
Lyrids adalah hujan meteor yang selalu muncul di bulan April.
Happy Reading All.
***
Arche menatap iPad nya dengan serius. Kacamata yang bertengger di hidung mancung laki-laki tersebut menambah kesan tampan dan berwibawa. Pandangannya tak sedikitpun teralihkan dari pekerjaan di depannya. Ya, saat ini ia tengah sibuk dengan pekerjaan kantor yang Ayahnya bebankan padanya. Laki-laki tersebut kini mulai ikut andil dalam pekerjaan kantor sesuai yang ayahnya perintahkan.
Adhara kini tengah bersama Chan, sedangkan Nora kini memilih untuk berlatih tembak. Jadilah kini ia memilih untuk berada di cafe yang sering ia kunjungi untuk sekedar bersantai dan menyelesaikan tugas kantornya.
"Hai, sorry boleh duduk di sini?" Tanya sebuah suara yang sontak membuat Arche menoleh ke arah sumber suara yang ternyata seorang gadis yang terasa tak asing.
Arche melihat ke arah sekeliling cafe dan ternyata memang sedang penuh, dan kebetulan ia duduk di dekat jendela yang menghadap ke arah jalanan.
"Duduk aja," ucap Arche dengan mengangguk kepalanya yang membuat senyuman gadis tersebut mengembang dan segera duduk di samping Arche. Memperhatikan laki-laki yang terlihat fokus pada iPad nya tersebut.
"Tugas kuliah?" Tanya gadis di sampingnya pada Arche.
Arche menolehkan kepalanya menatap gadis tersebut dengan senyumannya.
"Kerjaan kantor," ucap Arche dengan senyuman ramahnya. Senyuman Arche berhasil membuat gadis di sampingnya tersebut dibuat terpanah dengan senyuman tersenyum. Ia menjadi semakin mengagumi laki-laki tersebut, karena tak hanya tampan laki-laki tersebut juga begitu ramah.
"Lo udah kerja?" Tanya gadis tersebut dengan wajah terkejutnya. Karena ia pikir Arche masih kuliah.
"Perusahaan bokap gue. Cuma bantu-bantu doang, gue masih kuliah," jawab Arche menjelaskan.
Gadis tersebut mengangguk mengerti lalu mengulurkan tangannya Arche bermaksud untuk berkenalan.
"Cordelia, lo bisa panggil gue Delia," ucap gadis tersebut memperkenalkan dirinya yang disambut dengan ramah oleh Arche yang juga mengulurkan tangannya pada Delia.
"Arche," ucap Arche yang juga memperkenalkan dirinya. Lalu melepaskan jabatan tangan mereka.
"Lo kayak gak asing ya, kita pernah ketemu sebelumnya?" Tanya Arche menatap Delia dengan menyelidik. Delia yang mendengarnya hanya terkekeh.
"Kita pernah gak sengaja ketemu di mall. Waktu gue gak sengaja nabrak lo," ucap Delia menjelaskan. Arche menjawabnya dengan anggukan saat mengingat siapa gadis di sampingnya tersebut.
"Ah iya. Wah ingatan lo kuat ya," ucap Arche dengan kekehannya yang membuat Delia ikut tertawa mendengarnya. Andai saja Arche tahu jika Delia begitu mengingatnya karena Arche begitu berkesan baginya.
"Lo sering dateng kesini?" Tanya Delia pada Arche yang kini mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kalau lagi gak bareng sama sahabat gue, gue kesini buat ngerjain tugas kantor," ucap Arche menjelaskan yang membuat Delia mengangguk mendengarnya. Seperti nya setelah ini ia akan sering datang ke tempat ini.
Tak lama ponsel Arche berdering membuat Arche dengan segera melihat ponselnya dan ternyata panggilan dari adiknya. Delia mengintip sebentar siapa yang memanggil Arche.
"Bentar," ucap Arche meminta izin pada Delia yang menganggukkan kepalanya mendengar ucapan tersebut.
"Kak, jemput dong. Aku udah selesai," ucap gadis di seberang sana yang tak lain adalah Nora. Ia sudah berpesan pada adiknya tersebut agar meminta jemput saat sudah selesai.
"Ok, otw," ucap Arche lali segera menutup teleponnya.
"Pacar lo?" Tanya Delia pada Arche yang terkekeh mendengar nya sambil menggelengkan kepalanya.
"Adek gue," ucap Arche yang membuat Delia menjawab nya dengan anggukan.
"Yang waktu itu di mall?" Tanya Delia lagi merasa penasaran dan berharap jika Arche belum memiliki kekasih.
"Itu sahabat gue," ucap Arche yang membuat senyuman Delia mengembang. Setidaknya untuk saat ini ia tahu jika Arche belum memiliki kekasih.
