seluruh tubuh juga rambutnya karena merasa tubuhnya itu sangat kotor, mengingat apa yang sudah dilakukan Andreas tadi.


Setelah mandi Ayu tidak mempunyai pilihan lain, selain memakai gaun merah dan jas Damar.


Damar tertegun melihat penampilan Ayu yang selalu saja terlihat cantik apalagi setelah mandi seperti ini. Rasanya dia ingin menyerangnya saat itu juga.


Damar meminta Gara tidur, agar dia bisa secepatnya keluar dari kamar itu. Damar takut tidak bisa menahan dirinya, jika dia terus berada satu kamar dengan Ayu.


Tapi justru Gara meminta Ayu dan Damar berbaring disampingnya dan memeluknya seperti saat mereka di Pangandaran.

__ADS_1


__ADS_2