
Sao adalah salah satu nama Bulan yang berada di Neptunus
Happy Reading All.
***
“Chan, kita mau kemana?” tanya Adhara sekali lagi saat tak mendapatkan jawaban dari Chan yang kini masih fokus menyetir.
“Chan, lo mau nyulik gue ya?” teriak Adhara dengan meninggikan suaranya. Chan yang mendengar teriakan gadisnya itu menutup sebelah telinganya lalu menatap Adhara dengan datar.
“Untungnya gue nyulik lo apa? Gak ada untungnya, yang ada rugi,” ucap Chan pada Adhara membuat gadis itu mendengus kesal mendengarnya.
“Cih siapa yang tau kan lo mau bunuh gue atau ngelakuin hal yang engga engga ke gue,” ucap Adhara dengan opininya membuat tawa Chan terdengar begitu keras.
“Kalau gue mau udah dulu gue bunuh lo di apartemen lo sendiri, meskipun lo ngeselin gue sayang sama lo jadi gak mungkin gue mau bunuh lo,” ucap Chan dengan senyumannya membuat Adhara mengalihkan tatapannya dari Chan menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu.
“Lagian lo tuh makannya banyak, rugi di gue kalo gue nyulik lo,” ucap Chan dengan tawanya membuat Adhara berdecak kesal mendengar ucapan kekasihnya itu.
“Lo sama Antariksa sama aja, sama-sama ngeselin,” ucap Adhara kesal lalu memilih untuk melihat ke arah jendela mobil, melihat bangunan tinggi di sampingnya yang menjulang dengan banyak kendaraan yang berlalu lalang.
“Yang penting gue lebih ganteng dari dia,” ucap Chan santai membuat Adhara tertawa mendengarnya.
Laki-laki yang kini berada di depannya itu sangat berbeda dari biasanya, laki-laki yang dulu terkenal begitu dingin, kini malah begitu cerewet dan sangat pede entah dari mana sifat baru laki-laki itu berasal.
“Chan lo kerasukan atau gimana sih, hari ini lo bawel plus pede banget sumpah,” ucap Adhara sambil memegang kening Chan untuk memeriksa suhu tubuh laki-laki itu lalu membandingkannya dengan dirinya.
Chan memegang tangan Adhara lalu membawanya dalam genggaman laki-laki tersebut yang sempat terlepas karena Adhara ingin memeriksa suhu tubuhnya.
“Gue gak papa Dhar,” ucap Chan dengan senyumannya membuat Adhara membalasnya dengan anggukan.
Setelahnya mereka saling terdiam menikmati perjalanan mereka, hingga tak lama akhirnya mereka sampai di sebuah café yang masih tutup. Sepertinya café baru karena café tersebut masih dalam tahap perbaikan.
“Apa ini?” tanyaAdhara yang tak mengerti. Namun melihat Chan yang keluar gadis itu segera ikut keluar bersama dengan Chan. Di belakang mereka terparkir dua mobil mewah yang tak lain adalah milik Arche juga Antariksa.
“Ini café masih tutup, ngapain kalian kesini?” tanya Adhara yang tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Chan tersenyum ke arah Adhara lalu melihat ke arah café di depannya yang tengah di isi barang-barang.
__ADS_1
“Café ini punya gue,” ucap Chan yang sontak membuat Adhara memelotot mendengarnya.
Adhara langsung menoleh ke arah Chan dengan tatapan tidak percayanya. Bagaimana bisa café ini adalah milik laki-laki itu?
“Uang sisa jual mobil gue pake buat café ini, jadi lo gak perlu kerja lagi dan kita sama-sama untuk membangun café ini menjadi lebih maju,” ucap Chan membuat Adhara tersenyum terharu mendengarnya.
Chan memang benar-benar sudah memikirkan semua nya dengan baik. Namun kini yang tidak Adhara mengerti, jika café ini adalah hasil jual mobil, lalu mobil yang laki-laki itu pakai sekarang jatuh dari mana?
“Mobil ini? Bukannya hasil uang jual mobil?” tanya Adhara untuk menjawab kebingungannya.
Mendengar pertanyaan Adhara, Chan dibuat gelagapan untuk menjawabnya sedangkan Arche hanya tersenyum tipis sambil menggeleng mendengar pertanyaan Adhara.
“Lo becanda? Atau lo emang bego? Mobil ini jelas jauh lebih mahal dari mobil Chan yang pertama,” ucap Antariksa dengan tawanya membuat Adhara semakin tidak mengerti dengan apa yang kini terjadi.