"Sorry ya gue harus pergi," ucap Arche pada Delia berpamitan pada gadis tersebut.
Setelah membereskan barang-barangnya dengan segera Arche pergi dari sana meninggalkan Delia yang menatap kepergian.
"Apa sekarang saingan gue sahabatnya itu?" Tanya Delia pada dirinya sendiri sambil menghembuskan nafasnya kasar.
***
"Wow, jarang gue liat ada cewek bisa main tembakan," ucap suara seorang laki-laki yang berhasil membuat gadis yang tak lain adalah Nora melepaskan earphones nya.
Nora mengerutkan keningnya saat melihat laki-laki yang tak asing lagi baginya.
"Lebih heran lagi liat cowok yang bilang gue pembunuh bayaran malah ada di tempat kayak gini," ucap Nora menatap laki-laki tersebut dengan senyuman sinisnya yang di balas dengan senyuman tak kalah sinis oleh laki-laki tersebut.
"Apa salahnya kalo cowok kayak gue ada di sini?" Tanya laki-laki tersebut sambil menatap Nora dengan senyuman sinisnya namun tangannya mengarahkan bidikan pistolnya pada sasaran yang berada di sana tanpa melihatnya. Dalam hitungan ketiga kini peluru tersebut tepat berada di tengah bidikan yang berada di sana.
"Sekarang gue lebih curiga kalau elo yang pembunuh bayaran, Izar Holmes," ucap Nora dengan senyuman sinisnya lalu segera pergi dari sana meninggalkan Izar yang kini masih terdiam di tempatnya menatap kepergian Nora yang kini sudah pergi sambil mengeluarkan peluru dalam pistolnya dan hendak mengembalikan pistol tersebut di tempat resepsionis yang berjaga.
Izar yang sudah tersadar dari lamunannya dengan segera berjalan ke arah Nora, mengejar gadis tersebut.
"Nora," ucap Izar memanggil gadis tersebut, setelah menyerahkan pistol miliknya ia ikut berjalan bersama dengan Nora yang sudah mengambil barang miliknya.
__ADS_1
"Tentang hari ini gue pikir lo bisa merahasiakannya," ucap Izar yang kali ini membuat Nora berbalik dengan senyuman sinisnya pada Izar.
"Gak penting sama sekali buat gue jadi penggosip kayak lo," tunjuk Nora pada Izar lalu segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon kakaknya untuk memintanya menjemputnya.
"Gue bisa anter lo pu…." Ucapan Izar terhenti saat panggilan Nora sudah tertawa dan Nora sudah membuka suaranya.
"Kak aku udah selesai. Kakak jemput aku ya," ucap Nora pada orang di seberang sana setelah panggilannya terjawab.
"Ok, otw," ucap orang di seberang sama yang tak lain adalah Arche. Setelah mengatakan hal tersebut Arche segera mematikan panggilan ponselnya.
"Dengarkan? Kakak gue bakalan jemput," ucap Nora lalu segera berlalu dan berjalan menuju halte depan tempat tersebut.
Nora memilih memainkan ponselnya sambil menunggu Arche yang akan menjemputnya.
Hingga tak lama mobil Arche berhenti tepat di depannya. Dengan segera Nora menaiki mobil tersebut dengan senyumannya.
Namun tanpa mereka tahu, sedari tadi ada yang terus memperhatikan mereka dengan penasarannya. Menunggu Nora sampai gadis tersebut masuk ke mobil kakaknya.
"Menarik, gak salah kalau Antares suka Adhara. Mereka sama-sama menarik," ucap laki-laki tersebut dengan senyumannya. Menatap ke depan dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
Hi semua, ketemu lagi sama aku dengan cerita yang udah kalian tunggu-tunggu.
Aku harap kalian akan suka sama cerita ini. Jujur aja sebenarnya berat sih mau lanjut cerita ini. Aku takut malah cerita ini gak sebagus season pertama. Jadi aku harus kalian bisa kasih kritik dan saran agar aku bisa memperbaiki kalau ada yang salah ya.
Maaf ya kalo masih ada typo dan feel kurang dapet.
Oh iya jangan lupa vote dan koment ya guys.
Follow juga akun aku ya, dan ig aku @hilmiatulhasanah_ dan @wphilmiath_
Dukungan kalian semangat ku😉
Thanks for Reading All.
See You Next Chapter.
Jangan lupa tinggalin jejak ya
__ADS_1
Tunggu dulu deh, sambil nunggu Adhara cs aku saranin kalian buat baca cerita ku yang gak kalah kece nih. Yang suka rasa sakit dan cerita yang penuh emosi kalian bisa nih buat baca cerita ku yang satu ini.