Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 106 PANTANG MENYERAH


__ADS_3

Aku dan Yoga kembali ke kantor. Aku langsung ke ruanganku dilantai tiga. Ruangan Yoga di lantai dua.


"Enak kamu, udah sampai. Aku masih satu lantai lagi" ucapku saat sampai di lantai dua.


"Kalau gak kuat, aku gendong mau?" sahut Yoga.


Aku memanyunkan bibirku dan naik ke tangga. Yoga terbahak-bahak. Dasar Yoga usil, ada aja candaannya.


Sampai di ruanganku, aku lihat mas Andi sudah ada di sana.


"Darimana kamu?" tanya mas Andi.


"Makan siang sama Yoga" sahutku. Lalu aku menuju ke kursiku.


"Mas Andi sudah makan?" tanyaku.


"Belum."


"Coba tadi bilang. Kan bisa aku belikan sekalian" sahutku.


"Mana aku tau kalau kamu sedang makan?"


"Ya kan bisa telpon. Mas Andi sih, kalau istirahat ngubunginnya Tari melulu!" sahutku.


"Katanya biar aku gak jomblo terus?"


Benar juga. Aku memberikan kode oke dengan dua jariku.


Kasihan mas Andi, dari dulu tak pernah bisa dekat dengan perempuan. Entah gak laku-laku atau memang tak pernah menemukan yang cocok.


Semoga Tari bisa jadi pasangannya yang cocok.


"Tari apa kabarnya, Mas?" tanyaku.


Karena meskipun tiap hari ketemu, tapi aku jarang interaksi dengan dia.


Tari datang ke rumah menjelang aku berangkat kerja. Pulangnya kadang sebelum aku pulang.


"Baik, kenapa?"


"Pingin tau aja bagaimana perkembangan hubungan kalian" sahutku.


"Kepo!" Mas Andi melemparkan kertas yang diremasnya ke arahku. Aku tertawa.


Apalagi wajah mas Andi jadi merona. Persis abege yang lagi jatuh cinta.


Hari ini mas Andi banyak mengajariku. Maklum hari pertama. Aku masih belum terlalu faham dengan pekerjaanku.


Tak terasa, sudah jam empat.


"Ayo pulang. Kamu mau lembur?"


"Duuh...yang lagi kangen" sahutku menggoda mas Andi.


"Ya sudah, aku tinggal!" Mas Andi keluar ruangan.


"Jangan, Mas. Tunggu sebentar!" Aku bergegas mengemasi barang-barangku.


Aku kejar mas Andi sampai ke lantai dua. Tidak ada. Malah aku bertemu dengan Yoga.


"Ga, lihat mas Andi tidak?"


"Udah turun" sahut Yoga.


Aku segera turun. Jangan sampai aku pulang sendiri. Jauh. Bisa dua kali ganti angkot.


Yoga mengikutiku. Kamk sampai di lantai satu.

__ADS_1


"Ngapain sih kamu lari-lari?" tanya Yoga.


"Ngejar mas Andi. Mana dia?" Aku menengok ke kanan dan ke kiri.


"Tuh di sana!" Yoga menunjuk mas Andi di dekat parkiran mobilnya. Dia sedang bersama mas Angga.


"Aku pulang dulu ya, Ga. Daah." Yoga hanya mengangguk.


Aku berjalan mendekati mereka.


"Wid, kamu pulang sama Angga. Aku ada urusan mendadak" ucap mas Andi.


Gimana sih ini orang, tadi pagi sudah bikin kesepakatan. Katanya aku jangan dekat-dekat dulu dengan mas Angga. Belum sampai dua puluh empat jam sudah beda lagi.


Mas Angga membukakan pintu mobil untukku seperti biasanya. Aku naik dan dari sudut mataku, aku melihat Yoga masih menatap ke arahku.


Mas Angga melajukan mobilnya. Aku diam saja tak bicara sepatah kata pun.


"Tumben diem?" tanya mas Angga.


"Capek" jawabku. Lalu aku menyandarkan kepalaku dan memejamkan mataku.


Entah mengapa, sejak kejadian semalam dan kesepakatan kami tadi pagi, aku merasa aku harus menjauhi mas Angga.


Walau pun itu bisa jadi tidak mungkin. Bagaimana pun pekerjaanku masih berhubungan dengannya.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya mas Angga.


Aku pura-pura tertidur dan tak mendengar pertanyaannya.


"Aku tau kamu tidak tidur beneran."


Tiba-tiba mas Angga menghentikan mobilnya. Reflek aku membuka mataku.


Mas Angga menatapku.


"Aku capek" sahutku lagi.


Mas Angga menghembuskan nafasnya kasar. Lalu meraih tanganku. Dan mengecupnya.


