
Aku memesan taksi online. Untuk sementara biar Yoga pulang ke rumahku dulu. Nanti kalau sudah sampai di rumah, baru kita bicarakan dengan keluargaku.
Enggak tega juga kalau Yoga mesti sendirian di rumahnya.
Aku merasa bersyukur masih dikasih keluarga yang lengkap. Di rumah tak pernah kesepian. Bahkan sekarang di tambah kelucuan anakku yang sudah mulai belajar berjalan.
Pantas saja ibu tidak mengijinkan aku membawa anakku kalau mau pindah ke rumah Yoga. Ibu pasti takut kesepian kalau yang lainnya berangkat kerja.
"Kamu sudah bilang ke orang rumah, kalau aku mau pulang ke rumahmu?" tanya Yoga.
"Udah. Tadi aku sudah telpon ibu. Kata ibu gak apa-apa. Nanti kalau bapak dan mas Andi sudah pulang, baru kita bicarakan lagi. Gak apa-apa, kan?"
Yoga mengangguk senang. Dia berusaha bangkit dari tidurnya.
"Kenapa, Ga? Masih sakit?" tanyaku melihat Yoga yang meringis sambil memegangi kepalanya.
"Sedikit."
Aku membantu Yoga untuk duduk.
"Kamu diam dulu di sini. Aku akan panggilkan perawat buat membantu kamu duduk di kursi roda."
"Apa? Aku duduk di kursi roda? Kayak kakek-kakek dong."
"Iyalah, masa kayak nenek-nenek" sahutku sambil berjalan keluar, tak mempedulikan Yoga yang protes.
Yoga itu mesti dipaksa, jangan ditawarin. Bisa-bisa dia akan menawar kayak ibu-ibu di pasar.
"Suster, bisa saya pinjam kursi rodanya? Suami saya masih susah berjalannya."
"Bisa, Bu. Biar nanti saya bantu." Lalu perawat itu mencarikan kursi roda.
Aku kembali ke kamar Yoga. Dia sedang berusaha berjalan dengan berpegangan pada sisi ranjang.
"Jangan nekat. Nanti kalau jatuh malah makin parah."
Yoga hanya nyengir. Aku membantunya duduk kembali di tepi ranjang.
"Bandel!" Aku mencubit paha Yoga.
"Auwh! Sakit Mommy." Yoga mengelus pahanya yang barusan aku cubit.
Tak lama seorang perawat datang membawakan kursi roda.
"Ayo, naik. Mobilnya sebentar lagi datang."
Aku dan perawat itu membantu Yoga untuk duduk di kursi roda. Lalu si perawat mendorong kursi roda Yoga, sedang aku membawa tas yang berisi baju kotor.
"Ga, aku foto ya?" Aku mengambil ponselku lalu mengarahkan kameranya ke Yoga yang sedang di dorong dengan kursi roda.
"Jangan! Entar kamu viralin." Yoga berusaha merebut ponselku.
Tapi aku malah berlari menjauh ke depan Yoga. Dan segera mengambil gambarnya.
Yoga sempat melengos bahkan menutupi wajahnya. Aku tertawa tergelak.
__ADS_1
"Buat kenang-kenangan, Ga."
"Ish. Iseng banget sih kamu!" Yoga terus saja mengomel. Perawat yang mendorong Yoga hanya senyum-senyum saja melihat tingkah kami.
"Sus, tolong fotoin kami dong." Aku menyerahkan ponselku pada si perawat lalu mengambil posisi di belakang kursi roda Yoga. Seolah-olah aku sedang mendorongnya.
"Pencitraan!" Yoga melengos menghindari kamera.
"Kalau kamu tidak bisa diam, aku tinggal kamu di sini" ancamku.
"Bisanya cuma ngancam" sahut Yoga. Lalu Yoga pun menurut. Dan beberapa pose diambil oleh perawat itu.
"Terima kasih, Sus." Aku menerima ponselku lagi. Lalu perawat itu kembali mendorong kursi roda Yoga hingga sampai di titik jemput taksi online.
"Itu mobilnya. Sus, bantu saya memindahkan ya?" Perawat itu mengangguk. Bahkan bukan cuma perawat yang membantu, tapi security rumah sakit juga ikut membantu.
"Aku udah kayak manula saja. Masuk mobil pakai dibantu" gerutu Yoga.
Sopir taksi online sampai tersenyum mendengar ocehan Yoga.
