
Happy Reading All.
***
Lama Chan mencium kening Adhara, tanpa tahu bagaimana susahnya Adhara mengontrol detak jantungnya yang terus saja berpacu berkali-kali lipat lebih cepat. Sedang Kan Chan sudah begitu nyaman berada dalam posisi seperti ini.
Walau ia tak bisa menyangkal jika ia pun berusaha untuk mengontrol detak jantungnya. Hingga akhirnya Chan melepaskan ciumannya lalu menatap Adhara dengan dalam. Chan menangkup wajah Adhara dengan tangan besarnya yang terasa begitu pas di wajah kecil Adhara.
“Udah jangan nangis, nanti cantiknya hilang,” ucap Chan dengan senyumannya sambil mengusap sisa air mata Adhara. Adhara yang awalnya mengerucutkan bibirnya mendengar hinaan Chan sontak langsung ikut tersenyum dengan begitu indahnya.
“Nah kan kalau gini cantik,” ucap Chan dengan tawanya yang langsung membuat Adhara juga ikut tertawa mendengarnya hingga akhirnya mereka tertawa bersama dengan begitu lepas. Bagai menertawakan masalah yang hari ini terus saja datang dengan bertubi-tubi pada mereka.
“Makasih ya Ra,” ucap Chan dengan senyumannya membuat Adhara mengerutkan keningnya mendengar ucapan laki-laki itu yang tak di mengertinya.
“For what?” tanya Adhara dengan keningnya yang berkerut dalam. Ia jelas kebingungan untuk apa Chan mengucapkan terima kasih untuknya? Padahal seharian ini tak ada yang ia lakukan pada laki-laki itu selain mencari masalah pada tunangan Chan. Atau lebih tepatnya gadis yang memaksa menjadi tunangan Chan.
“Karena udah mau nampung gue dan mau jadi temen gue,” ucap Chan dengan senyuman tulusnya. Adhara yang mendengar hal tersebut langsung saja memukul kepala Chan dengan begitu keras membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
“Sakit bego,” ucap Chan kesal pada Adhara yang kini menatapnya dengan datar.
“Gue ikhlas, lagian udah sering ribut sama lo kalo gak ada lo gue jadi sepi,” ucap Adhara membuat Chan terkekeh mendengarnya lalu merangkul leher Adhara untuk ia bawa menuju dapur karena Chan meresa begitu haus.
“Bilang aja lo mulai suka sama gue mangkanya kalau gue tinggal lo gak akan biasa dan merasa kesepian,” ucap Chan dengan begitu pedenya membuat Adhara sontak meledakkan tawanya mendengar hal tersebut.
“Pede banget lo,” ucap Adhara yang juga dibalas dengan tawa oleh Chan.
“Pede dong jelas kan gue ganteng,” ucap Chan membuat Adhara semakin tertawa dengan keras mendengarnya. Ia tak habis pikir mereka Chan yang cuek dan dingin kini berubah menjadi begitu narsis. Adhara jadi berpikir apa ini sebenarnya sikap Chan yang sebenarnya? Seperti yang pernah Arche katakan?
Dan sikap Chan selama ini yang cuek dan cool adalah hasil dari buah yang ditanam keluarganya yang begitu keras dan menuntut Chan? Adhara jadi merasa kasihan pada laki-laki itu jika memang benar jika itulah yang terjadi.
Suara ketukan pintu kembali terdengar membuat Chan dan Adhara langsung melihat ke arah pintu, hingga setelahnya mereka saling pandang dengan kening yang berkerut. Bertanya-tanya siapa yang datang untuk bertamu semalam ini.
“Chan buka pintunya,” teriak orang di luar sana dengan tidak sabaran.
Mendengar suara yang begitu di kenalinya membuat Chan menghela nafasnya kasar. Ia tentu saja begitu mengenali suara yang begitu khas tersebut. Yang tak lain adalah papa nya. Dan Chan juga bisa menebak apa yang akan dilakukan papanya setelah ini. Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan papanya itu selain keributan?
“Biarin aja,” ucap Chan datar pada Adhara.
__ADS_1
Adhara menghela nafasnya kasar. Rasanya baru saja mereka bahagia dengan tertawa bersama kini masalah kembali datang. Adhara menjadi semakin merasa kasihan dengan Chan. Sepertinya kehidupan laki-laki itu selalu berada di bawah tekanan.
“Chan mending dibuka aja, kalau nggak Papa lo bakal terus di sana dan buat keributan. Lagian lambat laun juga pasti bakalan ketemu juga. Entah di sini atau malah di tempat lain,” ucap Adhara memberikan nasihat pada Chan.
