
Happy Reading All.
***
Suara hujan yang begitu deras ditambah dengan suara petir yang terdengar begitu keras menjadi teman di malam kali ini. Adhara kini tengah fokus membaca novelnya sambil merebahkan tubuhnya dengan paha Chan sebagai bantalannya. Sedangkan Chan kini tengah fokus dengan ipad di tangannya yang memperlihatkan dokumen café nya yang baru dikirim Baron.
“Hujannya deres banget ya di luar,” ucap Adhara sambil menutup novelnya dan melihat ke arah langit langit rumahnya.
“Sok tau lo,” ucap Chan membalas ucapan Adhara. Lagi pula bagaimana gadis itu bisa tahu jika di luar hujan begitu deras padahal sedari pulang sekolah gadis itu tak meninggalkan apartemen sama sekali.
“Ye, coba aja dengerin noh suara petir sama hujan nya,” balas Adhara sambil melihat ke arah Chan yang terlihat begitu tampan saat sedang serius seperti ini. Chan tak lagi menjawab ucapan Adhara karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya tersebut.
“Bosen banget,” keluar Adhara yang lagi-lagi tidak Chan hiraukan. Adhara berdecak kesal lalu segera bangun dari tidurnya dan melihat apa yang tengah Chan kerjakan hingga mengabaikannya.
“Serius banget,” ucap Adhara lalu melihat ke arah iPad Chan yang ternyata tengah mengerjakan latihan soal untuk masuk ke kampus.
“Chan lulus nanti lo mau kuliah di mana?” tanya Adhara dengan begitu serius pada Chan. Chan menutup iPadnya lalu menatap Adhara dengan senyuman menenangkannya.
“Dimanapun gue nanti kuliah, gue janji bakalan setia sama lo. Gue bakal nyari lo di manapun lo nanti,” ucap Chan dengan senyumannya sambil memegang kedua pundak Adhara dengan tatapan dalam yang meyakinkan Adhara.
“Lo mau kulaih jauh?” tanya Adhara dengan tatapan sendunya. Jujur saja ia masih belum siap jika Chan berada jauh dari nya karena sudah terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu.
“Gue masih belum tau Dhara. Gue masih belum kepikiran mau kuliah di mana yang terpenting sekarang mempersiapkan semuanya dulu,” ucap Chan lalu menarik Adhara kedalam dekapannya. Adhara memeluk Chan tak kalah erat enggan untuk melepaskannya, seolah jika ia melepaskan pelukan tersebut maka ia akan kehilangan Chan.
“Udah gak usah sedih-sedih lagi, nanti cantik nya ilang,” ucap Chan menggoda Adhara membuat Adhara melepaskan pelukan mereka lalu menghapus air matanya kasar.
“Lo beneran gak bakal lupa sama gue kan kalau kita jauh?” tanya Adhara dengan suaranya yang terdengar jelas sarat akan kesedihan.
“Yang kayak lo itu sulit dicari, begonya murni banget tapi anehnya malah dapet beasiswa,” ucap Chan diselingi dengan menggoda kekasihnya itu. Dengan kesal Adhara mencubit perut kotak-kotak Chan membuat laki-laki itu tertawa.
“Lo kalo mau muji-muji aja gak usah sekalian mengejek,” ucap Adhara kesal. Chan kembali menarik Adhara dalam rangkulannya yang begitu nyaman. Adhara memejamkan matanya menikmati kebersamaan mereka yang diharapkan bertahan dalam kurun waktu yang lama.
Hingga tanpa sadar malam itu mereka tidur bersama di ruang tamu, tertidur sambil berpelukan.
__ADS_1
***
“Adhara,” panggil Elara sambil berteriak dan berjalan ke arah Adhara dengan wajahnya yang tersenyum begitu cerah.
Adhara yang tengah sibuk mengupas kuaci yang dibelinya menoleh ke arah Elara dengan kerutan di keningnya. Kini kelasnya tengah tidak ada pelajaran, bukan hanya kelasnya tapi juga beberapa kelas lainnya karena banyak guru yang tengah sibuk mengurusi ujian nasional kelas XII.
“Kenapa?” tanya Adhara pada temannya itu yang kini sudah duduk di hadapannya dengan senyuman lebarnya.