"Namanya juga lagi sakit. Entar kalau sudah sembuh sih bebas. Kamu mau jungkir balik juga gak ada yang melarang. Iya kan, Pak?"
Pak Sopir yang tidak tau apa-apa ikut mengiyakan.
"Seneng, ada yang belain." Yoga masih saja mendumel.
Selesai Yoga mendumel, suasana jadi sepi.
"Kok diam? Ngoceh lagi dong biar rame." Yoga mengacak rambutku.
Aku tertawa ngakak.
"Kirain mau ngoceh sampai rumah. Lumayan kan, bapaknya tidak usah nyetel musik."
Yoga gantian mencubit pahaku.
"Auwh! Sakit, Ga!" Aku mengelus pahaku.
"Aku juga tadi sakit waktu kamu cubit pahaku."
"Tapi aku kan pelan, nyubitnya."
"Ya sudah, sini aku ulangi pelan." Aku melotot ke arah Yoga. Ganti dia yang terbahak.
"Kalian lucu, ya? Jarang lho orang sudah suami istri masih bisa becanda kayak kalian" ucap pak sopir.
Aku berpandangan dengan Yoga. Ingin rasanya aku jawab kalau kami baru akan menikah besok pagi.
Tapi biarlah. Toh bapaknya tidak tau juga.
"Bapak sudah menikah?" tanyaku.
"Sudah, Neng. Sudah punya cucu malah. Sekarang becandanya sama cucu."
Aku perhatikan memang si bapak ini kira-kira seusia bapakku. Pantes saja sudah punya cucu.
__ADS_1
"Kalau kami pengantin baru, Pak" jawab Yoga tanpa di tanya.
"Oh, pengantin baru? Pantes saja. Lagi anget-angetnya." Bapak itu tertawa terbahak. Kami juga ikut ketawa.
"Tapi itu kepala bukan karena malam pertama kan?" tanya si bapak.
"Malah belum jadi malam pertama, Pak. Orang keburu menghantam trotoar duluan."
"Wah, dipending dong." Si bapaknya ngakak lagi.
Bisa saja ini bapak. Klop deh sama Yoga yang kadang-kadang gokil.
"Untung si entongnya sabar, Pak." Yoga aku cubit pahanya karena becandanya sudah kelewatan.
"Yang penting mah, si Enengnya bisa sabar."
"Dia sih sabar banget, Pak. Sampe-sampe perawatnya gak boleh megang-megang saya."
"Ih, apaan sih?" Aku cubit lagi pahanya.
" Sakit, Yank. Nyubit mulu. Katanya sabar. Bentar lagi nyampe."
Pingin rasanya aku getok kepalanya Yoga. Aku kan malu sama pak sopirnya.
"Lewat sini ya, Bang?" tanya si bapaknya.
"Iya, Pak. Lurus dikit. Tuh yang cat biru" jawab Yoga.
Untung saja sudah mau sampai. Kalau enggak, bisa abis aku di ledekin dua manusia koplak beda generasi.
Si bapak sopir menghentikan mobilnya di jalanan.
"Masuk halaman gak apa-apa, Pak" ucapku, agar Yoga bisa lebih dekat jalannya.
Si bapak sopir menurut. Lalu membantu Yoga hingga sampai kursi teras.
"Malam pertamanya di pending dulu saja, Bang" bisik bapak sopir itu ke telinga Yoga. Tapi sayangnya aku masih bisa mendengarnya.
Yoga mengangguk setuju. Lalu mereka tertawa bersama.
Orang laki kalau becanda parah banget. Aku segera membayar ongkosnya biar bapak itu segera pergi.
"Terima kasih banyak, Neng. Abangnya suruh sabar dulu." Kata bapak sopir itu sambil berlalu.
"Eh, sudah pulang. Ayo masuk. Masa di luar sih?" Ibu yang belum tau kondisi Yoga menyuruh langsung masuk.
Wah pe er lagi nih. Mesti memapah Yoga biar bisa sampai ke dalam.
Untungnya tak lama, mas Andi dan Tari datang. Jadi ada yang membantu memapah Yoga.
"Oh. Kirain ibu, Yoga sudah bisa jalan sendiri" ucap ibu melihat Yoga masih kesulitan jalan.
"Wah, malam pertamanya gimana nih Bro?" tanya mas Andi.
"Di pending sampai batas waktu yang tidak ditentukan!" jawabku sambil berjalan ke belakang membawa tas berisi baju kotor.
__ADS_1