Atmosphere

Atmosphere
Metis


__ADS_3

Info: Metis merupakan salah satu bulan yang berada di yupiter


Happy Reading All.


***


Jam sudah menunjukkan pukul empat subuh dan Chan baru saja sampai di apartemennya dengan keadaan masih begitu pusing akibat mabuk. Saat menghidupkan lampu yang mati dapat Chan lihat Adhara yang tertidur di safa. Sepertinya gadis itu menunggunya sampai tertidur di sana.


Chan menghela nafasnya lalu segera menuju gadis itu berada. Adhara tampak begitu cantik saat sedang tertidur seperti ini membuat senyuman Chan mengembang. Chan mengangkat tangannya mengelus rambut Adhara, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik tersebut.


Namun sepertinya gerakan Chan tersebut membuat Adhara terbangung. Adhara membuka matanya dengan perlahan, hingga terlihat di depannya Chan yang tengah tersenyum padanya.


Awalnya Adhara masih menampilkan senyumnya yang terlihat begitu indah walau wajah gadis itu baru saja bangun tidur. Namun saat hidung Adhara mencium bau alkohol yang begitu menyengat Adhara segera duduk dan menatap Chan dengan tajam.


Laki-laki itu sontak memundurkan tubuhnya dan hendak kabur, namun Adhara sudah lebih dulu menarik kaos laki-laki itu membuat Chan tak bisa pergi. Chan membalikkan tubuhnya dan menatap Adhara dengan wajah pasrahnya.


Adhara menciumi anggota tubuh Chan, mengendus bagai anjing pelacak hingga dengusan kasar terdengar dari gadis itu. Tanpa mengatakan hal apapun Adhara segera pergi dari sana. Kini gadis itu benar-benar pada Chan yang malah membuatnya begitu khawatir sedangkan dirinya tengah asik dengan dunia nya.


“Adhara,” panggil Chan sambil mengejar gadis itu namun Adhara tak menghiraukannya dan segera masuk ke kamarnya. Masih dengan Chan yang terus mengikutinya hingga dengan kasar gadis itu menutup pintu begitu keras di depan wajah Chan membuat Chan terkejut melihatnya.


“Adhara, please dengerin dulu,” ucap Chan sambil mengetuk pintu kamar Adhara dengan tidak sabarannya namun Adhara di dalam sana tetap tidak menghiraukannya.


Chan jadi merasa begitu bersalah pada Adhara, melihat gadis itu yang terdiam dengan kemarahannya membuat Chan semakin merasa bersalah. Ia lebih suka Adhara yang bawel dan marah-marah padanya daripada Adhara yang terdiam seperti ini.


“Adhara buka dulu kita bicarakan baik-baik, nanti gue traktir makanan enak deh,” ucap Chan membujuk Adhara hingga suara pintu terbuka membuat senyuman Chan terlihat.


Membujuk gadis itu sepertinya tidak sulit, batin Chan dengan senyuman bangganya. Namun sepertinya laki-laki itu salah mengira Adhara akan membukakan pintu untuknya nyatanya gadis itu hanya hendak keluar untuk membersihkan tubuhnya.


Adhara hanya menatap Chan tajam lalu segera menutup pintunya dengan keras kembali. Chan memejamkan matanya, rasa pusing akibat mabuknya seketika hilang terganti dengan rasa pusingnya pada sikap Adhara kini padanya.


Gadis itu benar-benar tak mengatakan apapun pada Chan, terus mendiaminya bahkan Chan rasanya begitu lelah meminta maaf pada gadis tersebut. Bahkan saat menyiapkan makanannya Adhara hanya terdiam dengan wajah datarnya.


“Hari ini kita bawa mobil aja,” ucap Chan yang sama sekali tak di hiraukan oleh Adhara yang begitu fokus memakan makanannya. Menganggap Chan tidak berada di depannya.

__ADS_1


Chan menghela nafasnya frustasi dengan sikap Adhara tersebut. Otaknya terus berputar memikirkan cara agar Adhara mau memaafkannya.


Setelah selesai dengan sarapannya Adhara segera membereskan bekas makannya lalu berjalan menuju rak sepatu. Setelah selesai Adhara keluar lebih dulu dari Chan.


Namun bukannya berjalan ke arah parkiran Adhara malah berjalan ke arah halte membuat Chan akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti Adhara. Meskipun ia cukup membenci angkutan umum dan tidak suka menaikinya karena terlalu sesak namun Chan akan menahannya untuk membujuk Adhara.