Laki-laki itu terdiam mencerna ucapan gadis tersebut yang tentu ada benarnya juga. Namun Chan merasa belum siap untuk berhadapan dengan papa nya sekarang. Ia masih begitu malas kembali dihadapkan oleh masalah.
“Chan menunda nunda menyelesaikan masalah Cuma akan semakin membuat masalah berlarut-larut,” ucap Adhara sambil mengelus tangan Chan mencoba bernegosiasi dengan laki-laki itu.
Adhara hanya tak ingin Chan terus berlarut dengan pikirannya tentang masalah ini. Semakin cepat diselesaikan semakin cepat pula proses melupakannya karena tak perlu lagi ada yang dipikirkan.
“Ok fine,” ucap Chan akhirnya memilih mengalah dan berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk Papanya.
Chan menatap datar pada pria di depannya yang kini menatapnya dengan begitu tajam.
“Pulang dengan ku,” ucap Leo dengan suara yang begitu tegas memerintahkan anaknya itu untuk segera mengikutinya kembali ke rumah.
“Atas dasar apa aku harus menerimanya?” tanya Chan dengan begitu angkuh.
Adhara yang berada di sana bagai diapit oleh dua kutub yang tengah mempertahankan keangkuhannya. Mempertahankan diri dengan sikap tak mau mengalahnya dan harus menuruti apa keinginannya.
Leo menghela nafasnya lalu menjawabnya dengan anggukan. Adhara menggandeng tangan Chan membawa laki-laki itu untuk masuk dan membicarakan semuanya dengan kepala dingin.
“Duduk om,” ucap Adhara mempersilahkan Leo untuk duduk. Chan lebih dulu duduk lalu barulah Leo ikut duduk di hadapan anaknya itu.
Adhara beralih menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Leo. Bagaimanapun kini Leo adalah tamunya juga merupakan ayah Chan. Jadi biarlah kali ini ia bersikap baik pada laki-laki itu. Namun jika laki-laki itu malah ngelunjak maka ia akan langsung melemparkan gelas berisi teh panas tersebut pada Leo.
Setelah membuatkan minuman Adhara langsung kembali menuju ruang tamu tapi Chan dan Leo malah masih terdiam dengan tidak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu.
“Di minum om,” ucap Adhara mempersilahkan Leo.
“Tidak perlu, saya mau langsung ke intinya saja,” ucap Leo sambil menatap Chan dengan tatapan yang sulit terbaca.
Mendengar jawaban laki-laki itu ingin sekali rasanya ia memberikan pelajaran pada ayah Chan tersebut.
“Kembali lah kerumah dan terima pertunangan tersebut,” ucap Leo yang begitu memaksa.
Chan yang mendengarnya tanpa sadar memegang gelas tersebut begitu erat membuat gelas tersebut pecah. Adhara yang melihatnya langsung menjerit sedangkan ayah Chan menatapnya tajam.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?” teriak Leo dengan amarahnya.
“Kau pikir apa yang aku lakukan?” tanya Chan dengan tatapannya yang begitu tajam dan mengerikan. Adhara bahkan di buat takut dengan tatapan tersebut yang belum pernah dilihatnya tersebut.
“Apa sebenarnya maumu Chan?” tanya Leo yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Ia begitu kecewa sekaligus marah pada Chan yang tak mau mendengarkan apa yang dia inginkan.
“Anda tahu apa yang saya mau Tuan Leo yang terhormat,” ucap Chan menekankan setiap kata yang diucapkannya.
“Mengapa kau tak mau menerima Titania? Dia adalah gadis yang cantik dan baik,” ucap Leo yang memuji Titania. Adhara yang mendengarnya ingin sekali rasanya muntah di depan Leo. Baik dari segi mana yang di lihatnya itu? Dari segitiga bermuda?
“Apa ada seorang psikopat yang baik?” tanya Chan dengan senyuman sinisnya yang terlihat begitu menyeramkan.
“Katakan keinginanmu dan syarat yang kau ajuka. Apapun yang kau mau aku akan menurutinya agar kau mau menikahi Titania,” ucap Leo yang akhirnya membuat negosiasi pada anaknya tersebut.
“Bagaimana dengan kematianmu? Itu syarat yang aku ajukan, kehancuran dan kematian mu adalah hal yang begitu aku inginkan,”
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo.
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Oh iya untuk update aku bakal update 2 bab perhari ya guys.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.
__ADS_1