"Ini di jalan. Jangan macam-macam." Aku menarik tanganku.


"Kamu masih marah karena kejadian semalam?" tanya mas Angga.


"Enggak." Aku memalingkan wajahku. Mas Angga melajukan lagi mobilnya perlahan.


"Maafkan aku, Wid" ucap mas Angga.


"Gak perlu. Aku yang salah. Aku yang masuk ke kehidupan kalian. Aku yang mestinya minta maaf" sahutku.


"Wid. Itu artinya kamu marah padaku?"


"Tidak. Aku tidak punya hak buat marah sama kamu" sahutku.


"Kamu berhak marah, Wid. Aku yang salah. Aku tidak bisa membelamu di depan...istriku."


Mas Angga menyebutkan kata istriku dengan suara perlahan.


"Tidak! Dia yang berhak atas diri kamu. Dia yang berhak marah padaku. Àku memang perempuan murahan. Aku memang...pelakor."


Aku memalingkan wajahku ke samping. Sakit sekali aku mengingat kata-kata itu. Sebutan paling hina menurutku.


Dua perempuan menyebutku seperti itu. Menyakitkan.


Mas Angga menepikan mobilnya kembali.


"Jalan! Aku mau pulang!"

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak akan jalan. Biar saja berhenti di sini!"


"Oke. Aku turun di sini!" Aku berusaha membuka pintu mobil. Sayangnya di kunci oleh mas Angga.


Aku menghempaskan kepalaku ke sandaran mobil. Aku mengambil nafas dan membuangnya dengan kasar.


"Jangan hiraukan ocehannya, Wid. Dia itu perempuan gila! Perempuan gak punya perasaan!" ucap mas Angga.


"Justru dia waras! Aku yang gila! Tergila-gila sama suami orang!" sahutku.


"Aku memang bodoh. Gampang berubah-ubah. Tak punya pendirian. Katakan pada istrimu, aku tak akan pernah mendekatimu lagi!"


"Aku yang akan mendekatimu. Melindungimu. Aku tak ingin kehilanganmu untuk kedua kali."


Mas Angga meraih tanganku. Menggenggamnya erat.


"Lepaskan aku dulu. Bebaskan aku dulu. Aku ingin menikmati duniaku dulu. Aku capek selalu terikat. Karena ikatan itu hanya membuat aku sakit."


Mas Angga terdiam. Lalu memandangku.


"Sampai kapan?" tanya mas Angga.


"Sampai aku bosan dengan kesendirian" sahutku.


"Kamu tak akan pernah sendiri, Wid. Karena aku tak akan pernah bisa tanpa kamu" ucap mas Angga.


"Minggu depan, urusan kita di pengadilan agama selesai. Tiga bulan lagi kita menikah".


Mas Angga melajukan mobilnya. Aku ternganga dengan omongannya.


Menikah?


Mobil mas Angga terus melaju hingga sampai di depan rumah orang tuaku.


Aku segera turun, saat mas Angga sudah membuka kuncinya.


Aku langsung masuk ke kamarku, tanpa mempedulikan ibu yang menatapku keheranan.


Entah dimana anakku. Mungkin dia masih bersama Tari atau bapak.


Aku mengunci diri di kamar. Aku mengambil headset dan memasangkan musik di telingaku.


Aku tak mau mendengar omongan apa pun. Lebih baik mendengarkan musik.


Aku menyesali kebodohanku. Kenapa aku membiarkan mas Angga masuk ke dalam hidupku? Kenapa dulu aku mudah terlena? Kenapa aku tak bisa menolaknya?


Kenapa aku menerima semua pemberiannya? Kenapa aku menerima semua kebaikannya?


Akibatnya kini aku jadi berhutang budi padanya. Akhirnya aku tak bisa pergi darinya.


Bodoh! Aku sangat bodoh! Aku merutuki diriku sendiri.


Head set masih terpasang di telingaku, hingga malam aku terbangun.


Aku mengerjapkan mataku. Aku lihat jam dipergelangan tanganku. Jam sebelas malam.


Aku melihat tubuhku. Masih terbungkus pakaian kerja. Ah, aku tertidur cukup lama.


Aku melepaskan head set-ku. Dan beranjak dari tempat tidurku.Aku buka pintu kamar, dan melangkah ke depan.


Mataku bertabrakan dengan mata mas Angga. Yup, dia masih di rumahku di jam segini.


Aku berbalik akan kembali ke kamarku. Tapi mas Angga keburu mengejarku dan memelukku dari belakang.


"Maafin aku, Wid. Aku tak bisa hidup tanpa kamu lagi" ucap mas Angga di dekat telingaku.


Aku membalikan tubuhku. Menatapnya dengan tajam. Inikah jodohku selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2