Atmosphere

Atmosphere
S2 Bulan


__ADS_3

Fyi "Bulan adalah satelit alami Bumi satu-satunya dan merupakan satelit terbesar kelima dalam Tata Surya."


***


Seorang wanita dengan perut besar nya kini tengah berjalan bersama dengan kedua sahabatnya dengan tas belanjaan yang begitu banyak. Dan tentu saja semua belanjaan itu dibawa oleh kedua sahabatnya tersebut. Kini mereka bertiga tengah berbelanja perlengkapan juga pakaian untuk anak dalam kandungan Adhara.


“Ini salah lo Ra, segala gak mau buat liat jenis kelaminnya pas USG jadi repot juga kan ke kita,” ucap Sky yang kini sudah menggerutu pada Adhara yang hanya menyengir mendengar ucapan dari sahabatnya tersebut. Kini usia kehamilannya sudah usia sembilan bulan dan HPL wanita tersebut adalah satu minggu lagi. Namun kini ia masih saja sibuk berbelanja untuk buah hatinya.


Chan padahal sudah melarangnya untuk keluar rumah namun Adhara tetaplah Adhara yang tak akan begitu saja menuruti ucapan suaminya tersebut apalagi saat ini suaminya harus ke kantor karena ada urusan penting yang harus ia kerjakan. Sebelumnya padahal Chan sudah libur karena ingin menjaga Adhara namun kali ini ia benar-benar tak bisa meninggalkan pekerjaannya itu dan harus pergi ke kantor.


“Biar surprise,” ucap Adhara dengan cengirannya yang membuat Sky memutar bola matanya malas. Karena alasan tersebut setiap mereka membeli perlengkapan bayi ataupun pakaian untuk calon anak Adhara tersebut mereka harus memilih warna yang netral ataupun mereka harus membeli dua jenis untuk laki-laki dan perempuan, sangat merepotkan bukan.


“Udah lah Unty gak usah banyak ngeluh,” ucap Adhara pada Sky dengan cengirannya yang membuat Sky menghembuskan nafasnya kasar sambil terus berjalan membawa belanjaan mereka.


“Ra, sumpah ya gue ngeri liat perut lo,” ucap Nora yang kini menatap perut Adhara dengan begitu ngeri. Bagaimana wanita tersebut masih bersemangat berjalan dengan perutnya yang bagi Nora akan segera meledak itu.


“Gak usah di liat ribet lo, lagian juga lo bakalan ngerasain kayak gini,” ucap Adhara pada Nora yang kali ini memutar bola matanya malas mendengar ucapan sahabatnya tersebut.


Saat mereka larut dalam pembicaraan mereka tiba-tiba saja Adhara merasa perutnya kembali mulas, meskipun sedari tadi ia sudah merasakannya namun kali ini rasanya lebih sakit dari sebelumnya. Ia mengira awalnya hanya kontraksi palsu namun kini rasa perutnya semakin sakit membuat Adhara segera memegangi perutnya dan menghentikan jalannya.


“Ra, lo kenapa?” tanya Sky yang menyadari Adhara menghentikan jalannya. Adhara kini malah sudah terduduk di lantai dengan Nora yang kini sudah memegangnya.


“Adhara lo kenapa? jangan buat gue khawatir,” ucap Sky yang kini sudah mulai panik dan tak harus berbuat apa.


Orang di sekitar mereka kini segera menghampiri mereka berniat untuk membantu Adhara yang kini sudah terlihat ke sakitan.


“Ini temennya mau ngelahirin kayaknya Mbak,” ucap salah satu ibu-ibu yang berada di sana membuat Sky dan Nora kini semakin panik mendengarnya karena mereka tak tahu harus melakukan apa.


“Duh gue harus gimana? gue gak ada pengalaman ngurus orang bunting,” ucap Sky yang kini begitu panik melihat Adhara yang kesakitan.


“Lah apalagi gue, gue bisanya ngurus pistol,” ucap Nora yang tak kalah paniknya dengan Sky.


“Mbak, mending kita bawa ke rumah sakit sekarang,” ucap ibu-ibu tadi yang membuat Sky juga Nora menganggukkan kepalanya mendengar saran dari ibu-ibu tersebut.

__ADS_1


“Telpon laki gue,” perintah Adhara pada Sky yang segera menjawabnya dengan anggukan.


Adhara segera digendong oleh seorang laki-laki yang berada di sana yang membantu mereka untuk menuju ke arah mobil Sky. Ibu-ibu tadi bahkan juga ikut menemani mereka karena takut jika dua gadis tersebut tak bisa menanganinya.


***


Chan baru saja selesai dengan rapatnya bersama dengan salah satu klien pentingnyanya. Sebenarnya ia tak ingin untuk meninggalkan istrinya tersebut sendiri di rumah apa lagi dengan usia kehamilannya yang sudah mendekati HPL namun pekerjaannya kali ini begitu penting dan tidak bisa di wakilkan jadi mau tidak mau ia harus pergi.


“Rigel, saya akan langsung pulang kamu urus sisanya,” ucap Chan pada Asistennya tersebut yang segera menjawabnya dengan anggukan.


Suara dering ponselnya membuat Chan segera merogoh saku celananya hingga terlihat nama Sky terlihat di sana. Chan mengerutkan keningnya namun akhirnya ia segera menjawab panggilan dari adik sahabatnya tersebut.


Namun saat ia menjawab panggilan tersebut ia malah langsung disambut dengan kehebohan di seberang sana.


“Adhara sakit woy jangan tarik-tarik astagfirullah rambut gue,” ucap Sky dengan teriakannya di seberang sana yang membuat Chan mengerutkan keningnya saat mendengar teriakan istrinya tersebut juga teriakan Sky.


