Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 15


__ADS_3

Dua jam sudah ana larut dalam kesedihan hatinya, Ana benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirannya Julio. Bisa-bisanya pria itu mengajaknya menikah padahal jelas-jelas ia telah beristri, tidakkah ia berfikir bahwa tidak ada wanita yang ingin di madu? Tidakkah ia berfikir bahwa apa yang ia lakukan benar-benar menyakitinya?


Jika saja sejak awal Ana mengetahui bahwa Julio sudah berisrti tentu Ana tidak akan mau dekat apa lagi sampai berpacaran dengan Julio, dan jika saja sejak awal Ana mengetahui bahwa Julio sudah beristri tentu saja Ana tidak akan mau menyerahkan kehormatannya untuk Julio.


Ana mulai kembali menata hati dan pikirannya, Akal sehatnya kembali berjalan ia tidak boleh seperti ini.


Lyra tidak boleh mengetahui bahwa lelaki yang menghamilinya adalah suami dari teman baiknya, Ana takut hubungan persahabatan Lyra dan Retno menjadi renggang atau hubungan Retno dan Julio menjadi tidak harmonis.


Ana akan merasa sangat berdosa jika rumah tangga Julio dan Retno hancur, Ana tidak mau di cap sebagai orang ketiga penghancur rumah tangga orang lain.


Maka dari itu Ana lebih memilih untuk menyimpan rahasia ini sendiri dan fokus merawat serta membasarkan anaknya seorang diri, mencurahkan semua cinta kasih yang ia miliki kepada janin dalam kandunggannya.


Perlahan Ana mulai bangkit dari tempat tidurnya, Ana menatap wajah lesunya di cermin.


Kemudian Ana memoles wajahnya dengan makeup natural untuk menutupi wajah sembabnya sebelum ia keluar dari kamarnya, Ana menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi kecemasannya.


Ana menghampiri ibu yang sedang membuat adonan kue diruang makan.


"Maaf ya bu tadi Ana langsung masuk ke kamar"


"Tidak apa-apa nduk. kamu pasti capek banget habis dari rumah sakit. kamu makan dulu sana, tadi kata Lyra kalian tidak jadi makan di luar"


Ana menganganggukan kepalanya, kemudian ia menaruh nasi diatas piringnya.

__ADS_1


Sambil makan ana menceritakan hasil pemeriksaan kandungannya serta menjawab semua list pertanyaan yang ibu berikan kepadanya sebelum berangkat ke rumah sakit.


Raut wajah ibu terlihat sangat bahagia ketika melihat satu persatu foto USG 4D yang ana berikan, ibu membelai lembut perut ana.


"Sehat-sehat ya nduk."


"Terima kasih ya bu." Ana tersenyum kepada ibu, ia benar-benar merasakan kenyamanan dan kasih sayang yang ibu berikan kepadanya.


Ibu hanya mengangguk dan tersenyum ke arah ana, kemudian membelai kepala ana.


Ana mebuka handphonenya lalu menunjukan kepada ibu jika ia baru saja membuat toko online untuk toko kue ibu di beberapa marketplace.


"Bu ana saja yang jadi adminnya, nanti jika ada yang order ana bilang sama ibu atau karyawan toko ibu." Ucap ana.


Mendengar percakapan ana dan ibu, lyra menghampiri ana dan ibu di ruang makan. lyra memberikan beberapa sample desain brosur iklan toko kue ibu yang ia buat kepada ada ibu dan ana.


Ibu menunjuk salah satu desain yang di buat lyra.


"Ini bagus nduk, menurutmu gimana?" Ibu bertanya kepada ana.


"Ia bagus bu, detail gambar kue dan informasinya terlihat jelas." Ucap ana.


"Ok. Nanti malam lyra cetak biar besok pagi bisa di bagiin. Temani aku ya mba ana." Ajak lyra, sambil mengambil kembali sample desain brosurnya dari ana dan ibu, ana menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Tapi inget jangan capek-capek!" Ibu mengingatkan ana agar tetap menjaga kandungannya.


"Siap bu" jawab Ana.



Keesokan harinya Ana dan Lyra pergi menyebar brosur yang telah di buat oleh Lyra di beberapa tempat keramaian, selain membagikan brosur versi cetak, ana dan Lyra juga menyebarkan secara digital lewat social media mereka masing-masing.


Di perjalanan pulang sehabis membagikan brosur ana meminta Lyra menepikan mobilnya di pinggir jalan, Ana melihat ada gerobag abang-abang rujak.


"Sungguh bumil yang satu ini suka sekali dengan rujak." ledek Lyra.


"Nanti kalo kamu hamil akan tau rasanya ngidam, kamu mau tidak Lyr rujaknya?" tanya Ana.


"Iya mba aku mau, tapi bengkoangnya saya ya." pinta Lyra.


"Ya sudah tunggu sebentar ya Lyr." Ana membuka pintu mobil lyra kemudian keluar dari mobilnya.


Tak butuh waktu lama untuk Ana kembali masuk kedalam mobil Lyra dengan membawa rujak untuk dirinya dan juga pesanan Lyra.


Di sepanjang jalan arah pulang, Ana dan Lyra menikmati rujak yang telah di belinya. hubungan Ana dan Lyra semakin akrab layaknya kakak adik yang sedarah.


Lyra mulai terbuka dan bercerita mengenai hal-hal pribadinya, selain itu Lyra banyak bertanya kepada Ana mengenai materi dan tugas-tugas di kampusnya, tentu saja dengan senang hati Ana membagi ilmu yang ia miliki kepada Lyra yang sudah ia anggap seperti saudara kandung.

__ADS_1


Dalam hidup ini terkadang kita di pertemukan orang lain tetapi bisa jadi seperti saudara, kadang pula ada saudara sendiri tetapi jadi seperti orang lain.


__ADS_2