“Kelas Chan sekarang lagi penilaian renang,” ucap Elara dengan begitu semangatnya membuat Adhara memelototkan matanya mendengar hal tersebut.
“Serius?” tanya Adhara yang dibalas dengan anggukan semangat oleh Elara. Adhara segera mengambil kuacinya yang belum dikupas dan masih berserakan di atas meja kemudian ia memasukkan ke saku roknya, baru setelah itu segera berjalan menuju kolam renang sekolah yang berada di gedung bagian barat. Dalam keadaan apapun makanan tetaplah yang pertama untuk Adhara.
“Adhara tunggu,” teriak Elara sambil mengejar Adhara yang sudah berjalan cepat meninggalkannya. Adhara masih saja sibuk dengan kuaci yang di bawanya. Masih setia mengupas kuaci yang belum dikupas.
“Lo sibuk banget sama tuh kuaci,” ucap Elara yang mulai jengah dengan Adhara yang tak melupakan makanannya tersebut.
“Kenapa? Mau?” tanya Adhara menawarkan kuaci yang belum ia kupas.
“Engga,” ucap Elara cepat membuat Adhara mengangguk sambil tersenyum karena makannya aman dari Elara.
“Masyaallah nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan,” ucap Adhara dengan senyumannya sambil menatap kagum pada ketiga laki-laki yang kini hanya memakai celana pendeknya tersebut. Memperlihatkan perut kotak-kotak yang begitu menggoda iman.
“Laki gue paling debes,” ucap Adhara dengan senyumannya sambil mengacungkan jempolnya dengan tangan yang penuh kuaci.
“Malu-maluin lo, mending makan tuh kuaci,” ucap Elara pada temannya itu dan langsung menyuapi Adhara dengan kuaci yang sudah dikupas gadis itu yang berada di bungkusnya.
“Chan, Antariksa, Arche semangat,” teriak Adhara dengan senyumannya. Elara sekali lagi dibuat begitu malu dengan tingkah Adhara tersebut. Adhara yang berteriak ia yang menanggung malu.
“Kalo aja di dunia ini cewek di ijinin buat nikahin lebih dari satu cowok, udah gue pilih mereka bertiga, ditambah delapan bujang korea gue,” ucap Adhara dengan senyumannya memikirkan hal yang tentu saja tak akan terjadi. Bagaimana bisa seorang wanita menikahi lebih dari satu pria?
Ini adalah dunia nyata bukan dunia film atau drama fantasi yang dimana wanita memiliki kedudukan lebih tinggi dari pria, dan wanita yang bisa menikahi lebih dari satu pria.
Setelah selesai melakukan penilaian renang Chan segera berjalan ke arah Adhara lalu menarik gadis itu menuju kursi yang berada di sana dan memberikan handuk nya pada Adhara.
__ADS_1
“Lo demen banget sih makan kuaci Ra, sampek enek gue gara-gara keseringan liat lo ngemil kuaci,” ucap Antariksa pada Adhara namun tetap saja laki-laki itu dengan seenaknya mengambil kuaci yang sudah Adhara kupas dengan susah payah.
“Murah dan dapetnya banyak,” ucap Adhara dengan wajah kesalnya pada Antariksa.
“Lo gak tau gue perjuangan banget nih mengupas kuaci, lo malah seenaknya ngambilin,” ucap Adhara sambil mengerucutkan bibirnya kesal pada Antariksa.
“Perjuangan mengupas kuaci doang di bangga-banggain,” ucap Antariksa yang masih saja terus menyomot kuaci milik Adhara.
“Bangga lah, dari pada lo gak ada yang di banggain,” ucap Adhara dengan decakan meremehkannya.
“Muka gue ganteng, jadi gue bangga,” ucap Antariksa dengan senyuman jahilnya.
“Udah lah Cuma masalah kuaci aja jadi tengkar, keringin rambut gue,” ucap Chan menengahi pertengkaran sahabat dan kekasihnya itu.
Adhara segera menerima handuk kecil yang Chan ulurkan lalu segera mengeringkan rambut laki-laki tersebut dengan mulutnya tak berhenti terus melakukan perdebatan dengan Antariksa. Sampai membuat Chan dan Arche jengah sendiri melihat kedua orang tersebut.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.
Stay healthy all.
__ADS_1
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.