“Jadi mobil ini?” tanya Adhara bingung menuntut jawab dari ketiga laki-laki di depannya tersebut.
“Hasil balapan,” ucap Antariksa dengan begitu santainya yang sontak membuat Adhara memelototkan bola matanya sempurna.
Antariksa yang menyadari kesalahannya sontak tersenyum dengan wajah tanpa dosanya sedangkan kedua sahabatnya sudah menundukkan kepalanya kompak. Kini mereka sudah seperti bawahan yang tengah dimarahi oleh atasannya.
“Dhara udah lah, ini juga udah lewat sekarang udah gak lagi kok kita fokus ke café ini aja,” ucap Arche menenangkan. Adhara menghela nafasnya panjang lalu segera memasuki café tersebut.
“Chan,” sapa seorang laki-laki dengan senyumannya pada Chan. Dia adalah Baron, ketua geng motor mereka yang kini juga Chan beri tanggung jawab untuk mengawasi café ini.
“Arche, Antariksa, dan?” sapa laki-laki tersebut sambil melihat ke arah Adhara dengan kerutan di keningnya. Karena baginya tidak biasanya di antara tiga pangeran tersebut membawa seorang wanita apalagi mereka terlihat sangat akrab.
“Adhara,” ucap Adhara dengan senyumannya sambil mengulurkan tangan pada Baron yang di balas dengan uluran tangan juga oleh laki-laki itu.
“Baron (cari tahu lagi nama nya siapa)” ucap laki-laki tersebut dengan senyumannya.
“Jadi ini?” tanya Baron dengan senyuman menggodanya membuat ketiga laki-laki itu salah tingkah mendengar ucapan Baron. Sedangkan Adhara yang tak mengerti mengerutkan keningnya bingung.
“Ok ok gue udah ngerti,” ucap Baron dengan tawanya yang semakin membuat tiga pangeran tersebut salah tingkah.
“Jadi gimana perkembanganya?” tanya Chan pada Baron sambil melihat ke sekeliling café yang sudah 80%
“Seperti yang lo liat, untuk pekerja sebagian kita bisa pakai yang dari café Antariksa dulu. Kita tambah dengan pekerja baru di café lo sama café Antariksa juga untuk mengganti pekerja di café Antariksa yang kita pakai sementara,” ucap Baron menjelaskan membuat ketiga laki-laki itu mengangguk mendengar penjelasan dari Baron.
__ADS_1
“Ide bagus, kita juga perlu pekerja profesional yang udah biasa kerja,” ucap Arche menimpali. Mereka kembali menjawabnya dengan anggukan.
“Untuk menu kita buat sedikit berbeda dari café Antariksa. Tapi karena ini kerja sama jadi kita saling berbagi dalam segala hal,” ucap Baron menjelaskan.
“Erlangga udah gue kasih tau, setelah ini kita bisa bahas lebih lanjut sama dia,” ucap Antariksa mengingat jika kini manajer di cafenya adalah Erlangga.
“Ok besok kita ketemu lagi dan ajak Erlangga,” ucap Baron.
Setelahnya mereka kembali membahas banyak hal tentang café tersebut. Adhara yang tidak mengerti apapun hanya diam memperhatikan sambil mendengarkan apa yang terjadi.
“Karena sudah semua, jadi gue pulang dulu ya,” ucap Chan lalu menarik tangan Adhara untuk segera pergi dari sana setelah mendapatkan anggukan dari sahabatnya.
“Gak papa kita pergi duluan?” tanya Adhara pada Chan yang di balas dengan anggukan oleh laki-laki tersebut. Adhara merangkulkan tangannya di tangan Chan lalu segera pergi meninggalkan café tersebut.
“Jadi Chan yang menang?” tanya Baron dengan senyuman nya membuat kedua laki-laki di depannya itu mendengus kesal lalu segera meninggalkan Baron dengan wajah kesal mereka.
***
Hai Semua balik lagi nih sama aku.
Btw siapa nih yang udah nunggu Adhara bareng tiga cogannya?
Kalau kalian ada pertanyaan silahkan di ajukan ya, nanti aku jawab. Menerima kritik dan saran.
Semoga kalian suka ya, maaf kalau feel kurang dapet dan masih ada typo
Jangan lupa di tambahkan ke favorite, like, dan koment ya guys.
Follow ig aku ya @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath
Tim Interaksi udah aku aktifkan nih, yuk guys join.
Stay healthy all.
Thank For Reading all.
See You Next Chapter All.
__ADS_1