Beruntung saat berada di bus ada kursi yang kosong Adhara dan Chan duduk saling berdampingan dengan saling terdiam. Chan menggenggam tangan Adhara namun segera di hempaskan dengan kasar oleh gadis itu.


“Adhara please maafin gue, gue juga di ajak temen-temen gue,” ucap Chan dengan wajah memelasnya. Namun Adhara tetap tidak menghiraukannya dan mendiamkan Chan.


Perjalanan kini terasa begitu lama bagi Adhara namun terasa begitu cepat bagi Chan yang masih saja tak bisa membujuk Adhara.


“Adhara gue lebih suka lo yang bawel daripada diem-diem gini,” ucap Chan masih dengan wajah memohannya.


Tatapan para penumpang kini banyak yang tertuju pada mereka, terutama pada Chan yang terlihat begitu tampan dan tulus pada Adhara. Banyak yang bahkan memaki Adhara karena berani mencuekinya laki-laki tampan tersebut.


 “Adhara,” panggil Chan dengan lirih Adhara mengalihkan tatapannya pda Chan menatap tajam pada laki-laki tersebut.


Tak beberapa lama akhirnya mereka sampai di depan halte sekolah, Adhara segera turun lebih dulu dari Chan dan berjalan dengan wajah datarnya membuat siapapun yang melihat Adhara saat ini pasti tak ingin membuat masalah dengan gadis itu.


Di tambah Chan yang berada di belakang gadis itu dengan wajah yang sama datarnya membuat mereka benar-benar tak ingin mencari masalah dengan kedua orang tersebut.


“Arche, Antariksa,” panggil Adhara dengan wajahnya yang memerah menahan amarah saat melihat kedua sahabat Chan tersebut.


Di belakang Adhara, Chan menatap kedua sahabatnya yang kini menoleh itu ke arahnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan sambil mengatakan Mati kita, dengan gerakan bibirnya.


Namun bukannya menuju ke arah Adhara, kedua laki-laki itu malah berlari meninggalkan Adhara. Namun saat melihat ke belakang ternyata di sana juga Chan sudah tidak berada di sana.


Adhara mengepalkan tangan nya kesal melihat tiga laki-laki tersebut yang ternyata sudah kabur tersebut.


“Antariksa, Arche, Chan,” teriak Adhara kesal. Gadis itu sudah menghiraukan tatapan penasaran juga takut dari para murid yang melihatnya tersebut.


Adhara bersumpah tak akan membiarkan ketiga laki-laki itu bisa kabur dengan mudah. Saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit Adhara memutuskan menuju kelasnya karena tak ingin malah terlambat.

__ADS_1


Saat sampai di kelasnya Adhara langsung melemparkan tas nya di atas meja dengan wajah kesalnya. Melihat wajah Adhara yang terlihat mengerikan bahkan kedua teman dekatnya itu tak berani untuk mengatakan apapun pada Adhara.


“Adhara,” teriak Sky memasuki kelas Adhara dengan jeritannya.


“Apa?” bentak Adhara kesal membuat Sky bahkan di buat terlonjak kebelakang karena kaget.


Bukan hanya Sky yang kaget bahkan seisi kelas dibuat kaget dengan bentakan Adhara tersebut. Adhara menghela nafasnya kasar lalu mengusap wajahnya. Ia begitu kesal pada ketiga laki-laki tersebut yang sudah membohonginya dan kini malah kabur.


“Kenapa?” tanya Adhara setelah berhasil mengontrol dirinya yang begitu kesal pada pangeran sekolah tersebut.


“Jadi nanti?” tanya Sky dengan takut-takut. Adhara akhirnya menghela nafasnya dan menjawabnya dengan anggukan mengingat janjinya dengan Sky yang akan pergi menuju tempat Adhara mendaftar pekerjaan.


“Tar gue jemput,” ucap Sky yang lagi Adhara balas dengan anggukan.


Tak ingin membuat Adhara semakin kesal dan mengingat sebentar lagi sudah jam masuk sekolah akhirnya Sky memilih untuk menuju kelasnya sendiri dan membiarkan Adhara dengan kekesalannya.


Hai Semua balik lagi nih sama aku.


Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?


Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo


Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.


Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Maaf ya hari ini hanya bisa up 1 part dulu. Tapi semoga kalian suka ya.


Stay healthy all.


Thank For Reading all.


See You Next Chapter All.

__ADS_1


__ADS_2