“Adhara jangan erat-erat pegang tangan gue,” teriak Nora menyusul teriakan dari Sky juga Nora. Kini pikiran Chan sudah tidak tenang mendengar keributan di seberang sana. Belum lagi di sana juga ada suara seorang ibu-ibu yang membantu Adhara untuk menenangkan dirinya dengan menarik dan menghembuskan nafasnya.


“Chan, halo. Lo ada di sana kan?” tanya Sky di seberang sana pada Chan yang kini mulai berjalan dengan cepat karena terlalu panik.


“Adhara mau ngelahirin. Sekarang kini lagi jalan ke rumah sakit,” ucap Sky yang sontak membuat Chan kini semakin panik mendengarnya.


“Kirim alamatnya gue langsung ke sana,” ucap Chan dengan tegasnya pada Sky lalu segera mematikan sambungan teleponnya. Tak lama Sky segera mengirimkan apa yang Chan minta membuat Chan kini segera menuju ke arah rumah sakit yang Sky sebutkan.


Tak membutuhkan waktu lama setelah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi kini Chan sudah sampai di depan ruang persalinan dan terlihat di sana juga sudah ada Arche juga kedua orang tuanya.


“Adhara di dalan, mending kamu langsung masuk,” ucap Mira pada Chan yang menjawabnya dengan anggukan.


Chan segera masuk ke dalam ruangan persalinan tersebut hingga terlihat kini Adhara yang tengah di bantu oleh dokter untuk proses persalinannya.


“Sayang, aku di sini. Kamu kuat ya, semangat sayang,” ucap Chan yang langsung menghampiri Adhara lalu menggenggam tangan wanita tersebut dengan begitu erat.


Adhara menatap Chan dengan tatapan tajamnya dengan pegangan tangan yang begitu erat hingga terasa sakit bagi Chan. Namun Chan tahu ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang kini istrinya tersebut rasakan.

__ADS_1


“Harusnya lo ngerasain apa yang gue rasain Chan. Lo mau enaknya doang ini gue sakit bego,” ucap Adhara yang kini sudah memaki suaminya tersebut membuat Chan memejamkan matanya mendengar teriakan dari istrinya tersebut.


“Iya maaf, ini salah aku. kalau ada aja, alatnya buat transfer rasa sakit aku mau kok gantiin posisi kamu,” ucap Chan berusaha bersabar menghadapi Adhara yang kini sudah mencakar atau menarik-narik rambutnya hingga berantakan.


Setelah perjuangan yang begitu memakan waktu juga mempertaruhkan nyawa akhirnya suara tangis dari sosok yang baru saja hadir kedua tersebut akhirnya terdengar membuat helaan nafas lega keluar dari mereka. Chan kini bahkan sudah menatap Adhara dengan tatapan lembutnya mengucapkan banyak sekali terima kasih pada istrinya tersebut yang sudah berhasil menjaga nyawanya juga memberikan nyawa baru untuk buah hati mereka.


“Selamat Tuan, anak Anda laki-laki,” ucap dokter yang membantu Adhara dalam proses persalinannya sambil memberikan bayi laki-laki tersebut pada Chan. Chan segera mengambilnya lalu meng adzani anaknya tersebut setelah selesai ia segera memberikan anaknya tersebut pada dokter tersebut lagi.


“Makasih sayang, makasih untuk semuanya. I love you. Aku janji aku gak akan ninggalin kamu,” ucap Chan dengan senyumannya pada Adhara yang menjawabnya dengan anggukan karena ia masih terlalu lemah untuk menjawab ucapan Chan tersebut,  lalu setelahnya Chan segera mengecup puncak kepala Adhara sayang.


Kini rasanya kebahagiaan semakin bertambah lengkap. Keluarga kecil mereka kita sudah memiliki anggota baru dan rasanya Chan begitu bersyukur pada tuhan yang telah menganugrah padanya seorang buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam keluarganya.


“Kamu mau kasih nama anak kita siapa?” tanya Adhara pada Chan yang kini menatap suaminya tersebut dengan wajah lelahnya.


“Altair Heaven Alba. Altair yang berarti terbang. Kamu adalah Bintang dan Aku adalah binta, dan Altair adalah yang melayang di antara kita. Heaven yang berarti surga aku berharap dia menjadi anak yang dapat membawa kita ke surga,” ucap Chan menjelaskan nama yang akan diberikan untuk anak pertamanya itu. Mendengar hal tersebut Adhara menganggukkan kepalanya dengan senyuman bahagianya.


“Maaf Tuan, saya akan membersihkan Nyonya terlebih dulu,” ucap dokter tersebut pada Chan yang segera menjawabnya dengan anggukan.


Setelahnya ia segera keluar dari ruangan tersebut untuk memberitahukan kepada sahabat juga keluarganya tentang Altair. Ia yakin kini pasti mereka tengah menunggu dengan harap-harap cemas. Senyuman terlukis indah di wajah laki-laki kaku tersebut karena terlalu bahagia dengan kelahiran anaknya tersebut.


Ia hanya berharap agar kebahagiaan selalu datang pada keluarga kecilnya itu.


***


Hi semua, ketemu lagi sama aku dengan cerita yang udah kalian tunggu-tunggu.


Aku harap kalian akan suka sama cerita ini. Silahkan berikan kritik dan saran untuk cerita ini.


Maaf ya kalo masih ada typo dan feel kurang dapet. Oh iya jangan lupa vote dan koment ya guys.


Follow juga akun aku ya, dan ig aku @hilmiatulhasanah dan @wphilmiath


Jangan lupa tinggalin jejak ya. Dukungan kalian semangat ku😉

__ADS_1


Thanks for Reading All. See You Next Chapter.


__ADS_2